
Enam minggu kemudian.
Airport.
Ruang tunggu kedatangan luar negeri.
Elena sudah tiba sejak dua puluh menit yang lalu, pesan terakhir yang ia terima dari suaminya mengatakan, bahwa hari ini ada rapat umum pemegang saham, jadi kemungkinan Haris akan terlambat menjemputnya.
Elena tidak mau ambil pusing dengan situasi, biar bagimanapun Haris memang memiliki tanggung jawab besar di perusahaannya, dan Hamrr's adalah impian sekaligus harapan pria itu, berharap bisa melakukan yang terbaik untuk perusahaannya sendiri, sebuah ajang pembuktian agar ia layak menjadi menantu tuan Sebastian.
Elena merasa bangga dengan prestasi suaminya, jujur pada Awalnya Elena tidak merasa curiga, Haris terlihat biasa saja, wajar kalau dia terlibat sebagai pria mapan di usia nya, yang membuat Elena agak shock adalah ketika melihat Haris begitu royal membelanjakan uangnya, hanya untuk beberapa jas semi formal, namun Elena menyimpan semua kecurigaan nya sendiri.
Bahkan ketika Beberapa kali Haris menghilang tanpa ada kabar, atau ketika Haris meninggalkannya di rumah Bagus, ternyata belakangan ia baru tahu, kalau Haris menghilang karena sedang memimpin rapat koordinasi dengan para bawahannya.
Hari terburuknya adalah ketika Elena mengetahui Haris pergi, bersama dengan kenangan tragedi ciuman pertama mereka, Elena yang masih gengsi mengakui perasaannya, dan Elena yang bertekad tidak akan memiliki hubungan spesial dengan sahabatnya, tapi nyatanya Elena benar benar merindukan Haris, ketika Haris tiba tiba menghilang tanpa ada kabar, padahal yang sebenarnya terjadi adalah, si Bagus kampret itu sedang mengerjai nya, dia sengaja tak menyampaikan pesan terakhir Haris untuknya.
Dasar Bagus kampret, Elena mengumpat sendiri, ketika mengingat ulah sahabatnya tersebut, dan ternyata belakangan barulah Elena mengetahui dalang dari terungkapnya foto foto di hotel itu pun Bagus pelakunya.
Kala itu, Bagus mencurigai bekas kemerahan yang ia lihat di leher Elena, belum lagi selama week end Haris dan Elena tak bisa di hubungi via telepon, maka tiba tiba otak jahilnya bekerja mencari bukti di laptop yang Haris tinggalkan begitu saja tanpa sandi pengaman terbaru, karena Haris masih setia menggunakan sandi pengamannya ketika mereka kuliah dahulu.
Rasanya? jangan ditanya lagi marah, kesal, gemas, dan bersyukur bercampur jadi satu, bahkan sekarang Elena jadi tertawa geli ketika mengingatnya, siapa sangka pertemuan mereka kembali setelah 8 tahun tanpa kabar, justru menumbuhkan perasaan berbeda di hatinya.
Satu jam berlalu sejak kedatangannya di Bandara Internasional negara paman AA, resah dan lelah mulai menganggu nya, namun tak mampu menghilangkan rasa bahagianya, karena sekian minggu menanti perjumpaan dengan sang pemilik hati.
Enam minggu terberat sepanjang hidupnya, sekaligus minggu minggu yang melelahkan, karena Elena harus bekerja ekstra keras menyelesaikan perencanaan proyek perdananya bersama Fero, kemudian segera menyusul suaminya.
Hahaha akhirnya Elena merasakan beratnya LDR an, menunggu pesan yang tak kunjung berbalas, melakukan panggilan namun koneksi tak memungkinkan, menurut informasi yang ia terima dari Mark, jika Haris tengah berada di Holla island, ia harus naik ke dataran agak tinggi untuk bisa melakukan panggilan atau sekedar membalas pesan, karena Holla island benar benar dirancang untuk orang orang yang ingin berlibur atau Honeymoon tanpa gangguan pekerjaan atau urusan yang lainnya.
Dengan kata lain, jika ingin sejenak melupakan rutinitas hidup yang melelahkan, maka pergilah menghilang di Holla Island, mereka menawarkan destinasi unik, karena di sana tak ada jaringan internet atau signal ponsel, namun menjanjikan pemandangan pantai dan elok nya ragam bangunan menarik dengan fasilitas yang tak kalah mewah.
Bahkan Han Yu Ra mentertawakan nasib pernikahannya, walaupun pada awalnya Yu Ra merajuk karena tidak menerima undangan pernikahan dari nya, namun sahabat baiknya itu tetap saja menempel padanya seperti lem tikus super kuat.
Beruntunglah ia memiliki kawan jauh seperti Yu Ra, jika malam tiba dan Harus belum membalas pesan atau mengangkat teleponnya, Elena bisa menghabiskan waktu VC nya bersama Yu Ra, sungguh ban serep yang sangat menguntungkan.
Setelah menemukan investor dan penandatanganan perjanjian investasi selesai, Elena pun terbang menyusul suaminya, tentunya selain honeymoon, Elena bermaksud melibatkan Harus dalam proyek yang tengah ia kerjakan.
Nyaris dua jam kemudian
'Waaaaahhh Elena, suamimu benar benar pekerja keras, ujar Elena setelah dia bosan dengan drama serial di ponsel dan kini ponsel nya pun kehabisan daya.
Elena kembali menggulung rambut dan menutupnya dengan topi, karena perutnya mulai lapar ia menghampiri food court kemudian memesan sandwich di sana, dengan santai dia menikmati sandwich, pandangan matanya beredar menatap keseluruh area ruang tunggu.
Tak lama kemudian seseorang yang ia tunggu manampakkan diri, pria itu tak lain adalah suaminya sendiri, dia nampak panik berlari, pandangan matanya mencari cari, wajah lelahnya masih terlihat tampan, walau baju kerjanya sudah amburadul, dasi sudah di longgarkan, dan kemeja yang lengannya sudah terlipat hingga siku tersebut, nampak sudah kusut sana sini.
Melihat hal itu, otak jahilnya mulai bekerja, suami tampannya itu layak di beri pelajaran karena sudah berani terlambat datang menjemput nya, Elena sengaja duduk di tempat yang agak tersembunyi, namun dia bisa leluasa mengawasi Haris yang masih berlari panik mencari cari keberadaan dirinya, bahkan beberapa kali pria itu nampak menunjukkan foto dirinya kepada petugas keamanan dan beberapa orang yang kebetulan di temui nya.
Elena terkikik geli, bagaimana mereka mau mengenalinya, karena sejak tiba di Airport, Elena tak melepaskan masker dan kaca mata hitam yang ia kenakan.
Seru juga main petak umpet begini, setelah menghabiskan sandwich nya Elena pun kembali berdiri, tak lupa membawa sling bag dan kopernya, sesekali Elena masih bersembunyi ketika Haris tiba tiba menoleh ke belakang.
Dari kejauhan, Haris terlihat semakin frustasi karen sudah hampir dua puluh menit lamanya ia mencari, tapi belum juga ia menemukan keberadaan Elena, berkali kali Haris mengacak acak rambut nya sendiri.
"Elenaaaaaaaaa."
Kali ini Haris berteriak keras, membuat orang orang di sekitarnya menoleh, namun Harus tak menghiraukannya.
Dan Elena semakin tak kuat menahan tawanya sendiri.
Elena pun mendekat.
Dan.
Grep ...
Elena memeluk Haris dari belakang, begitu erat, hingga ia sendiri kesulitan bernafas, beberapa saat Haris diam membeku, otaknya yang beberapa saat lalu kacau karena tak menemukan istrinya, kini pelan pelan kembali tenang, hingga tanpa sadar tangannya menggenggam erat kedua lengan Elena yang tengah memeluknya dari belakang.
"Tolong diam sebentar saja, ini nyaman sekali," bisik Elena.
Oke baiklah, Haris diam dan menuruti permintaan Elena, tak lama kemudian pelukan erat itu pun mengendur, Haris segera berbalik..
nampak lah wajah cantik istrinya, yang tengah memancarkan aura bahagia.
"Apa aku terlalu lama?"
"Iya ... lama sekali, sampai sampai aku berniat membeli tiket pulang," Jawab Elena bohong.
Haris tersenyum gemas, "Maaf,"
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
makanya bang, lain kali jangan terlambat, ingat ingat lagi, istrinya di dapet susah payah tuh 😜😜
.
.
.
.
readers sayang, othor mau promo novel terbaru yes ... yang masih ngefans sama Duo bucin Haris dan Elena, nanti tak kasih Extrapart, tapi gak janji setiap hari yah, karena lagi on going novel sebelah 😘😘😘
.
.
.
.
please please like komen and vote nya tetap berlanjut yah.
.
terimakasih ❤️❤️
.
.
.
.
part 1
.
Stella menatap risau kearah jarum jam yang terus bergerak ke kanan, seperti malam malam sebelumnya, dengan sabar dia menanti kepulangan sang suami, walaupun sesudah suaminya datang, laki laki itu langsung tertidur tanpa menyapa nya terlebih dahulu, bahkan beberapa minggu terakhir Alex pulang dalam keadaan mabuk.
Pada awalnya semua terasa indah dan membahagiakan, bahkan tak lama setelah pernikahan, kehamilan Stella menjadi kabar yang sangat membahagiakan, karena posisi Alex sebagai anak lelaki satu satunya, tentu tumpuan harapan sebagai penerus keluarga berada di pundaknya.
Tak mengherankan jika kedua mertuanya begitu tulus memperhatikan kondisi kehamilannya, tak pernah sedetikpun Stella di biarkan kelelahan, Stella seperti seorang ratu di rumah mertua nya, karena dirinya tengah mengandung calon penerus kerajaan bisnis perhotelan milik keluarga Geraldy.
Yah pernikahan dua insan ini adalah buah dari perjodohan yang di gagas kedua orang tua mereka, persahabatan kedua orang tua merekalah yang membuat mereka berdua terikat.
Stella putri satu satunya keluarga William dan Alexander putra satu satunya keluarga Geraldy, pernikahan yang sempurna menurut orang orang yang yang hanya melihat dari kulit luarnya saja.
Namun pada kenyataannya tak semudah bayangan, Alex begitu tertekan dengan keinginan papanya, terus terang jika disuruh memilih, Alex lebih suka menjadi atlet basket nasional, dari pada menjadi penerus keluarga.
Dahulu semasa Masih di Intenasional Senior High school, Alex dan Stella telah saling mengenal, Alex berada di tingkat akhir dan Stella baru kelas 1, bahkan keduanya sama sama mewakili sekolah di kejuaraan nasional antar sekolah, bedanya Alex bersama tim basketnya, sementara Stella mewakili cabang taekwondo.
Perkenalan mereka terbilang cukup unik dan berkesan, kemudian dekat karena sama sama di karantina, agar bisa berlatih dengan keras, bayangkan saja, jam 6 pagi mereka harus sudah berada di sekolah untuk memulai sesi latihan pagi, sementara jam belajar normal dimulai pukul 9, untunglah Internasional School tempat mereka belajar, menyediakan asrama bagi siswa sekaligus atlit yang akan mewakili sekolah dalam ajang nasional.
Para pelatih mengkarantina mereka semua agar lebih disiplin, dalam hal waktu dan peraturan. ada pembatasan jam malam, dan hanya hari minggu mereka diizinkan pulang ke rumah.
Hari itu, Stella tergoda ajakan Nindy untuk menyaksikan konser Lady Naga, hingga membuatnya terlambat kembali ke asrama, Stella mengendap endap di pinggir pagar asrama, berharap tidak ada security yang memergokinya, bukannya apa apa, di titik titik tertentu ada CCTV yang selalu mengintai.
Ketika Stella sedang waspada mengendap endap, tiba tiba wajahnya disergap dengan jaket dari arah belakang, firasat Stella mengatakan bahwa orang yang menyergapnya adalah laki laki, karena perbedaan tinggi, dan struktur otot lengan yang kini tengah Stella genggam.
Dengan satu gerakan cepat, Stella menyodok perut pria itu menggunakan siku nya, hingga dia memekik terkejut, dan ketika Stella akan melanjutkan dengan tendangan pria itu pun bersuara.
"Stop!" pekik nya dengan kedua tangan terangkat keatas.
Stella yang terkejut, seketika menghentikan gerakannya.
Pria yang kini tengah berbaring di rerumputan nampak meringis kesakitan seraya memegangi perutnya. "Hei ... kenapa kamu begitu mengerikan," pekik pria itu dengan kesal. "Padahal aku hendak menyelamatkanmu, karena beberapa langkah kedepan, wajahmu akan terekam di kera CCTV." ucap pria itu oenuh pembelaan.
Stela mendelik kaget mendengar pengakuan pria itu, "mm ... maaf, itu hanya reflek alami tubuhku ketika mendapat serangan." Stela berusaha menjelaskan situasinya.
Kemudian gadis itu berlutut, dan dengan iba menyentuh perut pria itu, "sakit sekali yah,"
Alex bersungut sungut, kemudian bangkit berdiri "Iya, sakit sekali, aku yakin musuhmu akan langsung roboh setelah merasakan ini,"
Stella hanya menunduk karena merasa bersalah, "maaf ... " ucapnya sekali lagi.
"Kamu Stella kan?" pria itu menebak.
"Kok tahu namaku?" Tanya Stella terkejut.
"Aku kan juga sudah sebulan tinggal di asrama ini, dan aku sudah hafal seluruh penghuni asrama, termasuk kamu," Alex masih mengelus perutnya yang sakit, bedanya kali ini dia mengangkat kausnya hingga menampakkan perutnya yang rata, ternyata bekas sodokan Stella berakhir memar di perutnya.
Stella yang melihat hal itu, segera menurunkan ranselnya, kemudian merogoh merogoh mencari sesuatu, tak lama dia mengeluarkan kantong kresek, dan mengambil selembar koyo yang baru saja ia beli di apotik ketika perjalanan kembali ke asrama.
__ADS_1
"Maaf kalau tidak keberatan, aku akan menempelkan ini, aku juga sering mengalami memar ketika berlatih atau bertanding, dan akan membaik setelah menggunakan koyo ini" Stella menjelaskan.
Dan Alex mengangguk begitu saja.
"Ngomong ngomong, aku Alex, kapten tim basket," Pria itu memperkenalkan diri di sela sela kegiatan Stella menempelkan koyo di perutnya.
Stella pun mengulurkan tangannya, "Stella, dari tim Taekwondo." Alex pun menyambut uluran tangan tersebut.
"Ngomong ngomong kamu kelas berapa?" Tanya Stella.
"Kelas 3."
Alex menjawab santai.
Kedua mata Stella membola, kedua telapak tangannya menutup mulutnya yang otomatis terbuka, "OMG ... maaf kak, aku gak tahu," Stella meminta maaf dengan perasaan malu dan rasa bersalah yang luar biasa.
"Gak papa, santai aja, namanya juga batu kenalan," Alex menanggapinya dengan senyum. "Ayo aku tunjukkan, jalan pintas sekaligus titik buta masuk ke asrama."
Dengan patuh Stella mengikuti langkah Alex, menuju ke selatan gedung asrama, dan benar saja, pagar disana terlihat mudah untuk di panjat, "bisa memanjat kan?" tanya Alex.
Stella mengangguk, "Bisa kak, ini cukup mudah," Stella melemparkan ranselnya ke sisi dalam pagar, kemudian mengambil beberapa langkah mundur, dan dengan tiga langkah cepat, Stella dengan tubuh rampingnya, mampu memanjat pagar, dan turun dengan sempurna.
Hal itu cukup membuat Alex terbelalak kaget, belum pernah ia menyaksikan gerakan lompat pagar segesit itu, apalagi di lakukan oleh seorang gadis, namun Alex tak punya banyak waktu untuk berpikir, dia pun dengan segera memanjat dan berhasil turun dengan aman.
Nafas keduanya tutun naik tek beraturan, namun senyuman bahagia tergambar dengan jelas.
Tiba tiba.
"Siapa di sana?"
Nampaknya seorang security tengah berkeliling memeriksa keadaan, dengan cepat Alex mendorong tubuh Stella ke gudang di dekat pagar, agar mereka terlindung.
Meooooong ... meoooong ... meooooong ...
terdengar suara kucing bersahutan, "Aaaahhh kucing rupanya, kirain ada apa," gerutu security tersebut.
Kemudian terdengar langkah kaki yang kian menjauh, Alex dan Stella yang semula menahan nafas kini mulai bernafas lega, kembali mereka tertawa cekikikan.
"Thanks ya Kak?" ucap Stella.
"Hmmm ... " Alex menjawab singkat, "Lain Kali kalau mau kabur, bilang aja, aku temenin, sekalian aku juga keluar."
Stella nampak berpikir sejenak, "Baiklah, tapi sepertinya dalam waktu dekat aku belom ada rencana keluar sih," Jawab Stella.
"Tak masalah, kapanpun kamu butuh bantuan atau partner untuk kabur, aku siap membantu," Alex mengerlingkan matanya.
Stella hanya menanggapi nya dengan senyuman, mereka pun berpisah menuju kamar masing masing, setelah sebelumnya bertukar nomor HP.
Stella tersadar dari lamunannya, ketika mendengar suara mobil memasuki Halaman rumah nya, rumah yang ia tempati, setelah menikah dengan Alex.
Buru buru ia berjalan ke arah pintu dan membukanya, benar saja suaminya kini tengah di papah oleh Dimas, asisten sekaligus sopir ketika Alex sedang mabuk.
"Maaf Nyonya, tadi saya sudah berusaha melarang Tuan untuk minum, tapi Tuan tidak menghiraukan larangan saya," Dimas meminta maaf pada istri tuannya tersebut.
Tanpa bicara, Stella mengambil alih tubuh Alex yang bahkan sudah tak mampu berdiri sendiri, Kemudian memapahnya.
"Biar saya saja nyonya," Dimas tampak iba melihat tubuh ramping Stella yang nampak kewalahan memapah Alex yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dan gagah.
"Ga papa, kamu pulanglah, ini sudah malam, bawa saja mobil tuan, besok pagi pagi kemarilah sebelum kekantor," perintah Stella pada asisten suaminya tersebut.
"Baik nyonya, selamat malam," Dimas pun pamit.
"Hati hati Dimas," Dimas mengangguk dan berlalu pergi.
Butuh tenaga Ekstra untuk membawa Alex menuju kamar mereka, syukurlah kamar mereka bukan berada di lantai 2, jadi dengan mudah Stella membantu Alex berjalan menuju ke kamar.
Sesampai nya di tempat tidur, Stella kesulitan memposisikan dirinya, Dan tubuh mungilnya pun terhimpit dibawah tubuh Alex.
Tak disangka, Alex tiba tiba membuka mata, tanpa bicara dia mencium bibir Stella, dan Stella hanya bisa pasrah manakala Alex mulai mempermainkan lidahnya di sana, Stella dapat merasakan pahit dari alkohol yang di minum suaminya tersebut, namun sebisa mungkin dia mencoba memberikan apa yang di inginkan suaminya.
Setelah beberapa saat, mereka pun saling melepaskan Hasrat, setelah Lebih dari 2 minggu pria itu tak menyentuhnya, karena selalu pulang dalam kondisi mabuk.
Stela termenung menatap langit langit kamar, sementara Alex sudah tertidur lelap setelah aktivitas mereka beberapa saat lalu, lengan pria itu memeluk erat pinggangnya, "Kak ... apa sebenarnya yang sedang terjadi, kenapa kakak tiba tiba berubah begini," Stella berucap lirih, telapak tangannya membelai lembut pipi suaminya tersebut, terlihat jelas guratan lelah disana.
Suara tangisan membuyarkan lamunan Stella, pelan pelan dia melepaskan pelukan suaminya, dan berjalan kekamar mandi sebelum menghampiri putranya.
Sesampainya di sana Kevin sudah duduk dan menanti kehadirannya, "Sayang bayi nya mommy, haus?" Bayi berusia 12 bulan itu pun mendesak masuk kepelukan sang mommy, dengan sabar Stella memberikan Asi nya, diusapnya kepala putranya tersebut, tak lama ia pun ikut terlelap bersama Kevin putra sulungnya.
.
.
.
.
.
part 2 dan selanjutnya silahkan langsung ke lapak, SEPASANG MANTAN.
__ADS_1