Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
60


__ADS_3

"Diam yah," Haris berinisiatif menggulung rambut Elena, karena dilihatnya sejak tadi Elena kesulitan mengatur rambut nya.


Beberapa saat lalu, Haris mengambil tusuk konde milik Elena, melihat kebiasaan Elena yang kini gemar memakai tusuk konde, Haris jadi tahu kalau, tusuk konde tersebut selalu berada didalam tasnya.


"Biar aku lakukan sendiri," Tolak Elena, berusaha mengambil kembali tusuk konde dari tangan Haris.


namun dengan sigap pria itu mengangkat tusuk konde tersebut, tentu saja Elena kesulitan meraihnya, "Tidak, kalo kamu menggulung nya sendiri, rambutmu bisa beraroma bawang mentah."


"Gak papa, aku bisa mencuci rambutku nanti," Elak Elena.


"Sudah diam dan lanjutkan pekerjaan mu,"


Elena tak lagi membantah, dia pun diam dan melanjutkan kegiatannya memotong bawang, sementara Haris berkali kali berusaha menggulung rambut Elena, namun masih juga gagal, malah beberapa kali Elena menjerit karena kulit kepala nya pun ikut menjadi korban tusuk konde yang posisinya kurang tepat.


"Aw ... sakit," pekik Elena lagi, "sudah kubilang biar aku saja," Elena mulai cemberut.


"Baiklah, contohkan padaku sekali saja, aku pasti langsung bisa." Pinta Haris yang masih belum ingin menyerah, setelah di beberapa kesempatan menyaksikan sendiri bagaimana Elena menggulung rambutnya, membuat Haris semakin terpesona, dan entah kenapa wajah Elena terlihat semakin seksi menggoda.


Elena pun mengabulkan permintaan Haris, "Perhatikan yah, kalau masih gagal, jangan pernah mencoba melakukannya, bisa rontok semua rambutku." Elena mencebikkan bibirnya.


Elena mengumpulkan rambutnya menjadi satu ikatan, kemudian menggulung nya pelan pelan, agar Haris bisa mengikuti apa yang ia ajarkan, kemudian sentuhan akhirnya adalah tusuk konde yang menancap di gulungan rambut tersebut agar gulungannya tidak terlepas.


Haris yang tengah konsentrasi memperhatikan tutorial menggulung rambut kekasih, tampak tak bisa memalingkan pandangannya, terlebih pandangannya kini tengah disuguhi pemandangan Leher jenjang putih mulus, yang menggoda untuk ...


plak ...


sebuah tepukan keras di bahu membuatnya tersadar dari lamunan. "Bisa tidak?" Elena melotot tengah melotot ke arahnya.


"Bi ... bi ... bisa," jawab Haris mencoba menutupi kegugupannya.


Susah payah Haris berusaha menormalkan kembali pikirannya, kemudian mulai menirukan apa yang baru saja diajarkan Elena, bibir nya nampak tersenyum puas melihat hasil karyanya.


Elena meraba gulungan rambutnya, Hasil karya pertama calon suaminya, "Not bad lah,"


"kok cuma not bad? ini rapih banget tau," protes Haris tak terima, hasil karya nya hanya dihargai kalimat 'not bad'.


"Iya ... iya ... hasil karya tuan arsitek.., memang yang terbaik." puji Elena, tangannya menepuk pelan pipi Haris.


Tanpa tahu jika sejak tadi Interaksi mereka tengah di perhatikan oleh empat pasang mata.


"Ehem ... " suara deheman itu laksana petir yang mengejutkan keduanya. keempat orang tua itu tampak mengulum senyum di bibirnya.


"Mas ... bisa gulung rambutku tidak?" Andini pura pura bertanya pada Ferdy.

__ADS_1


"Heh, mana bisa, rambut mu kan pendek yang," Jawab Ferdy.


"Oh iya, melihat mereka aku jadi pengen ada yang membantu ku menggulung rambut," jawab Andini yang memang bermaksud ingin menggoda sepasang muda mudi tersebut.


"Mah ... ayo ikut papa nyiram kembang lagi, kayanya kita lupakan saja sarapan pagi ini," Bayu pun ikut ikutan menggoda Haris yang tengah sibuk belajar menggulung rambut.


"Nggak mau, mama lapar, biarin mama rela jadi obat nyamuk diantara mereka, yang penting perut tetap kenyang." Jawaban Hesti tetap saja mengandung sindiran untuk Haris dan Elena.


Hesti tentu senang melihat keakraban keponakannya dengan gadis yang sudah Haris cintai sejak lama, disamping itu sikap Elena yang selalu apa adanya pun makin membuat Hesti yakin, bahwa Elena adalah pilihan yang tepat.


Namun disisi lain, celotehan para orang tua tersebut membuat Elena makin salah tingkah, sekaligus merasa luar biasa malu, karena interaksi nya sesaat lalu menjadi bahan tontonan.


Dan Haris nampak bersikap biasa saja, mungkin sudah terbiasa dengan suasana di tengah keluarga nya.


...****************...


Bagi Hesti, sarapan pagi ini sungguh luar biasa, disamping karena seluruh keluarganya berkumpul dan berbincang akrab selagi makan bersama, tentu karena sebentar lagi anggota keluarga mereka akan bertambah dengan kehadiran seorang menantu, jadi tak lagi penting menu apa yang mereka santap pagi itu, karena mereka sarapan dengan bahagia dan penuh canda tawa.


"Sebelumnya kami minta maaf, karena sudah membuat kalian terpaksa menikah, namun melihat keakraban kalian tadi, rasanya sungguh tepat keputusan kami," Ferdy memulai pembicaraan serius.


Elena terkejut, karena se pengetahuan nya, papanya lah yang sudah menyuruh mereka menikah. "Bukannya papa saya yang mengharuskan kami menikah?."


Ferdy melengkungkan senyumnya, benarlah kata Hesti bahwa Elena sungguh jujur dan apa adanya, pria paruh baya itu merasa lega setelah berhadapan langsung dengan gadis pilihan putranya tersebut.


Elena menoleh, menatap Haris "kamu tahu tentang ini?"


"Baru kemarin pagi Ayah memberitahuku, dan semalam aku lupa memberitahumu."


"Dan malam nanti kami akan melamar secara resmi, apa asisten Seno belum memberitahumu?"


"Belum om ... Semalam saya bertukar pesan dengan beliau, tapi om Seno tidak memberi info perihal acara nanti malam, mungkin lupa karena terlalu banyak yang di kerjakan."


"kok masih panggil om, panggil ayah saja." Ferdy mengingatkan.


"Eh iya A ...yah ..." ucap Elena gugup.


Tentu saja hal itu membuat semua yang ada di meja makan tersenyum, Elena pun tak mampu lagi menyembunyikan wajahnya yang merona menahan malu.


Tiba tiba tangan Elena terasa hangat, rupanya Haris kini menggenggam tangannya, pria itu tengah tersenyum ke arahnya, kemudian berbisik, "tak apa nanti lama lama terbiasa."


"Apa kalian sudah mulai membicarakan, akan tinggal dimana setelah menikah?" Tanya Ferdy.


Glek ... Haris dan Elena menelan saliva nya, mereka bahkan belum membicarakan perihal bagaimana dan dimana mereka tinggal setelah menikah, selain karena rencana pernikahan yang mendadak, keduanya pun sama sama memegang tanggung jawab besar di pundak masing masing.

__ADS_1


"Kami sangat mengerti keadaan kalian, tapi kalau boleh kami mengusulkan, kalian jangan tinggal berjauhan, apalagi sampai berbeda negara, pasangan yang tinggal berdekatan saja, masih mungkin bertengkar lalu berpisah, apalagi yang tinggal berjauhan, pasti lebih rentan lagi."


"Akan segera kami bicarakan yah," jawab Haris, sementara Elena hanya memberikan anggukan tanda setuju dengan jawaban Haris, wajahnya nampak datar dan santai menanggapi penuturan calon Ayah mertuanya tersebut, namun kedua tangannya tengah sibuk memainkan jari jemari Haris yang masih setia menggenggam tangannya, tak ada yang melihat karena tangan keduanya berada dibawah meja.


"Dan ingat usia kalian," Kali ini Hasti menambahkan, "jangan menunda untuk segera memiliki anak, kami ingin buru buru menimang cucu."


Duaaarrrr


ANAK?


CUCU?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


othor nulis sambil cekikikan sendiri bang, membayangkan kalian yang lagi bucin akut, mendadak disuruh segera punya anak setelah menikah 🙈😁😂🤓.


.


.


like like like komen and vote please 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2