Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
58


__ADS_3

Kali ini kedai sate jadi pilihan, karena malam semakin larut, tak banyak kedai yang masih buka, jadi ketika melihat kondisi kedai cukup bersih, tanpa pikir panjang, Haris menepikan mobilnya.


Lagi pula Haris tak mau ambil resiko dikejar para fans nya lagi, dan berakibat Elena cemberut, jika sudah demikian suasana hati yang sudah membaik bisa kembali rusak.


Suasana kedai yang sudah tak lagi ramai juga menjadi pertimbangan Haris, dia ingin makan dengan tenang tanpa gangguan, karena nya Haris pun kini memakai topi agar wajah mereka tersamarkan.


"Gak papa kan kita makan di sini."


Elena mengangguk.


Mereka sengaja memilih tempat berhadapan, di sudut kedai, karena di sana pencahayaan tak begitu terang, agar tak mudah di kenali orang, kini kedua tangan Elena tengah menopang wajahnya, Haris pun melakukan hal yang sama, tujuannya hanya satu, agar bisa saling menatap dari dekat.


"Kamu gak bosan sejak dulu hanya melihatku?" tanya Elena iseng.


"Nggak tuh, justru setelah melihatmu, kedua mataku seperti tertutup dinding tebal, hingga tak bisa melihat yang lain."


"Sejak kapan kamu pandai menggombal?"


"Iiih aku lagi serius masa gak dipercaya," Haris memanyunkan bibirnya.


"Embeerr ... " Elena terkikik geli, ternyata menggoda Haris sungguh menyenangkan. "Apa hari ini sibuk sekali?"


"Iya ... bahkan sangat sibuk, memeriksa setiap detail laporan perkembangan proyek Denz DRT, yang kini sedang di kerjakan ulang oleh Hamrr's, steve yang bertanggung jawab, termasuk laporan dari Rocky di HOLLA island yang terpaksa kutinggalkan sampai urusan kita selesai, dan 2 jam lagi aku harus rapat dengan mereka semua."


"2 jam lagi itu jam 12 malam loh." Elena yang terkejut memekik pelan.


"Iya aku tahu, aku sudah seperti kelelawar kalau sedang di negara ini," keluh Haris.


"Pantas, kamu sering menghilang secara misterius," kini giliran Elena yang memanyunkan bibirnya.


"Kamu kan bisa tanya, kenapa nggak pernah bertanya?"


"Bukan urusanku, aku gak suka kepo berlebih."


tak ...


Sentilan kecil mendarat di kening Elena.


"Aw ... kebiasaan buruk." Elena menggosok bekas sentilan Haris.


"Belajarlah bersikap sedikit peka."


"Kalian ini benar benar, Tadi Alex mentertawakan ku, sekarang kamu menyentil dahi ku," Elena meringis menahan sakit, bibirnya terus komat kamit tak jelas.


'Oh bibir itu ... Haris tahu bagaimana rasanya, ingin lagi? tentu saja, tapi Haris tak berani melakukannya, mengingat ketika terakhir kali, bagaimana sesudahnya mereka bertengkar. Walhasil haris harus menahan sekuat tenaga rasa inginnya mencicipi bibir mungil itu kembali.


Beberapa menit menunggu, pesanan mereka pun tiba, 50 tusuk sate lengkap dengan lontong dan nasi siap memanjakan lidah mereka, Haris menyodorkan lontong untuk Elena, gadis itu tidak suka sate yang dimakan bersama nasi, sementara Haris wajib makan nasi.

__ADS_1


Mereka makan diselingi obrolan ringan, "Kalau mau tambah bilang aja."


Elena hanya mengangkat jari tangannya sebagai jawaban, karena mulutnya sudah sibuk mengunyah. Inilah yang membuat Elena spesial, gadis di hadapannya ini selalu apa adanya, termasuk kebiasaannya ketika makan makan, makanan apapun asal bersih dan halal dia makan tanpa sungkan.


Dengan ibu jarinya, Haris mengusap sisa bumbu sate dari bibir Elena, ketika gadis itu dengan lahap memakan sate, Elena tampak cuek dan tetap melanjutkan makannya.


Sungguh melihat Elena makan merupakan pemandangan yang indah.


"Pelan pelan saja makannya, tidak akan ada yang merebut makanan mu." Haris kembali mengingatkan, ketika melihat ada bumbu kacang tertinggal di sudut bibir Elena, lagi lagi dengan sabar Haris membersihkannya.


Elena kembali mengangguk tanpa suara, kecepatan makannya benar benar tak di ragukan, tidak sampai 10 menit Elena telah menghabiskan makanannya, padahal Haris baru menghabiskan sebagian.


Kini Elena kembali menopang dagunya, seolah mata nya tengah di manjakan dengan pemandangan indah, "mau tambah lagi?" Haris bertanya di sela sela makannya.


Elena menggeleng, senyuman manis mengiringi jawabannya.


"Yakin?"


Elena kembali mengangguk.


"Kamu sakit tenggorokan?"


Elena menggeleng.


"Lalu kenapa tak bersuara?"


Elena tergelak. "Aku hanya ingin melihatmu makan."


Haris segera menghabiskan sebagian isi botol tersebut, wajahnya masih memerah, "terimakasih," ucapnya.


Elena kembali duduk, karena kejadian tadi Elena jadi berpindah ke sisi Haris, kini mereka saling pandang, Namun kemudian Haris berpaling, bukan karena ia tak suka, namun karena ia takut tak bisa menahan diri, boleh dong Haris kegeeran, dia tengah bahagia mendapat perhatian dari calon istrinya, terlebih sejak mereka bertemu satu jam yang lalu, sikap dan tatapan Elena sungguh berbeda, membuat jantung nya berkali kali hendak melompat keluar.


Haris kembali di buat terkejut, pasalnya Elena kini dengan santai memainkan rambut yang berjatuhan di keningnya, yaa ... sejak mulai makan Haris membuka topinya, hingga rambutnya kembali jatuh bebas menutupi sebagian besar keningnya, namun kali ini Haris bahkan tidak menegurnya, dia justru tengah menikmati momen ini.


"Kini aku tahu, kenapa gadis gadis itu selalu histeris ketika melihatmu, kamu misterius, sikapmu yang dingin pada setiap wanita yang mendekati mu, menjadi daya tarik tersendiri, dan mata hitam ini sungguh menambah daya tarik mu," puji Elena tanpa sungkan.


Fix ... tidak salah lagi, Elena pasti sedang gegar otak, sejak tadi nada bicaranya aneh, seperti seorang yang tengah kasmaran, pikir Haris.


"Dan jangan khawatir apa lagi cemburu, karena mata ini hanya sanggup menatapmu, tidak bisa menatap yang lain." mata hitam itu menatapnya penuh cinta.


Bluussshh ... kali ini Elena yang merona menahan malu, dalam hati dia tertawa dan berteriak kegirangan.


"Tunggu sebentar, aku bayar makanannya." Haris beranjak berdiri menghampiri kasir.


Tak lama ia kembali dan mengulurkan tangannya, "Ayo aku antar pulang, terlalu lama bersamamu membuatku tidak sehat." ujarnya.


"Kenapa?" Tanya Elena polos.

__ADS_1


"Sejak tadi kamu membuat jantungku berdebar, lama lama aku bisa terkena serangan jantung."


Elena terkikik geli. sebelum kemudian menyambut Uluran tangan calon suaminya tersebut.


"Aku gak mau pulang," ujarnya sedih, tepat sebelum Haris membukakan pintu untuknya.


Haris menautkan alisnya, "Kenapa?."


"Dirumah sepi, ga ada mama papa, kak Eliza dan suaminya sudah tinggal di rumah mereka, jadi yang tersisa hanya asisten rumah tangga." Keluhnya muram.


"Mau menginap di rumahku?"


"Bolehkah." seketika wajah Elena kembali berbinar.


Haris mengangguk, "Sekalian berkenalan dengan Ayah, belum pernah ketemu kan?"


Elena mengangguk cepat. "Tapi apa kata keluargamu kalau aku menginap di rumahmu?"


"Jangan khawatir, lagi pula kamu kan tidak tidur di kamarku, atau mau menginap di hotel?" Haris memberikan opsi lainnya.


Namun tiba tiba rona wajah Elena Berubah muram, dia pun menggeleng kuat, tanpa bicara pun Haris tahu kalau Elena masih trauma dengan kejadian ketika mereka berada di negara Singa ZZ.


Haris mengusap pipi Elena, "Iya aku tahu, aku tak akan membiarkan mu menginap di hotel seorang diri."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2