Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
71


__ADS_3

Hari ke dua di William Medical Center.


Tiga orang petugas medis nampak dengan sigap memindahkan tubuh Haris yang masih belum sadarkan diri, ketiganya nampak cekatan memposisikan punggung Haris lebih miring ke samping, agar berat tubuhnya tidak terlalu menekan luka bekas operasi.


Mendung kembali membayangi wajah Elena, "Maaf, kenapa pasien belum sadar yah?" tanya nya risau.


"Kami tidak bisa menjelaskan lebih lanjut, sebentar lagi jadwal visit dokter Alan, silahkan bertanya kepada beliau." jawab salah seorang perawat yang kini sedang mengukur tekanan darah dan detak jantung.


"Baiklah, kami permisi dulu." perawat itu pun meninggalkan ruangan, setelah dia menyelesaikan tugas nya.


"Kenapa dia begitu pucat? apa dia masih kekurangan darah? kenapa kemarin mereka hanya mengambil sedikit darahku? harusnya mereka mengambil sebanyak banyak nya." Elena terus bermonolog.


Elena berjalan mendekati brangkar yang kini menjadi tempat Haris terbaring, ditatap nya pria yang memiliki tempat khusus di hatinya tersebut, wajahnya pucat dan matanya yang masih terpejam, biasanya Haris selalu memberi Elena senyum yang menawan, kalimat yang terucap dari bibirnya selalu menyenangkan untuk di dengar, matanya yang selalu membius dan kadang tampak jahil, ah sungguh Elena merindukan tawa pria ini.


Walaupun wajahnya nampak pucat dengan matanya terpejam, barulah Elena menyadari Bahwa Haris sangat tampan, dilihat dari berbagai sudut, Haris sungguh sungguh calon suami idaman, bayangkan betapa geer nya Haris jika dia tahu apa yang kini sedang di rasakan Elena.


Pintu kamar terbuka menampakkan Bagus dan Priyo yang baru saja kembali dari membeli sarapan untuk mereka bertiga.


Elena menoleh dan tersenyum menyambut mereka, bukan senyum manis nan ceria seperti biasa, melainkan senyuman hambar yang sarat akan kesedihan.


"Maaf kami meninggalkan mu," Priyo mengusap puncak kepala Elena. "Tadi kamu masih tertidur pulas, jadi kami tak tega membangunkan mu."


Elena hanya tersenyum samar.


"Apa dia belum juga sadar?" Bagus bertanya heran, seraya mengamati wajah Haris yang hingga kini masih enggan membuka mata.


"Kita tunggu penjelasan dokter saja," jawab Elena.


Priyo meletakkan bungkusan makanan di atas meja, "Hei ... aku tidak pernah mengikuti perkembangan berita kalian di televisi, tapi tadi aku lihat ada banyak kiriman bunga untuk mendoakan kesembuhan Haris." kemudian memulai dengan suapan pertama nya.


Wajah Elena jadi bertambah masam, perasaan cemburunya tiba tiba meluap, entah apa ini sesuai dengan kondisi saat ini atau tidak, yang jelas dirinya benar benar tidak nyaman mendengar banyaknya kiriman bunga dari para fans girl nya Haris.


melihat perubahan ekspresi Elena, Priyo jadi paham bawa gadis itu tengah cemburu, "Ciyeeee yang cemburu, tuuuhhh orangnya lagi tidur, fans girl ya sekedar fans aja, gak akan bisa mendekat kalau tidak di beri celah, belajarlah lebih dewasa." ujar Priyo sembari mengacak acak rambut Elena. "Nih makanlah dulu, cemburu juga perlu energi lebih."

__ADS_1


Elena terdiam masih dengan wajah cemberut dan bibir di tekuk, selalu seperti ini jika bersama pria ini, priyo selalu bisa menenangkan nya dengan kalimat bijak yang seolah tak pernah ada habisnya.


Kali ini Bagus juga hanya jadi pendengar, mencoba untuk makan walaupun sedang tidak berselera, karena sejak beberapa hari ini dia pun sibuk dengan pikirannya sendiri, semua jadi kacau gara gara kejadian yang tidak sengaja menimpa nya beberapa hari yang lalu, pekerjaan kacau, masalah menjadi rumit, di tambah lagi pernikahan Elena dan Haris juga tertunda karena kecelakaan, 'Yaa tuhan kenapa semua tidak berjalan sebagaimana mestinya?' jerit Bagus dalam hati.


Tak lama terdengar ketukan di pintu, ketika pintu terbuka, menampakkan sosok dokter yang terlihat tampan di usia dewasanya, dokter Alan tidak sendiri, dia di temani dua dokter residen dan dua orang perawat.


"Selamat pagi," sapaan manis dokter tersebut membuat Ketiga orang yang tengah duduk menikmati sarapan kini berdiri dan mendekat ke arah dokter Alan.


"Selamat pagi dok."


"Selamat pagi dok."


"Selamat pagi dok."


Jawab Elena, Bagus dan Priyo nyaris bersamaan, dokter Alan tampak tersenyum melihat kekompakan ketiga orang tersebut.


Salah seorang dokter residen tampak menjelaskan kondisi pasien terkini. "Setelah semalam dilakukan pengamatan, seharusnya pasien sudah sadar, karena kondisi nya stabil, tidak ada infeksi dari bekas luka, bahkan tadi pagi saat di ganti perban pun lukanya terlihat bagus dan mulai mengering," dokter Alan tampak berpikir sejenak, kemudian dia mengeluarkan stetoskop.


Setelah beberapa pemeriksaan dokter Alan tampak kembali tersenyum, "Apa belakangan pasien kelelahan? atau kurang istirahat?"


Dokter Alan mengangguk paham, "Pasien sebenarnya sudah sadar, dia hanya sedang tidur, kalau tebakan saya tidak salah, paling lama besok pagi dia sudah bangun, jadi anda tidak perlu khawatir, kondisi ini hanya akumulasi dari sekian banyak waktu tidur yang dia lewatkan."


Elena kini bisa bernafas lega, kemudian dokter Alan pun pamit.


...****************...


POV Haris


Aku begitu bahagia pagi itu, manakala Mark berbisik di telingaku, mengatakan bahwa Elena sudah tiba dan dia sedang menungguku.


Tak ingin berlama lama segera ku selesaikan rentetan penjelasan dan instruksi yang harus di pahami para pekerja proyek, Syukurlah mereka dengan mudah memahami apa yang ada di pikiran dan apa yang kini ada di gambar buatanku.


Setelah itu, aku tak ingin lagi berlama lama di sana, biar Mark yang mengurus semuanya, aku pun bergegas menaiki crane yang dengan cepat membawaku ke lantai dasar bangunan ini.

__ADS_1


Sungguh tak sabar rasanya, gadis nakal itu sudah menghilang seharian kemarin, sampai sampai membuatku setengah gila karena tak bisa menghubunginya, dia harus mendapat hukuman hari ini, pikirku.


Pucuk di cinta, ulam pun tiba, gadis itu sedang mencariku, berjalan dengan senyuman bahagia di wajahnya, rambut panjangnya berlarian tertiup angin, wajahnya memerah efek panas matahari, namun sungguh hal itu membuatnya terlihat semakin cantik di mataku.


Namun kebahagiaan ku tak berlangsung lama, karena instingku mengatakan dia sedang dalam bahaya, dia berada tepat dibawah crane yang tengah mengangkut sisa bahan baku yang tidak terpakai, dan kulihat sebagian muatannya nyaris rontok ke bawah, rasanya hariku tak akan lagi bahagia bila tak lagi melihat dia tersenyum, hatiku pasti kembali hancur seperti 8 tahun yang lalu.


Dengan sekuat tenaga aku berlari ke arahnya, sekuat tenaga pula aku teriakkan namanya agar dia menjauh dari sana, namun sia sia usahaku, dia terlambat menyadari bahwa dirinya dalam bahaya, akhirnya aku berhasil mendekapnya, biarlah ragaku yang tercabik dan merasakan sakitnya, daripada hatiku yang kembali menderita karena melihat dia terluka.


Apapun akan kulakukan, karena aku tak ingin lagi patah hati, karena aku ... hanya ingin bahagia bersama mu Elena.


Entah berapa puluh kilo beban yang menghujam tubuhku, perih dan nyeri terasa menusuk kulit dan tulang punggungku, ketika akhirnya pandangan kami bertemu semua rasa sakit seolah lenyap begitu saja.


"Are you okay?" Tanyaku, ketika akhirnya dia membuka mata.


Senang rasanya melihat dia mengangguk walaupun hanya anggukan lemah.


"Syukurlah,"


pelan pelan pandanganku pun berubah gelap gulita, dan samar samar kudengar dia meneriakkan namaku.


...**************...


Masa kini


Haris membuka matanya, walaupun kepalanya masih terasa berat dan agak pusing, Haris mampu melihat dengan jelas langit langit kamar.


Aroma khas rumah sakit, menyeruak ke indra penciuman nya, suasana sunyi sepi membuat suara tetesan infus seolah terdengar dengan jelas.


Haris masih bisa merasakan ngilu dan nyeri yang merambat di punggung dan perut nya, tangan kanannya hendak bergerak meraba bagian perutnya yang terasa nyeri, namun rasanya sungguh berat dan hangat sulit untuk di gerakkan.


Ternyata Elena tengah menggenggam erat tangan kanannya hingga dirinya tertidur.


Dengan sangat pelan dan perlahan, Haris melepaskan tangannya dari genggaman Elena, disingkirkannya surai rambut yang menutupi wajah Elena, kini wajah cantik kekasihnya itu terlihat jelas.

__ADS_1


Jari tangannya kini tengah menelusuri garis rahang dan pipi Elena, dan Elena merasa ada sesuatu diwajahnya, dia pun mengerjapkan mata nya, melihat tangan yang tadi ia genggam erat hingga tertidur, kini tengah bermain di wajah nya.


__ADS_2