Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
38


__ADS_3

Cup


Tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan, pandangan mereka bertemu, sesaat mereka terdiam dalam posisi tersebut.


Deg deg deg


Kini Jantung Elena berpacu cepat, dia hendak berpaling, namun haris dengan cepat menahan tengkuknya, entah apa yang melintas di kepalanya, dia kembali memperdalam ciumannya.


Ciuman pertama mereka.


Manis


Itulah yang dia rasakan


Elena yang yang masih shock nampak diam membeku, sesaat dia terbuai, namun detik kemudian dia tersadar, mencoba melepaskan diri dan ...


Plak ...


“Lancang” teriak nya penuh emosi.


Haris terkejut memegang pipinya yang terasa perih, biarpun Elena bertubuh lebih kecil dari dirinya, namun tamparannya terasa sangat menyakitkan.


“Elena ... maaf” ujarnya lirih, wajahnya nampak merasa bersalah, ketika melihat embun mulai membasahi kedua mata Elena.


“Aku pikir kamu sudah mengerti batasan pertemanan kita” Elena berujar, Air mata mulai membasahi pipi nya.


“Maaf ...” Haris mengulang permintaan maaf nya.


“Kita berteman cukup lama, bagaimana mungkin kamu melakukan ini terhadapku”


“Oh ya Tuhan Elena, aku sungguh minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya”


Haris mulai terpancing emosi, pasalnya sudah beberapa kali dirinya minta maaf, namun sepertinya, Elena tak menghiraukan permintaan maaf nya.


“Maaf? tidak sengaja? jelas jelas kamu melakukannya dengan sengaja, tanganmu sengaja menahan kepalaku” Elena kembali mendebat perkataan Haris, karena jelas jelas tadi dia merasa Haris tadi menahan dirinya ketika akan menghindar.


"Tapi kamu menikmatinya kan? jujur saja, kamu menikmatinya kan?" pancing Haris tak terima.


Elena mengangkat tangannya dan ...


plak ...


tamparan itu mendarat lagi untuk kedua kalinya.


Haris pun makin tersulut emosi.


“Baiklah, karena sudah terlanjur seperti ini, mari kita selesaikan” mendadak Haris berubah sikap menjadi sedingin es, tatapannya tajam menusuk.


“Apa maksudmu?” Elena bertanya, nada suaranya tak kalah dingin.


“Mari kita selesaikan Apa yang aku mulai 8 tahun yang lalu, aku ingin kepastian, setidak nya setelah ini aku tidak akan berharap, aku tidak akan menyesal, dan aku benar benar akan menghilang dari hidup mu” Haris sengaja memberikan penekanan pada kalimatnya terakhirnya.

__ADS_1


Elena menggeleng lemah, “aku menyayangimu” Jawab Elena gemetar.


Haris tertawa sinis “sayang? Sebagai teman atau sebagai laki laki? Tidak bisakah kamu melihat ku sebagai laki laki?” Tanya Haris, tangannya memegang erat lengan Elena kemudian mengguncang nya. "jawab ... " pekik nya.


Elena merinding ketakutan, belum pernah ia melihat Haris seperti ini, wajahnya sungguh menakutkan, Elena hanya diam dan memejamkan matanya.


“Haris tolong jangan seperti ini, kamu menyakiti ku” Elena menggeliat mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Haris.


“Baik, kalau ini mau mu, aku rasa aku sudah tau jawabannya, per**tan dengan pertemanan, jika pertemanan membuatmu tak bisa mencintai ku, maka mulai detik ini aku akan berhenti menjadi temanmu, karena aku sudah muak berteman denganmu” Luapan emosi itu pun keluar, bagai lahar panas yang sekian lama terpendam, dan meluap tanpa bisa di bendung.


Haris bergegas menuju meja nya, dengan kasar dia menutup laptop kemudian memasukkannya kedalam ransel, ia juga mengambil beberapa barangnya, dan berlalu pergi, namun sebelum mencapai pintu langkahnya terhenti “aku bahkan sudah mencintaimu, sebelum aku tau nama mu, jauh sebelum kita menjadi teman, dan sekarang kamu tak perlu khawatir,  karena kamu tak akan melihatku, aku tak akan muncul lagi di hadapanmu, selamat tinggal”


"Aku kehilangan teman lagi" ujarnya pelan. inilah yang paling dia takutkan.


Bukan perkara mudah bagi Elena untuk memiliki teman, mengingat latar belakang keluarganya, mungkin saja orang orang di sekitarnya akan memanfaatkannya, karena itulah sejak kecil dia tertutup dengan orang orang disekitarnya, berteman pun sangat terbatas, hanya Alex dan silvia saja sahabat yang ia miliki sejak sekolah dasar, pun hanya mereka yang mengetahui latar belakang keluarganya. namun bahkan lebih dari 7 tahun bersahabat, akhirnya mereka menghilang dan meninggalkan nya begitu saja.


Sah sah saja orang menganggap ketakutannya tak berdasar, tapi dirinya sendiri yang mengalami sakitnya ditinggalkan, karena itulah dia sama sekali tak peduli dengan pendapat orang lain.


Dan kini ... yang ia takutkan terjadi lagi, dia pergi, sahabatnya pergi meninggalkan nya.


Tanpa sadar airmata deras mengalir di pipi Elena, entah kenapa kalimat terakhir Haris sungguh membuat nya menangis ketakutan, mendadak perasaan hampa memenuhi seluruh ruang di hatinya, yang dia rasakan hanya ....


 


KOSONG


maaf


...****************...


Elena menyibak horden yang menjadi pembatas antara kamar nya dengan balkon, udara segar menyeruak seketika, matahari pagi baru saja memperlihatkan sinarnya, kini ia telah siap dengan pakaian olah raga, traning selutut, dipadu dengan kaus longgar sengaja ia kenakan untuk menutupi atasan olahraga nya yang terlihat seksi, setelah rambutnya terkepang ekor kuda dengan rapi, dia pun keluar kamar.


Hari ini, dirinya akan kembali berlari, berusaha menghilangkan sesak yang kian menghimpit dada nya, bayangan pertengkaran nya dengan Haris terus menerus berputar di kepalanya, bagai rekaman yang otomatis berputar kembali.


Karena itulah, hari ini pun dia tidak ingin pergi bekerja, dia lebih memilih mengerjakan pekerjaan nya dari rumah, tentu saja karena di proyek nanti dia akan bertemu dengan seseorang yang tak ingin lagi bertemu dengan nya, sudah hari ke tiga dia menghindar, tak ingin juga bertanya mengenai Haris.


Rasanya masih ingin marah jika dia mengingat Ciuman pertamanya tempo hari, ciuman yang ia jaga, tak pernah sekalipun ada pria menciumnya, hanya dia, satu satunya pria telah berani mengambilnya, lalu melemparkan tuduhan padanya, benar benar membuat nya sangat marah.


Walau marah, tapi ketika mengingat dia kehilangan teman dia pun sedih, bahkan tak berani berkeluh kesah pada Bagus dan Priyo.


Setelah 1 jam berlari kini peluh membanjiri wajah dan tubuhnya, dia melangkah pelan memasuki gerbang rumah keluarganya, tiga orang security menunduk hormat ketika Elena melewati gerbang, dari jauh nampak asisten Seno tengah sibuk dengan Tablet nya.


"Selamat pagi Om Seno" sapa Elena ketika hendak melewati Pria usia pertengahan 40 tahun itu.


kemudian Seno pun tersadar "Selamat pagi Nona Muda" balas nya.


"Lagi nunggu papa?" Elena bertanya.


"Tidak nona, Tuan sudah berangkat 30 menit yang lalu bersama sopir"


"Lalu kenapa om Seno masih di sini?" Tanya Elena heran.

__ADS_1


"Tuan menugaskan saya untuk membawa anda ke tempat beliau berada saat ini"


"Tumben papa membawaku ke tempat kerja nya?" Elena berpikir sejenak.


"Baiklah Om, saya bersiap dulu" pamit Elena.


"Silahkan Nona, saya akan menunggu" Seno melempar senyum terbaik nya.


Elena pun berlalu, langkah kaki membawanya menuju dapur, Air putih dingin adalah tujuannya saat ini, aaaahhhh segar sekali rasanya.


"Hai sayang, sudah selesai lari nya?" senyum Marisa terkembang sempurna manakala menatap putri Kecilnya sedang berada di dapur "Mau sarapan sekarang?"


Elena menggeleng, "Entahlah ma, Elena belum ingin sarapan" Kemudian Elena bangkit "Elena siap siap dulu ya mah" pamit ya, tak lupa mencium pipi Marisa.


Marisa menatap Elena yang tengah berjalan menuju kamarnya, entah mengapa dia melihat putri bungsunya tengah gusar, Elena kembali murung seperti 8 tahun yang lalu, bahkan beberapa hari ini mengunci diri di kamar bersama tumpukan pekerjaan nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


jujur othor sendiri bingung menggambarkan sikap Elena, benci tapi rindu, sayang tapi gak ngaku cinta, jadi othor anggap dia bodoh memahami perasaan dan sikap nya 🙄


.


sabar ya neng, setelah ini banyak ujian perasaan 🤓


.


like like like komen and vote please 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2