Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
8


__ADS_3

“Pa kabar?” Sapa nya.


“Baik” Elena tersenyum riang.


“Om apa kabar?” sapa Bagus pada Harun.


“Baik” jawab Harun singkat “gimana? Masih sanggup jadi tangan kanan Krisna?” goda tuan harun sambil menyesap kopinya.


Bagus tersenyum seraya menggosok tengkuknya “Sepertinya pak krisna juga belum ingin mencari orang kepercayaan selain saya” jawab Bagus bangga.


“Ciiihhh ... ge er, sepertinya tingkat kepedean kamu sudah d luar batas kemanusiaan” celetuk Elena, tapi dalam hati dia sangat Bangga pada salah satu sahabatnya itu, karena sudah berhasil menjadi tangan kanan kakak iparnya.


“Syukurlah kalau kamu masih sanggup bertahan, karena tidak mudah menghadapi Eliza dan Krisna” Harus tersenyum penuh arti, seolah faham bahwa anak dan menantunya memang gila kerja, dan hanya mau menerima hasil sempurna. we


Tak lama Marisa datang membawa sepiring buah potong untuk Harun.


“Elena ... Ajak Bagus makan dulu, kamu sekalian sarapan” Titah Marisa.


Sejak dahulu, menjamu teman-teman Elena seperti sudah menjadi kebiasaan Marisa.


“Kamu belum sarapan, ini sudah hampir jam 12?” Bagus bertanya dengan nada khawatir


Elena hanya mengangguk, tapi sejurus kemudian.


“Ayolah ... Sekalian kamu perbaikan gizi” jawab Elena seraya bergelayut manja di lengan sang sahabat, mereka tampak akrab layaknya saudara yang lama tak berjumpa, tapi sesaat kemudian Bagus menyingkirkan lengan Elena.


Elena mengerutkan dahinya "Kenapa, kok liat nya gitu banget??"


"Ga ada yang cemburu nih kalo kamu begini?" Bagus menggoda gadis yang sejak lama dekat dengannya.


"Apaan sih" sergah Elena, terlihat sekali tiba tiba wajahnya bersemu merah.


“Bagaimana mungkin gadis cantik seperti mu tak punya kekasih" ucap bagus gemas sambil mencubit kedua pipi Elena.


"Tante ... boleh gak kalo anak gadis tante, saya bawa ?"


"Bawa kemana?" Marisa yang sudah terbiasa menghadapi kekonyolan Bagus, pura pura tak paham.


"Bawa ke KUA, hahahaha ... "


"Bawa aja kalo dia mau"


"Tuh mama kamu sudah kasih izin, hayuuu ke KUA" Goda bagus seraya mencubit gemas kedua pipi sahabatnya.


“iiihhh ... Kamu kan tau, aku gak suka kalo pipiku di cubit” sahut Elena kesal


Bagus membulatkan matanya dan tampak pura-pura terkejut “Oooh benarkah, sejak kapan? maaf aku lupa” ujarnya.


“tapi bohong ...” Bagus menjulurkan lidahnya,  terasa sangat menyenangkan menggoda Elena seperti saat mereka mahasiswa dulu.


Plak

__ADS_1


Elena memukul lengan bagus “Dasar kamu yah, sini gantian pipi kamu aku cubit”


Bagus yang menyadari kemarahan Elena segera berlari “sini kejar kalau bisa”


Elena pun ikut berlari mengejar Bagus, tapi ketika Elena berhasil menarik kemeja Bagus, dengan lincah bagus menghindar lagi. Jadilah mereka saling kejar kejaran layaknya kucing dan anjing.


“Sini cubit kalau bisa” tantang bagus sambil cengengesan.


Elena pun melompat-lompat karena kesulitan menggapai pipi Bagus “iiihhh diem napa kepalanya jangan goyang goyang” teriak Elena gemas.


“Gak nyampe yah, kasian deh ... Makanya makan sayur biar cepet tinggi, masa kalah sama Sisi” ujar bagus mengejek, tau kebiasaan Elena yang suka menyingkirkan sayuran dari piring nya.


Sontak Elena pun cemberut “emang aku anak-anak yg masih bisa tumbuh tinggi” Elena berjalan ke arah pintu dengan wajah bersungut sungut.


Sontak Bagus tertawa gemas “hehehehe...” Seraya mengekori Elena masuk ke rumah.


Sementara itu di gazebo, tampak 2 pasang mata memperhatikan interaksi Elena dan Bagus dengan tatapan berbeda.


“Yakin mereka Cuma bersahabat?” ujar Harun.


Marisa tersenyum seraya menatap sang suami “apa papa tau, sudah ratusan kali mama tanya ke Bagus, apa bener dia hanya menganggap Elena sahabat, dan sejak pertama kali mama bertanya sampai saat ini, jawaban Bagus tetep sama” nyonya marisa  Datar


“Apa katanya” tuan Harun mengunyah sepotong buah yang disuapkan Ma awas marisa


“Sampai kapanpun, Elena itu teman, sahabat dan adik untuk Bagus”


Marisa mendesah kecewa, memikirkan entah kapan sang putri bungsu menemukan pendamping.


...****************...


Bagus dan Elena tampak mengobrol santai di depan TV usai makan siang mereka, Bagus tampak sibuk memindahkan saluran TV yang ingin dia tonton. Akhirnya dia menyerah dan hanya memilih Tom and Jerry kartun favorit Sisi, tak lama Elena bergabung seraya meletakkan 2 gelas es teh manis di meja.


“Kamu gak kerja?” tanya Elena seraya mendudukkan dirinya ke sofa tak jauh dari tempat Bagus, kemudian dia tampak duduk nyaman sambil memeluk bantal, dan tak lupa ponsel di tangannya.


“Kabur dulu sebentar” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Kartun yang di tontonnya, sesekali dia  tertawa keras.


“Nggak di marahi kak Krisna?” tanya Elena penasaran.


“Udah bosen di marahi” ujarnya santai “tapi pak Krisna tidak akan menemukan tangan kanan sebaik aku” ujarnya bangga.


Elena pun ikut tersenyum, tampak terkagum kagum memperhatikan penampilan sahabatnya kini, pria muda di usia matang mapan pula “Lolita pasti menyesal pernah menolakmu dulu”


“bhahaha ... Lolita sudah menikah 2 tahun lalu” ujarnya santai


“kamu yakin belom punya pacar?”


Bagus mengangguk


“Ibuk mu gak ngomel, anak lelaki satu satunya yang paling ganteng ini belum mau menikah” kini ganti Elena menggoda Bagus.


“Gampang, kalo ibukku ngomel, tinggal aku kirim uang buat tambah koleksi sawah-sawahnya”

__ADS_1


Jika para ibu hoby mengkoleksi perhiasan, ibunya Bagus lebih memilih sawah sebagai barang koleksi favorit nya, selain menghasilkan, bisa membantu para tetangga di kampung yang membutuhkan pekerjaan.


“Iya kali ibukmu udah jadi tuan tanah dong”


“Ember bener” bagus tertawa “yang penting ibukku senang dan sehat”


Wajah bagus tampak bahagia ketika menceritakan perihal ibu nya. Mereka pun larut dalam pembicaraan, gelak tawa pun turut mengiringi.


...****************...


Sore itu d cafe pohon


Haris berjalan memasuki area cafe pohon, tak lama setelah memarkirkan blacky si motor sport kesayangannya, tampilannya casual dengan celana selutut, tangan kanannya memegang helm dan tangan kirinya sibuk merapikan rambutnya yang acak acakan, kemudian dia melepas kacamata hitamnya dan mulai mengedarkan pandangan mencari seseorang yg mungkin sudah datang terlebih dahulu.


Benar ternyata, orang yang dia cari sudah duduk di pojok ruangan sambil memeriksa ponselnya, Haris tersenyum senang, segera dia menghampiri sang sahabat “woi kampret udah lama” sapanya riang, kebetulan suasana cafe tidak terlalu ramai, karena ini bukan week end.


Bagus yang mennyadari kedatangan Haris, segera berdiri sambil menjulurkan tos persahabatan mereka.


“Pa kabar” sapa Haris, seraya memeluk Bagus.


“Yaaa beginilah” Bagus mempersilahkan Haris untuk duduk di sebelahnya.


“Udah lama?” tanya Haris seraya meletakkan Helm dan kaca matanya.


“Lumayan lah 15 menit”.


“Rajin amat”seloroh Haris.


“Kebiasaan ... Kalo telat kirim laporan proyek, bakal di kejar kejar pak Krisna, hahaha”


Tak lama kemudian dari arah berlawanan, muncul seseorang memakai sweater biru cerah dengan celana jeans, dia tampak membersihkan tangannya yang basah menggunakan tissue.


Haris membulatkan netra nya, terkejut mendapati gadis yang minggu lalu dia hindari, kini tengah berjalan kearah nya.


Elena tersenyum seraya melambaikan tangan.


Haris semakin membeku, jantung nya mulai berdetak tak karuan, seiring dengan semakin dekatnya Elena berjalan ke arah mereka, semakin dirinya salah tingkah.


“Kok kamu bawa Elena sih” bisik Haris gelisah.


“Biar seru”


“Brengsek kamu, ngerjain aku yah” Haris menatap bagus Tak suka.


“Binggo ... Tepat sekali tebakanmu, sepertinya kalian yang perlu bicara” ujar Bagus dengan seringai bahagia di wajahnya, dan sebelum berdiri ia berbisik “aku mau kerja dulu, sampai jumpa besok d kantor”.


“Lho mau kemana? Kok udah an” tanya Elena heran, karena ternyata Bagus tampak bersiap pergi dari cafe.


“iya mau kerja dulu, laporan proyek harus selesai malam ini”


Bagus tersenyum “Haris ... Antar Elena pulang yah” tambah nya.

__ADS_1


Haris hanya bisa mengangguk pasrah.


__ADS_2