Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
50


__ADS_3

Sesampainya di dalam rumah, genggaman tangan mereka terlepas, Elena pun melepas jaket denim yang sejak tadi membalut tubuhnya, memudian meletakkan nya di sofa, tas, kacamata, dan topi pun ikut teronggok di sofa ruang tengah.


"Mau, makan apa?" Tanya Elena yang kini tengah sibuk menggulung rambut nya, kemudian menyematkan tusuk konde di sana, agar gulungan rambutnya tak terlepas.


Sulur sulur rambut membingkai wajahnya, walau rambutnya di gulung asal, namun tak dapat di pungkiri Elena kini terlihat lebih cantik menggoda dengan dres rumahannya.


Haris masih terpaku menatap wajah calon istrinya tersebut, sesaat dia terhipnotis dengan wajah cantik di hadapannya, namun pikiran waras masih menyadarkannya.


"Kok malah melamun, mau makan apa?." Tanya Elena lagi.


"Oh ... eh ... apa? kamu tanya apa barusan?." tanya Haris tergagap.


"Mau makan apa?" tanya Elena lagi.


"yang cepet aja."


"Nasi goreng, baso, atau mie rebus? itu pilihan tercepat." Elena berucap sambil memeriksa isi lemari pendingin.


Bi Sum, tiba tiba muncul dari pintu belakang. "Nona sudah pulang,?" tanya bi Sum.


"Iya bi," jawab Elena.


Bi Sum tersenyum mengangguk melihat Haris yang tengah mengawasi Elena.


"Bi ... stok baso masih ada?" tanya Elena, yang tangannya masih sibuk mencari sesuatu di lemari pendingin.


"Habis nona, tadi siang buat campuran mie rebus," Jawab bi Sum.


"Oh habis yah, baiklah baso di hilangkan." Elena menyilangkan tangannya di depan dada.


"Masak saja apa yang ada, aku tak keberatan," Jawab Haris.


"Baiklah, nasi goreng saja yah?" Elena menawarkan.


Haris hanya mengangguk, bi Sum yang melihat interaksi mereka jadi ikut menyunggingkan senyum.


"Biar bibi yang buatkan nona." bi Sum menawarkan jasa nya.


"Tidak bi, aku ingin masak sendiri, bibi istirahat lah."


"Baiklah nona, selamat malam," bi Sum pun berlalu setelah mengangguk kan kepalanya.


"Aku ke mobil sebentar yah, ponsel ku tertinggal."


"Hem." jawab Elena tanpa berpaling dari bahan bahan yang kini ada di hadapannya.


Dengan cekatan, gadis itu memotong sayuran, ayam cincang dan beberapa bumbu yang di perlukan, setelah dirasa persiapan bumbu dan pelengkap lainnya siap, ia pun mulai menyalakan api, dan menumis bumbu bumbu hingga harum, kemudian disusul ayam dan sayuran, berikut nasi dan dan aneka saus.


Sementara itu, dari arah pintu depan Haris nampak tersenyum lebar, berbicara dengan seseorang melalui panggilan video.


"Lagi di mana, kok sepertinya aku kenal ruangan itu." suara Bagus menggema.


Haris tak menjawab hanya tersenyum, kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke arah sebaliknya, hingga nampak gambar Elena sedang sibuk dengan peralatan masak, dan bumbu bumbu.


Elena nampak cekatan dan tak terlihat kaku sama sekali, terlihat dia sudah sangat terampil menggunakan peralatan yang ada di dapur.

__ADS_1


"Lagi di masakin calon bini." Haris berucap bangga.


"Dih gaya, awas sakit perut, calon bini mu gak bisa masak." Jawab Bagus sekenanya.


"Nggak papa, aku rela masuk UGD, asal dia senang, karena berhasil membuat makan malam untukku." Ujar Haris penuh pembelaan.


"Emang kalo udah bucin akut mah susah yah."


"Sudah siap, ayo makan," panggil Elena.


Haris mengangguk dan berjalan mendekat "Bilang aja ngiri, masih jomblo jadi gak ada yang masakin." Sindir Haris.


"Siapa?" tanya Elena.


"Si kampret."


"Ooo ... " Elena ber O ria. dia sudah duduk di mini bar yang menjadi pembatas antara dapur dan ruang makan.


"Di sini aja yah, terlalu luas kalau di meja makan hanya berdua."


"Dimanapun sayang, asal bersamamu tak masalah bagiku."


Elena tersipu malu, mendengar panggilan sayang yang terucap untuk dirinya.


"Waaaahhh kalian sengaja yah bersikap sok mesra di depanku, mentang mentang sudah dapat restu." ucap Bagus semakin kesal, melihat ulah kedua sahabatnya yang sebentar lagi berubah status menjadi suami istri. "kalian benar benar tak tau tempat dan situasi, barusan aku lihat gambar baru kalian di depan hotel, ckckckck ... apa kalian tak bisa bersabar sebentar, toh seminggu lagi kalian menikah, membuatku ingin menggaruk aspal jalan tol saja." umpat Bagus kesal.


"Hahaha ... makanya cari calon istri, biar gak ngenes sendiri." kali ini Elena balas mengejek.


"Tuh kan kan, udah mulai kompak sekarang yah, awas kalian, aku bikin tak bisa bertemu sampai hari pernikahan, baru tau rasa,"


Ketiganya pun tergelak, sudah mafhum bagi mereka untuk saling mengejek, namun tak ada yang serius dengan omongan mereka, hingga panggilan video pun berakhir 15 menit kemudian.


"Terimakasih ... " Elena tersenyum simpul. "Sayang tidak ada pete, aku benar benar membuat ini dengan bahan bahan sisa yang ada di pendingin"


"Hahaha ... kamu masih ingat aja, kapan kapan aku mau minta tolong tante Marisa untuk masak nasi goreng pete terfavorit." Haris berujar, mengingat kebersamaan mereka dulu ketika menyambangi rumah Elena, selalu disambut nasi goreng pete favorit mereka berempat. "tapi tak masalah, ini pun cukup memberiku energi untuk menghadapi amukan ayahku."


"Oh iya, tadi Hana cerita, ayahmu baru tiba pagi ini, perlukah aku ikut bertemu ayahmu?" Elena menawarkan diri untuk bersama sama menghadapi amukan calon mertua nya.


Namun Haris menggeleng, "Biar aku saja yang menghadapi ayahku, semarah apapun beliau, tak akan sampai tega memukulku," jawaban Haris sungguh membuat fikiran Elena menjadi tenang. "eh kapan kamu bertemu Hana?"


"Siang tadi di kantorku,"


"Mau apa dia di kantor mu?" Cecar Haris.


"Ya kerja lah,"


"What? kerja?"


"Iya, Hana sekertaris ku sekarang, dia meraih skor tertinggi ketika proses seleksi," ujar Elena berbangga.


"Aaaaahhh whatever lah, dia sudah dewasa, saatnya mencari pengalaman,"


Akhirnya, 2 porsi nasi goreng ludes tak bersisa, entah karena rasanya memang enak, atau karena di makan berdua, atau yang memasak adalah orang spesial, yang jelas mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka.


"Sejak kapan kamu memasak?"

__ADS_1


"Hahahaha ... aku malu," Elena tergelak sesaat, kemudian senyum memudar dari bibirnya, "tapi sejujurnya Sejak tinggal di negara orang, aku mulai merasa makanan mereka tak cocok dengan lidahku, jadi pelan pelan aku belajar memasak, jangan ditanya bagaimana rasa masakan pertamaku, aku langsung muntah begitu makanan itu menyentuh lidahku." jawab Elena sedih, manakala mengingat saat saat pahit mengetahui dirinya bukan putri kandung Marisa.


Kini Haris yang tertawa keras, "Jadi tak salah kan kalau Bagus bilang masakanmu mengandung racun." mau tak mau Elena tersenyum mendengar gurauan Haris. "apa tinggal di sana begitu berat?" Haris mengelus punggung tangan Elena.


Hanya anggukan yang mampu Elena berikan sebagai jawaban. "Tapi kala itu, aku benar-benar patah hati, aku mulai merasa terasing di keluarga ku sendiri, karena itulah aku bertekad, untuk mandiri, agar bisa melanjutkan hidupku seorang diri, pada awalnya sangat berat, musim panas rasanya seperti membakar kulit, dan musim dingin seperti hendak merontokkan tulang tulangku, aku menangis berhari hari menyesali keputusan ku, bahkan ketika menelepon mama pun, aku hanya menangis tanpa berbicara, namun gengsi dan rasa rendah diriku mengalahkan segalanya, ketika musim semi tiba, dan bunga bunga bermekaran, aku berkata pada diriku sendiri, tenang Elena, semua akan berlalu dan semua akan bahagia pada saatnya, kamu pasti bisa memperjuangkan hidupmu sendiri."


Buliran air mata menetes mengakhiri kisah nya, tangan Haris terjulur mengusap air mata Elena, "hebat sekali gadisku ini, dia mampu berubah dari tanaman hias menjadi rumput liar yang tahan di segala cuaca,"


sungguh pujian sederhana namun membahagiakan, senyuman terkembang di bibir nya, reflek jari tangan Haris membelai bibir merah muda tersebut, sebuah godaan melintas di kepalanya, namun ketika jarak mereka semakin dekat ...


"Berhenti, atau kamu merasakan tamparan ku yang ke tiga kalinya." Elena memperingatkan Haris agar tak melampaui batasannya.


Haris terkekeh, malu rasanya ketahuan, kemudian mengusap kasar wajahnya, "maafkan aku, baiklah aku akan bersabar sampai hari pernikahan kita."


Elena pun ikut tersenyum malu, tak di pungkiri, sesaat lalu ia hampir terbuai, namun dengan cepat kesadarannya kembali.


"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" Haris kembali mengajukan pertanyaan.


"Tolong jangan marah, karena aku sungguh penasaran," pinta Haris memelas


"Baiklah, aku tak akan marah," jawab Elena pasrah, ketulusan nampak terpancar dari mata nya.


"Aku penasaran sekali," Haris menjeda kalimatnya. "Bagaimana perasaanmu padaku, jujur saja seharian ini aku gelisah, memikirkan ini, kamu tak menolak bahkan tak mengiyakan keinginan papamu, namun justru diammu, membuat ku semakin penasaran." Haris mengungkapkan perasaannya.


"Perasaan sayang, sungguh aku tak bohong dengan ini, terus terang aku kehilanganmu 2 minggu kemarin, kamu mengerti apa yang kuinginkan tanpa harus di beritahu, bersamamu aku nyaman, menggenggam tanganmu aku tenang dan saat ada di dekatmu aku merasa aman, dan untuk cinta aku belum tahu, apakah ini sudah disebut cinta, bisa kah kamu menungguku meyakinkan perasaan ini?" mereka saling bertatapan.


Haris mengedipkan kedua matanya, "pasti, dengan senang hati aku akan menanti mu mencintai ku, walau sebenarnya seperti ini pun sudah cukup bagiku, namun keserakahan membuatku menginginkan yang lain, ingin jadi bagian dalam tawa dan sedihmu, melalui jalan panjang penuh kerikil bersama mu, asalkan kamu disisiku aku akan merasa hidupku sempurna,"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


aaaaaaahhhh ... bang, othor patah hati bang, karena kalian terlalu manis ... plisss jangan terlalu manis ntar readers kena diabetes 🤧🤧

__ADS_1


.


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2