
"Ada yang ingin ku katakan, masuklah sebentar,"
"Kalau begitu, katakan disini saja,"
"Nggak mau, disini banyak nyamuk," dan tanpa minta persetujuan, Haris menarik lengan Elena, langsung menuju kamarnya, bahkan Haris hanya melambaikan tangannya ketika melewati para orang tua yang tengah berbincang di ruang tengah.
"Heh ... bocah tengil, mau kemana? nyelonong aja," tanya Ferdy, ketika melihat putranya hanya melambai ke arahnya.
"Ke kamar, mau istirahat." jawab Haris singkat.
"Eh gak sopan sama orang tua," tegur Elen lirih, yang mulai merasa ada yang aneh dengan Haris hari ini.
"Setidaknya makan malam dulu." Hesti pun ikut mengingatkan, namun Haris tak terlalu menghiraukan.
"Masih kenyang tante, tadi di RS makan banyak." jawab Haris masih dalam mode tanpa menoleh.
Tanpa sepengetahuan Haris dan Elena, para orang tua itu hanya terkikik geli, 'dasar anak muda, benar benar tidak sabaran'.
Setibanya di kamar, Haris langsung mengunci pintu.
klik.
Elena masih bersandar di pintu, jantungnya berdetak 10 x lebih cepat, eh tidak, mungkin lebih, Haris benar benar gila, bahkan sejak keluar dari pintu rumah kamar RS pria itu bahkan tak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun, bahkan sekarang sikapnya lebih aneh, tiba tiba membawanya masuk ke kamar, bahkan kini mengunci pintu nya.
Sebenarnya Haris sendiri pun tak mengerti, bagaimana dia bisa berbuat sekonyol ini, tapi sungguh ia tak bisa menahannya lagi, Elena bahkan kini tengah menatap tajam kearahnya.
"Haiiiisss ..." Haris berteriak keras, dengan kedua tangan menarik rambut nya.
Elena bahkan sempat terkejut mendengar teriakannya. "Kamu kenapa?" tanya Elena pelan.
Haris menghirup sebanyak mungkin udara, agar paru parunya bisa bekerja normal, kemudian menghembuskan nafasnya perlahan.
"Maaf, apa sikapku membuat mu terkejut?" tanya Haris ketika sudah mulai bisa mengontrol emosinya.
Elena mengangguk ragu.
Haris tersenyum, kemudian mendudukkan Elena ke tepi tempat tidur, "Duduk lah," Kemudian Haris berlutut dihadapan Elena.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf, apa yang akan ku katakan mungkin membuatmu terkejut, bahkan marah, terserah lah, setelah ini kamu boleh menganggapku tidak sabaran atau terlalu penakut, tapi memang aku sungguh ketakutan."
"Haris aku sungguh gak mengerti, sebenarya apa yang ingin kamu bicarakan, kenapa sejak tadi berputar putar tidak jelas," Elena mulai tidak sabar menghadapi tingkah Haris yang semakin aneh.
__ADS_1
Haris meletakkan kepalanya di pangkuan Elena, "Sayaang, aku sendiri tak paham bagaimana aku bisa bersikap konyol seperti ini," Haris berucap lirih, jika saja Elena bisa menatap wajahnya saat ini, tentu Elena akan tertawa melihat tingkah konyolnya.
"Berjanjilah, kamu akan memaafkanku," tiba tiba Haris mendongakkan wajah nya.
'Sabar Elena, sabar, orang sabar disayang tuhan', bisik Elena dalam hati.
Kemudian Elena pun tersenyum, di mata Haris sungguh itu senyuman yang selalu membuatnya terpesona, senyum termanis, senyuman yang membuat Haris jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Baiklah, apapun yang akan kamu katakan, apakah itu benar atau salah, aku akan memaafkan mu, karena aku sudah tak bisa lagi berpaling darimu," Elena memainkan jari jari nya di rambut Haris, "lelaki yang dengan lancang menghuni hatiku, hanya diam tanpa bersuara, tapi di waktu waktu tertentu, mampu membuatku sungguh penasaran setengah mati, hingga membuatku ingin berteriak, hai pria bernomor punggung 00, perlihatkan wajahmu, dan katakan siapa namamu, setidaknya izinkan aku berterima kasih, karena kamu sudah menyelamatkan ku dari sebuah hubungan yang tidak ku inginkan."
Haris terkejut mendengar pengakuan Elena, "Apa maksudmu? jadi bertahun tahun lalu, kamu menolakku karena dia? pria bren9$3k bernomor punggung 00?"
Elena mengangguk.
"Dasar pria bren9$3k, seandainya bisa, ingin ku hajar saja rasanya, karena sudah berani membuatmu penasaran, sayangnya tak bisa, karena orang itu aku sendiri," rasanya Haris ingin tertawa sekaligus menangis.
Elena sendiri jadi ikut tertawa mendengar ucapan Haris, "Maaf aku sangat terlambat menyadarinya, bahwa ternyata sudah sebesar itulah aku mencintaimu, hingga tak lagi menginginkan pria yang lain."
Elena menunduk hingga dahi mereka bersentuhan, "Aku jadi penasaran, kapan kamu pertama kali melihatku?" tanya Elena.
Haris terbelalak kaget, "Yaaaa ... sampai sejauh ini, kamu belum juga mengingat kapan kita pertama bertemu?" Haris bertanya gemas dan menjauhkan wajahnya.
Haris pun bangkit dan duduk di sisi Elena, digenggamnya tangan gadis itu, dan mulailah mengalir kisah awal mula mereka berjumpa.
"Wait ... wait ... jadi kamu laki laki yang membantuku memanjat dinding hari itu?" Elena membelalakkan matanya, tiba tiba wajahnya memerah, ternyata Haris bahkan sudah tahu bahwa dia dulu punya kebiasaan terlambat sekolah, yang lebih parahnya lagi suka memanjat dinding sekolahnya, agar tidak ketahuan.
"Iya, bahkan aku melihat ketika kamu menjalankan hukuman, karena tertangkap basah sudah terlambat datang ke sekolah," Haris tertawa geli.
'Duh malunya, mama tolong maafkan putrimu yang bandel ini' Elena berteriak dalam hati, sambil berulang kali memukul pelan dahinya. sungguh baru kali ini dia malu mengakui, bahwa dahulu dia anak yang agak susah di atur.
Tampak nya Haris menyadari perubahan mimik wajah Elena, karena tiba tiba gadis itu memalingkan wajah dan bibirnya sibuk komat kamit sendiri, namun Haris tak suka manakala melihat Elena memukul dahinya sendiri.
Haris pun menghentikan gerakan Elena, "Eh jangan dong, dahi ini terlalu indah untuk disakiti," Haris menangkupkan kedua tangannya ke wajah Elena, kemudian mengecup kening gadis itu, "Dan tangan indah ini tercipta, bukan untuk menyakiti," Dengan gerakan pelan Haris mengusap telapak tangan Elena.
"Percayalah, aku mencintai mu yang apa adanya, justru senyuman nakalmu kala itu, tampak manis di mataku, sikapmu yang polos selalu membuat hatiku terasa hangat dan jantungku berdebar untuk pertama kalinya,"
Elena diam terpaku, 'mama tolong, kalau kata kata Haris semanis ini, mungkin mendadak anakmu ini harus rutin mengunjungi dokter jantung'.
"Karena itulah, aku benar benar tak bisa menahan diriku ketika berada di dekat mu, aku sungguh takut kita berdua khilaf, bahkan akan melakukan 'nya' sebelum resmi menikah, tapi menunggu hari pernikahan kita juga membuatku gila, aku sungguh takut kamu berubah fikiran, dan akan membatalkan rencana pernikahan kita,"
"Haris aku ... " Kata kata Elena terhenti, manakala Haris menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Elena.
__ADS_1
"Dengarkan aku dulu, aku belum selesai bicara."
Elena mengangguk.
Mereka kini saling tatap.
"Karena itulah dua hari lalu aku meminta papa segera menikahkan kita, walau butuh usaha ekstra keras untuk meyakinkan papa, tapi akhirnya papa secara resmi menikahkan kita secara agama, dan minggu depan akan diresmikan oleh negara, Bagus dan Priyo saksinya, istriku ... selamat 2 hari usia pernikahan kita."
Duaaaaaarrrr ....
.
.
.
.
.
.
othor : wis embuhlah bang, othor gak ngerti harus ngomong apa lagi ... 🤧 udah dibilangin yang sabar, tetep aja gak sabaran 🙈🙄
.
abang : 😛 yess berhasil mendahului takdir dari othor
.
.
.
.
.
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1