
Ternyata, nasib baik belum berpihak pada Elena, karena nyatanya doa doa yang ia panjatkan belum terkabul, Alex kini menepati janjinya, membawa sekolah mereka ke Final pertandingan basket antar sekolah, padahal setiap saat Elena berdoa agar tim basket sekolah nya berhenti di babak penyisihan saja, namun ternyata harapan tak sesuai kenyataan.
Elena semakin pusing menyikapi keadaan, bahkan Silvia tiba tiba menjauh darinya, pesan dan teleponnya pun tak pernah di tanggapi lagi, ada apa sebenarnya? berjuta tanya menghampiri benaknya.
Dan disinilah ia kini, stadiun olahraga tempat berlangsung nya Babak final pertandingan bola basket antar sekolah diadakan, Elena sengaja datang terlambat, bahakan sangat terlambat, karena waktu pertandingan hanya tersisa beberapa menit lagi.
Dengan bimbang Elena berjalan meninggalkan tempat parkir motor, tanpa ia sadari Helm yang ia kenakan lupa belum di lepas, "Tunggu," sebuah suara tiba tiba terdengar, namun Elena cuek dan terus berjalan menuju pintu masuk stadion olahraga.
"Hei ... kamu yang masih pakai helm," suara itu kembali terdengar, dan kini makin keras.
Elena pun menghentikan langkahnya, dia menatap ke sekeliling, bermaksud mencari siapakah orang yang masih mengenakan helm, namun dia tak menemukan siapapun, dan akhirnya meraba kepalanya sendiri, ternyata helm nya masih tertinggal di sana, buru buru dia berbalik dan melepas helem nya, melewati lelaki yang tadi mengingatkan nya, Elena hanya menunduk menahan malu, ketika akhirnya dia menyimpan helm di dalam jok motor matic nya.
Elena kembali berjalan meninggalkan motornya, ketika melewati lelaki yang sejak tadi masih memperhatikan nya, dia pun berhenti, "Terimakasih," Ucapnya pelan, masih menunduk dan tak berani menatap lelaki itu.
"Tunggu," lelaki itu memanggilnya lagi.
Dengan sebal Elena pun lagi lagi menghentikan langkah kakinya, "Duuuhhh apa lagi sih?" tanya Elena dengan nada tinggi.
Lelaki itu hanya tersenyum, tak ada amarah sedikit pun di wajahnya, menyadari bahwa gadis itu ternyata sedang melamun, hingga tak fokus pada barang bawaan nya. "Tuuuhhh ... kunci motor kamu masih tertinggal," imbuhnya dengan jari menunjuk ke arah motor Elena.
Elena memukul keningnya berkali kali, menyadari keteledorannya, dia pun buru buru kembali ke parkiran dan mencabut kunci motor yang masih tertinggal di sana.
ketika untuk ke sekian kalinya melewati lelaki tersebut, Elena kembali mengucapkan Terimakasih.
Lelaki itu tersenyum samar, deg deg deg jantung nya berdebar lagi, itu gadis yang sama, gadis yang tempo hari dia bantu memanjat tembok sekolah, ternyata dia cukup ceroboh juga, tapi wajahnya ketika menahan malu tadi sungguh lucu dan menggemaskan.
Haris buru buru melepas helm nya sendiri, sebelum dirinya bernasib sama dengan gadis itu, dia berjalan cepat memasuki stadion, sungguh sangat di sayangkan dia terlambat, memberi semangat teman temannya yang tengah berjuang di babak final, Haris sengaja membuka kancing baju sekolah nya, ketika kancing baju nya terlepas semua, kini nampak kaos seragam tim basket sekolah yang sengaja ia pakai dari rumah pagi ini.
__ADS_1
Ketika akhirnya ia bergabung bersama tim sekolahnya, sorak sorai terdengar mengiringi akhir pertandingan, Haris semakin mendesah kecewa.
Namun ternyata skor akhir pertandingan masih seri, hufft aku masih ada harapan menyaksikan sisa akhir pertandingan, pikirnya.
Tiba tiba, Andre sang manajer tim berlari mendekati nya, "Syukurlah kamu akhirnya datang, ada masalah gawat nih," ujarnya ditengah dia kesulitan mengatur nafasnya.
"Ada apa? bukannya kita masih punya harapan," tanya Haris heran.
"Iya, tapi masalah nya tak sesederhana itu, kita kehabisan pemain cadangan, Aldo cedera lengan, jadi dia sudah benar benar tak bisa melanjutkan pertandingan, sementara pemain cadangan terakhir, tidak datang karena orang tuanya masuk rumah sakit," Andre menjelaskan.
Haris terhenyak, seketika wajahnya pias, "Lalu selanjutnya bagaimana? apa rencana cadangan kita?" Haris bertanya panik, kini mereka berjalan memasuki sisi lapangan, dimana keseluruhan pemain berkumpul disana.
mereka semua tengah menatap ke arah nya, "Ada apa nih, kok pada ngelihatin aku?" Tanya nya pura pura santai, padahal ia tengah gusar memikirkan akhir pertandingan.
"Kamu harapan terakhir tim kita, tak ada lagi tim cadangan, hanya kamu yang dimiliki tim kita," Jawab Andre to the point.
"Karena hanya tinggal kamu satu satunya, kamu selalu ikut latihan, tapi tak pernah mau jadi anggota tim, Ayolah jangan terlalu lama berfikir, waktu kita tak banyak," pinta Andre memelas
"Baiklah," Haris menyanggupi, dia pun melepas baju dan celana sekolah nya, untunglah, tadi dia memakai seragam basket lengkap di balik baju sekolahnya, Haris berlari di tempat melakukan pemanasan, tangannya di berayun keatas dan kebawah, kekiri dan kekanan , melemaskan otot otot lengannya, sejenak dia mengedarkan pandangannya kearah sorak sorai barisan penonton, berharap melihat gadis manis yang tadi ia jumpai di parkiran motor, deg ... di sana, gadis itu di sana, duduk diam diantara teman teman satu sekolahnya, entah kenapa Haris bahagia, manatap gadis itu seakan mengalir kan energi kedalam tubuhnya.
Wasit meniupkan peluit tanda kembali di mulainya perpanjangan waktu pertandingan, Haris yang masih memiliki tenaga penuh di banding teman teman satu timnya, nampak lincah mendominasi permainan, namun demikian dia tak ingin terlihat sok jadi pahlawan dengan mengabaikan rekan rekan yang lainnya, terbukti di beberapa kesempatan dia mengoper bola ke rekan satu tim nya yang berada di dekat ring, namun entah kenapa selalu gagal mencetak skor, hingga waktu tersisa 2 menit, namun belum ada satu pun skor tercipta dari kedua tim, kedua tim sama sama kehabisan tenaga, bertahan dengan skor yang ada dan berusaha menghalau bola kiriman dari tim lawan.
Hingga di detik detik terakhir nampak semakin tegang, posisi Haris yang tengah menguasai bola, mau tak mau menjadi perhatian lawan, Haris mengirim kode ke rekan satu tim yang kini tengah berjaga di dekat ring, namun ketika melihat sisa waktu, sungguh tak memungkinkan jika bola tersebut di oper ke salah setu rekannya, jadi dengan keyakinan penuh, Haris melemparkan bola orange tersebut tepat dari tengah lapangan, semua mata penonton mengiringi benda bulat berwarna orange tersebut hingga tepat masuk ke dalam ring lawan, dan peluit wasit pun terdengar, tanda berakhirnya pertandingan, sontak sorak sorai riuh terdengar menggema ke seluruh isi stadiun, Haris yang tengah jadi pahlawan sekolah pun ramai di kerumuni, dpeluk dan dielu elukan teman temannya, rasa haru tengah menyelimuti perasan mereka.
Namun disisi lain ada kubu yang berwajah muram, menatap riuhnya tim lawan yang tengah merayakan kemenangan, tapi tidak bagi Elena, gadis itu tiba tiba melompat kegirangan, menari dan berteriak seakan akan tim sekolahnya yang memenangkan pertandingan, hal ini tentu saja menarik perhatian teman temannya yang tengah bersedih, namun semua itu tak dia pedulikan, Elena tetap bersorak dan berteriak bahagia, seolah olah terlepas dari beban hidup yang teramat berat.
Alex tengah duduk di tengah lapangan, wajahnya ia tenggelamkan dalam dalam, patah hati kini jelas tengah ia rasakan, melihat Elena yang bersorak kegirangan di tengah kekalahan tim sekolah mereka, seolah membuka mata dan fikiran Alex, ternyata sedikitpun Elena tak pernah merasakan perasaan yang sama dengan dirinya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1