
Elena nampak mondar mandir di depan ruang rawat intensif tempat dimana Haris berada, walaupun dia memakai baju pasien, dan Mark sengaja memesan kamar VVIP untuknya, tapi dia tidak bisa tidur dengan tenang layak nya pasien, Elena termasuk dalam kategori pasien bandel, karena sama sekali tak menghiraukan nasehat petugas medis yang menyuruhnya istirahat.
Dua jam selepas Haris keluar dari ruang operasi, kedua orang tua Haris pun datang, tak lupa Hesti dan Hana ikut bersama mereka, sementara Bayu tak bisa datang karena masih disibukkan dengan urusan pekerjaan.
"Maaf nak kami baru tiba, lalu lintas di luar sungguh mengerikan." Ferdy menyapa calon menantu nya tersebut, dielusnya puncak kepala gadis di hadapannya itu, wajah cantik nya nampak pucat, ekspresi manis yang biasa tersungging di wajahnya, kini seolah pudar berganti dengan rasa khawatir dan perasaan bersalah.
Elena tak kuasa lagi menyembunyikan kan perasaan sedihnya, dia pun menangis dan menumpahkan segenap perasaannya, Bahunya terguncang manakala Hesti memeluk nya.
Elena tertunduk, "Maaf ..." hanya itu yang mampu ia ucapkan di sela sela tangisan.
"Tak perlu minta maaf sayang," Ucap Andini yang kini ikut serta memeluk Elena.
"Tapi gara gara menyelamatkan saya, Haris jadi terluka dan sekarang masih harus di awasi ruang intensif,"
Ferdy menggenggam erat telapak tangan Elena, "Jika istri ayah yang ada di posisi mu saat itu, ayah pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Haris padamu."
Ucapan Ferdy seolah olah menjadi hujan yang mampu menyejukkan perasaan sedihnya, pria paruh baya itu nampak tenang dan bijaksana menghadapi musibah yang menimpa putra satu satunya.
"Yakinlah, anak Ayah pasti baik baik saja, ayah sangat tahu, Haris pasti bisa bertahan."
"Oh iya, dan terimakasih, karena kamu sudah menyumbangkan darahmu untuk putra Ayah,"
Elena menggeleng kuat, "itu tak seberapa dibanding dengan pengorbanan Haris yah."
"Ayah senang karena kalian bisa saling menyayangi dan melindungi satu sama lain, semoga pernikahan kalian kelak bahagia selalu."
Elena kembali menangis mendengar doa tulus yang terucap dari bibir calon mertuanya tersebut, dan entah kenapa Elena masih menangis, padahal kondisi Haris yang kini sudah lepas dari masa kritis, dan Elena pun mendapatkan dukungan penuh dari keluarga dan sahabatnya, tapi tentu saja itu tak membuat perasaan hampa nya terobati.
Elena merindukan Calon suaminya tersebut, merindukan suara dan genggaman tangan pria itu.
...****************...
Beberapa saat lalu orang tua Haris pamit untuk kembali ke rumah, karena Elena bersikeras ingin tetap di rumah sakit, mereka pun mengalah dan mengizinkan gadis itu untuk tinggal, tentu saja bersama Mark dan Bagus, karena Priyo belum tiba.
Marisa dan Harun tiba sangat terlambat.
Brak ...
Dengan kasar Marisa membuka pintu ruang rawat yang di tempati Elena, wajah nya ditekuk, dan benar benar terlihat kesal, dia pun mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan tersebut.
Bagus dan Mark yang kebetulan masih berada di ruangan tersebut pun hanya saling pandang.
"Kenapa ma? kok kesal gitu?" Elena turun dari brangkar dan duduk di sisi Marisa
__ADS_1
"Papa kamu tuh ngeselin, tadi bukan nya langsung ke RS, malah mampir dulu ke proyek." Marisa membuka tutup botol air mineral kemudian meminum isinya. "sampai sampai mandor proyek hampir pingsan melihat kehadiran papamu, sampai sampai meninjau sendiri apa penyebab kecelakaan yang menimpa calon menantu kesayangan nya."
Harun hanya mendesah pelan mendengar ocehan istri nya, pria yang kini tak lagi muda tersebut nampak santai seperti biasa.
"Benar begitu pah?" tanya Elena penasaran.
Harun hanya menjawab dengan anggukan.
"Lalu, bagaimana hasilnya?" kini Elena mulai penasaran.
"Tidak ada yang salah, hasil investigasi lapangan juga menunjukkan tidak ada sabotase atau kerusakan alat berat, semuanya murni kecelakaan." Harun menarik nafas lega, "gimana keadaan Haris?"
"Sudah stabil pah, walaupun masih belum sadar, dan masih di ruangan intensif sampai besok untuk pengawasan lebih lanjut."
"Syukurlah, kabari papa kalau calon mantu papa sudah sadar."
Elena mengangguk, wajahnya memerah mendengar kata kata calon mantu, keluar dari lisan Harun. "Izinkan Elena di sini ya pah, Elena tidak akan tenang kalau harus meninggalkan rumah sakit."
Harun mengangguk tanda mengizinkan putri kesayangannya untuk tinggal. "Bersama mereka?" Harun mengarahkan pandangannya pada Mark dan Bagus.
"Iya pah, nanti Mark akan pulang karena dia yang bertanggung jawab di proyek mengganti kan Haris,"
"Jadi, hanya bersama Bagus?"
"Bagus, sudah berapa Hari kamu tidak istirahat?" Harun bertanya dengan nada khawatir.
"Darimana Om tahu saya belum istirahat?" Bagus Berusaha mengelak, menyembunyikan kondisi dirinya.
"Ckckck ... " Marisa berdecak, "Wajahmu benar benar kusut seperti cucian yang lupa belum di setrika."
Bagus tersenyum dan menggosok tengkuknya, "Iya tante, saya sudah 2 hari belum istirahat."
"Jadi, bagaimana bisa menjaga orang sakit kalau kalian sendiri belum sehat?" Marisa mulai mencecar Elena dan Bagus dengan omelannya.
"Nanti Priyo datang mah," jawab Elena pelan. "Lagipula kami sudah dewasa, bisa menjaga diri masing masing."
"Ya sudah terserah kalian, oh iya ini barang barang mu yang tertinggal di proyek," Marisa meletakkan tas, laptop, dan ponsel Elena di pangkuan gadis itu.
Elena terkejut, langsung saja ia teringat USB yang dihadiahkan Anita kepadanya.
"Mah, ada USB nya gak?" Tanya Elena panik manakala tidak melihat USB berharga nya tak lagi menempel di laptop.
"Nih ... " Maris malah menunjuk sebuah benda yang kini menjadi bandul di ponsel nya.
__ADS_1
Elena tersenyum lebar, matanya berbinar-binar seperti menemukan berlian sebesar gunung, begitulah kira kira gambaran perasaan bahagianya, rupanya Anita sendiri yang menjaga barang barangnya, 'aku harus berterima kasih padanya' gumam Elena dalam hati.
Pintu kamar kembali terbuka, tamu tersebut nampak terkejut melihat kehadiran Harun dan Marisa di ruangan tersebut.
"Apa kabar om tante?" sapa pria muda itu, senyuman manis tulus dan ramah tersungging di bibir nya, ciri khas yang tak bisa dia lepaskan begitu saja.
Priyo mencium punggung tangan kedua orang tua Elena tersebut. "Apa kabar Om dan Tante?" Tanya nya.
"Baik, keluargamu sehat nak?" Marisa kembali bertanya.
"Sehat semua tante, karena ini menjelang malam jadi saya tidak membawa mereka."
"Nggak papa, masih ada hari lain untuk bertemu." Jawab Marisa antusias.
"Gimana perkembangan bisnis beras Organik mu?" Harun yang sejak tadi menjadi pendengar, kembali membuka suara, tentu saja tak jauh jauh dari urusan pekerjaan.
"Lancar om, belakangan trend beras organik sedang banyak peminatnya, jadi semakin banyak permintaan, termasuk varian beras merah dan beras hitam." Dengan antusias priyo menjawab pertanyaan Harun.
"Syukurlah om ikut senang mendengarnya, jangan sungkan untuk bercerita jika kamu perlu bantuan."
"Terimakasih om."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
like like like komen and vote please 🥰🙏