Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
31


__ADS_3

Sorak sorai penonton memenuhi setiap sudut tribun, siang itu pertandingan final bola basket antar sekolah, skor terakhir adalah seri, dan sebentar lagi babak perpanjangan waktu akan di mulai, pihak lawan mengeluarkan tim cadangan baru, karena di pertandingan sebelumnya, kapten tim bermain dalam kondisi cidera otot lengan.


Wasit menuju ke tengah lapangan, dia meniup peluit sesaat setelah melirik jam di pergelangan tangannya.


Riuh penonton kembali saling bersahutan memberi semangat pada masing masing tim, saling lempar, halau, dan tangkap membuat suasana pertandingan semakin menegangkan, kedua tim sama sama imbang, sama sama ingin mempertahankan gelar juara.


Hingga di 15 detik terakhir, lelaki bernomor punggung 00 itu menguasai bola, dia nampak lincah mempertahankan bola ditangannya, walaupun musuh di kanan dan kiri mengintai dari jarak dekat, sekilas ia melihat sisa waktu pertandingan hanya 5 detik, tak mungkin dia mengoper bola pada rekan tim yan sudah menunggu di dekat ring, akhirnya tanpa membuang waktu, tepat di tengah lapangan, dia menembakkan bola menuju ring, hal itu membuat suasana penonton sunyi sesaat, karena pandangan penonton mengikuti laju bola menuju ring.


Namun sejenak kemudian suara sorak sorai penonton tim lawan menggema, menandakan bahwa mereka memenangkan pertandingan final bola basket siang itu, si lelaki yang berhasil menembakkan bola itu nampak dipeluk, kemudian di angkat oleh seluruh rekan satu tim nya.


Elena yang saat itu berdiri di tempat ia duduk nampak kesulitan mengenali wajah si pemilik skor kemenangan tersebut ...


...****************...


Aku bermimpi lagi ...


Dahulu mimpi itu sering berulang, entah kenapa, bahkan mengenal dia pun tidak, tapi mimpi itu seperti potongan puzzle hidupnya yang belum bisa terpecahkan.


Karena sering memimpikan nya, kerap kali hatinya berdesir jika mengingat nya, tapi apa? apa yang ia lewatkan?, apakah ini kekaguman, atau apakah hatiku masih terikat padanya?


Sayang nya, kali ini pun aku tak bisa dengan jelas melihat wajah nya.


Elena yang baru terbangun dari tidur nya, melihat ada ruang kosong disisinya, pertanda kalau Ayu dan Rio sudah bangun sejak tadi.


Dia pun bangkit dan berjalan ke pintu.


Sayup sayup suara ramai terdengar dari arah dapur, Elena Berjalan menuju tempat tersebut, dirinya nampak terkejut, manakala menyaksikan puluhan ibu ibu nampak sibuk membersihkan aneka bumbu dan sayuran, sebagian lagi sibuk membersihkan ikan dan ayam yang baru saja di sembelih.


Beberapa ibu nampak tersenyum melihat kehadirannya.


"Mbakyu ... itu juga temannya Mas Bos?"


"Iya bu Lastri, dulu kami semua teman kuliah, hanya beda jurusan" jawab Ayu sopan.


"Nggak kalah Cantik sama Mbakyu, orang kota memang beda" kata ibu yang sedang mengupas mentimun.


"Sama saja bu, hanya orang kota gak pernah kesawah, dan kerjanya di dalam ruangan, jadi gak kepanasan atau kehujanan" Tutur Ayu, kemudian berjalan menghampiri Elena yang masih tersenyum malu mendengar pujian para ibu.


"Duduklah sini, tidak usah canggung, Para ibu ini sudah terbiasa masak disini, sejak Almarhumah Ibu mas Priyo masih hidup" Ayu menjelaskan.


"Memang ada acara apa?" Tanya Elena penasaran


"Ah hanya acara makan bersama saja, kami baru selesai panen, nah acara ini memang di adakan usai panen, makan bersama ini sebagai bentuk ucapan terimakasih kami kepada para pekerja yang sudah bekerja dengan giat"


Elena mengangguk paham mendengar penjelasan Ayu.


"Kok kamu di panggil Mbakyu?" Elena bertanya masih dalam mode penasaran nya.


"Oh itu" Ayu tersenyum sesaat "tadinya mereka mau manggil Mbak Bos, karena aku istrinya Mas Bos mereka, tapi aku gak mau, Akhirnya mereka panggil Mbak Ayu saja, tapi lama lama jadi Mbakyu"

__ADS_1


"Ayo sarapan, tadi mas Priyo dan Haris sudah sarapan lebih dulu, sekarang mereka pergi kekota, ambil pesanan kue untuk acara malam nanti"


Elena mengangguk, kemudian beranjak mengikuti Ayu.


...****************...


Sementara itu di jalanan, ada dua orang Pria di dalam mobil yang kini sedang mereka tumpangi menuju kota.


Priyo mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang, dia tersenyum sekilas manakala melihat pria di sebelah nya nampak sangat menikmati perjalanannya, pria itu tak lain adalah Haris.


Haris yang sengaja bersandar di pintu, mengeluarkan lengannya agar bisa menikmati sejuknya udara pedesaan, senyuman tak terlepas dari bibir nya, oooohhh betapa menyenangkannya bisa berlibur sesaat.


"Kamu banyak berubah" Priyo mengawali perbincangan.


"Kamu juga, sekarang makin kelihatan tua" Haris terkekeh.


"Dasar kampret, kamu sama aja kaya Bagus" umpat Priyo tak terima saat dirinya d sebut tua "Tapi serius, entah kenapa aku melihat aura berbeda dari wajahmu"


"Apa aku terlihat tua juga?" tanya Haris penasaran.


"Tidak, kamu semakin tampan kawan" puji Priyo tanpa segan.


mendengar pujian itu, Haris tersipu malu.


"Dih ... kenapa ekspresi mu seperti anak perawan begitu?" goda Priyo


"Karena aku memang masih perjaka hahaha" Ujarnya bangga, iya itu sesuatu yang sangat ia banggakan, karena ia hidup di negara yang menganut pergaulan bebas.


"Yang gak berubah, hanya tatapanmu padanya" Ujarnya. "masih sama seperti dulu"


Haris tersenyum samar, "karena aku masih mengharapkan nya, entah kapan dia mau membuka hatinya" Haris berujar sedih.


Priyo yang mengerti betapa lama penantian sang sahabat pun hanya bisa meremas pundak Haris. "Aku selalu berharap, semoga tak lama lagi".


Ucap Priyo tulus, yang kemudian di aminkan oleh Haris.


Priyo menghentikan mobil nya di sisi jalan. "Kok berhenti?" Tanya Haris penasaran.


"Iya, kita menunggu Bagus, sekitar 15 menit lagi dia sampai"


"Kampret itu minta di jemput?, sementara aku dia suruh naik angkutan umum, awas kamu yah" Haris menggeram marah.


Priyo tertawa sesaat, "tapi Sampai saat ini, ada satu hal yang membuatku penasaran"


"Oh iya apa itu?"


"Kamu dan Elena"


Haris menatap Priyo "Hari terakhir kita magang, sesudah itu, kalian sulit untuk dihubungi, aku dan bagus hanya mendengar kabar kepergian kalian dari keluarga kalian, kamu menghilang dan Elena juga"

__ADS_1


Haris tersenyum samar, "Ayah menyuruhku liburan ke Negara paman AA, dan aku yang patah hati memang sesaat ingin lari, namun kebablasan dan kelamaan larinya" haris terkekeh.


"Dasar kamu, trus kalo Elena apa kamu tau?"


"Entah, aku tak tau, dan dia juga seperti enggan menjelaskan" Haris menatap muram keluar jendela mobil, "Dia hanya bilang kuliah lalu bekerja, sudah hanya itu"


Priyo menghela nafas pelan, oh Tuhan, ada apa gerangan dengan mereka?, sungguh aku berharap mereka adalah jodoh, tapi kenapa sepertinya tidak ada kejelasan. ujar Priyo dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nah kan siapa gerangan si lelaki tanpa no punggung tersebut ๐Ÿคจ


.


Dan apa alasan nona muda Sebastian meninggalkan rumah ๐Ÿค”


.

__ADS_1


like like like komen and vote please ๐Ÿฅฐ๐Ÿ™


__ADS_2