
Pagi itu ruang kerja Harun Sebastian terasa mencekam, tak ada satupun yang berani memasang senyum, yang ada hanyalah, yang tak sabar menanti jawaban dan kepastian dari kedua tersangka.
Semua orang menatap tajam penuh curiga, tak ada keramahan seperti hari hari biasa, Elena menghembuskan nafas sesaat.
"Ada apa ini mah, pah?? Elena bener bener gak mengerti, pagi buta tiba tiba di jemput dengan pesawat pribadi, sampai airport di kerumuni wartawan, dan sampai di rumah suasananya sama sekali tak menyenangkan, adakah yang bisa memberiku jawaban?,"
tok tok ...
Terdengar suara pintu di ketuk, Asisten Seno membukakan pintu, tak lama Eliza dan Krisna memasuki ruangan, kemudian Bagus berdiri dan mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Tanpa bicara Marisa menunjukkan foto foto Elena bersama pria yang kini duduk dalam diam di sisi nya.
Tatapan tajam sontak dia arahkan ke pria yang sejak tadi diam tak bersuara tersebut, "kamu yang menyimpan foto foto ini, bagaimana mungkin bisa sampai ke tangan mama, apa kamu sengaja melakukan ini?."
Haris yang mendapat tuduhan, hanya menggeleng, "jelas bukan aku pelaku nya, hanya pengecut yang melakukannya."
Elena kembali menatap kedua orang tuanya "Mah dengerin Elena, entah dari siapa mama mendapat kan foto foto ini, tapi percayalah ini hanya foto, tanpa ada maksud apa apa"
"Mama tidak percaya."jawab Marisa ketus.
"Maaa tolong percaya Elena mah, Elena gak mungkin melakukan perbuatan yang tidak seharusnya mah, sungguh."
"Iya, sekarang kamu bisa bilang tidak melakukan apa apa, tapi bisa saja kalian berbohong," tuduh Marisa.
Elena memejamkan mata, seraya menghela nafas perlahan, mencoba untuk tidak terbawa emosi akibat perkataan wanita yang paling dia sayangi tersebut.
"Mama sayang, kalau hanya karena foto, lantas mama jadi seperti ini tentu aneh, coba mama fikirkan, Elena tinggal di negara orang bertahun tahun, kalau Elena mau, mungkin yang terjadi lebih parah dari foto foto ini, tapi tidak pernah terjadi Kan?."
"Mama tetap tidak percaya, apa buktinya kalau tidak terjadi apa apa," Marisa tetap bersikukuh pada pendiriannya, "Tidak, aku tidak akan menyerah, apapun yang terjadi aku harus membuat mereka menikah." ujar Marisa dalam hati.
"Hari itu, Haris meminta 2 kamar pada pihak penyelenggara," Jawab Elena pasrah, karena sepertinya menjelaskan pun percuma.
Saat itu ingin rasanya ia menenggelamkan diri kedasar bumi, atau meminjam tongkat Harry Potter untuk bisa memindahkan dirinya ke tempat lain, namun apa lah daya ia tak bisa.
"Kalau memang kalian menginap di 2 kamar berbeda kenapa bisa ada foto seperti ini?,"
Kali ini Harun yang bertanya, dingin dan menakutkan, itulah aura yang dirasakan Elena, baru kali ini papa nya bersikap sedingin itu pada dirinya.
"Itu karena ... " Kalimatnya menggantung, terlihat sekali kalau ia ragu ragu, tiba tiba kilasan kejadian yang hampir merenggut nyawanya kembali berputar, tangannya gemetar hebat, keringat dingin tiba tiba mengucur di sekitar pelipis dan dahi nya.
Untuk menutupi rasa takut nya, Elena meremas ujung kemeja putih yang ia kenakan, kini tangannya pun ikut berkeringat dingin, tiba tiba ia merasakan tangannya menghangat, ternyata Haris tengah menggenggam tangannya, tatapan teduh nya seolah berusaha menenangkan nya.
"Tenanglah, itu sudah berlalu," Haris mencoba menenangkan nya "Dari sini biar aku yang menjelaskan."
Elena menggeleng "tidak, biar aku yang menjelaskan, semua ini terjadi karena aku, dan kamu sudah janji akan merahasiakan ini dari siapapun."
__ADS_1
"Ini tak bisa dirahasiakan lagi, kalau dirahasiakan, masalah ini gak akan selesai," Haris terkejut, ketika tiba tiba Elena menepis tangannya dengan kasar.
"Aku bilang tidak, ya tidak" Jerit Elena.
"Seno, tunjukkan padanya!." Harun memberi perintah, dan tanpa di minta untuk kedua kalinya, seno mengulurkan Tablet yang sejak tadi ia genggam.
"Silahkan di lihat nona."
Elena terdiam menatap gambar gambar dan video pendek dihadapannya, rasanya seluruh tubuhnya kini tak bertulang, jika sudah begini dia merasa seperti maling yang bersembunyi di hadapan musuhnya.
"Apa beberapa hari ini kamu tidak lihat berita?," tanya Harun.
Elena terdiam, kini tak mungkin lagi menyembunyikan kisah dibalik foto foto tersebut. "Elena sibuk pah, sama sekali gak lihat berita."
Pandangan Harun kini beralih menatap Haris, bukan sekedar tatapan biasa, namun tatapan penuh ancaman.
"Sebaiknya penjelasanmu masuk akal, kalau tidak, jangan berani berani mendekati putriku lagi."
Perkataan Harun sangat mengejutkan, Elena terkesiap, tidak menyangka Harun akan bereaksi seperti itu.
"Apa tujuanmu membawa Elena menghadiri acara tersebut?."
"Tidak ada om, kami hanya bertukar peran, beberapa hari sebelumnya saya menemani Elena menandatangani kontrak kerjasama dengan Daehan grup, sebagai gantinya saya meminta dia menemani saya ke acara Wedding anniversary nya Tuan Ben dari Bench Family, hanya itu saja, tak ada maksud yang lain."
"Elena tidak bersalah om, malam itu, ada yang sengaja menerobos masuk kekamar Elena, dan men ... men ... ," Haris nampak kebingungan dengan kalimat yang ingin dia ucapkan.
"Bicara yang jelas dan jangan berbelit-belit," sentak Harun tak sabar.
"Malam itu Elena nyaris terbunuh om." Haris berucap lirih.
Brak ... tiba tiba Harun menggebrak Meja.
Bukan hanya Harun yang terkejut dan marah, bahkan seisi ruangan tersebut pun terkejut mendengar pengakuan Haris.
"Maafkan saya om, karena saya lah sumber dari masalah ini, semua nya terjadi karena ada pihak yang merasa tersaingi dengan keberadaan saya, karena Dimitri Corp sedang mempertimbangkan desain yang saya buat, sementara Denz DRT juga mengincar kontrak tersebut, mengingat perusahaan mereka yang sedang dalam krisis keuangan, pastilah proyek ini menjadi incaran mereka sejak lama, jadilah mereka mengambil jalan pintas menggunakan cara licik untuk menjatuhkan nama baik saya, agar saya tersingkir, bukan hanya di Negara paman AA, tapi juga di negara ini, awalnya saya mengira ini hanya kebetulan, namun beberapa hari setelah kejadian, saya baru tahu kalau peristiwa ini di sengaja"
"Mengingat sifat Elena, saya sudah yakin dia pasti tidak ingin masalah ini di perpanjang, karena itulah, diam diam saya memanggil pengacara perusahaan untuk meminta penyelidikan ulang kasus ini, dan ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan."
"Maksudnya, kamu benar benar mengirim pria mabuk itu ke pihak yang berwajib?." Elena bertanya karena penasaran.
Haris menjawabnya dengan anggukan.
"Kenapa kamu setega itu, dia hanya sedang mabuk saat itu."
"karena korbannya adalah dirimu, dan aku tidak suka ada yang mencoba menyakiti mu, jika mereka mencelakai ku, aku tak akan mempermasalahkan nya, tapi lain cerita kalau dia berani melibatkanmu dalam urusan bisnis dan perusahaan ku, aku akan menghabisi nya sampai ke akar, hingga dia tak mampu bangkit kembali," Haris sengaja memberi penekanan untuk kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Penjelasan Haris kali ini seakan menunjukkan sisi lain dari dirinya.
Elena menggeleng tak percaya, ternyata ini lah Haris yang sebenarnya, Haris yang selama ini ia kenal ternyata berbeda dengan Haris yang kini ada di hadapannya, air matanya menetes perlahan, di tatapnya wajah Pria yang tengah duduk di sampingnya kini, "Aku tidak mengenalimu lagi, siapa kamu sebenarnya, apa saja yang kamu kerjakan selama ini, kenapa mendadak kamu terlihat menakutkan?," Bibir Elena bergetar ketika mengucapkannya, sungguh ternyata selama ini dia terlalu naif, bahkan terlalu bodoh untuk memahami hati dan perasaan nya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
no komen bang, silahkan jelaskan sendiri 😢
.
.
othor ngumpet aja, gak mau ikut campur 🙈
.
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1