
Syafira mengangguk, lalu berjalan ke luar ruangan. Bagus meraih paper bag dihadapannya, setelah melihat punggung sang sekertaris menghilang d balik pintu.
Dia membolak balik paper bag tersebut,
'Hhmmm tak ada nama pengirim nya',
Bagus menautkan kedua alisnya, kemudian mulai membuka paperbag , selembar note terselip diantara coklat coklat merk dari luar negri
-main yuuuukkk kangen niiihh- 😁
Kemudian bagus membuka paper bag ke dua, selembar note juga terselip d sana, kali ini isinya pun sama coklat
-nongkrong yuk, blacky pengen jalan nih-
Bagus tersenyum simpul, tanpa d beri identitas pengirim pun sebenarnya bagus sudah tau dari mana kedua paperbag itu berasal, rupanya kedua sahabatnya ini ingin mengerjai dirinya.
Pasalnya dia sama sekali tidak suka coklat, malah kedua sahabat nya mengirimkan coklat, “awas yah kalian, aku nikahkan tau rasa”.
Kemudian dia mengusap wajahnya, tampak berfikir sejenak, kemudian dia mengambil ponsel d mejanya, mencari no kontak sang sahabat, tak lama telepon pun tersambung
“Halo”
Terdengar sahutan dari no yang ia tuju.
“Kampret kamu, kapan nyampe? Kok gak kirim kabar kalo kamu sudah pulang?”.
“Weits, santai dong, kan udah aku kirim kabar, udah di makan coklat nya?”
“Emang rese’ ya kamu, dah tau aku g suka coklat, malah di kirim coklat”
“Yah gimana lagi di negara paman AA gak ada cabe sama pete, jadi g bisa kirim sambel pete”
Mereka pun tertawa renyah.
“Oke, nanti malem aku free, mau ketemu d mana?”.
“Cafe yg dulu deket kampus masih ada gak?”
“Oke, Cafe pohon jam 18 yah”
“sekarang mau perbaikan gizi dulu” pamer Bagus.
“Mau ke rumah Elena?” tanya suara d seberang.
“Iya dong, ikut yuk biar rame”ajak Bagus.
“Pengen sih, tapi belum siap ketemu Elena, seminggu lalu aja, aku langsung nyelonong pergi” ujarnya getir
__ADS_1
Bagus terkejut “kapan kalian ketemu?” lalu bertanya
“Minggu lalu di airport, sepertinya dia juga baru tiba” jelas Haris
Bagus menggelengkan kepalanya, bibirnya menyunggingkan senyum, “kalian emang jodoh yah, dulu ilang nya bareng, sekarang balik ke tanah air bareng juga, tapi Santai aja kali, anggap aja kalian gak pernah membicarakan urusan cinta”.
“Teorinya sih begitu, tapi gak semudah itu d lakukan”.
“sebentar lagi proyek kita d mulai, kalo kalian tidak saling bicara, bagaimana kita bekerja bersama”.
“aku usahakan” Haris terkekeh.
Mereka pun mengakhiri pembicaraan, Bagus berdiri dari kursi kebesarannya, melepas jas, lalu menggulung lengan kemejanya nya sampai siku “saatnya liburan” Bagus tersenyum bahagia, tak apalah sesekali dia menghilang tanpa kabar, senyum jail tersungging di wajahnya.
Sesampainya d meja syafira “bapak mau kemana?” tanta sang sekertaris.
“Mau libur sebentar, oh iya kalau pak krisna telepon, bilang aja aku belum kembali” Bagus mengetuk meja syafira “mmmm apa lagi yah, oh iya kamu suka coklat kan??”.
“suka sekali pak”jawab syafira dengan mata berbinar.
“Coklat di atas meja boleh buat kamu, SEMUANYA” sambil menekankan kalimat terakhirnya.
“Terimakasih pak” jawab Syafira
“Itu sogokan kerja sama kita, lain kali aku boleh minta tolong yah, kalo aku mau kabur dari pak Krisna” Bagus kemudian berlalu pergi, suara siulan terdengan dari bibirnya.
Sang mentari terus beranjak naik meninggalkan pagi, tapi Elena masih bergelung di balik selimutnya, sebenarnya sudah sejak tadi dia terbangun, tapi entah kenapa dia malas beranjak dari tempat tidur nya, sungguh dia belum ingin beraktivitas sama sekali, rasanya Masih ingin terus tidur dan bermain bersama Sisi sang keponakan.
Mungkin saat ini adalah waktu berharganya, selama 8 tahun dirinya menetap di negri gingseng tak pernah sekalipun dia membiarkan dirinya beristirahat, sekali dia beristirahat, maka dia akan tertinggal jauh, sementara tuntutan pekerjaan dan kuliah juga memaksanya untuk terus bergerak mengikuti ritme kehidupan di sana.
Dengan malas Elena beranjak dari tempat tidur nya, kemudian berjalan menuju balkon, matanya tertutup sesaat ketika sinar matahari menyilaukan penglihatannya, ketika akhirnya dia berdiri di balkon tampak sang papa sedang sibuk dengan surat kabar tangannya.
Papa ... Ujarnya lirih
Pria yang tegas dalam diamnya, pria yang lebih banyak menyembunyikan semua emosi dalam dirinya, lebih banyak diam, daripada berkata, tapi Setahu Elena, papa sangat menyayangi keluarganya.
Elena berjalan menuju pintu, 'sepi' pikir nya, dia pun berjalan menuruni tangga
“Sudah bangun” sapa Marisa
“Sudah ma, Elena hanya malas keluar kamar” jawabnya sambil menuang air putih, kemudian meminumnya.
“Sarapan?” marisa menawarkan, tangannya mengelus rambut Elena
“Ntar dulu mah, Elena belum lapar” jawab Elena malas.
“Pantas saja kamu makin kurus” Marisa yang tengah sibuk mengupas buah tampak menatap wajah Elena.
__ADS_1
“Tapi Elena makin cantik kan” balas Elena.
“Cantik, kapan kamu bawa kekasih untuk di kenalkan ke mama?”.
Elena memajukan bibirnya, ketika mendengar pertanyaan sang mama, kemudian Elena menjauh, karena takut sang mama menyuruhnya Mencari kekasih.
“Eeehhh mau kemana? Mama belum selesai bicara”.
“Mau ke papa”jawab Elena Singkat, lalu berjalan ke pintu belakang.
Marisa hanya bisa menggelengkan kepala, sebenarnya dalam hatinya dia mulai resah, karena sepertinya sang putri benar benar masih terkesan ogah ogahan kalau ditanya urusan pernikahan, ketika masih di negri gingseng pun Marisa sering menawarkan beberapa anak dari teman teman arisannya, tapi Elena benar benar tidak menanggapi keinginannya.
Elena melangkah ke gazebo d halaman belakang rumah besar milik keluarganya tersebut, Harun melambaikan tangan ke arahnya ketika melihat Elena tengah berjalan ke arah gazebo.
“Senangnya pak Presdir, jam segini bisa santai minum kopi di rumah” Elena sapa Elena ketika mendudukkan bokongnya di samping Harun , kemudian tanpa permisi menyeruput kopi Sang papa.
"Dan kamu sendiri, harusnya sudah jadi Direktur di salah satu anak perusahaan papa" Balas Harun.
"Males pah, ntar aja deh, Elena masih butuh banyak belajar dari bawah"
"Papa tidak keberatan asal kamu serius belajar, tapi dari yang papa lihat saat ini, kamu masih terlalu santai nak"
Harun mengelus rambut Elena, gadis kecil yang kini menjelma menjadi gadis dewasa, sungguh hatinya hancur ketika dahulu gadis kecilnya memilih pergi dari rumah demi melanjutkan pendidikannya.
“mau sampai kapan?”
“sampai puaaaaassss” Elena nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Harun hanya bisa tersenyum bijak mendengar jawaban Elena.
Walaupun jawaban Elena terdengar santai, tapi Harun tau Elena hanya berusaha menyembunyikan kempuan dan kecakapannya dalam bekerja.
Karena Selama 8 tahun Elena berada di negri asing, tak pernah sedikitpun lolos dari pengawasan Harun.
Yah tanpa Elena sadari, Harun mengerahkan anak buahnya untuk melakukan pengawasan 24 jam, demi keselamatan Elena sang putri mahkota ke 2 yang berada jauh dari rumah.
Tak lama berselang, tampak sosok lelaki yang amat di kenalnya berjalan ke arah gazebo, senyum tersungging d bibir nya “Woiii kampret, kenapa baru datang” sapa Elena riang, ketika melihat Bagus datang menghampiri nya.
Elena berdiri seraya mengulurkan kepalan tangannya lalu di sambut kepalan tangan juga oleh bagus, itu salam persahabatan mereka, bagus melingkarkan lengannya ke pundak Elena.
“Pa kabar? kamu sendiri gak bilang bilang kalau sudah balik ke negaramu”
“ Baik” Elena tersenyum riang.
“ om apa kabar?” sapa Bagus pada Harun.
“Baik” jawab Harun singkat “gimana? Masih sanggup jadi tangan kanan Krisna?” goda Harun yang sedang menyesap kopinya.
__ADS_1