Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
66


__ADS_3

Elena terkejut mendengar pertanyaan tak terduga tersebut, sungguh dia belum terbayang seperti apa nanti kehidupannya setelah menikah.


Seharusnya Elena tak lagi terkejut, karena beberapa hari yang lalu, ia pun mendengar kalimat yang sama, namun dia sempat lupa karena Haris memintanya untuk tidak memikirkan apapun.


"Jangan terlalu memikirkan perkataan tante Hesti," ujarnya, ketika itu mereka menunggu waiters mengantarkan makanan.


"aku menikahi mu karena ingin bahagia, dan kelak ada atau tidak ada anak diantara kita, tak menjadi masalah buatku, anak itu hadiah dari tuhan, jadi terserah apa kata tuhan, jika Ia berkehendak memberi, maka tak ada yang bisa menghalangi, begitu pula sebaliknya," Elena menatap pemilik mata hitam tersebut, sungguh menenangkan, berbeda sekali ketika pemilik mata itu sedang menahan Emosi, Haris menghapus air mata yang hendak turun dari kelopak mata Elena, "dan karena yang akan menjalani pernikahan ini adalah kita, jangan pedulikan perkataan orang lain, tutup mata dan telingamu, asal kita bahagia aku tak menginginkan yang lain,"


Saat itu Elena ingin menangis rasanya, Haris begitu tulus, bahkan dia tak menuntut apapun di pernikahan mereka kelak, ada sedikit sesal di hatinya karena pernah mengabaikan perasaan Haris, namun menyesal pun tak lagi berguna.


Elena menyunggingkan senyumnya, "Aku tak ingin memikirkan itu, aku hanya ingin bahagia setelah menikah,"


Hana mengangguk setuju, "benar sekali kak, kalian hanya harus bahagia, jangan memikirkan yang lain,"


Mobil yang mereka tumpangi memasuki lokasi tempat Elena dan Fero janji bertemu, pemuda tampan itu sudah menunggu dan tampak sedang berbincang dengan seseorang.


Melihat kehadiran Elena, Fero menyunggingkan senyum terbaiknya, senyum yang mampu membuat Para gadis berdebar, termasuk gadis yang kini berdiri di sisi Elena.


"Kak ... siapa pria tampan itu?" bisik Hana.


"Namanya Fero, penerus Althaf grup." Jawab Elena.


"Bagaimana mungkin ada pria dengan wajah sempurna seperti dia kak ..." Hana semakin tak dapat mengendalikan perasaannya.


Elena melirik Calon adik ipar nya tersebut, ada sesuatu yang menggelitik, ketika melihat gadis muda tersebut tampak terpesona melihat pria tampan yang tengah berdiri menunggu kedatangan mereka.


"Maaf ... kami sungguh sangat terlambat," Sapa Elena ketika jarak mereka semakin dekat.


"Oh tak masalah bagiku, Gadis manis seperti mu tak perlu sungkan hanya karena terlambat." Balas Fero tanpa sungkan.


"Hentikan, kalimatmu membuatku semakin mual," Elena mencibir.


namun diluar dugaan, Fero justru tertawa keras, "Hahahaha baiklah nona muda, apalah daya, anak ingusan ini telah gagal, bahkan sebelum pergi berperang,"


"Oh iya, ini sekertaris ku namanya Hana."


Fero menyunggingkan senyum terbaiknya, manakala mengulurkan tangan untuk berjabat. "Senyum ini selalu berhasil memikat banyak gadis, tapi tidak dengan wanita manis ini," ujarnya, Hana jelas memahami bahwa kalimat itu ditujukan untuk Elena.


"Jadi anda juga berfikir saya akan tergoda dengan senyuman anda? silahkan bermimpi" Hana sungguh menyesal karena beberapa saat lalu, dia sempat mengagumi pria tampan yang kini tengah berjabat tangan dengannya.


Fero pun memudarkan senyumnya, "Hei nona muda, apa kamu juga mencari sekertaris yang sifatnya seperti mu? baru kali ini ada 2 orang gadis menolak senyumanku,"

__ADS_1


"Makanya jadi diri sendiri saja, tak usah berlagak sok kegantengan,"


"Hahahaha ... maaf ... " namun ucapan maaf itu di selingi dengan kedipan mata, membuat Hana semakin jengah.


"Perkenalkan, ini pak jimmy, beliau penanggung jawab tempat ini, sejak wahana wisata ini tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya."


Elena menjabat tangan pak Jimmy, pria berusia 5 tahun lebih tua darinya itu, nampak tersenyum ramah. "Perkenalkan saya Jimmy, senang bisa membantu anda dan Tuan Fero."


"Saya Elena, terimakasih sudah bersedia membantu kami." balas Elena ramah.


"Silahkan, saya akan menemani anda berkeliling tempat ini," balasnya, senyum ramah tak jua pudar dari wajahnya.


Sepanjang perjalanan mengelilingi tempat wisata tersebut, Jimmy banyak menjelaskan awal mula berdirinya tempat tersebut, pada awalnya, tempat wisata ini begitu ramai pengunjung di setiap momen liburan, atau week end, saat itu semua fasilitas hiburan tergolong masih baru dan belum ada di tempat wisata yang lain, karena itulah pengunjung selalu membludak, namun pengelola yang terlena dengan situasi tersebut, tampak acuh dengan hal yang paling penting, yaitu perawatan dan pemeliharaan, karena tak mendapat perawatan dan pemeliharaan yang memadai, lama kelamaan semua fasilitas hiburan tersebut semakin usang dan tak layak untuk di pergunakan, hingga pelan pelan pengunjung pun menghilang, dan tempat tersebut tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.


Sungguh hal yang wajar, bagi seorang pebisnis jika tiba tiba usaha nya mengalami penurunan, karena minat konsumen, akan selalu berubah, trend dan selera pasar juga akan terus berkembang mengikuti arus.


Fero yang beberapa saat lalu masih berkelakar dengan candaan narsis nya, kini nampak serius, setidaknya hal inilah yang ditangkap oleh Elena, Pria muda ini nampak serius jika berhubungan dengan pekerjaan, namun akan santai jika sedang berbincang selain urusan pekerjaan.


Termasuk candaan Fero di awal perjumpaan mereka sesaat yang lalu, Fero selalu terus terang ketika berhadapan dengannya, Elena menangkap setiap kalimatnya, namun Elena bersikap seolah olah tak peduli, Karena usia Fero yang tergolong sangat muda, membuat Elena hanya bisa menganggap pria muda itu sebagai adik, tidak lebih.


Namun jangan ditanya jika urusan bisnis dan perhotelan, pria muda ini sungguh guru yang tepat untuk Elena, karena Fero memang cemerlang di sana, ibunya berasal dari keluarga Geraldy dan dan ayahnya berasal dari keluarga Althaf, kedua keluarga tersebut sama sama mengelola perhotelan di beberapa negara terkemuka, maka tak heran jika Fero begitu cemerlang di bidang ini, karena sejak muda, dia sudah terlatih untuk terjun di dunia perhotelan.


"Begitulah, sedikit banyak yang saya ketahui tentang tempat ini, saya bersedia memberi informasi sebanyak yang anda berdua butuhkan, tapi saran saya, jika anda berdua berniat merombak tempat ini menjadi tempat istirahat sekaligus tempat wisata, anda memerlukan Arsitek yang tepat, mengingat kontur tanah di tempat ini, sungguh memerlukan perlakuan khusus."


"Secepat itu?" Fero mendelik kaget.


Elena mengangguk, "Iya, tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat, karena dia masih sangat sibuk, mungkin nanti anak buahnya yang akan turun tangan."


"Sepertinya kamu sangat mengenalnya, hingga mengetahui jadwal dan kesibukannya,"


Elena hanya mengulas senyum manisnya, wajahnya mulai merona. tentu hal itu tak lepas dari pengamatan Hana, namun Hana justru bahagia, ternyata gadis kesayangan kakak sepupunya itu benar benar sedang kasmaran.


"Hei nona muda, kenapa wajahmu jadi seperti gadis desa yang sedang jatuh cinta?" suara Fero membuat Elena tersadar.


"Maaf," ujar Elena ketika Fero menyadari keadaan dirinya yang tak biasa.


"Tapi aku tak bisa merekomendasikan Arsitek lain selain Haris." Elena menjawab dengan penuh keyakinan.


"Maaf apakah anda sedang membicarakan tuan Haris yang belakangan ini sering muncul di layar TV?" Pak Jimmy mendadak kepo dengan pria bernama Haris yang kini tengah di bicarakan Elena.


"Anda benar sekali pak," Jawab Elena tenang, namun Pak Jimmy tampak menatapnya tak percaya.

__ADS_1


"Jadi nona juga ... " tatapan Jimmy semakin berbinar menyadari siapa wanita muda yang kini berdiri dihadapannya.


Elena mengulas senyumnya ketika mengangguk.


"Ayolah ... haruskah kamu sejelas ini hanya demi menolak pria muda seperti ku, aku bahkan belum mengatakan perasaan ku, namun kamu bahkan mengajukan calon suamimu untuk bekerja sama dalam proyek kita, kamu sungguh terlalu kejam." Fero berucap kesal.


Elena tetawa keras, "Hahaha, kamu sudah tahu ternyata, aku bahkan belum mengundangmu."


"Bagaimana aku tak tahu, jika asisten papamu sudah mengirimkan undangan lisan langsung kepadaku, dan juga papa." Fero mencebik kesal.


"Padahal aku ingin mengundang mu secara langsung, ternyata Om Seno lebih cekatan."


Elena menatap Jimmy yang masih tak percaya dengan penglihatannya, "semakin saya mengamati anda semakin saya yakin anda adalah nona Elena yang sering muncul di TV, lihat istri saya begitu mengidolakan anda, sampai sampai diia order cincin batu giok di online shop, bahkan memakainya juga di jari kelingking seperti anda," dengan antusias, Jimmy menunjukkan foto Istrinya yang tengah memamerkan cincin yang ia beli beberapa hari lalu.


Dan Elena pun dengan sabar memperhatikan Jimmy yang terus menerus menceritakan ulah konyol istrinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2