Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
51


__ADS_3

Hampir jam 11 malam, ketika Haris pamit meninggalkan rumah Elena, itu pun sepertinya mereka masih enggan berpisah.


"Mana ponselmu?" Haris meminjam ponsel sang kekasih.


"untuk apa?" tanya Elena curiga, namun tetap memberikan ponselnya.


"tenang saja bukan sesuatu yang buruk kok," jawabnya, mencoba membunuh rasa curiga sang calon istri.


kemudian pria itu membawa ponsel Elena sedikit menjauh dari sang pemilik "tunggu di sini yah!" perintah nya.


Elena memicingkan mata, karena heran dengan perilaku Haris.


sementara Haris nampak sedang berusaha membuka ponsel Elena, "paswordnya apa?" tanya nya.


"HarEs." ujar Elena tanpa ragu, namun mampu membuat Haris terheran heran, kemudian pria itu menyimpulkan bahwa, HarEs adalah singkatan nama Haris dan Elena Sebastian.


Susah payah Haris menyembunyikan rasa bahagianya, rasanya ingin disco tralala karena terlalu bahagia, kemudian dengan cepat dia menyelesaikan tujuannya meminjam ponsel.


"Ini ... "


"Habis ngapain sih?" Elena membuka ponselnya, namun tak ada jejak tertinggal untuk melihat apa yang di perbuat Haris dengan ponselnya.


"Tenang saja bukan sesuatu yang merugikan," Haris mengacak acak rambut Elena yang memang sudah berantakan. "Istirahat lah, ini sudah terlalu malam."


"Kabari aku jika sudah sampai rumah." pesannya.


"iya," jawab Haris pendek.


Elena mengangguk, kemudian melambaikan tangan ketika Haris mulai menjalankan mobilnya.


Sebaris senyuman mengantarkannya kembali ke dalam rumah, mengingat betapa manisnya momen kebersamaan mereka ketika makan beberapa jam yang lalu.


...****************...


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel nya, padahal baru saja Elena merasakan kantuk yang teramat sangat, namun sirna manakala melihat siapa gerangan yang mengirimkan pesan.


layar ponsel menyala dan menampakkan nama si pengirim pesan, Elena tersenyum senyum sendiri manakala membaca nama si pengirim pesan.


Aku sudah sampai, dan berita baiknya ayah sudah tidur, hehehehe ... ada gunanya juga tadi berlama lama ngobrol setelah makan πŸ˜‹ -calon suami-


syukurlah ... selamat tidur calon suami ☺️ πŸ’€πŸ’€ -calon istri-


Begitulah, di ponsel Haris pun, nama Elena telah berganti menjadi Calon istri.


oh cinta ... kenapa engkau terasa indah, hingga membuat keduanya berbunga bunga, (halah apaan si thor... 😁).


Elena menyembunyikan wajahnya dibalik bantal karena malu, kemudian tertawa cekikikan seorang diri, kaki nya bahkan mengayuh di udara, untuk pertama kali nya mencoba membuka hatinya untuk seorang pria, ternyata rasanya membuat berdebar, berbunga bunga, berbahagia, sekaligus perasaan tak suka manakala pria nya didekati gadis lain.


keesokan Harinya di tempat berbeda ...


Haris keluar dari kamarnya, dengan wajah kusut mata masih setengah terpejam, dan rambut acak acakan seperti sarang burung, dia memicingkan matanya manakala menangkap riuh suara obrolan dari ruang tengah.


Haris berjalan mendekati sumber suara, sesampai nya d ruang tengah, dia langsung jadi pusat perhatian, dia ter senyum menatap sang Ayah yang juga tengah menatap tajam ke arahnya.


"Bangun juga akhirnya, sini kamu," Ferdy memanggil putra nya.


Haris dengan cengiran manja mendekati sang ayah. "Ayahku sayang," tanpa permisi Haris memeluk ayahnya.


"Dasar bocah tengil, bisa bisa nya kamu berulah membuat heboh seisi negara ini," ujar Ferdy gemas, tak lupa menjewer telinga putranya tersebut.


"Aw .... sakit yah," Haris meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Biarin, siapa suruh membuat Ayahmu malu,"


"Namanya juga cinta, mau gimana lagi," Haris bersungut-sungut lalu kembali memeluk pinggang Ayahnya.


"Terus gadis itu bagaimana?"


"Haris bertanggung jawab yah, lagi pula dia tidak bersalah, Haris yang bersalah,"


"Paling susah tuh menghadapi orang bucin paman, di utak atik dan disalahkan kaya gimana juga tetep di benarkan oleh cinta." Hana yang sudah bersiap dengan pakaian kerja nya pun ikut mengeluarkan pendapat.


"Dasar nenek lampir, ikut ngomel aja." Haris tak terima ketika adik sepupunya.


"Biarin, biar tau rasa." Hana menjulur kan lidahnya.


"Jangan lupa salam buat yayang,"


"Ogah, hari ini sibuk, jadwal kak Elena sampai malam, persiapan mau ke kota SY, jangan coba coba mengganggu atau mendatanginya." Hana memperingatkan.


"Apa masalahmu,"


"Kalau kakak datang, yang ada heboh kaya kemarin sore, malu maluin aja," sungut Hana. "sudah aku pergi dulu."


"Dari kecil sampai dewasa berantem terus, apa kalian tidak bosan?" Tanya Bayu.


"Tidak."


"Tidak."


Jawab Hana dan Haris bersamaan.


Sejurus kemudian mereka kembali tertawa bersama.


"Tak apa, justru aku bersyukur, kalian bersedia menjadi orang tua wali si tengil ini." ferdy menoyor kening putranya.


"Sudahlah mas, wajar kalau anak anak berbuat salah, ingatkan saja untuk bertanggung jawab, dia sudah dewasa, ga perlu berlebihan memarahi," Andini muncul dari arah belakang, wanita paruh baya itu nampak segar seusai membersihkan diri.


Haris mendongak kemudian mencium tangan ibu sambungnya tersebut. senyum manis dia persembahkan untuk wanita yang kini menemani masa tua sang ayah.


"Maafkan Haris ya bu, sudah merepotkan ibu dan ayah."


Andini tersenyum lembut, walaupun putra sambung nya itu kadang bersikap manja, namun Andini tau dia anak yang baik dan patuh.


"Tidak perlu meminta maaf, kapan lagi bisa liburan ke tanah air, ayahmu tidak pernah mau libur dari pekerjaannya,"


"Apa gadis itu yang sering kalian ceritakan?" tanya Ferdy kepada Hesti dan Bayu.


"Benar sekali mas," Hesti menjawab penuh semangat. "dia gadis baik, manis dan sederhana, sampai sampai anakmu tak ingin melirik yang lain."


Haris hanya menyimak obrolan para orang tua tersebut, sebisa mungkin menahan senyumnya, namun dalam hatinya berbunga bunga, karena yang sedang dibicarakan adalah gadis kesayangan nya.


"Jadi kapan?" Tanya Ferdy.


"Kapan apa yah?"


"Kapan kamu melamar dia?"


"sudah yah, kemarin sudah Haris pasangkan cincinnya,"


keempat orang tua tersebut saling melempar senyum, emang dasar anak muda, pengennya serba cepat.


...****************...

__ADS_1


Sorak sorai penonton memenuhi setiap sudut tribun, siang itu pertandingan final bola basket antar sekolah, skor terakhir adalah seri, dan sebentar lagi babak perpanjangan waktu akan di mulai, pihak lawan mengeluarkan tim cadangan baru, karena di pertandingan sebelumnya, kapten tim bermain dalam kondisi cidera otot lengan.


Wasit menuju ke tengah lapangan, dia meniup peluit sesaat setelah melirik jam di pergelangan tangannya.


Riuh penonton kembali saling bersahutan memberi semangat pada masing masing tim, saling lempar, halau, dan tangkap membuat suasana pertandingan semakin menegangkan, kedua tim sama sama imbang, sama sama ingin mempertahankan gelar juara.


Hingga di 15 detik terakhir, lelaki bernomor punggung 00 itu menguasai bola, dia nampak lincah mempertahankan bola ditangannya, walaupun musuh di kanan dan kiri mengintai dari jarak dekat, sekilas ia melihat sisa waktu pertandingan hanya 5 detik, tak mungkin dia mengoper bola pada rekan tim yan sudah menunggu di dekat ring, akhirnya tanpa membuang waktu, tepat di tengah lapangan, dia menembakkan bola menuju ring, hal itu membuat suasana penonton sunyi sesaat, karena pandangan penonton mengikuti laju bola menuju ring.


Namun sejenak kemudian suara sorak sorai penonton tim lawan menggema, menandakan bahwa mereka memenangkan pertandingan final bola basket siang itu, si lelaki yang berhasil menembakkan bola itu nampak dipeluk, kemudian di angkat oleh seluruh rekan satu tim nya.


Elena yang saat itu berdiri di tempat ia duduk nampak kesulitan mengenali wajah si pemilik skor kemenangan tersebut ...


Elena terbangun dengan keringat di kepala dan pelipis nya, huft mimpi yang sama lagi, gumamnya, entah kapan mimpi ini berhenti menghiasi tidurnya.


tok tok tok


"masuk ... "


Sosok bi Sum muncul dari balik pintu.


"selamat Pagi nona,"


"pagi bi, ada apa?"


"Hanya ingin membangunkan nona, tidak biasanya nona bangun kesiangan,"


"Terimakasih bi, sekarang mau siap siap dulu,"


"Silahkan nona, sarapan juga sudah siap."


Bi Sum pun meninggalkan kamar nona muda nya tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


like like like komen and vote please πŸ₯°πŸ™

__ADS_1


__ADS_2