Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
81. The End


__ADS_3

Elena meletakkan nampan berisi sarapan di atas meja, tadi nya ia hendak lari pagi, namun Marisa memarahinya karena ia mengabaikan suaminya yang masih terlelap.


Jadilah kini ia kembali ke kamar dengan nampan berisi sarapan.


Elena menggeser laptop yang masih dalam kondisi menyala tersebut, sengaja tak ia matikan, karena nampaknya pekerjaan suaminya masih belum selesai, kemudian Elena juga merapikan kertas kertas yang masih berserakan.


Haris tertidur di sofa, dalam Hati Elena merasa lucu, ia dan Haris sudah resmi menjadi sepasang suami istri, namun di malam pertama, mereka malah tidur ditempat terpisah.


Semalam ketika kembali tiba di rumah, Elena merasa tak sanggup lagi membuka mata, jadi ia terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal, ia bahkan tak tahu, kapan Haris menyelesaikan ritual mandinya, karena rasa lelah yang sudah teramat sangat.


Rupanya suaminya lebih memilih kembali menjadi kelelawar, padahal dokter Alan audah memintanya untuk menghentikan kebiasaan tidak sehat tersebut.


Haris masih terlelap di sofa, Elena duduk memeluk lututnya dilantai, wajahnya tersenyum manakala menatap suaminya yang masih terlelap, pria itu bahkan tak menyadari kini sang istri tengah menatap wajah nya.


Dengan gemas Elena mencium pipi suaminya, namun si empunya pipi tak juga membuka mata.


Alih alih membuka mata, pria itu malah berganti posisi, kini ia tidur dengan posisi miring, hingga wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Elena.


"Uuuhhh gemesnya," Elena mengusap rambut hitam suaminya. "pasti lelah sekali yah, bekerja sampai tak kenal waktu," bisik Elena lirih, kemudian ia pun kembalin mencium pipi suaminya, "Istirahatlah, aku tak akan mengganggumu," Bisik Elena pelan.


Kemudian Elena pun berdiri, namun ketika hendak melangkah, tiba tiba Haris menarik tangannya.


"Eh ... kok sudah bangun?" tanya Elena, yang seketika langsung memutar pandangannya.


Haris nampak cemberut menatap nya, "Aku sudah memberimu kesempatan untuk mengagumi wajah tampanku ini, tapi kenapa malah mau pergi?" Gerutunya.


Elena tekekeh, 'Ya ampun ternyata suamiku begitu narsis' batinnya.


"Tidak, aku hanya ingin membangunkan abang untuk sarapan, tapi sepertinya abang lelah sekali, jadi aku tak tega."


Hanya dengan panggilan 'abang' dari sang istri membuat raut wajah pria itu kembali normal.


Haris pun mendudukkan tubuhnya dengan malas, punggungnya masih bersandar di sofa, "Duduk sini," Haris menepuk ruang kosong di sebelahnya.


"Aku cuci tangan dulu," Haris beranjak dari kursi menuju Toilet, dan kembali lagi dengan wajah dan rambut yang basah.


Haris kembali duduk, ekspresi wajahnya tampak aneh, manakala memperhatikan apa yang saat ini tengah di kenakan istrinya, Elena memakai kaus longgar namun agak menerawang, hingga siapapun bisa melihat dengan jelas apa yang bersembunyi di balik nya, bukan itu saja yang membuat Haris cemberut, namun tatapannya kini tertuju pada leging super pendek yang menampakkan setengah paha Elena.


"Pakai baju seperti itu mau ke mana?" tanya Haris tak suka.


Elena memperhatikan dirinya, "mau lari pagi," Jawabnya.


Haris membulatkan matanya, "lari pagi dengan kostum seperti ini?"


"Trus aku harus pakai apa?"


"Ganti dengan yang lebih panjang, dan kausnya jangan pakai yang ini," gerutu Haris. "aku gak mau ada laki laki lain melihatmu,"


Elena tertawa gemas, menurut Elena, Haris yang seperti ini benar benar menggemaskan.


"Kan aku lari nya di treadmill sayang,"


Haris tersenyum lega, kemudian ia mulai meminum jus nya, "maaf kalo aku terlalu pencemburu,"


Elena menyunggingkan senyumnya.


"Kamu sudah makan?"


"Tadi hanya minum jus, nanti saja makannya,"


"Buka mulut," Haris membawa sendok ke depan bibir istrinya.


"Aku bilang nanti saja ... " Elena tak lagi melanjutkan ucapannya, karena mulutnya kini penuh makanan.


Dengan terpaksa Elena mengunyah makanan tersebut, dan Haris terus menyuapi Elena hingga sepiring makanan habis tak bersisa.


"Akhirnya makan kan? ini baru istriku," Haris mengusap kepala Elena, kemudian sekilas mencium bibir merah muda tesebut.


Niatnya sih ciuman sekilas, tapi nyatanya , baru berhenti setelah keduanya kehabisan nafas.


"Aku mencintaimu, rasanya masih sama ketika pertama bertemu," ucap Haris, Ibu jari nya mengusap bibir Elena yang masih basah, akibat ulah mereka berdua.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, sayang ku," balas Elena.


"Maaf, semalam aku mengabaikanmu," Kini ciuman Haris berpindah ke leher, bulu kuduk Elena mulai meremang, debar debar jantungnya mulai berpacu. "Semalam aku sudah sangat menginginkan nya, tapi apa daya, dokter Alan masih melarang, dia ingin memastikan luka di bagian dalam benar benar sembuh agar tidak ada masalah di kemudian hari."


"Aku akan menunggu,"


"Tapi, malam nanti aku harus kembali ke negara paman AA," Haris memandang wajah Elena berharap agar Elena tidak kecewa dengan kembalinya ia ke negara paman AA.


"Maaf, semalam Rocky memberitahuku bahwa aku harus segera kembali, karena Holla island akan di resmikan 3 bulan kedepan, sementara aku sudah terlalu lama meninggalkan proyek tersebut karena harus menyelesaikan urusan kita,"


Elena tampak berpikir sejenak, "kalau begitu bekerjalah dengan tenang, dan pikiran positif, aku akan menjaga diriku dengan baik disini, menjaga hatiku, dan akan selalu merindukan abang,"


Haris tersenyum bahagia, tidak menyangka bahwa istrinya akan dengan mudah menerima perpisahan mereka, pasti bukan hal yang mudah juga untuk Elena, untuk ikatan yang baru saja terjalin, dan kini mereka harus ikhlas untuk kembali LDR seperti dulu.


"Boleh aku menyusul abang, setelah pekerjaan ku selesai di sini?"


"Tentu saja, aku akan menantikan kedatanganmu, kita honey moon di Holla island, kamu akan jadi pengunjung pertama di sana, spesial bersama arsiteknya,"


Elena merekahkan senyumannya, "Benarkah? tapi bukankah akan butuh waktu lama untuk menyelesaikan Resort di sana?"


"Tidak, sebenarnya resort itu sudah setengah jalan, namun tuan Dimitri tidak menyukai hasil pekerjaan Arsitek sebelumnya, jadi di hentikan begitu saja,"


"Kemudian aku mengajukan gambarku, dan tuan Dimitri menyukainya, bahkan ingin aku sendiri yang menangani proyek tersebut."


"Itu artinya, tuan Dimitri, benar benar ingin hasil akhir yang sempurna, dia mempercayai mu sepenuhnya," Elena mengusap pipi Haris, berharap pria itu tidak terlalu bersedih dengan kondisi mereka yang harus berjauhan sementara waktu.


Haris mengeratkan pelukannya, "aku pasti akan sangat merindukanmu,"


"Aku juga ... "


...****************...


"Kita mau kemana?" Tanya Elena ketika akhirnya mereka keluar rumah siang itu.


Haris tersenyum penuh misteri. "Ketempat spesial, nanti kamu akan tau,"


"Baiklah ... "


Berkali kali Elena tertawa keras, bahkan tak jarang tanpa sadar memukul atau menyembunyikan wajah nya di punggung Haris, namun sepertinya Haris sama sekali tidak terganggu, dia justru menikmati suasana baru ini, biasanya dia bekerja seorang diri, sepi dan sunyi menemani, kini tawa renyah istrinya, laksana melody yang terdengar begitu indah.


Perjalanan siang itu begitu hangat, keduanya sama sama tak mau melepaskan genggaman tangan mereka, sadar bahwa detik detik ini akan segera berakhir karena mereka harus kembali berjauhan, menyebalkan sih, tapi mau bagaimana lagi, perjuangan cinta mereka harus terus berjalan, berharap kelak tuhan akan memberikan hadiah terindah dalam perjalanan kisah kasih mereka.


Bertahun tahun memendam cinta seorang diri, sungguh sesuatu yang tidak mudah, hanya dengan melihat tawanya Haris sungguh bahagia, bahkan rela menjadi teman terbaik, agar tetap memiliki alasan untuk terus berada disampingnya, nyatanya hal itu tak membuat Haris merasa bosan.


Kini perjuangannya menanti sang pujaan hati, akhirnya berujung manis, buah dari kesabaran dan kesetiaannya, ternyata tuhan memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan pada Elena, siapa sebenarnya cinta sejatinya, yah walaupun dengan proses dan waktu yang teramat panjang.


Perlu waktu dua jam perjalanan untuk di tempuh, hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, namun sebelum tiba di tempat tujuan, hari mampir ke toko bunga.


Haris membeli buket baby breath berukuran cukup besar, wajahnya nampak berseri manakala mencium aroma samar bunga tersebut.


"Mau ketemu siapa sih pake bawa bunga segala?" Elena bertanya, wajahnya mulai cemberut menahan rasa cemburu.


"Hahaha istriku cemburu," Haris berkelakar, "kita akan mengunjungi wanita spesial, cinta pertamaku sebelum bertemu denganmu,"


Dengan gemas Haris mencium pipi Elena, "ini kejutan sayang, jangan dulu marah jadi tidak seru."


Namun ucapan Haris tak juga membuat ekspresi Elena berubah, istri manisnya tersebut malah memalingkan wajahnya keluar jendela, "Ya sudah kalau kamu marah, kita batalkan saja."


"Yah kok batal sih, kita udah jauh jauh ke sini," Elena memekik terkejut, dia tidak rela perjalanan panjangnya berakhir sia sia.


"Ya ... dari pada istriku marah, bisa repot urusan masa depanku," Haris mengedipkan matanya, menggoda sang istri.


"Iiiihhh ... dasar genit, siapa juga yang marah," Elena mencubit lengan suaminya.


Terang saja Haris meringis menahan sakit, "Tuuuh wajahmu belum berubah, jadi gimana mau lanjut atau balik?"


"Lanjut aja," Ujar Elena, suaranya masih terdengar malas, namun justru semakin menggemaskan.


"Oke ... kita jalan lagi," Haris pun kembali menginjak pedal gas.


Elena terkejut manakala mengetahui tujuan akhir perjalanannya, mobil berhenti di area parkir pemakaman, Haris turun terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Elena.

__ADS_1


"Kok ke sini?" tanya Elena masih dengan segudang tanya.


"Iya, hari ini kita mengunjungi ibu ku, wanita terbaik dalam hidupku, cinta pertama ku," wajah Haris berbinar ketika membicarakan ibunya.


"Kenapa gak bilang dari tadi," Elena merasa bersalah karena tadi sudah cemburu tak beralasan.


"Sengaja, aku kan ingin menggoda mu,"


Elena mencebikkan bibirnya. namun sesaat kemudian senyum manisnya kembali merekah.


Haris membawa Elena berjalan beriringan menuju pusara yang menjadi tujuan mereka.


kini mereka tengah berhadapan dengan sebuah makam sederhana dengan rumput yang tertata rapi, Haris meletakkan bunga diatas pusara.


"Ibu, apa kabar, Haris datang lagi bu," Haris membawa Elena duduk disisi makam. "Kenalkan ini istri Haris, menantu ibu, namanya Elena, cantik kan? dia gadis sederhana bu, sama seperti ibu, maaf baru kali ini Haris bisa membawanya kesini menemui ibu, sekarang kami sudah menikah,"


Haris terus bercerita, seolah olah ia sedang berbincang akrab dengan ibunya, kadang ia terlihat tertawa dan kadang sedih, Elena memperhatikan Lelaki yang kini menjadi suaminya, ternyata dia mendapati sesuatu yang baru di kenalnya dari seorang Haris, Haris yang bisa bercerita apa saja pada ibunya, walaupun ibunya tak lagi ada di dunia.


...****************...


Airport menjadi tujuan akhir mereka hari itu, Elena kembali mengeratkan genggaman tangannya, seolah dia belum ingin berpisah dari suaminya, "sudah semakin malam sayang, mau sampai kapan kamu menungguku di sini?"


"Sampai abang check in, aku akan terus menempel seperti bayi koala," jawab Elena seenaknya, sejak tadi ia memeluk lengan suaminya.


Haris hanya mengacak rambut istrinya, sungguh wanita yang menggemaskan, sepanjang siang hari ini dia menikmati kebersamaan bersama istrinya, hari yang membahagiakan, penuh canda tawa, dan rasanya hari ini waktu berlalu sangat


cepat.


"Jangan sampai seperti waktu itu, abang bertambah kurus, seperti tidak pernah bertemu makanan," Elena berucap lirih.


"Iya ... aku akan makan teratur, perlukah kita sepakati waktu bertukar kabar, karena perbedaan waktu pasti akan membuat kita salah faham,"


Elena mengangguk, "aku akan mencantumkan waktu, sebelum menulis pesan,"


"Oh iya, tadi sebelum kita berangkat, aku sudah meminta pak Mun untuk kemari dan menjemputmu,"


Elena menengadahkan wajahnya, "Abang pikir aku anak kecil, aku bisa pulang sendiri,"


Haris mencubit gemas dagu Elena, "Iya aku tahu, kamu bukan anak kecil, tapi kamu wanita kesayanganku, mana tega aku membiarkanmu pulang sendiri,"


Elena nyengir, namun hatinya terasa hangat, ia kembali menyandarkan kepalanya di pelukan suaminya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya panggilan untuk para penumpang pun mengharuskan Haris dan Elena dengan berat hati mengakhiri pelukan hangat mereka.


Haris berdiri, kemudian mengenakan Hoodie berwarna hitam yang baru di belinya sebelum mereka tiba di airport, Yah akhirnya Haris harus merelakan Hoodie kesayangannya disita istrinya, karena barang itu sudah seperti jimat yang mampu membuat Elena terlelap.


Elena membantu merapikan baju santai yang di kenakan suaminya.


Mereka kembali bertatapan, saling melemparkan senyum malu malu, yang sebentar lagi akan menjadi raut kesedihan, tangan mereka masih saling menggenggam, sungguh duka bagi pengantin baru, namun komitmen yang kuat membuat mereka ikhlas tinggal berjauhan, berharap tuhan memberikan jalan tengah terbaik untuk kehidupan mereka selanjutnya.


Haris meraih tengkuk Elena, dan mulai mengecap bibir manis istrinya, mereka berciuman di depan banyak orang, tak peduli banyak pasang mata yang melihat, kedua lengan Elena bahkan sudah melingkar di leher Haris, sementara lengan Haris melingkar di pinggang Elena dan makin mengeratkan pelukannya.


Sungguh ciuman panjang yang mengawali perpisahan manis mereka.


Bukan berpisah dalam arti sesungguhnya, hanya berpisah jarak dan waktu, namun Hati mereka akan terus terikat sampai maut memisakan.


...❤️The End❤️...


Terima kasih buat para pembaca, yang setia hingga cerita receh ini berakhir, mohon maaf jika ada banyak hal yang tidak masuk akal, karena ini hanya khayalan othor semata.


ini novel pertama yang coba othor buat, sejak dulu emang suka buat novel tapi gak pernah tamat, 😆😁 karena nya perlu perjuangan ekstra, untuk menamatkan kisah Haris dan Elena.


Nanti kalau othor kangen sama mereka, othor bikin extra part tipis tipis 😘😋


Sampai jumpa di novel othor selanjutnya.


Sepasang Mantan. kisah Alexander Geraldy dan Stella Marisa William.


Terima kasih untuk yang sudah vote like and komen. I love you all guys ...


🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Wassalamualaikum wr wb


__ADS_2