
Bagus pun berlalu pergi, meninggalkan Haris dengan segala perasaan nya yang berkecamuk, bagaimana bisa Bagus meninggalkannya, ya meninggalkannya bersama Elena.
“Hai ... “ sapa Elena ketika memposisikan dirinya duduk di sebelah Haris.
“Hai juga ... “ balas Haris canggung.
Sunyi, tak ada lagi obrolan yang mereka perbincangkan.
"Apa kabar?" Elena mencoba bertanya kembali, untuk mencairkan suasana.
"aku ... " Haris menolehkan wajahnya "baik, yah sangat baik" jawabnya dengan senyum terpaksa.
Beberapa saat berlalu, mereka kembali diam tanpa bicara.
“Haris ... “
“hmmm ... “
Sunyi...
“Ris ... “ panggil Elena lagi
“iya ... “ jawab haris pelan
“Haris Aditya ...”Elena mengulang panggilan nya.
“Oh ya Tuhan ... Ada apa denganmu Elena” kali ini jawaban Haris terdengan agak kesal “apa namaku begitu indah, sampai kau memanggilku berkali kali”
Elena tersenyum geli mendengar jawaban Haris, tanpa peduli kalau pria di sebelahnya sedang kesal, Elena jadi semakin ingin menggoda nya.
“Apa waktu itu kamu lari dariku?”.
“Kapan?” Haris membeo.
“Saat kita bertemu di Airport?” jawab Elena.
“Oohhh ... “ Haris terdiam sesaat, kemudian dia melipat kedua tangannya didada, dia menundukkan wajahnya.
"Mmmm ... Itu karena ku pikir ... Aku ... Sedang berhalusinasi”jawab Haris ragu.
Ekspresi wajah Elena berubah seketika ketika mendengar jawaban Haris.
“Halusinasiiii? , Maksud kamu apa Ris, aku gak ngerti ?” tanya Elena, sekian tahun tak berjumpa sang sahabat, tak di sangka ketika bertemu, dirinya malah dianggap mahluk tak kasat mata.
Haris tersenyum samar “tak mungkin kamu tak tau rasaku padamu Elena”
Elena terdiam, mencoba mencerna maksud perkataan Haris.
Mungkinkah ... Elena membulatkan mata nya karena terkejut
__ADS_1
“tapi itu sudah lama berlalu, aku pikir kamu bahkan sudah lupa”
Pandangan mereka bertemu “tatap mataku Elena, Apa aku terlihat sedang bercanda” ujar Haris tajam.
“Perasaanku padamu masih sama, bahkan 8 tahun yang kulalui tanpamu tak mampu merubah apapun, justru membuatku merasa makin menginginkan mu, mungkin kamu tak akan percaya, ketika aku berjalan sepulang kerja, aku merasa sedang berjalan bersamamu, saat aku sedang melamun sendiri aku pun merasa kau sedang tersenyum di hadapanku, dimana pun aku berada, wajahmu menari nari dalam ingatanku, jika saja aku tak di sibukkan dengan urusan pekerjaan, mungkin aku sudah berakhir dengan status pasien gangguan jiwa”
Elena tercengang, tapi kemudian dia tersenyum “jadi kamu masih menyukai ku?” tanya Elena lembut
“Iya ... “
“Terimakasih ... “
“Tapi bagimu aku hanya teman kan?”
Elena mengangguk cepat “jadi tolong jangan menyimpan cinta untukku lagi” pinta Elena
“Bagaimana perasaanku itu terserah padaku kan?”
Elena tersenyum pasrah “ya baiklah terserah kau saja”
Elena menghembuskan nafas perlahan.
"Apa kau tau, dulu aku juga memiliki 2 orang sahabat, kami saling akrab, karena kami satu sekolah sejak SD" Elena mengaduk asal es teh manis dihadapannya.
"Kami bertiga 2 perempuan dan 1 laki laki, pasti kamu bisa menebak alur nya"
Elena mengangguk lemah, masih lekat dalam ingatannya memori akhir sekolahnya di SMU.
"Si pria menyukai ku sementara si gadis menyukai si pria, aku tak tau karena dia menyimpan sendiri perasaan nya"
"Salah faham semakin parah ketika pria itu menyampaikan perasaannya padaku, tapi sungguh, aku tidak pernah menyukai pria itu, hingga suatu kejadian membuat pria itu urung meminta jawabanku, dan aku, terjebak diantara perasaan mereka, yang lebih menyakitkan, persahabatan kami tak lagi menyenangkan, terasa dingin dan hambar, hingga masing masing kami pun menjauh" Elena tersenyum getir.
"Selepas kelulusan, aku kehilangan kontak dengan mereka, kami benar benar tidak pernah saling menyapa, bahkan bertemu pun tidak pernah".
"Saat reuni sekolah pun, mereka tidak pernah hadir, entah dimana merek kini aku tak tau"
Setetes air mata jatuh begitu saja melewati pipinya.
"Jadi karena itu?" tanya Haris, dia tak habis pikir bagaimana mungkin Elena menolak hanya karena pengalaman tidak menyenangkan yang pernah di alaminya.
"Sungguh aku minta maaf, tapi aku sangat nyaman bersama mu, Bagus, dan Juga Priyo, dan aku tak ingin kehilangan kalian, aku tak mudah bergaul dengan orang baru"
Haris beranjak dari kursinya “eh ... Mau kemana?” tanya Elena saat melihat Haris beranjak dari kursinya, tapi Haris mengacuhkan nya, Elena menghela nafas perlahan.
Tak lama Haris kembali ke tempat nya “darimana?” tanya Elena.
“Bayar tagihan” jawab nya santai.
“kenapa gak bilang kalau mau bayar tagihan” Elena panik “kenapa kamu yang bayar, aku yang makan banyak” ujarnya malu malu.
__ADS_1
Haris tampak tersenyum gemas, kemudian ...
Tak
“Aw ... Sakit” Haris menyentil dahi Elena.
Elena meringis seraya mengelus dahinya.
“Aku rasa kamu perlu menyegarkan kembali ingatanmu, pantang bagiku, jika ada seorang gadis membayar makananku”.
“Iya iya aku ingat, tapi kan semua ini aku yang makan”.
“Tanpa perlu kau bilang pun aku sudah tau, kalau Elena itu makannya banyak” ujar Haris seraya menekankan kalimat terakhirnya.
Elena tertunduk malu, Haris bahkan masih ingat kebiasaan makannya, tiba tiba wajahnya memerah, udara di sekitarnya jadi terasa hangat, perasaan ini lah yang selalu dia rasakan ketika bersama Haris, tak ada lagi privasi dalam dirinya, ingin rasanya dia menenggelamkan wajahnya ke dasar bumi.
Haris memahami, jika Elena sedang menahan malu dengan kebiasaan makannya, senyum jahil tampak d wajahnya.
Tak lama waiters datang membawa dessert, choco lava cake bertabur gula bubuk d atasnya, yah dessert favorit Elena, wajah Elena berseri seri “ini kesukaan mu kan” tanya Haris, elena mengangguk cepat.
“Kok Cuma satu sih, buat kamu mana?” tanya Elena bingung, pasalnya sejak datang Haris bahkan tidak memesan apapun untuk dirinya sendiri.
“Udah tenang aja, aku g begitu lapar kok, jadi makanlah dengan tenang”
“Kok kamu masih inget dessert favorit ku sih” Elena terharu seraya memasukkan suapan pertama ke mulutnya “enak ... Makasih yah“ ucap Elena dengan mulut mengunyah cake.
“Hemm ... “ Haris menjawab singkat, mata hitamnya tak lepas dari gadis yang tampak sangat menikmati cake dihadapannya.
“Ris, apa yang kamu lakukan 8 tahun terakhir ini?” Elena membuka topik baru.
Haris menghela nafas berat, dia memasukkan sepotong kentang goreng ke mulutnya “aku menetap di negara paman AA” Jawab nya santai.
“Awalnya Ayah yang memintaku ke sana untuk berkunjung, sekedar liburan, dan aku setuju, karena saat itu kita sudah menyelesaikan kuliah dan magang, ditambah lagi aku ingin menghilang sesaat dari mu” Haris tersenyum getir membayangkan dirinya saat itu.
Elena terkejut mendengar pengakuan Haris “separah itukah?” tanya nya dalam Hati.
“Kamu ingat dulu saat kuliah aku sering bercerita tentang Bench family construction”
“Hmmm “ Elena mengangguk.
“Buah dari keisengan, aku di terima sebagai peserta magang di sana, tapi kemudian nasib baik berpihak padaku, setelah menyelesaikan magang, aku juga di terima bekerja d sana “ Haris mengakhiri ceritanya begitu saja, terlihat sekali kalau cerita itu terlalu singkat, tapi Elena tak bisa memaksa, biar bagaimanapun sudah lama mereka tak berbagi kisah, pasti akan ada kecanggungan diantara mereka.
“Aku tau kamu memang bisa” Elena tersenyum, lelaki di hadapannya ini agak sedikit sensitif masalah perasaan, tapi untuk pekerjaan, dia terbaik di bidangnya.
“Baiklah ... Ayo aku antar pulang” tak menunggu lama, setelah melihat Elena menghabiskan cake nya, Haris pun beranjak tak lupa menyambar kunci motor dan helm nya, Elena pun demikian, dia memakai kembali tas selempang miliknya kemudian berjalan mengekor di belakang Haris
“Canggung sekali” pikirnya, padahal saat kuliah mereka sering naik motor berdua.
Sesampainya di parkiran “aku Cuma bawa satu hem, kita kerumah ku dulu yah ambil helm” Haris bertanya seraya memakai helm nya, Elena pun membalas dengan anggukan.
__ADS_1