
Manager hotel yang datang bersama staf tampak tergopoh-gopoh memasuki Kamar yang Elena tempati.
“Ah ... Sudah datang kalian, saya tidak mau tau, saya ingin kalian menyelidiki semua ini, bagaimana mungkin pria mabuk ini menerobos kekamar teman wanita saya” perintah Haris masih dengan amarah.
“Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan ini tuan, segera kami akan memeriksa CCTV, dan membawa pria ini kepada pihak yang berwajib” manager hotel itu, tampak tenang menyampaikan permintaan maaf .
"ya ... sebaiknya begitu" Haris berjalan mendekati manager Hotel "karena jika terjadi sesuatu padanya" Haris menunjuk Elena yang sedang terbaring diatas ranjangnya "Aku pastikan hotel kalian juga akan mendapatkan akibatnya" perkataan Haris pelan namun penuh penekanan.
Manager hotel itu hanya bisa menelan salivanya, sial sekali dia hari ini, disaat dia bertugas ada kejadian seperti ini, mungkinkah pengamanan sedang fokus ke ballroom karena sedang ada acara malam tadi, pikirnya.
"pergi, dan bawa pria brengsek itu ke pihak yang berwajib".
tak lama, seorang petugas medis tiba.
"selamat malam tuan, izinkan saya memeriksa teman anda" kata petugas medis tersebut.
"ya silahkan" Haris mempersilahkan dokter itu memeriksa kondisi Elena.
Dokter pun memulai pemeriksaan nya, dan sesudahnya dia pun bernafas lega.
"Bagaiman Dok" tanya Haris khawatir.
Dokter itu tampak tersenyum, "Tidak apa apa tuan, nona baik baik saja, mungkin setelah bangun nanti dia akan sedikit shock"
Kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam tas nya. "Ini obat penenang, minum hanya jika diperlukan saja, dan ini salep untuk menghilangkan bekas kemerahan d lehernya".
Haris mengangguk setelah menerima penjelasan dokter tersebut, kemudian dokter itu pun pamit, "segera hubungi CS hotel jika ada masalah dengan kesehatan nona, saya standby di hotel ini".
"Baik Dok, terimakasih".
...****************...
Sampai satu jam kemudian, Haris masih belum bisa memejamkan matanya, dia duduk terdiam di sisi ranjang tempat Elena Berbaring, sama sekali tak bergerak dari tempat dia duduk. Sungguh dia merasa kesal sekaligus marah dengan kejadian ini.
Tak lama kemudian Elena pun sadar, barulah Haris bergerak dari posisinya saat ini "Elena ... " panggilnya lirih
"Aku dimana??" tanya nya pelan "dan kenapa kamu ada di sini?" lanjutnya, seperti tidak mengingat apa yang barusaja dia alami.
"Kamu tidak apa apa?" tanya haris khawatir.
"Iya" Jawab Elena masih dengan suara lirih "aku mau air" pintanya.
Dengan cekatan Haris menyambar air di nakas, kemudian membantu Elena duduk. "Pelan pelan minum nya"
"Aku kekamar dulu yah, ambil ponsel"
Seketika Elena panik, kemudian menyudahi minumnya, tangannya reflek menahan lengan Haris "Jangan pergi" pintanya memelas, seperti nya Elena mulai mengingat kejadian yang menimpanya, tiba tiba air matanya menetes "aku takut" tangannya bergetar.
Haris tersenyum lembut "hanya sebentar, aku janji" Bujuk Haris.
__ADS_1
Namun Elena masih menggeleng "tak mau, aku harus ikut, kita kekamar mu saja, yah".
Dengan perasaan bimbang Haris pun meng iya kan permintaan Elena "baiklah, aku kemasi dulu barang barangmu".
Dengan berat hati Elena pun melepaskan lengan Haris.
Tanpa menunggu lama Haris pun mengemasi seluruh barang barang Elena, kemudian mereka berpindah ke kamar Haris.
"Mau ganti baju dulu" tanya Haris ketika dilihatnya Elena masih memakai gaun yang ia kenakan saat di pesta tadi.
Namun Elena menggeleng.
"Baiklah, istirahat lah, aku tak akan kemana mana, lagi pula sebentar lagi matahari terbit"
Elena mengangguk, kemudian masuk kedalam selimut, tak lama ia pun kembali terlelap.
Haris mengambil ponsel yang tergeletak di bawah meja, tadi dia terlalu panik, hingga melempar ponsel nya ke sembarang arah, Haris terduduk lemas di lantai, punggungnya bersandar di tepi ranjang tempat Elena berbaring.
Ditatapnya wajah gadis itu "maaf ... maafkan aku" ujarnya tanpa suara, di singkap nya helaian rambut yang menjuntai menutupi pipi Elena, kemudian pandangannya turun ke leher Elena, barulah ia teringat salep pemberian dokter tadi.
Haris berjalan mendekati koper Elena, karena dia ingat betul, tadi dia meletakkan obat dan ponsel Elena di meja dekat koper.
Dia kembali duduk di lantai, setelah membuka kemasan salep, dia pun mengoleskan ke leher Elena sepelan mungkin, agar Elena tidak terbangun, namun dia salah, tiba tiba Elena membuka mata, dia tampak terlejut, reflek dia bangun dan menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh nya.
"Oh maaf" Haris mengangkat kedua telapak tangannya, seperti seseorang yang tengah di todong senjata tajam "Aku hanya mengoles salep ke lehermu, agar bekas kemerahan nya segera pudar" Haris mencoba menjelaskan kesalahpahaman tersebut.
"Tak apa, seharusnya aku yang minta maaf, semua ini terjadi ketika aku mengajakmu, maukah kamu memaafkanku?" dengan tulus Haris minta maaf "Setelah ini kamu boleh memaki, bahkan memukul ku bila perlu, asal itu bisa membuat mu baik baik saja, aku akan menerima nya"
"Jangan berlebihan, kamu ga salah kok, terimakasih sudah datang menyelamatkan ku"
Haris yang masih berdiri diatas lutut nya, melanjutkan kembali mengoles leher Elena dengan salep. setelah selesai haris meletakkan kembali salepnya di atas nakas. "sepertinya itu tidak akan langsung memudar, perlu waktu beberapa hari, bagaimana kalau ada yang bertanya?" Haris bertanya khawatir
"Tak apa, aku bisa menyamarkan nya dengan alas bedak" Elena kembali bergelung di dalam selimut, namun rasa kantuk nya sudah benar benar hilang.
"Matamu merah, dan wajahmu kusut sekali, kamu pasti belum tidur" tanya Elena ketika menatap wajah lelaki di hadapannya.
"Aku ga papa, aku sudah terbiasa kerja lembur" Haris kembali duduk, dengan punggung bersandar di tepi tempat tidur, kepalanya menatap langit langit kamar. sementara tangannya sibuk membuka galeri di ponsel nya, steve mengirimkan banyak foto foto acara semalam. "Lihat ini foto kita" Haris menunjukkan foto dirinya dengan Elena sesaat sebelum memasuki ballroom.
Dengan antusias elena mendekat supaya bisa melihat lebih jelas, gambar gambar mereka, digambar itu mereka nampak serasi, sementara mereka yang tidak tau akan menyangka kalau yang ada di foto adalah sepasang kekasih.
"Kalau kamu mau, aku akan mengirimnya ke ponselmu" Haris Menawarkan.
"Tentu"
Tak lama puluhan foto masuk ke galeri ponsel Elena, buru buru si pemilik Ponsel melihatnya, namun Kemudian...
Cekrek
Tanpa aba aba Haris mengambil gambar mereka saat ini, wajah kusut dan lelah serta masih bergelung dalam selimut.
__ADS_1
Plak ...
Elena memukul pundak Haris, jelas saja dia marah, lagi lagi Haris mengambil gambar mereka sebelum sempat sempat dia tersenyum.
Haris meringis menahan sakit.
"Siapa suruh mengambil gambar tanpa izin" Elena melotot marah.
"Habis wajahmu lucu gitu, kan jadi gemes pengen di foto" Haris berujar tanpa merasa bersalah. "Baiklah, sekarang bersiaplah"
Haris kembali memposisikan kamera ponselnya, dan Cekrek ...
Tanpa mereka sadari, foto foto itu akan menjadi Boomerang di masa depan ...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
ckckck ... kalian yah othor bilangin nih, main apinya jangan gede gede awas kebakaran 😛🔥
.
like like like komen and vote please ... 🥰🥰🙏🙏
__ADS_1