
Pukul 03.00 dini hari
Brak Brak Brak
Suara gedoran pintu nyaring terdengar, semakin diabaikan semakin memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya.
Elena menggeliat perlahan, kelopak matanya masih tampak berkedip dengan malas menyesuaikan cahaya d sekitarnya.
“Ada apa sebenarnya?” pikir Elena.
Elena menggeliat sesaat, tangannya meraba raba tempat kosong di sisi nya mencari keberadaan ponselnya.
Kemudian dihidupkannya benda pipih tersebut “heh jam 3 dini hari” gumam nya.
Brak Brak Brak
Suara gedoran pintu terdengar lagi, kali ini diiringi suara teriakan dan makian.
Tiba tiba perasaan tak nyaman menghinggapi pikiran nya, mengingat saat ini dia tidak sedang berada di rumah, “apa yang harus aku lakukan” gumam Elena resah.
Kemudian dia bergeser ke sisi tempat tidur, mencari cari no telepon Customer service hotel untuk melapor, tapi beberapa kali panggilan tidak terjawab.
Elena membuka ponsel yang tergenggam erat di tangannya, kemudian menekan tombol cepat ke nomor Haris.
Tiba tiba ...
Brak ...
Pintu terbuka, terlihat sekali kalau pintu itu di buka dengan paksa, sosok pria dengan pakaian acak acakan masuk ke kamar Elena, dari jauh sudah tercium bau Alkohol yang sangat menyengat.
Elena semakin ketakutan, sekali lagi dia menekan tombol cepat menghubungi haris, tapi lagi lagi tak terdengar jawaban.
“Serena dimana kamu?” pria yang sedang mabuk itu berteriak kencang.
“maaf siapa anda” bukannya bersembunyi Elena justru memberanikan diri menyahuti teriakan pria itu .
“Disini kamu rupanya, aku tidak akan mengampuni mu” pria itu berjalan semakin dekat ke arah elena
“Haris please angkat telpon nya” ujar elena lirih, ketika lagi teleponnya diabaikan.
Prang ... pyaaaarr
Pria itu melempar kan botol alkohol di tangannya, botol alkohol yang beradu dengan keramik d sudut ruangan itu beradi kemudian pecah berkeping-keping.
“Aaaaaahhh...” Jerit Elena terkejut.
“Apa kau sedang memanggil selingkuhan mu hah?”
Tiba tiba pria di hadapannya mencengkeram erat bahu Elena, Kemudian dengan kasar menjambak rambut Elena.
Air mata mengalir deras dari kelopak mata nya “tuan, siapa anda? Saya tidak mengenal anda, kenapa anda melakukan ini” ujar Elena, tubuhnya semakin gemetar ketakutan.
“Kamu pikir aku akan terpedaya dengan tangisanmu, kamu sudah menghancurkan 10 tahun harapanku, kamu hianati kepercayaan ku, dan kamu pergi membawa uangku, dan menghamburkan nya bersama pria brengsekmu itu” pria itu terus mencercau mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.
“Sungguh aku tidak mengerti apa yang anda katakan” Elena benar benar dikuasai rasa takut, mencoba melepaskan diri pun percuma, karena pria yang sedang mabuk itu memiliki postur tubuh yang lebih besar dari dirinya.
“Sekarang aku akan menghabisimu” pria itu memindahkan kedua tangannya ke leher Elena, kemudian mulai mengeratkan buku buku jarinya, tiba tiba Elena merasakan sesak yang ter amat sangat, asupan oksigen mulai berkurang, sungguh Elena sudah merasa bahwa saat ini adalah akhir hidupnya.
“Halo Elena” tiba tiba terdengar sahutan dari ponsel nya, ternyat sejak tadi ponselnya terus mengulang panggilan.
__ADS_1
Dengan sisa sisa tenaga yang ia miliki, Elena mengeluarkan suaranya.
“Ha ...rrrr...iii...sss... tooo...lll..ong”
Hanya itu suara terakhir yang mampu ia ucapkan.
Kemudian ponsel pun terjatuh dari genggamannya, beberapa detik kemudian tubuhnya serasa lunglai jatuh ke lantai, sesaat sebelum matanya terpejam, sayup sayup terdengar suara teriakan memanggil namanya, disusul kemudian dengan suara perkelahian, kemudian pandangan nya benar benar gelap.
...****************...
10 menit sebelum kejadian ...
Dering ponsel itu nyaring terdengar, namun Haris mengabaikan nya, hal yang wajar karena baru satu jam yang lalu dia bisa terlelap, seusai kembali ke kamar nya.
Malas sekali jika dia harus meladeni penelepon iseng di pagi buta, kembali Haris menutup kepalanya dengan bantal, tak ada niat sedikit pun untuk melirik ponsel yang tergeletak di nakas.
Kedua kalinya ponsel kembali berdering, dengan kesal dia menyambar ponselnya, kemudian me reject panggilan tersebut, matanya kembali terpejam.
Dan lagi ponsel berdering kembali, mau tak mau Haris memeriksa siapa penelepon yang iseng di pagi buta seperti ini, namun alangkah terkejutnya ia ketika mendapati kenyataan, siap penelepon itu sebenarnya.
Mata nya yang semula terasa berat, mendadak terasa segar bugar seperti baru saja tersiram air hujan.
“Halo Elena, ada apa?”
Tapi tak terdengar sahutan, hanya terdengar suara yang merancau tidak jelas apa bunyinya.
“Elena, kau baik baik saja?” haris kembali mengulang pertanyaan nya, kali ini resah mulai menghinggapi nya.
“Halo Elena” teriaknya.
“Ha ...rrrr...iii...sss... tooo...lll..ong”
Perasaannya semakin tak karuan manakala melihat pintu kamar Elena terbuka lebar, dan alangkah terkejutnya ia, tatkala memasuki kamar, melihat pemandangan yang sangat menyesakkan.
Pria yang sedang mabuk itu, tengah mencekik leher Elena.
“Elena ...” pekik Haris.
Bugh ... Bugh ... Bugh ...
Haris melayangkan tinjunya ke wajah pria mabuk tersebut, pria yang memang sedang mabuk tersebut langsung terhuyung kemudian tersungkur ke lantai.
Haris mengangkat kepala Elena, wajah gadis itu tampak pucat, jejak cairan bening masih tertinggal di pipi dan dagunya
“ Elena ... ” panggil Haris sambil menepuk pipi gadis itu, namun tak ada sahutan.
Tatkala Haris masih mencoba menyadarkan Elena, pria mabuk itu kembali berdiri, wajah beringasnya tampak ingin menghabisi siapapun yang ada di hadapannya, tanpa pikir panjang, Haris berdiri dan melayangkan tendangan tepat di ulu hati pria mabuk tersebut, dan tak ayal lagi, pria itu pun kembali jatuh tak sadarkan diri.
Haris mengangkat tubuh Elena kemudian, menidurkannya diatas ranjang.
Haris meletakkan jari jarinya di sisi kanan leher Elena, mencoba menenangkan diri dengan memeriksa denyut nadi Elena, dia bernafas lega ketika jemarinya merasakan gelombang yang berdenyut halus dari sana, namun sedetik kemudian air matanya lolos begitu saja manakala mendapati jejak merah di leher Elena.
“Laki laki brengsek itu akan mendapatkan ganjarannya” ujar Haris dalam hati.
Kemudian masih dengan rasa amarah yang teramat sangat, dia menghubungi Customer service.
“panggil tim keamanan dan manger hotel kalian dan suruh mereka ke kamar 7373, sekarang !!!” Perintah nya dengan kasar dan suara menggelegar.
__ADS_1
Haris kembali mencoba menyadarkan Elena, wajah cantik yang beberapa jam lalu masih tertawa ceria, kini nampak pucat seperti tak teraliri sel darah merah, air matanya mengalir begitu saja, Haris tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya semenit saja dia terlambat mendatangi Elena.
Entah apa yang akan Haris katakan pada kedua orang tua Elena, jika hal buruk terjadi pada putri mereka, terlebih lagi Elena tengah bepergian bersamanya.
5 menit kemudian, tim keamanan datang dengan terburu buru.
“Selamat malam tuan”
“Malam, apa saja keja kalian hingga hal ini bisa terjadi” sentak Haris kasar.
“Maaf tuan ini murni kelalaian kami”
“Bagaimana mungkin pintu kamar hotel kalian bisa dirusak oleh nya”
Tak lama Manager hotel bersama staf tampak tergopoh-gopoh memasuki ruangan tersebut.
“Ah ... Sudah datang kalian, saya tidak mau tau, saya ingin kalian menyelidiki semua ini, bagaimana mungkin pria mabuk ini menerobos kekamar teman wanita saya” perintah Haris masih dengan amarah.
“Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan ini tuan, segera kami akan memeriksa CCTV, dan membawa pria ini kepada pihak yang berwajib” manager hotel itu, tampak tenang menyampaikan permintaan maaf .
“Dan satu lagi, jika terjadi apa apa pada teman saya, saya tidak akan segan segan mengajukan tuntutan hukum”.
"pergi, dan bawa pria brengsek itu ke pihak yang berwajib".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
semoga tidak mengecewakan, karena ini pertama kalinya othor menulis adegan yang agak menegangkan ☺️☺️
Karakter asli seorang Haris Aditya akan mulai terlihat 🙄🙄
Othor berharap, semoga bukan karakter buruk ya bang 🤔🤔🤔
like like like komen and vote please ... 🥰🥰🙏🙏
__ADS_1