
Jam 5 sore ketika Elena tiba di lobi hotel untuk pulang, Masih sama ketika dia tiba beberapa jam sebelumnya, kini ia pun berjalan menunduk, agar karyawan hotel tidak menyadari keberadaannya.
Namun alangkah terkejutnya ia, ketika tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya, Elena pun mengangkat kepalanya, ia terkejut ketika pintu mobil terbuka dan melihat siapa yang keluar dari dalam sana, senyum merekah dari bibirnya, ketika pria itu mendekat, pria itu pun memakai kacamata hitam sama seperti dirinya.
"I miss you." bisik nya di telinga Elena tanpa canggung.
Tak bisa di pungkiri wajahnya sudah semerah buah stroberi, dan semakin tertunduk malu.
"kamu kenapa?."
Elena hanya menatapnya sesaat kemudian menunduk lagi
Haris tersenyum, rupanya gadis yang kini berstatus sebagai calon istrinya itu sungguh menggemaskan ketika sedang tersipu malu.
"Kamu malu?." Tanya Haris
Elena mengangguk.
"kenapa?"
"lihat, kita jadi pusat perhatian, para karyawanku." bisik Elena lirih.
Memang benar yang diucapkan Elena, disekitar mereka kini nampak banyak karyawan berkerumun, membisikkan sesuatu antara mereka.
"Abaikan saja, kemarilah aku akan beri pertunjukan untuk mereka."
Serta merta Haris mengikis jarak diantara mereka, kemudian mengecup kening kekasihnya tersebut, sontak teriakan menggema di setiap sudut halaman hotel.
Kemudian Haris membukakan pintu mobil untuk Elena, dan mempersilahkan gadisnya untuk duduk.
Segera setelah Haris duduk di kursi kemudi, ia pun kembali menjalankan mobilnya.
Sementara Hana yang sejak tadi menjadi penonton dari jarak jauh, nampak mendecakkan lidah nya "Susah yah kalo orang lagi kasmaran, suka ga tau tempat dan situasi." ujarnya pelan.
Sementara itu Dua orang yang kini resmi menjadi calon suami istri nampak mengulum senyum di bibir masing masing, persis anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta, saling melempar senyum dan curi curi pandang.
"Kenapa menjemput ku? aku bawa mobil sendiri."
"Mulai sekarang, aku antar jemput."
"Kenapa? sekarang aku bahkan biasa pergi di antar sopir." elak Elena. "lagipula jarak hotel dan proyek lumayan jauh dan .... ."
Kalimat Elena menggantung, manakala Haris memegang tangannya, kemudian menautkan jemari mereka.
"Aku tidak menerima penolakan, mulai sekarang aku bertanggung jawab atas dirimu."
Elena tak mengatakan apapun, tak ada lagi bantahan, dia hanya tersipu malu, merasa sedang terbang di awan, baginya kalimat Haris tadi terlalu dalam maknanya.
"Mobil Bagus lagi yang kamu pakai?" Elena kembali membuka percakapan.
Tiba tiba Haris menoleh, dengan sorot mata tajam, namun kemudian urung marah manakala menatap mata Elena.
"Bukan, yang ini mobilku, aku hanya tak pernah memakainya." Haris nyengir.
"Trus kenapa sekarang tiba tiba di pakai?."
"Karena status kita sudah berbeda, aku ingin terlihat pantas berdampingan denganmu." Haris tersenyum samar.
"Apa aku pernah membeda bedakan kalian, justru sejak dulu aku ingin terlihat seperti anak anak biasa dari keluarga sederhana, menurut ku itu lebih nyaman," Elena mengelus punggung tangan Haris, "dan sekarang walaupun kamu hanya membawa blacky, aku tak masalah, malah aku akan terus merasa seperti anak kuliahan."
__ADS_1
Haris tersenyum kecil, padahal di dalam hatinya dia bersorak kegirangan mendengar pengakuan Elena, inilah yang ia suka dari Elena, gadis manis dengan pola pikir sederhana, tak ingin terlihat mencolok, tapi sebenarnya dia anak orang berada.
"Walaupun ... kita tinggal di gubuk nantinya?" Tanya Haris ragu ragu.
Elena cemberut, mimik wajahnya mendadak muram, seperti kehilangan energi.
"Ya jangan di gubuk juga kaliii." sungutnya manja.
"Hahahaha, ya ampun lucunya kalo lagi manja begini." Haris mencubit pelan hidung Elena
"Nggak akan terjadi, aku tak akan membuatmu tinggal d gubuk, aku mengambil alih tanggung jawab papamu, maka aku harus bisa memberikan lebih, dari pada yang pernah di berikan papamu." Ujarnya sungguh sungguh.
Elena tersipu, kalimat sederhana itu mampu memporak porandakan dinding tebal di hatinya, dinding yang selama ini dia bangun agar mereka tak pernah melewati batas pertemanan.
"Kita makan dulu yah, aku lapar, perutku baru terisi sarapan pagi tadi." Haris meringis memegangi perutnya yang mulai bernyanyi.
Elena panik, "Kenapa tak sejak tadi, kok baru sekarang bilang nya." omelan tak membuatnya melepas pandangan di sekitarnya, mencari tempat makan terdekat.
"Kalau pingsan bagaimana?" lanjutnya.
Sebenarnya Haris ingin tertawa mendengar kepanikan Elena, pasalnya dirinya hanya lapar, bertahan beberapa menit, tak akan membuatnya pingsan.
Kemudian Haris pun menghentikan mobilnya di Cafe yang kebetulan mereka lewati, namun kemudian Elena kembali panik, karena sepertinya ada yang sedang merayakan sesuatu, terbukti dengan banyaknya gadis gadis yang ramai bersenda gurau di pelataran Cafe.
Aaaahhh kenapa ada banyak ABG di sini, kehadiran mereka akan membuatku tersisihkan, Elena menggumam sendiri.
Kemudian cepat cepat menahan lengan Haris yang hendak keluar dari mobil.
"Kenapa melarang ku turun?"
"Kita cari tempat lain," Sungut Elena. "Disini terlalu ramai."
Beberapa saat kemudian, Haris kembali menghentikan mobilnya di pelataran sebuah restoran, mereka berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut.
Tiba tiba dari arah trotoar segerombolan gadis melihat kehadiran mereka.
"Huwaaaa itu Haris ... " teriak salah satu dari mereka, yang otomatis membuat mereka berlarian menghampiri sang idola tampan yang sedang jadi perbincangan.
Entah terbuat dari apa mata mereka, saat itu malam mulai gelap, Haris dan Elena sudah memakai topi berwarna hitam lengkap dengan kacamata hitam, namun mereka dengan mudah mengenali pasangan yang sedang viral tersebut.
Haris dan Elena pun urung masuk ke restoran tersebut, yang ada Elena cemberut dan meninggalkan Haris yang kini tengah sibuk dengan para fans girl nya, Haris nampak kewalahan menghadapi mereka, beberapa diantaranya malah nekat memeluk dan mencium pipinya, tentu saja hal itu membuat Elena semakin kesal
Akhirnya, dengan susah payah Haris berhasil kembali ke mobil, tentu saja masih harus sedikit berlari karena para gadis itu masih mengejarnya, setelah duduk kembali di belakang kemudi, Haris merasakan aura berbeda, diliriknya gadis yang tengah duduk di kursi penumpang, kini dia cemberut, dan tak lagi mengeluarkan satu kata pun, hanya dengan melihat saja Haris paham kalau Elena tengah menahan cemburu.
"Maaf yah, gara gara mereka kita gak jadi makan." Kali ini Haris mencoba mencairkan suasana, namun tak berhasil, karena Elena lebih memilih melipat tangannya di dada dan membuang pandangannya ke luar jendela mobil.
"Kok diam?"
Elena masih membisu.
"Kamu marah?"
"Nggak."
"Cem ... buru barangkali?" tanya haris ragu ragu.
"Enak saja, ngapain cemburu, jadi suami juga belum." jawab Elena ketus.
Oh perempuan, besar sekali gengsinya, apa susahnya mengaku cemburu, Haris berkata dalam hati, namun di sisi lain ia kini bahagia, Elena mulai cemburu melihat dirinya di kerumuni banyak gadis.
__ADS_1
"Oke aku salah, sebagai permintaan maaf, kita langsung pulang saja, aku bisa menahan lapar sampai tiba di rumahku." Akhirnya Haris memilih mengalah, dari pada melihat gadisnya cemberut berkepanjangan, namun sebenarnya itu pancingan, agar Elena bereaksi, atau minimal mengajaknya makan di rumah.
Ayo dong ngomong please, Haris berujar dalam hati.
Namun hingga mobil memasuki gerbang rumah besar keluarga Sebastian, Elena tak kunjung bicara kembali.
Apes bener, keluh Haris dalam hati.
Haris pun turun dari kursi kemudi, berjalan menghampiri pintu penumpang, namun sebelum sampai Elena sudah membuka pintu untuk dirinya sendiri.
"Yah ... kok sudah turun sih." keluhnya kesal.
"Tak usah berlebihan, seperti ini saja sudah cukup untukku."
"Tapi aku ingin memperlakukan mu dengan spesial."
Elena menggeleng, "Kita sudah lama saling mengenal, bersikaplah seperti dirimu yang biasanya, itu sudah cukup untukku." Elena kembali tersenyum, seusai menyelesaikan kalimatnya.
Kemudian Elena menggenggam tangan Haris dan menyeretnya masuk kedalam rumah.
"Ayo masuk, aku akan masak sesuatu untuk mu?"
Demi apapun juga, saat ini rasanya Haris ingin meloncat kegirangan, tak menyangka dengan perubahan sikap Elena. tak sia sia aku menahan lapar sejak tadi, teriaknya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mana terimakasih mu bang, othor lagi baek nih, makanya dari tadi di kasih yang manis manis terus bareng si eneng😁
.
habis ini ada manis apa lagi yah 🤭
.
__ADS_1
like like like komen and vote please 🥰🙏