
Elena menatap bayangan dirinya dalam pantulan cermin, celana kain berwarna gelap, dengan blouse putih beraksen Pita hitam di leher serta lengannya, sementara rambutnya dibiarkan tergerai indah.
hmmm perfect
Ujarnya dalam hati, tanpa sengaja netranya menatap jewelry box miliknya, deretan perhiasan mewah bertengger disana, tentu Marisa yang selalu mengisi, dan mengganti modelnya jika ada trend dan model perhiasan terbaru, pandangannya terhenti pada kalung berlian berbandul tears, dia pun membuang nafas perlahan, teringat siapa yang menghadiahkan kalung tersebut.
Akhirnya ia pun urung mengenakan perhiasan, hanya anting dan cincin batu giok berwarna hijau emerald saja yang ia kenakan di jari kelingkingnya, cincin indah yang dulu ia beli semasa tinggal di negeri gingseng, Elena memiliki kebiasaan aneh, yaitu mengenakan cincin di jari kelingkingnya.
Kemudian ia pun berjalan keluar, tak lupa tumpukan berkas pekerjaan proyek dia bawa serta, mungkin nanti dia bisa mampir ke kantor pusat atau ke proyek, tergantung keberadaan Bagus di mana.
Asisten Seno masih setia menunggu nya, dengan sigap dia membukakan pintu mobil ketika menyadari kedatangannya "Silahkan masuk nona" ujarnya ramah.
"Terima kasih Om Seno" Ujarnya sopan, kesopanan adalah hal utama yang diajarkan Marisa kepadanya, walaupun Asisten Seno adalah bawahan papa nya, namun dia tetap wajib bersikap sopan kepada yang lebih tua, itu adalah aturan mutlak yang wajib dia jalankan, bukan hanya kepada Asisten Seno, namun kepada seluruh Pegawai yang berada di rumah Besar tersebut.
Setelah menutup pintu mobil, Seno melajukan mobil mewah tersebut ketempat tujuannya, yaitu tempat Harun Sebastian berkantor, mobil melaju perlahan membelah keramaian ibu kota.
hampir 40 menit perjalanan yang ditempuh mobil mewah tersebut, tibalah mereka di sebuah gedung pencakar langit.
"Om ... ini kan Hotel, kenapa papa ada di sini?"
tanya Elena penasaran.
"Anda akan segera tahu jawabannya, mari ikut saya" Asisten Seno hanya menjawab singkat, tentu itu tak menjawab rasa penasaran Elena.
Ketika Elena dan Asisten Seno lewat, beberapa pagawai nampak berdiri memberi hormat, tentu ini perlakuan yang aneh, namun Elena masih berusaha menahan rasa ingin tahu nya, Seno membawanya memasuki Lift yang di khususkan bagi pejabat penting di hotel tersebut.
lantai 15
Lift tersebut berhenti, petugas keamanan yang sedang berjaga, langsung menunduk memberi hormat, "Selamat Pagi Asisten Seno".
Asisten Seno mengangguk ramah, begitu pun Elena yang tak segan mengangguk pada petugas keamanan tersebut.
Mereka berhenti di depan sejuah ruangan, kemudian Asisten Seno mengetuk pintu tersebut, sekilas Elena melihat papan bertuliskan Presiden Direktur.
"Silahkan masuk nona" Seno mempersilahkan Elena memasuki ruangan, di ruangan tersebut nampak Harun Sebastian tengah berbincang dengan seorang pria muda.
"Masuk lah ... "Harun mempersilahkan Elena untuk duduk di depannya, dan kini ia bertatapan dengan pria muda tersebut.
Perpaduan wajah indo melayu yang cukup menarik, jambang tipis nampak menghiasi sebagian besar rahangnya, aura kepemimpinan nampak jelas terlihat, sekilas Elena menangkap senyuman samar tergambar di bibirnya.
"Kenapa Papa memintaku datang kemari" Tanya Elena ketika dia mendarat kan bokongnya di sofa, persis berhadapan dengan pria muda di hadapannya.
Harun tersenyum mendengar pertanyaan putri bungsunya tersebut, "Papa ingin memperkenalkan mu pada putra rekan bisnis papa, namanya Fero".
Pemuda itu mencondongkan badannya ke depan, kemudian mengulur kan tangannya, kini senyuman tergambar jelas di bibirnya, membuat wajahnya semakin menawan.
__ADS_1
"Fero Delfano Althaf" Ujarnya memperkenalkan diri.
"Elena Sebastian" jawab Elena singkat, tak lupa membingkai senyum di wajah cantiknya.
"Mulai Hari ini, papa ingin kamu belajar dari Fero" Harun mulai menjelaskan.
"Belajar... untuk?" tanya Elena Ragu.
"Mengelola Hotel ini, dan beberapa cabang hotel yang tersebar di 5 kota besar"
Elena membelalakkan mata tak percaya, "papa gak bercanda kan? papa tahu benar kalo latar belakang pendidikan dan pekerjaan ku, tidak ada sangkut pautnya dengan Hotel" Elak nya,
"Tentu papa tahu nak, karenanya papa ingin kamu belajar dari Fero, karena dia sudah berpengalaman mengurus beberapa Hotel bertaraf internasional milik keluarganya" Jelas Harun.
Elena menggembungkan pipinya, kebimbangan nampak jelas di wajahnya, disaat ia mulai menyukai pekerjaannya saat ini, Harun justru ingin ia belajar hal yang lain.
"Fero, kamu benar benar tidak keberatan membantu om kan?" tanya Harun memastikan.
"Tak masalah Om, saya senang melakukannya" Jawab Fero, netra nya tak lepas dari wajah Elena yang masih kebingungan dengan situasi saat ini.
deg deg deg
Pria itu terkejut, tiba tiba jantung nya berdegub, padahal Elena sedang dalam mode cemberut, entah kenapa dia terlihat manis dan menggemaskan di matanya.
"Baiklah Om, kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Fero permisi, sebentar lagi Fero ada pertemuan dengan dewan Direksi Althaf grup" ujar Fero
elena hanya mengangguk dari tempat ia duduk.
Harun tersenyum, lalu duduk di sisi Elena.
"Maafkan papa, apa papa mengejutkan mu?"
"Iya tentu saja papa mengejutkan ku, bagaimana mungkin papa memintaku mengelola hotel, sementara ini berbanding terbalik dengan latar belakang pendidikan ku"
"Tapi bisa di pelajari, Fero bukan anak kemarin sore yang baru belajar mengelola hotel, dia sudah lebih dari 5 tahun terjun langsung di bisnis perhotelan milik keluarganya"
"Eliza dan Krisna yang akan melanjutkan bisnis Konstruksi, kamu dan calon suami mu akan mengurus Hotel, dan bisnis hotel ini sengaja papa siapkan untukmu, dan papa yakin kamu bisa, karena sejak lama papa mengamati sepak terjangmu di Daehan grup, kamu cukup punya prestasi gemilang di sana"
"Haruskah Elena belajar lagi pah? bosan, pengen nya main" rengek nya manja.
"Kalau begitu carilah suami yang bisa membantu mu mengelola hotel ini, mintala bantuan suami mu untuk mengelola, dengan begitu papa bisa segera pensiun dan kamu bisa bebas bermain, karena suamimu yang akan mengurus semuanya"
aaaaaaaarrrrggghhhh ... Elena berteriak dalam Hati
"Aaahhh Elena tak ingin membicarakan suami, masih ingin bermain" dengusnya sebal, kini ia malah memeluk Harun "Papa ku masihlah Pria terbaik bagiku" ujarnya manja.
__ADS_1
"Kalau begitu carilah Pria terbaik setelah papa, yang bisa kamu ajak bermain, gampang kan, pada dasarnya menikah itu, seperti memiliki teman seumur hidup" Ucap Harun ringan tanpa beban "Jika kamu memikirkan itu, semuanya akan terasa mudah, tak perlu merasa menjadi kan pernikahan sebagai beban" ujar Harun Bijak.
Elena termenung sesaat, teringatlah ia pada seseorang yang selama ini menanti kan cinta nya, entah kenapa setelah mendengar ucapan ringan Harun, dirinya jadi memikirkan orang itu.
"Haruskah papa mencari kan kadidatnya untukmu?"
Elena terdiam, masih belum ingin merespon inisiatif Harun. "Mau type seperti Fero atau seperti ketiga temanmu atau dari kalangan selebritas"
"Apaan sih pah, jangan membicarakan suami, Elena Belum memikirkannya" ujar Elena malu.
"Tapi mamamu selalu memikirkannya, kamu gak mau mamamu sakit kan gara gara memikirkan jodoh untukmu yang belum juga datang"
Elena Hanya tersenyum masam .
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
tuh kan neng cari suami yang bisa jadi teman βΊοΈ
.
bimbang lagi kan π€
.
si abang belom othor keluarin, masih di asingkan sebentar, biar eneng kangen π
__ADS_1
.
like like like komen and vote please π₯°π