
Elena Berliana Sebastian, putri ke 2 Harun Sebastian dan Marisa, pemilik perusahaan konstruksi HS grup, perusahaan konstruksi terbesar dan terkuat di negara ini, dia gadis yang manis dan ceria, sedikit manja dan menggemaskan, wajah putih, rambutnya lurus sepundak, lebih suka pakai jeans belel daripada dress layaknya remaja putri pada umumnya.
8 tahun lalu, dia membuat keputusan besar dalam hidup nya, yaitu melanjutkan kuliah ke negri gingseng, tapi semua orang di rumahnya tau pasti apa alasan sebenarnya sehingga dia memutuskan untuk pergi dari rumah, yaitu sebuah kenyataan yang belum bisa ia terima, Harun dan istrinya bukan nya tidak ingin mencegah kepergian sang putri, tapi mereka lebih memilih untuk memberi ruang untuk Elena, ingin memberi kesempatan pada nya agar bisa berfikir serta mencari pengalaman belajar di tempat yang baru, termasuk ketika Elena ingin bekerja di sana selepas kuliah, Harun memberi dukungan penuh pada Elena, Agar Elena mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, guna mendukung performa nya sebagai salah satu penerus HS grup.
Eliza Mutiara Sebastian, kakak perempuan Elena, sang putri tertua ini tampak tegas dan disiplin, kecerdasan dan insting bisnis Harun menurun kepadanya, karena ini lah dia sering bertengkar dengan Elena saat masih anak-anak dulu, rambutnya hitam bergelombang, berkacamata minus, karena sejak kecil dia kutu buku, berbanding terbalik dengan Elena yang lebih suka bermain.
Saat Kedua putrinya masih kecil, Harun sudah mengajarkan disiplin dan kemandirian pada kedua putrinya, sadar tidak memiliki penerus laki laki di keluarganya, maka Harun juga mulai mengenalkan Eliza pada bisnis konstruksi yang di gelutinya, karena itulah Eliza bisa di katakan duplikat Harun di masa mudanya tapi versi wanita, sejak tahun pertama di bangku kuliah, sepulang kuliah Eliza langsung menyibukkan diri magang d perusahaan sang papa, yah dia memulai sebagai karyawan biasa di sana, apapun dia kerjakan dengan penuh semangat, mulai dari memfoto copy dokumen, memasukkan data proyek, sampai managerial keuangan dan proyek dia pelajari.
Sementara Elena selalu menolak untuk andil di perusahan dengan berbagai alasan, Elena lebih suka bermain dan menghabiskan waktu bermanja dengan sang mama, dan Marisa pun tak keberatan dengan hal itu, karena itulah Harun sering protes dengan kebiasaan sang istri yg terlalu memanjakan putri ke 2 nya tersebut.
“nggak papa, kalau semuanya serius kaya papah, rumah ini jadi suram kaya pemakaman” jawab marisa bila sang suamu mengajukan protes.
Memang lucu, tapi begitulah cara Marisa mendidik Elena, dia tidak ingin sang putri menjadi terlalu serius seperti papa dan kakak nya.
...****************...
Siang itu suasana rumah nampak lengang seperti biasa, Elena baru saja menapakkan kaki nya di halaman.
Brak
Elena dia menutup pintu mobil, pandangannya menyapu seluruh halaman rumah milik keluarga nya tersebut, ‘waaaahhhh halaman nya semakin indah’ ujarnya, banyak yang berubah dari halaman rumah besar tersebut, ‘ini pasti ulah nyonya rumah ini’ senyum manis tersungging di bibir nya, ' aaaaaahhh kangen mama’ katanya
“Nona muda masuk saja, biar Pak Mun bawa koper nona ke dalam”
“iya, terimakasih pak mun” Elena tersenyum seraya melangkahkan kaki memasuki rumah beras tersebut.
“Mama ... “ panggil elena karena susana rumah tampak sepi
Kemudian sesosok wanita paruh baya tampak melongok dari arah dapur, kemudian dia tersenyum lebar melihat putri tercintanya sudah tiba.
"Hai sayang, sebentar yah mama cuci tangan dulu” kata Marisa.
Ketika Marisa sedang mencuci tangan tiba tiba Elena memeluk sang mama dari belakang “Elena kangen mama” desahnya manja
Nyonya marisa pun berbalik seraya memberi pelukan hangat untuk sang putri.
“Mama juga sayang” nyonya marisa tampak tersenyum hangat, setitik air mata melewati kelopak matanya “ya Tuhan, terimakasih sudah membawa gadisku kembali ke rumah”
“aaaahhh mamaaaaa” elena pun ikut menangis bahagia.
__ADS_1
Tak lama dari arah kamar belakang muncul, sosok gadis kecil berambut
Pendek, dia Tampak mendekat ke arah elena dan nyonya marisa, kemudian tangan mungilnya menarik narik dress sang eyang.
“Eyang ... “ Panggilnya lirih
Elena dan sang mama pun menghentikan kegiatan nya, Kemudian menoleh ke arah suara.
“Waaaaahhh siapa nona kecil ini” sapa Elena seraya berjongkok agar wajah mereka sejajar
“Cecilia panggil aja Sisi” jawabnya pendek.
“Oh Hai sisi” Elena mengulurkan tangan “Boleh kenalan?”
Nona kecil itu pun mengangguk, dan menyambut uluran tangan Elena.
“Tante Elena, boleh tante peluk sayang?”
Sisi mengangguk, Elena pun memeluk sisi dengan penuh kerinduan, bagaimana tidak, sejak sisi lahir, bahkan sebelum kedua orang tua sisi menikah, Elena Sudah berada di negri gingseng, karena sibuk dengan kuliah dan pekerjaan nya.
“Sisi suka coklat?” tanya Elena sana ketika pelukan mereka terlepas, sisi tersenyum seraya mengangguk kan kepala.
“Sekarang bantu tante beres beres yuk, nanti tante kasih hadiah coklat buanyaaaaakkk” ajak Elena semangat, keponakannya pun tersenyum ceria.
“waaahhh Sisi, Eyang cemburu loh ... Masak Eyang gak diajak” goda sang eyang
“iiihhh Eyang, kan Sisi mau bantu tante beres beres” jawab sisi polos
“ Iya iya ... Eyang tunggu d bawah yah, kalo udah selesai langsung turun dan makan”
“Ma ... elena mau nasi goreng pete” teriak elena sambil menaiki tangga
“iya ... Mama sudah siapkan spesial pete pake udang”
“yeaaaahhh mamaku terbaik” sambut Elena girang, terbayang nasi goreng spesial sang mama.
...****************...
Lelaki itu tampak jengah melihat tumpukan berkas pekerjaan yg menumpuk d meja kejanya, di sisi lain hatinya dia bersyukur karn semenjak lulus kuliah hingga sekarang, dirinya bisa bekerja bahkan Kini di percaya menjadi tangan kanan direktur HS grup, di sisi lainnya lagi, dia merasa lelah, atasannya benar benar menjadikan dirinya orang paling sibuk di perusahaan, walaupun gaji yg dia terima sangatlah besar, tapi sisi manusiawi nya berontak ingin sejenak lenyap dari kesibukan yang kian menyiksa.
__ADS_1
Disaat semua orang mulai beristirahat, dirinya mulai membuka bermacam dokumen yang harus di baca d pelajari kemudian di laporkan kepada Krisna sang atasan, siang hari nya dia lebih sering berada d lapangan meninjau lokasi proyek, kadang seminggu kemudian dia baru terlihat kembali d kantor, seperti saat ini.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunannya “masuk” ujarnya.
Syafira sang sekertaris memasuki ruangannya “maaf pak, tadi pagi pak krisna meminta laporan proyek jembatan Pulau YY”.
“Sudah kamu serahkan?” tanyanya.
“sudah sebagian pak, sebagian sedang saya kerjakan” jawab syafira, pandangannya tak lepas dari tab yg ada di tangannya.
“Ada lagi?” tanya nya malas.
“Sebentar pak” sang sekertaris tampak cekatan, mengayunkan jari-jari nya diatas tab yang ia pegang “Ah iya, ini laporan proyek baru yang akan datang”.
“Berikan padaku” pintanya, syafira mengulurkan tab yang ada d genggamannya “ tim nya sudah di bentuk?”.
“sudah pak, kemarin pak Krisna sendiri yang menunjuk, tim ahli yang akan terlibat, tentu saja bapak juga akan salah satu d dalam nya”
“Sebagai?”
“Penanggung jawab utama tentunya” Syafira tersenyum mengakhiri penjelasannya.
Sontak Bagus melorot dari sandaran kursinya “Aaaaahhhhrrrggg apa pak Krisna ingin aku mati muda?” tanyanya pada syafira “Kenapa lagi lagi aku jadi penanggung jawab utama”
Sebagai sekertaris, Syafira sangat faham, bahwa atasannya itu orang yang sangat di percaya sang direktur, karena lagi lagi sebuah proyek besar di percayakan padanya.
“Apa kamu mau ikut aku ke proyek baru itu?”.
“Saya hanya bawahan pak, kemanapun anda munugaskan, saya pasti ikut” jawab Syafira lugas.
“tapi kali ini kamu tidak hanya bekerja padaku, dua orang temanku juga terlibat d sana”.
“Saya akan berusaha sebaik mungkin pak”.
“Baiklah, kamu memang bisa di andalkan, apa ada lagi?” Bagus mengulurkan tab d tangannya.
“Oh iya satu lagi, saya hampir lupa”Syafira berjalan meninggalkan ruangan, tak lama dia kembali sambil membawa dua paper bag berbeda warna d tangannya.
__ADS_1
“Ini datang senin lalu pak” Syafira meletakkan dua paper bag di atas meja kerja atasannya.
“Baik, terimakasih” bagus tersenyum ke arah Syafira “lanjutkan pekerjaan mu”.