
"Selamat sore tuan" sapa Mark ketika panggilan videonya terhubung.
Sore itu seperti biasa, Mark melaporkan perkembangan proyek HS grup, membawa ponsel nya berkeliling memperlihatkan progres pembangunan berbagai bangunan yang ada di sana.
"Sepertinya anda kurang bersemangat tuan?" tanya Mark setelah puas berkeliling dan melaporkan berbagai hal.
"Tidak, aku hanya lelah ... " jawab Haris lemah.
"Pikirkan kesehatan anda tuan, saya tak ingin anda sakit, atau anda ingin sesuatu yang membuat anda kembali bersemangat?." Mark kembali bertanya, ketika melihat seorang gadis tengah termangu di depan mobilnya.
"Baiklah pasang mata anda baik baik tuan, dan pastikan jangan berkedip."
"Apa maksudmu ?" Haris masih belum mengerti maksud dari perkataan asistennya.
Mark pun memindahkan objek kamera ponselnya, kini kamera tengah mengarah pada sosok gadis yang tengah merenung menatap kosong ke sembarang arah.
"Entah hanya perasaanku saja atau memang itu kenyataan, hampir setiap sore nona kemari, tidak melakukan apapun, hanya diam beberapa saat kemudian pergi, nona seperti tengah patah hati."
"Sebaiknya kamu yakin dengan perkataan mu Mark."
"Yakin sekali tuan, perlukah saya mendekat ?."
"Hmmm."
Mark pun mendekati Elena yang tengah terdiam melipat kedua lengannya di dada. angin memainkan rambut panjang nya, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Selamat sore nona."
Elena menoleh ke asal suara, kemudian tersenyum ramah "Hai Mark, selamat sore."
"Anda memikirkan sesuatu nona," pancing Mark.
"Yah begitulah, hanya sedikit masalah pribadi."
"Apa gadis secantik anda memiliki masalah pribadi ?."
"Hahaha Mark, kamu sedang memuji atau menyindir."
"Maaf nona saya hanya ingin melihat anda tersenyum, beberapa hari ini saya lihat anda kemari dan hanya melamun kemudian pergi lagi."
"Aku hanya sedikit sibuk dengan pekerjaan baru ku," jawab Elena datar "Baiklah aku pergi dulu," pamit Elena.
"Nona, jaga kesehatan anda, saya yakin di suatu tempat, di Sisi lain dunia ini, pasti ada seseorang yang sedang merindukan dan menghawatirkan anda."
Elena terdiam sesaat, "Tentu, terimakasih mark," Elena melempar kan senyumnya, kemudian berlalu pergi.
"Tuan anda masih di sana."
"Hmmm."
"Anda tersenyum?" tanya mark ketika mengamati perubahan wajah atasannya tersebut. "bukan tapi anda tertawa lebar."
"Yah, aku bahagia sekarang."
"Oh yah, aku ikut senang tuan."
"Dia merindukan ku Mark, hahahaha ... aku senang sekali," Haris tertawa keras, suasana hatinya yang sejak tadi memburuk tiba tiba seperti hilang di sapu angin.
__ADS_1
"Dari mana anda tau tuan?" tanya Mark penasaran.
"Rahasia," jawab Haris pendek, namun tak menghentikan tawa nya.
(Mark yang malang, sini othor bisikin 🤪)
...****************...
Kala itu pukul 05.00 pagi, di saat raga baru mulai bersiap untuk menaklukkan kerasnya hidup di ibu kota, pesawat pribadi milik HS grup dan Althaf grup mendarat mulus di airport.
Sesaat setelah pintu pesawat terbuka, Asisten Seno memasuki ruangan pesawat, kemudian mengangguk memberi hormat pada Elena dan Fero.
"Maafkan saya mengganggu kenyamanan anda nona dan tuan" sapanya.
"Ada apa ini om? aku ga ngerti, tiba tiba di jemput pagi buta."
"Maaf nona, tapi silahkan ikuti saya, tuan besar sudah menunggu anda."
Elena pun beranjak dari kursinya, tak lupa ia pamit pada Fero yang beberapa hari ini menjadi mentornya.
"Fero, maafkan aku yah, acara kita harus di tunda, padahal baru 3 hari kita di kota SY," Elena benar benar merasa tak enak pada rekan bisnisnya tersebut.
"Tak masalah Elena, kita bisa atur ulang jadwalnya, selesaikan dulu urusanmu."
Elena mengangguk lalu mengikuti langkah asisten seno.
"Sebenarnya, beberapa hari ini aku mulai berharap, bisa lebih dekat denganmu, namun ternyata aku datang terlambat," ucapnya sendu, manakala mengingat berita yang ia lihat beberapa saat sebelum pesawat lepas landas.
Alangkah terkejutnya Elena, manakala turun dari pesawat beberapa pengawal berpakaian resmi sudah menunggu nya di bawah tangga, dia terus berjalan mengikuti langkah Seno.
Sepanjang perjalanan dirinya merasa heran, karena pengawal mengerubutinya, seolah olah dirinya tengah dilindungi dari sesuatu yang berbahaya.
Asisten seno terlihat memberi kode kepada mereka untuk keluar lebih dahulu menuju mobil yang telah menunggu di luar, kemudian dirinya pun berjalan mengikuti rombongan pertama tersebut.
Tak disangka, begitu melewati pintu keluar, kilatan kamera menyambutnya, suara wartawan bersahutan ingin mengajukan pertanyaan, namun para pengawalnya seolah tak memberi celah, malah semakin memperketat penjagaan nya, agar dirinya tak tertangkap kamera.
Rombongannya terus berjalan, alangkah terkejutnya ia, ketika sampai di mobil, tatapannya beradu dengan pria itu ...
Berbagai macam rasa berkecamuk, dalam dada nya, antara senang, marah dan rindu, dia sendiri tak tau, kemudian suara asisten Seno memutus tatapan mereka.
"Silahkan masuk nona."
Asisten Seno membukakan pintu untuk dirinya, hal yang sama terjadi pada pria itu, pengawal juga membukakan pintu untuknya.
"Silahkan masuk tuan."
Kini mereka telah duduk berdampingan dikursi belakang mobil mewah tersebut, suasana canggung jelas tercipta, degub jantung keduanya seakan berlari kencang, seiring dengan makin kencangnya kecepatan mobil yang membawa mereka saat ini.
Dadaku terasa sesak penuh kerinduan, dan kini kau didekatku namun dirimu terasa jauh dari jangkauanku, kini aku tak ingin serakah, menatapmu yang terpaku di hadapanku, rasanya cukup menjadi pengobat rinduku.
Setetes air mata kini telah jatuh dari kelopaknya, cepat cepat Elena Berpaling, seandainya saja kaca mata hitam itu tak ia kenakan, mungkin pria itu tau kalau dirinya kini tengah menangis.
"Kamu semakin kurus, sejak terakhir kita bertemu"
"benarkah? aku tak pernah menyadarinya nya."
"Apa di sana kamu tak menemukan makanan? jangan berani-berani membuat dirimu terlihat menyedihkan," ujar Elena yang masih menatap keluar jendela mobil.
__ADS_1
Pria itu hanya tertawa. "tentu saja aku makan, bagaimana mungkin aku bisa bernafas sampai saat ini, jika aku tak mengunyah makanan."
"Ada apa ini om? aku kan harus buat jadwal pekerjaan ulang, kasihan fero, dia pasti sudah bersusah payah menyisikan waktunya."
"Maaf nona, ini lebih mendesak dari pada urusan hotel, nanti Tuan yang akan menjelaskannya."
Elena pun kembali terdiam, hingga 40 menit kemudian, iring iringan mobil yang panjangnya mengalahkan pengawalan orang penting tersebut memasuki rumah besar Keluarga Sebastian.
Ternyata keadaan di rumah pun tak kalah riuh nya dengan keadaan di airport, puluhan pers sudah menanti kedatangannya.
Bagus yang masih dengan kemeja kerja, lengkap dengan dasi yang sudah tak karuan bentuknya, sudah menanti di sana, wajahnya nampak sama dengan wajah orang orang yang baru saja memasuki rumah besar tersebut, wajah kelelahan, termasuk dirinya dan pria yang sejak tadi berada satu mobil dengannya.
Elena makin mendesah curiga "ada apa ini sebenarnya?."
Bagus mendekati dirinya, hanya senyum dan pelukan yang ia berikan pada kedua sahabatnya.
"Selamat berjuang kawan, maaf aku hanya bisa membantu sampai di sini, sekarang berjuanglah untuk gadis yang kamu cintai sejak lama" Bagus berbisik lirih ketika memeluk Haris, kemudian diakhiri dengan tepukan kuat dipunggung sahabat nya tersebut.
Ketika pelukan mereka berakhir, Haris memandang sahabatnya tersebut penuh arti, senyuman tampak tersungging di bibirnya, hanya anggukan yang bisa dia lakukan sebagai ucapan terimakasih.
"Masuklah, Om Harun sudah menunggu kalian" bagus berdiri diantara Haris dan Elena, kemudian ikut berjalan memasuki rumah, dan langsung menuju ruang kerja Harun Sebastian.
Harun dan Marisa nampak sudah menanti mereka di sana, tengah menikmati teh dan kudapan ringan.
"Duduk" Marisa mempersilahkan ketiganya untuk duduk.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
kan kan kan ada apa ini? 🙈
.
Beberapa hari ini othor buntu kehabisan ide, jadi mari dipercepat saja 🤪
.
__ADS_1
like like like komen and vote please 🥰🙏