
Kesibukan sungguh sangat terasa.
Diamond Hotel, kini tengah bersiap.
Menyiapkan pesta besar.
Bunga beraneka warna nampak berjajar layaknya taman bunga.
Disetiap sudut halaman hotel, dipenuhi hiasan yang sungguh indah dipandang.
Spot spot foto untuk media sosial pun tak ketinggalan, nyaris di semua titik layak untuk di abadikan.
Sebuah Layar lebar telah disiapkan, baik di dalam maupun di luar Ballroom, agar para wartawan, bisa mengabadikan momen bahagia tersebut.
Layar lebar itu kini tengah menampilkan video berdurasi 15 menit, video kedua mempelai tengah bermain air di sungai, tentu lengkap dengan banyak foto mereka di berbagai kesempatan.
Namun puluhan foto pre wedding sepasang mempelai pun masih tetap berjajar di sepanjang halaman dan ballroom.
Bukan foto baru, tapi foto lama, semasa kuliah, semasa masih sama sama mencari keinginan dan cita cita, masa penuh kenangan tak terlupakan.
Semuanya berjajar indah, layaknya sebuah memori yang tengah di putar ulang.
Sepasang mempelai sepakat memakai foto lama, karena mereka menghargai setiap kenangan yang mereka lewati bersama saat itu, kenangan kenangan yang akhirnya membawa perjalanan mereka sampai hari ini.
Sementara di dalam ballroom telah terhampar karpet berwarna putih, lengkap dengan meja bundar dengan Enam kursi, dipenuhi dengan hiasan berwarna biru dan mawar putih, tempat yang akan dijadikan titik lokasi pengucapan ijab qobul.
Kursi kursi untuk para undangan pun sudah berjajar rapi, lengkap dengan red karpet yang menyambut para tamu undangan yang akan hadir.
Tentu semua persiapan ini tidak lepas dari kerja keras segenap staf dan jajaran petinggi hotel yang ikut terlibat, bahkan beberapa cabang Diamond Hotel di beberapa kota ikut dilibatkan.
Semua bekerja sama pada hari ini, persiapan maksimal demi nama baik tempat mereka bekerja, saling bahu membahu memberikan pelayanan terbaik bagi para tamu, karena usai perhelatan ini, HS grup tak segan memberikan nominal bonus pada masing masing karyawan, yang tentu saja nominalnya pun tak main main banyak nya.
Seluruh kamar hotel sudah dipesan untuk persiapan acara tersebut.
__ADS_1
Beberapa tamu spesial, diberi kamar khusus di hotel tersebut.
Semuanya tak lepas dari tangan dingin asisten Seno, dia benar benar menyiapkan semuanya dengan spesial.
Begitu spesialnya perhelatan tersebut, hingga beberapa hotel di sekitar Diamond Hotel pun kebanjiran tamu.
Tak mengherankan jika itu terjadi, karena si empunya hajat adalah salah satu konglomerat yang cukup di perhitungkan di dunia bisnis.
Bukan Hanya pengusaha hotel yang ikut menikmati keuntungan perhelatan tersebut, bahkan pemilik bisnis kecil pun merasakannya.
Karena asisten Seno menyiapkan berbagai hidangan khas beberapa daerah, khusus untuk menjamu para wartawan dan orang orang yang ikut hadir dan menyaksikan, namun tak bisa memasuki Ballroom karena tidak memiliki undangan.
Sungguh hal ini merupakan kebahagian bagi semua orang.
Tak mau kalah dari para pengusaha kuliner, pemilik toko bunga pun kebanjiran pesanan bunga pada hari ini, karena jarak beberapa meter menuju hotel, di sepanjang jalan di penuhi karangan bunga sebagai ucapan selamat, baik dari kalangan pengusaha, teman kedua mempelai dan para selebritas.
Lantas dimanakah kedua calon mempelai?
Tentulah di kamar masing masing, karena status pernikahan mereka hanya diketahui keluarga dan orang terdekat, maka mempelai pun di tempatkan di dua kamar terpisah, walau pun masih diuhubungkan dengan pintu yang berada diantara kamar mereka berdua.
Hanya Haris yang tahu persis bagaimana kondisi Elena ketika harus menginap di hotel, karena itulah mereka tak mau tidur terpisah semalam, walaupun pihak perias menyarankan kedua mempelai untuk di pingit, namun mereka mengabaikannya.
Kedua keluarga dan teman dekat sudah mulai berada di Hotel sejak sehari sebelumnya.
Dan disini, Haris termangu di depan cermin, beberapa perias nampak membantu merapikan penampilannya, Tuxedo berwarna putih kecoklatan membalut tubuh tingginya, gagah dengan ketampanan yang nyaris paripurna.
Tapi jangan ditanya bagaimana kondisi jantungnya saat ini, berdebar? tentu saja, bahkan lebih menakutkan daripada menghadapi klien paling galak sekalipun.
Walaupun satu minggu yang lalu dia sudah mengucapkan ijab qobul, tapi kali ini rasanya sungguh berbeda.
Ingin lari? oh no ... bukan Haris namanya, dia terkekeh sendiri dalam hati.
Delapan tahun, waktu yang ia lalui tanpa Elena, tak ada apa apa nya, dibandingkan dengan detik detik menanti datang nya hari ini, rasanya satu minggu seperti satu abad saja.
__ADS_1
Ia ingin segera menebus waktu berharganya yang telah berlalu tanpa kehadiran Elena.
"Waaahhh ini dia pengantin kita ... " teriak Bagus yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, siulan jahil tak lupa dia berikan pada sang sahabat yang akhirnya bisa menikahi gadis yang dia cintai sejak lama.
Haris tersenyum kaku, menyambut kedatangan Bagus.
"Grogi?" tanya Bagus, yang langsung menggenggam tangan Haris, terasa sangat basah dan dingin, "Hahaha ... santai ... rileks kawan, anggap aja lagi sidang skripsi,"
"Sidang skripsi kepalamu, ini berbeda, rasanya aku panas dingin diwaktu bersamaan, padahal ketika sidang skripsi atau menghadapi klien galak, aku biasa aja, gak sampe berkeringat dingin begini," Haris mengaku.
Bagus yang memang belum pernah merasakan ijab qobul, hanya menepuk pundak sahabatnya tersebut. "Pegang saja tanganku bro, aku akan menemani saat saat mendebarkan dalam hidupmu, bahkan jika nanti malam kamu memintaku menemani, aku sangat bersedia bro."
Haris yang menyadari arah pembicaraan Bagus pun mendelik marah, "Dasar kampret, An##r, enak di kamu gak enak di aku dong," Haris melempar bantal ke kepala Bagus.
Bagus hanya tertawa lebar.
Priyo yang baru saja memasuki kamar mempelai pria pun ikut tertawa lebar, "Bagus benar, lagipula kita belum sempat mengadakan pesta berakhirnya perjakamu, bagaimana kalau nanti malam," Priyo menaik turunkan alisnya, wajah jahilnya tak jauh beda dengan Bagus, Haris sungguh geram pada kedua sahabatnya tersebut, ingin rasanya menghajar mereka berdua saat ini juga.
Kedua sahabatnya itu seolah bisa membaca pikiran nya saat ini, bahwa dirinya dan sang istri memang belum melakukan apapun layaknya sepasang suami istri di malam pertama mereka, ini semua karena kondisi dirinya pasca kecelakaan dan pemulihan usai operasi.
Baru kemarin siang dokter Alan membuka perban dan jahitan di punggung dan perutnya, dan dari Hasil USG memang menunjukkan bahwa luka di dalam masih butuh waktu untuk benar benar sembuh, jadi dirinya harus menelan kecewa di hari seharusnya ia bahagia merayakan malam pengantin nya.
"Hei apa benar kamu masih perjaka?" Bagus kembali berbisik Jahil, manakala Haris nampak kembali diam dengan wajah menegang.
"Bagus Kampret ... " Haris mengumpat.
"Hahahaha ..." Bagus tertawa keras, senangnya ia bisa menggoda Haris.
"Pri ... aku benar benar tidak menyangka, Haris benar benar menikahi itik kecil kita yang manis." Bisik Bagus, namun dengan suara yang sengaja di keraskan.
"Kamu benar, aku pun heran, ternyata jodoh benar benar misteri yang tak bisa di tebak."
"Padahal dulu aku sempat membayangkan, dia kembali ke pulang, dengan membawa wanita bule sebagai istrinya, tak kusangka dia kembali hanya demi itik kecil kita,"
__ADS_1
"Waaaahhh, aku jadi membayangkan akan seperti apa rambut anak anak mereka nantinya, apakan hitam, brown, merah, atau blonde?" Priyo menambahkan.
Pembicaraan unfaedah itu terus berlanjut, Haris sengaja membiarkan mereka membicarakan apapun tentang dirinya, tentunya hal itu demi menghilangkan ketegangan yang kini tengah menderanya.