
Sementara itu di sisi lain bumi, seorang pria tengah duduk di perbukitan, semilir angin malam menyejukkan dirinya ... pandangannya kosong menatap langit malam.
Pikirannya melaju entah kemana. hanya ponsel satu satunya hiburan yang ia punya, pasalnya di pulau ini sinyal ponsel belum terlalu bagus, jadi dia harus rela memanjat bukit pagi dan sore hari demi menerima kabar dari orang kepercayaan nya di tanah air.
Dimitri Corp mempercayakan proyek resort untuk tempat wisata ini kepadanya, kesempatan ini tentu tak akan di sia siakannya, terlebih nilai kesepakatannya sangat fantastis, pastinya akan membuat harga saham Hamrr's semakin melambung, bahkan baru baru ini Hamrr's membeli 80% saham Denz DRT, otomatis kini perusahaan tersebut ada dibawah kekuasaannya.
Tugas nya semakin berat karena Denz DRT belum bisa dikatakan stabil, banyak nya proyek yang masih mangkrak mengharuskan dirinya untuk segera mencari solusi agar Denz DRT kembali stabil, selama ini terlalu banyak rumor dan skandal di perusahaan tersebut.
Pandangannya beralih ke ponsel, ketika cahaya berwarna biru berkedip di layar ponselnya.
"Selamat pagi tuan" Sapa Mark
Karena perbedaan waktu, Haris tak mempermasalahkan nya.
"Hmmm, bagaimana perkembangan proyek di sana?"
"Tak ada masalah tuan, semua nya lancar"
"Apa ada yang mencari ku?"
"Ada tuan"
"siapa?"
"Seseorang yang paling anda harapkan"
Pria itu mengangkat alisnya, senyum bahagia tak bisa ia tahan lagi, "lalu dia bilang apa?"
"Nona tidak bilang apa apa tuan, hanya bertanya dimana anda, dan sepertinya dia belum tau kepergian anda"
Aneh, seingatnya sesaat sebelum penerbangannya, dia sudah menitipkan pesan pada Bagus, kenapa belum di sampaikan, tapi biarlah, mungkin ada untungnya juga jika saat ini Elena tak tahu dimana keberadaannya.
"Tuan? anda masih di sana?"
"Hmm lanjutankan".
"Ternyata jika di lihat dari dekat nona lebih cantik dari pada yang di foto"
"Kamu mau mati?"
"Tidak tuan saya masih ingin hidup"
"Bagus kalau kamu masih ingin hidup, jaga jarak dengannya selama aku di sini, jangan berani menggodanya"
"Baik Tuan"
Haris mengakhiri panggilannya.
...****************...
__ADS_1
Hari hari berlalu, aktivitas Elena setiap hari hanya, lari pagi, belajar dan bekerja, kemudian malam hari nya dia kembali berteman sepi, lelah nya beraktivitas sepanjang hari tak membuatnya lekas mengantuk, justru semakin sulit memejamkan mata, kadang berendam air hangat cukup membantu dia untuk rileks hingga bisa tidur nyenyak.
Namun malam ini, entah kenapa dia sulit sekali memejamkan matanya, padahal dia sudah berendam air hangat seperti biasa, namun kantuk tak kunjung tiba, Elena melangkah keluar kamarnya menuju dapur, barang kali ada sesuatu yang bisa di makan, kemudian bisa membuat nya mengantuk, namun hasilnya nihil, dia justru membuat segelas kopi panas dan kembali kekamar nya.
Akhirnya dia menyerah dan memilih untuk menyiapkan pakaian untuk dikenakan besok pagi, karena besok Harun akan resmi memperkenalkan putri bungsunya kepada dewan direksi, dress berwarna soft pink dilengkapi blazer merah maroon menjadi pilihannya, ketika tangannya tengah kembali merapikan isi lemari nya, tanpa sengaja matanya menatap baju asing yang ia yakini bukan milik nya.
Lama dia mencoba mengingat milik siapa kah gerangan, dadanya berdesir hebat ketika menyadari siapakah pemilik baju tersebut, ternyata itu hoddie milik Haris, tempo hari dia lupa mengembalikan nya, bahkan lupa belum mencuci nya.
Lama dia diam terpaku, beberapa hari ini pikirannya berkecamuk, memikirkan dimanakah gerangan laki laki itu, tiba tiba di dekap nya hoddie tersebut, aroma parfum nya bahkan masih tertinggal di sana, kenapa begitu nyaman hanya dengan menghirup aroma yang tertinggal di Hoddie tersebut?? tanpa sadar ia pun terlelap bersamaan dengan dekapan hangat Hoddie tak bertuan tersebut.
Dan pagi itu, elena harus rela bangun kesiangan, rasanya sungguh memalukan, dia baru bisa tidur setelah memeluk hoddie milik seorang pria, tiba tiba ia merasa wajah nya memerah, buru buru ia bangkit menuju kamar mandi, seolah olah takut ada yang memergoki tingkah konyolnya.
...****************...
Suasana tepuk tangan menggema di setiap sudut ruangan tersebut, bagaimana tidak, Selama ini putri kedua dari pemilik HS grup itu terkesan di sembunyikan, dan kini Harun Sebastian akhirnya mengenalkannya ke publik, karena kini dia resmi menjabat sebagai Direktur Utama Diamond Hotel yang merupakan salah satu anak perusahaan HS grup Construction.
Segenap jajaran petinggi HS Grup menyambut gembira berita tersebut, para pemegang saham pun tak luput memberi selamat dan dukungan untuk kelanjutan Diamond Hotel di bawah kepemimpinan Direktur baru nya, kilatan cahaya kamera pun tak henti hentinya mengabadikan momen tersebut, apalagi ternyata sang putri mahkota ternyata memiliki rupa yang menawan.
Bagi Elena yang selama ini menyembunyikan identitas nya, ini adalah masalah besar, sungguh dia tak ingin jadi orang yang dikenal publik, akan risih rasanya jika terlalu banyak orang yang mengenal nya, karena kemana mana akan ada banyak mata yang mengawasi.
Setelah berakhirnya acara tersebut, Elena hanya duduk cemberut di dalam ruangannya, Eliza yang juga menghadiri acara tersebut hanya menggelengkan kepalanya, lucu juga melihat adiknya yang sedang cemberut.
"Kenapa? wajahmu tak menyenangkan dilihat" Eliza menduduk kan dirinya di kursi pijat yang ada di ruangan tersebut.
"Entahlah kak" jawab Elena malas. "selama ini aku susah payah menyembunyikan identitas ku, sekarang Blaaaarrr, semua orang mendadak tau, semua orang mendadak kenal"
"Suka atau tidak ini adalah bagian dari resiko menjadi anak papa, dulu kakak juga begitu, tapi semuanya menguap dengan sendirinya, asal kamu tak membuat skandal menghebohkan, semua ini tak akan berlangsung lama, sebentar lagi juga orang orang akan melupakannya, jadi untuk sekarang nikmati saja ketenaranmu".
"Memang aku mau buat skandal apa?" balas Elena.
"Yaaa barangkali tiba tiba ada pria yang mengaku memiliki hubungan khusus denganmu"
Mendengar pernyataan Eliza, rasanya Elena ingin tertawa, jangankan kekasih teman juga hanya itu itu saja.
"Ya sudah kakak pulang dulu" Eliza pun pamit.
"mau kemana kak?"
"Kakak ada janji dengan main dengan Sisi, aaaahhh anak itu, kenapa dia mirip sekali denganmu, yang di pikirkan hanya bermain" Eliza menggerutu, namun sesungguhnya dia sangat menyayangi putri kecilnya tersebut. "Oh iya minggu depan sisihkan waktu yah, kita hangout bareng"
"Aku usahakan" jawab Elena.
sepeninggal Eliza, Elena tak tau lagi harus mengerjakan apa.
Tak lama suara ketukan terdengar dari pintu, membuat pandangannya teralihkan. asisten Seno memasuki .
"Permisi nona, ini dari bagian perekrutan karyawan, daftar calon sekertaris anda yang sudah memasuki tahap akhir, mereka yang terpilih dari 300 pendaftar"
Elena menerima berkas tersebut kemudian memeriksa nya satu persatu, Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati nama dan wajah yang tak asing di sana.
__ADS_1
"Hana??"
"Apa nama itu membuat anda tertarik nona?"
"Yah ini Hana adik sepupu Haris"
"Anda mengenal nya"
"Tentu aku mengenalnya sangat baik"
"Kebetulan sampai saat ini, kandidat tersebut masih memegang nilai tertinggi"
"Lakukan yang terbaik Om, tapi aku juga tak ingin ada nepotisme, aku ingin dia yang jadi sekertaris ku"
"Baik nona" asisten Seno mengangguk, kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Aaaahhh akhirnya aku punya teman di tempat baru ini., ujarnya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bang, cepet pulang napa bang, ada yang kangen sampe gak bisa tidur 🤭😁
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1