Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
34


__ADS_3

"Apa hari ini kamu bisa?"


"Bisa apa mah?"


"Bisa ke makam"


Elena menggeleng kuat "Nggak mah, Elena belum siap"


"Kenapa? Bunda Lilis pasti senang kamu datang" bujuk Marisa.


"Tidak sekarang mah" Elak Elena.


"Mau sampai kapan nak? Bagaimana pun beliau ibu yang melahirkan mu".


Jedeeeer ...


Bagai mendengar petir di siang panas, ketiga pria yang tengah duduk santai di depan Elena pun mendadak pucat pasi mengetahui kenyataan yang ada dai hadapan mereka, mereka tidak pernah tahu, Elena menyimpan rahasia sebesar itu, lalu apa hubungannya dengan Hari ulang tahun Elena?


"Naaaakkk ... " panggil Marisa dengan suara lembut, menghadapi Elena yang sudah bertahun tahun menolak fakta Ibu kandung nya, membuat Marisa tak ingin berkata keras dan tegas.


Air mata membanjiri wajah Elena "Mama Elena mohon mah, Elena belum siap" ujarnya memelas.


"Elena ... mama tau kamu belum bisa menerima semua ini, tapi suka atau tidak, tuhan sudah mentakdirkan ini untuk kita, tapi mama Yakin di lubuk hati mu yang paling dalam, kamu menyayangi Bunda Lilis, itu sebab nya kamu murung dan sedih setiap tiba Hari ulang tahunmu"


"Dari mana mama tau, aku gak pernah merasa begitu kok"


"Apa kamu lupa, kamu kan juga anak mama, walaupun kamu tidak terlahir dari rahim mama, tapi mama adalah ibu yang dikirim tuhan untuk menjaga dan menyayangi mu".


"Ini terjadi sejak ulang tahun pertamamu, awalnya mama pikir kamu hanya rewel karena sedang tumbuh gigi, namun mama jadi curiga karena ini selalu berulang setiap tahun, tepat sehari sebelum ulang tahunmu, kamu selalu berulah, rewel atau bahkan marah marah tanpa sebab, kamu merasakannya kan? tapi setelah remaja kamu tidak terlalu memikirkan kesedihanmu, namun kejadian ini semakin parah sejak kamu mengetahui yang sebenarnya kan? sejak 8 tahun yang lalu kamu selalu mematikan ponsel dihari Ulang tahun mu".


"Yah nak, tolong Kabulkan keinginan mama" Pinta Marisa lembut. "Mama yakin, setelah ini setidaknya kamu bisa berdamai dengan rasa sedihmu".


Dengan sisa air mata yang masih tergenang, Elena pun mengangguk pasrah.


"Terimakasih sayangnya mama, satu hal yang harus kamu ingat, apapun yang terjadi, mama selalu menyayangi mu"


...****************...


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di area pemakaman, penjaga makam yang sedang bertugas membersihkan area pemakaman nampak berjalan mendekati mereka.


“permisi, sepertinya bapak belum pernah lihat mas dan mbak ini datang kemari, baru pertama kali datang?”  pria tua itu bertanya ramah.


“Benar pak, kami baru pertama kali kemari” Priyo menjawab pertanyaan pria tua itu dengan sopan.


“Mau cari makam siapa? nanti bapak bantu mencari” pria itu bertanya lagi.


“Kami mau berziarah ke makam, ibu Lilis Suryaningsih”


“Oh makam ibu lilis, memang setiap tahun di tanggal tanggal ini, suami beliau selalu datang berziarah bersama istri barunya” Elena nampak terkejut mendengar penuturan sang penjaga makam, pasti yang di maksud sang penjaga makam adalah Marisa.


"Lalu selang dua hari atau seminggu berikut nya, ada sepasang suami istri yg masih muda juga datang kemari, katanya sih putri beliau” dan itu pasti kak eliza dan suaminya.


“Kalau boleh tau mas dan mbak ini siapa?” Tanya pak tua tersebut.


“Saya juga putri beliau pak”, Elena menjawab pelan, dengan suara bergetar.


Penjaga makam nampak terkejut, namun detik berikut nya dia berkata “ mari silahkan ikuti bapak” pinta nya.

__ADS_1


Elena berjalan perlahan mengikuti langkah sang penjaga makam, di berhenti sesaat ketika ketiga sahabatnya hendak berjalan mengikuti nya.


“Aku ingin kesana sendiri” ujarnya.


Ketiga pria itu mengangguk tanpa suara.


Elena melanjutkan langkah kakinya, mengikuti pria tua penjaga makam tersebut.


Pria tua itu nampak tersenyum, ketika sudah sampai d tujuan, “terima kasih pak” ucap elena tulus.


Pria tua itu mengangguk, lalu beranjak pergi.


Sepeninggal pria tua itu, Elena tertegun menatap makam sederhana yang nampak rapi dengan rerumputan, sepertinya memang Harun meminta penjaga makam untuk merawat makam Almarhumah istrinya.


“Bunda ... Mama ... Ibu ..." Elena tersenyum miris "Ironis sekali yah, bahkan Elena tak tau harus manggil apa pada anda” Elena mulai berbicara pada makam yang ada di hadapannya.


Elena terdiam lagi, matanya mulai berkaca-kaca, sungguh selama ini apakah dirinya sudah menjadi anak durhaka?? hanya memikirkan nya saja sudah membuat tubuhnya gemetar dan kakinya lemas, kini ia hanya bersimpuh di depan makam ibunda nya.


“Bunda ... Maaf kan Elena, maaf Elena baru bisa ke sini, maaf kan elena yang baru bisa menerima kenyataan, maafkan Elena yang selama ini sibuk menyesalkan keadaan, maafkan Elena yang selama ini membenci bunda, maafkan Elena yang bahkan tidak pernah berdoa untuk bunda ... Elena sunguh minta maaf  ...”


Elena tak mampu lagi menahan air matanya, butiran bening itu mengucur deras membasahi pipinya.


Haris yang menatap dari kejauhan, tak bisa lagi menahan keinginannya untuk mendekati Elena “oh *****, aku mau ke sana, terserah kalian mau ikut atau tidak” Haris pun berjalan dengan langkah cepat mendekati makam.


Sesampai nya di makam Lilis, hatinya serasa diremas remas, mendengar tangis pilu gadis yang teramat di cintai nya, tanpa ragu ia pun ikut bersimpuh dan memeluk pundak Elena, seolah ingin menyalurkan energi yang dimilikinya, Haris hanya diam mematung dan membiarkan Elena menumpahkan tangis nya.


Akhirnya Bagus dan priyo pun ikut menghampiri Elena, seakan saling mengerti, mereka pun hanya diam mematung, ikut merasakan kesedihan sang sahabat.


...****************...


kini keempat sahabat itu hanya diam tanpa suara.


"Nona kecil?" panggil sebuah suara yang tak asing di telinga mereka.


Keempat nya pun menoleh ke asal suara.


Sosok wanita usia pertengahan 60 tahun, berdiri di hadapan mereka, gaun sederhana berwarna hitam membalut tubuh nya, rambutnya yang sudah mulai memutih nampak tersanggul rapi.


"Bi Mey ... " seru ke empat nya.


Wanita yang dipanggil Mey tersebut nampak mengembangkan senyumnya.


Elena menghambur memeluk wanita yang telah menghabiskan separuh usianya mengabdi di keluarga Sebastian tersebut.


"Elena kangen Bibi" Elena kembali menitikkan air mata.


"Bibi juga" ucap Bi Mey seraya mengelus punggung dan rambut nona kecilnya tersebut.


"Maaf kan Bibi yah, sebenarnya Bibi ingin menunggu nona pulang, namun kondisi kesehatan bibi sudah tidak memungkinkan untuk bibi berlama lama di rumah tuan besar, Jadi Bibi memutuskan pensiun lebih awal"


"Bibi tinggal di mana sekarang?"


"Kurang lebih Satu jam dari makam ini" jawab Bi Mey.


"Apa Bibi sering berziarah kemari?"


"Tidak juga nona, tapi selalu bibi usahakan, terutama Hari ini, biasanya Bibi sengaja kemari supaya bisa menyapa atau sekedar bertemu Nyonya dan Tuan di makam ini"

__ADS_1


"Apa Bi Mey juga mengenal Bunda?


"Tentu nona, Bibi kenal dengan baik, Ibu kandung anda juga berasal dari kota ini, Bibi bahkan bertetangga dengan keluarga Ibu anda"


Elena membelalak tak percaya.


"Karena Bibi yang membawa Ibu anda, untuk bekerja di rumah tuan"


Pengakuan Bi Mey semakin membuat Elena penasaran mengenai sosok Ibu yang melahirkannya.


"Bisakah Bibi menceritakan nya pada ku?"


"Tentu, dengan senang hati, bibi akan cerita, tapi sekarang izinkan Bibi berdoa dulu untuk Ibu anda"


Elena mengangguk, kemudian mempersilahkan Bi Mey melangkahkan kakinya menuju Pusara Bunda Lilis.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sedikit mengungkap sisi lain Keluarga Harun Sebastian ☺️


.


Inilah salah satu alasan kenapa Harun Sebastian begitu menyayangi keluarganya 🥰


.


Terutama sang putri mahkota ke 2🥺


.


like like like komen and vote please 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2