Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
80. special edition


__ADS_3

Brak ...


Suara pintu dibuka tersebut, membuat sepasang pengantin baru tersebut menghentikan aktivitas nya.


"Haruskah kalian sejelas ini? apa kalian sudah tidak sabar menunggu datang nya malam?"


Bagus tiba tiba membuka kasar, pintu penghubung kamar.


"Tolong lah, kasihanilah aku yang masih jomblo ini,"


Sepasang pengantin yang tengah dimabuk cinta itu hanya tersenyum, lebih tepatnya tertawa bahagia menyaksikan penderitaan sang sahabat yang masih jomblo tersebut.


Elena turun dari pangkuan suaminya, kini mereka duduk berdampingan di sofa, masih saling bertatapan, "Abaikan dia sayang, dari kemarin aku sudah bilang, lamar saja gadis itu, dia belum juga bersedia, dan sekarang gadis itu di tahan orang tuanya tak boleh bekerja ataupun keluar rumah,"


Elena mendelik kaget, "Benarkah? sampai separah itu?" Elena bertanya pada Bagus


Bagus hanya mengangguk lemah.


"Katakan apa maumu?" tanya Elena.


Bagus menghela nafas, "Setidaknya aku ingin membuat ia berbaikan dengan tunangannya,"


"Usaha apa yang sudah kamu lakukan?"


"Belum ada, bahkan ponselnya tidak bisa di hubungi sekarang, Orang tuanya juga menyita ponselnya."


"Sudah bicara dengan kak Krisna?"


"Sebentar lagi, pak Krisna sedang ada urusan sebentar,"


"Oke katakan saja pada kami, apa hasil pembicaraan mu, aku pasti bantu."


Pembicaraan pun berakhir karena kedua mempelai harus berganti kostum untuk acara selanjutnya.


...****************...


Suasana mewah sangat terasa.


Masing masing tamu undangan dimanjakan dengan suasana dan hidangan yang tak kalah menggoda.


Ballroom benar benar disulap laksana suasana didalam istana.


Para awak media pun turut bersuka cita, karena mereka diizinkan meliput perhelatan mewah tersebut.


Asisten Seno benar benar menghadirkan 1000 tamu undangan dari berbagai kalangan.


Beberapa tamu spesial tampak diundang secara khusus, Tuan Ben dari Bench Family adalah salah satunya.


Pria yang selalu heboh berkelakar dengan Haris yang tak juga memiliki kekasih, kini tampak ikut memberi pelukan bahagia untuk anak didik nya, begitu pun nyonya Helena yang masih tetap menggoda Haris seperti biasa.


"Handsome, Beberapa putri temanku harus patah hati," Nyonya Helena pura pura memasang wajah sedih nya.


"Sampaikan permohonan maaf saya, karena sejak dulu, hanya wanita ini yang saya inginkan," jawab haris santun.


"Ah ... lupakan, aku hanya bercanda, tentu saja aku tahu, sejak kamu membawanya ke pesta beberapa waktu lalu, caramu menatapnya sungguh berbeda, ternyata dugaanku tidak salah kan?"


Elena hanya tersipu malu, "anda benar sekali Nyonya," jawab Elena, "dia pria istimewa," Elena berbisik di telinga nyonya Helena.


Helena pun memeluk Elena dan membalas bisikan nya, "Aku tahu, kamu mendapatkan suami luar biasa, dan aku berdoa, agar kalian selalu bahagia,"


Setelah selesai berbisik Tuan Ben dan istrinya pun berlalu.


"Apa yang kalian bisikkan," Haris Bertanya penasaran.


Elena tersenyum menggoda, "Rahasia ... "


Haris mencebikkan bibirnya, namun Usapan Lembut Elena, mampu mengembalikan senyum di wajah pria tampan tersebut.


"Jangan cemberut, jadi semakin tampan,"


Haris tergelak, "Waaah sekarang kamu pandai merayu,"


"Apa boleh buat, sainganku banyak," bisik Elena, jari telunjuknya menyentuh hidung Haris.


"Karena sudah pintar merayu, kamu harus di beri hadiah," Bisik Haris, sebuah kecupan ia daratkan di kening Elena.


Sedang asik saling pandang suara deheman seseorang membuyarkan lamunannya.


"Eheeemm ... yaa nyosor teruuss,"


Keduanya menoleh, sepasang suami istri beserta putra tampan mereka kini tengah berdiri di hadapan Elena dan Haris.


Alex memeluk hangat kawan lamanya tersebut, "jaga istrimu baik baik, semoga kalian selalu rukun dan bahagia,"


"Thank you bro ... ayo kita main basket lagi,"


"Ogah ... sejak kalah waktu itu, aku tak pernah menyentuh bola basket lagi," Alex menolak tegas, Haris justru tertawa renyah.


Alex menunduk pura pura sedih, "Tak kusangka, kamu menolakku, tapi berakhir jatuh cinta dengan pria menyebalkan ini," Gerutu Alex tanpa takut apalagi malu, padahal istri dan anaknya sedang berada diantara mereka.


Elena tak menghiraukan ucapan Alex, dia hanya menjulurkan lidahnya, kemudian berjongkok menyapa pria kecil yang datang bersama Alex dan Silvia, pria kecil yang kehilangan mami nya ketika sedang berada di tengah tengah pesta.


"Hai ... masi ingat tante? lain kali kita berkencan, mau?"


pria kecil itu mengangguk, "Auuuuhh sungguh menggemaskan," Elena mengusap lembut pipi pria kecil tersebut, karena takut merusak tatanan rambutnya.


Silvia pun memeluknya erat, tak ada lagi tangisan, yang ada adalah tawa bahagia.


"Boleh aku memeluk istrimu?" Bisik Alex ditelinga Haris, segera sesudahnya Haris menatap tajam kearahnya, Alex tertawa keras, tanpa di beritahu pun ia sudah tahu jawabannya.


Kemudian, keluarga kecil itu pun berlalu, setelah sebelumnya berfoto bersama mempelai.


Tamu undangan tak terkira banyaknya, terus berdatangan silih berganti, laksana sumber air yang tak pernah ada habisnya, memaksa Elena tetap mengembangkan senyumnya, bahkan betis dan kakinya sudah mulai mati rasa, apalah daya melihat senyum dan tawa bahagia kedua orang tuanya, serasa memudarkan rasa lelahnya.


"Masih kuat berdiri, ini baru setengah jalan loh," Tanya Haris yang mulai khawatir, karena efek perubahan wajah istrinya.


"Iya ... aku mulai pegel," keluh Elena dengan suara manjanya.


"Duduk dulu sebentar," Elena pun duduk karena belum ada tamu undangan yang akan memberi selamat.


Setelah Elena duduk nyaman, Haris berlutut dihadapan istrinya, tangannya mulai masuk kebalik gaun Elena, kaki Elena beringsut karena terkejut, "mau apa, malu dilihat banyak tamu," Elena memekik pelan.

__ADS_1


Haris menyadari ketakutan Elena pun balas berbisik menggoda, "Gak masalah kan, toh aku sudah bisa lihat semua," Haris mengedipkan matanya.


Elena tecengang, oh ya Tuhan dia sungguh malu.


plaaaakkk


Elena memukul keras lengan suaminya, "Apa sih yang," Haris meringis menahan sakit d lengannya, "kan emang bener, aku boleh lihat semua, lagi pula apa yang kamu pikirkan, aku hanya mau memijat kakimu, katamu kakimu mulai lelah,"


Elena mencebikkan bibir nya, sekaligus tersenyum dengan perilaku manis suaminya, ia mulai merasakan kakinya sedikit rileks ketika beberapa saat kaki nya menerima pijatan, "Terimakasih abang suami."


Haris menghentikan kegiatannya, "apa kamu bilang?"


"Apa? terimakasih?" jawab Elena pura pura oon.


"Bukan yang itu, tapi yang selanjutnya," tanya nya tidak sabaran.


"Iya aku bilang terimakasih kan?"


"Iiihhh ... Ada kelanjutannya," Haris mulai merajuk.


"Oh manis nya abang suami," Elena mencubit gemas pipi suaminya.


"Ulangi lagi," pintanya.


"Abang suami," Dengan wajah tersipu malu Elena kembali mengulangnya.


"Ucapkan lebih sering, agar telingaku terbiasa," Kali ini Haris yang tersipu.


Elena jadi semakin gemas melihat tingkah suami menggemaskannya tersebut.


Mereka pun kembali berdiri menyambut tamu yang datang berikutnya.


...****************...


Hampir jam 9 malam akhirnya seluruh rangkaian acara berakhir, lega bercampur lelah melebur jadi satu, dan kini satu persatu pihak keluarga kembali ke kamar untuk beristirahat.


Istirahat, itu hanya berlaku bagi orang orang yang tak lagi berkepentingan, namun tidak dengan sang empat sekawan yang masih harus terlibat diskusi menyelesaikan kasus yang baru baru ini menimpa salah satu anggota mereka.


Dan setelah perdebatan panjang, akhirnya di sepakati ruang kerja Elena sebagai titik temu.


Kini ketiga pria tampak terdiam, menunggu peserta rapat selanjutnya, Ayu yang tengah membantu Elena membersihkan diri, serta sang bos kesayangan Bagus, Krishna dan Eliza.


Pintu ruang kerja terbuka, ternyata si pemilik ruangan yang sudah segar setelah mandi air hangat dan berganti pakaian nyaman.


"kok lama sih yang?" Haris menyapa istrinya, kini panggilannya berubah menjadi sayang, takut takut kalau istrinya merasa tak lagi di sayang.


Elena tersenyum menyambut uluran tangan suaminya. "Iya mohon di maafkan abang, yang sayang dan cintanya tak terbilang, dan bucinnya gak ketulungan,"


Tentu saja membuat para pendengar dan penonton mendelik agak mual.


"Hmmm senangnya punya istri, wangi lagi," tanpa sungkan Haris mencium pipi istrinya.


"Kamu ikut mandi juga sayang?" Tanya Priyo tak mau kalah dengan duo bucin yang baru resmi menikah.


Ayu menggeleng tak mengerti, namun sesaat kemudian dia terkejut manakala suaminya mendaratkan ciumannya di pipi, "Tapi kok masih wangi?"


Ayu terkekeh geli manakala Priyo mulai menggodanya.


Tanpa rasa berdosa, seolah di komando, dua pasang pasutri itu mengangkat bahu mereka, kemudian tertawa bersama.


tentu saja membuat jomblowan yang duduk merengut di dekat mereka, semakin jengkel dengan ulah para sahabatnya.


Akhirnya, peserta rapat terakhir tiba, sepasang suami istri, yang satu ramah berkacamata dan yang satu lagi judes baik hati.


Lagi lagi Bagus merasa jadi liliput, sendirian tanpa pasangan.


Flashback on


Bagus kembali melonggarkan dasinya yang rasanya semakin mencekik tenggorokannya, hari sudah larut dan dia masih harus ngebut menyelesaikan, berkas laporan tahap akhir proyek jembatan lintas pulau yang baru saja di resmikan.


Sungguh bersyukur, beberapa hari pula Syafira ikut menemaninya berlembur, dan tak banyak mengeluh.


Wajah gadis kalem itu pun tampak kelelahan, dengan penampilan yang tak jauh berbeda dari atasannya, rambut di cepol asal, dan kemeja dan rok span selutut, yang tentu saja sudah tak lagi kelihatan rapih.


"Ini laporan dari kepala proyek, dan ini dari manager keuangan, dan ini dari tim koordinasi lapangan," Syafira meletakkan satu persatu kertas laporan yang sudah dirampingkan menjadi buku.


"Kumpulkan dengan yang lain," Bagus memberi instruksi.


Dengan cekatan Syafira meletakkan ketiga dokumen tersebut diatas meja kerja Bagus, bersamaan dengan beberapa dokumen penting lainnya.


Dua orang itu begitu sibuk hingga lupa kapan terakhir kali mereka pergi meninggalkan kedua ruangan tersebut, ruangan Syafira persis berada di depan ruangan Bagus, mereka tidak meninggalkan kedua ruangan tersebut, makan siang dan malam di belikan oleh OB yang sedang bertugas.


tok tok tok


Ruangan Bagus sengaja di buka lebar, karena kedua orang itu leluasa keluar masuk, begitu pula OB yang sedang bertugas.


"Maaf pak, di pantry hanya ada ini," OB tersebut membawa 2 buah mie cup yang sudah di seduh.


"Gak papa, lagi pula tadi sudah makan malam," ujar Bagus, "kamu boleh pulang, besok, datang pagi pagi bisa?" Bawakan ketoprak buat sarapan," Bagus kembali menginstruksikan.


Dengan wajah berseri, OB itu pun menjawab, "bisa pak," kilatan bahagia terpancar dari wajah nya, karena akhirnya ia di izinkan pulang.


"Bawalah uang ini, dan pastikan persediaan pantry penuh kembali" Bagus menyerahkan 10 lembar uang berwarna merah.


Setelah menerima uang dari Bagus, OB kepercayaan Bagus itu pun pamit pulang.


Bagus dan Syafira kembali melanjutkan pekerjaan mereka, hingga menjelang dini hari dua orang itu pun terlelap di meja kerja ruangan masing masing.


Tepat jam 7 pagi, OB yang semalam diberi tugas oleh Bagus untuk membeli sarapan, akhirnya tiba.


OB tersebut merasa heran dengan suasana ruangan yang sudah seperti kapal pecah tertiup angin kencang, benar benar kacau, kertas berserakan di mana mana, beberapa dokumen penting, tampak sudah di pinggirkan didalam box box, sesuai dengan alamat dan tujuan masing masing, karena hari ini tim audit perusahaan akan memeriksa siklus keluar masuk keuangan proyek.


OB bernama Rusli itu mengetuk pelan meja Syafira.


Dan Syafira masih dengan wajah kusut dan kantung mata menghitam, itu pun mendongak, "sudah pagi yah?" Tanya nya.


"Sudah bu, sarapan sudah saya belikan, ada di pantry, mau di bawa ke sini?"


Syafira menggeleng, "Kamu lihat sendiri ruangannya seperti apa," Syafira menunjuk ruangan tempat Bagus berada. "Nanti aku sama pak Bagus sarapan di pantry aja, aku mulai mual melihat kertas,"


"Baik bu, saya mulai bersih bersih di lantai bawah dulu yah?"

__ADS_1


Syafira pun mengangguk, dia pun menarik kedua tangannya keatas, bermaksud hendak melemaskan otot otot ya yang masih kaku, dan pegal.


Syafira pun menuju ke Toilet untuk menyegarkan diri, hanya menyelesaikan panggilan pagi dan cuci muka gosok gigi, kalau mandi nanti saja, menunggu mami nya mengantar baju ganti, karena semalam dia sudah meminta tolong pada wanita yang melahirkannya tersebut, untuk mengiriminya pakaian ganti, namun maminya bersikeras mengantarkan pakaian tersebut seorang diri, bukannya memakai jasa kurir.


Usai dari toilet, Syafira pun menuju ruangan Bagus untuk membangunkan atasannya tersebut.


Bagus tertidur di kursi kebesarannya, syafira harus melangkahi beberapa tumpukan kertas untuk sampai ke meja Bagus.


"Permisi pak," Syafira mengetuk meja, karena merasa sungkan jika harus menyentuh lengan atau pundak atasannya tersebut.


tuk tuk tuk


Sekali lagi Syafira mengetuk meja, dan akhirnya Bagus pun mulai menggerakkan tangan kan kakinya, pelan pelan matanya pun terbuka.


Pria itu mengedipkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya benar benar terbangun, ketika Bagus hendak berdiri, Syafira bermaksud memberikan ruang agar bagus bisa berdiri dan meluruskan kakinya.


Namun malang, Syafira menabrak tumpukan kertas di belakang kakinya, tubuhnya pun ikut oleng kebelakang, tangannya menggapai mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan, namun sayang yang terjadi justru dasi Bagus yang tergapai oleh tangan Syafira, keduanya ambruk dengan posisi syafira tubuh Syafira menghadap keatas, sementara Bagus telungkup di sisi kanan Syafira, namun kepala Bagus tepat menimpa dada Sekretarisnya tersebut.


deg deg deg


mereka terdiam kikuk, tak berani saling menatap.


Namun lain Hal nya dengan dua pasang mata yang kini berdiri di depan pintu, mereka menatap terkejut dan salah paham pada kedua insan yang berbaring dibawah meja, walaupun yang terlihat hanya kepalanya saja.


"Apa yang kalian lakukan?" pekik sebuah suara yang terdengar tak asing di telinga syafira.


Tentu saja Bagus dan Syafira segera menoleh ke arah pintu, Syafira terbelalak manakala menyadari siapa yang kini berada di depan pintu.


Serta merta Gadis itu mendorong Dada Bagus dan dengan cepat kedua nya berdiri kikuk, Syafira segera berlari, menghampiri mami nya.


"Eh ... mami sudah sampai," Syafira menggenggam tangan mami nya.


"Oh jadi seperti ini kelakuan kamu yah,"


"Apa maksud mami, tadi itu tidak sengaja,"


"Tidak sengaja apa? mami melihatnya dengan jelas," teriak Yuni. "Kamu bilang sedang lembur, tapi yang mami lihat tidak demikian,"


"Itu karena pekerjaan kami sudah rampung mi, dan kejadian barusan Syafira bisa jelasin mi," Syafira berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Minggir kamu, mami mau buat perhitungan dengan atasan kamu," Yuni mendorong Syafira dengan kesal, lalu mendekat ke arah Bagus yang masih belum berani bicara, terus terang kesadarannya baru saja kembali 100% setelah mendengar suara teriakan Yuni. "Oh jadi ini atasan putriku? orang yang sudah membuat putriku bekerja lembur setiap hari, sampai sampai tunangan nya mengakhiri hubungan," Yuni masih menatap penuh selidik kemarahan ke arah Bagus. "Dengar yah, sebagai mami nya, saya tidak terima, anak saya di pekerjakan seperti ini, dia punya hak istirahat, dia punya hak bersosialisasi, dia juga punya hak atas kehidupan pribadinya," Yuni memuntahkan semua yang ada di pikiran dan perasaannya.


"Karena anda turut andil menyebab kan putusnya pertunangan anak saya, dan melihat hal memalukan yang baru saja terjadi, maka saya meminta anda bertanggung jawab sebagai laki laki untuk menikahi anak saya, kalau tidak saya akan mendatangi atasan anda dan melaporkan perbuatan anda pada putri saya,"


Bagus begitu tercengang mendengar perkataan Yuni, ia tidak menyangka bahwa kejadian tidak sengaja barusan begitu melukai perasaan mami nya Syafira.


"Saya tunggu itikad baik anda melamar putri saya, waktu anda 2 minggu untuk berpikir, jika tidak, saya akan mendatangi atasan anda, camkan itu baik baik," Ancam Yuni.


Kemudian wanita paruh baya itu berbalik dan membawa Syafira pergi begitu saja.


Flashback end


"Jadi seperti itu pak, saya mau minta tolong pak Krisna dan kak Eliza untuk ikut bertanggung jawab,"


"Hei kamu yang melakukan kenapa kami yang harus bertanggung jawab?" Krisna tak terima.


"Kan saya bekerja berdasarkan instruksi dari anda, ya wajar kalau saya meminta anda juga ikut bertanggung jawab,"


"Stoop ... gak akan selesai kalau kalian berdebat, ya sudah besok kita lamar Syafira, selesai kan?" Eliza menengahi.


"Lha kok dilamar sih kak? saya pengennya minta maaf aja, kan yang terjadi kemarin hanya salah faham,"


"Kan katamu, mami nya Syafira ingin anaknya di lamar, kenapa hanya minta maaf, kalo kamu gak di maafkan? kamu mau apa?"


Bagus terdiam, dia memikirkan ibunya di kampung pasti akan shock berat jika mengetahui anak nya tiba tiba menikah.


"Yang tegas dong, temen temen kamu juga pasangan yang dinikahkan dadakan, ya gak ada masalah kan?" Eliza menunjuk adik dan iparnya yang masih saling berpegangan tangan. "Priyo, dinikahkan dadakan juga kan? apa ada masalah? yang ada mereka bahagia, kalian ini kan sahabat bagai kepompong, dan mungkin karena itulah, tuhan membuat nasib percintaan kalian serupa," Eliza terus mengatakan isi hatinya, nyata jiwa galak nya agak membantu di situasi semacam ini.


Bagus makin beringsut tak berani menjawab.


"Sudah, jadi laki laki harus berani, tegas, bertanggung jawab, disuruh lamar, ya tinggal lamar saja," Jawab Haris santai.


"Tapi ini rumit, Syafira punya kekasih, walaupun statusnya mantan tunangan,"


"Ya itu artinya udah putus bego," Priyo menambahkan.


"Ayolah aku Lelah, sudahi saja diskusi ini, besok kita lamar saja, kamu memikirkan ibumu kan, biar aku yang bicara, bila perlu kita ke malang ketemu ibu mu,"


Dan akhirnya Bagus pun pasrah dengan keputusan rapat tersebut.


.


.


.


.


ini bab bonus 2 ½ bab di jadikan 1 bab


.


.


.


.


mohon maaf yah othor gak apdet 2 hari kemarin, karena lagi ngebut judul baru, yang akan segeran launching


.


.


.



.


.

__ADS_1


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2