Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
36


__ADS_3

Pemuda itu, baru saja menghentikan laju motornya di parkiran sekolah, jaket yang masih melekat di tubuhnya bahkan belum di lepas, dia membuka helm kemudian meletakkannya di atas motor.


Pandangannya tertuju pada dinding di sudut parkiran, letak dinding itu memang lebih rendah jika dibandingkan dengan dinding di sebelah nya, tiba tiba sepasang tangan muncul dari balik dinding, disusul kemudian wajah si pemilik tangan, nampak celingukan melihat situasi, "Aman ... ujar gadis itu".


kemudian dia berusaha naik, namun sepertinya agak kesusahan," Woi ... tolongin dong" Gadis itu melambai memanggil pemuda yang masih terpaku di tempatnya, dan seperti tersihir pemuda itu pun mendekat, dan mengulurkan tangannya, dengan sekali hentakan, gadis itu berhasil ditariknya.


"Ah ... untunglah tadi aku sudah pakai celana pendek" ujarnya cuek, masih belum menyadari ada sepasang mata hitam pekat tengah memperhatikannya.


"Silvia ... buruan" teriak gadis itu memanggil temannya.


Tak lama gadis bernama silvia itu pun menampakkan wajahnya, namun sepertinya gadis itu lebih gesit, terbukti dia mampu melompat sendiri tanpa bantuan.


"Ayo cepat, keburu di lihat pak Marsudi" ajak Silvia


Sebelum pergi, gadis itu berbalik menatap pemuda yang baru saja membantu nya.


"Thank you yah, eh kamu dari SMU mana, kok kaya g pernah lihat"


"Kebangsaan 1" jawab nya singkat.


"Oooo pantes aku gak pernah lihat wajah kamu"


"Ayo Elena ... " bisik Silvia.


Gadis yang di panggil Elena itu pun mengangguk, sebelum menghilang di balik dinding sekolah, Elena kembali menoleh dan melambaikan tangannya.


Tanpa sadar pemuda itu tersenyum dan membalas lambaian tangan gadis itu.


Tiba tiba, dada pemuda itu berdesir hebat, dan senyum tersungging di bibir nya, "Gadis yang manis" ujarnya pelan


"Lho Haris ... udah datang? kok gak langsung masuk"


"Hai Lex, nggak papa kok, tadi aku kaya lihat sesuatu, ternyata cuma kucing lewat" bohongnya.


Entah kenapa dia tiba tiba berbohong, padahal belum tentu kebohongannya mampu menyelamatkan kedua gadis yang memanjat dinding tadi.


"Oh iya bawa proposal pertandingan nya?" Alex bertanya.


"Bawa lah, kan emang itu tujuanku kemari"


"Baiklah, ayo keruangan pak Marsudi"


Namun sebelum tiba di ruangan pak Marsudi, kedua pemuda itu disuguhi pemandangan 2 gadis yang tengah menjalankan hukuman dari pak Marsudi, yah mereka adalah 2 gadis yang sesaat lalu memanjat dinding.


"Haiiiisss ... mereka tidak juga berubah." gerutu Alex.


"Kamu mengenal mereka?"


"Iya begitulah, sudah ayo masuk, tak usah memikirkan kedua gadis tengil itu."


Memori itu tiba tiba melintas dalam ingatannya, sekilas memori bahagia bersama sahabat nya semasa SMU, Alex dan silvia, sayang nya hancur begitu saja karena salah faham.


Mendadak semangat kerjanya luntur begitu saja. Elena pun beranjak, laptop yang sudah menyala dia tutup begitu saja, Elena menyambar tas dan ponsel nya kemudian keluar dari ruangan tersebut.


...****************...


Mendekati jam makan siang.


Haris termangu di kursi nya, tatapannya tak lepas dari meja sang gadis yang sejak tadi ia tunggu kedatangan nya. "Kemana dia?" gumamnya.


"Haris ... ayo makana siang" Ajak Bagus.

__ADS_1


"Tidak lapar" Jawabnya malas. "Aku hanya merindukan nya"


Bagus tersenyum sinis "Dasar bucin" ejeknya.


Haris hanya tersenyum, lalu kembali mencebikkan bibir nya.


"Kenapa tak menelepon nya?"


"Udah, tapi gak di jawab"


Tok tok tok suara ketukan pintu mengalihkan pandangan kedua nya.


"Permisi ... "


"Akhirnya, pengusaha kuliner kita datang lagi ... " Bagus menyambut tamu tersebut dengan santai, seperti sudah lama saling mengenal.


Si tamu hanya tersenyum simpul, kemudian tanpa sengaja bertemu pandang dengan Haris, dirinya dan Haris sama sama terkejut.


"Alex ... "


"Haris ... "


Keduanya saling memekik terkejut.


"Waaaahhh kejutan yang menarik, bisa ketemu kamu lagi" sapa Alex.


"Bisa aja kamu" Haris pun mendekat, dan mengulurkan tangan.


"Kamu kerja disini?" tanya Alex.


"Seperti yang kamu lihat" jawab Haris pendek. "Btw ... ada perlu apa kemari?"


Bagus menyodorkan beberapa brosur, seperti nya bagus sudah cukup hafal apa yang di inginkan tamu nya kali ini.


"Sejak kami sama sama menjabat sebagai ketua OSIS" kenang Alex.


"Maksudnya?" bagus masih kebingungan


"Haris OSIS di SMU kebangsaan 1, dan aku OSIS di SMU kebangsaan 3"


"aaaaaahhh ... begitu rupa nya" Bagus mengangguk faham "tunggu, kalo gitu kamu kenal Elena dong"


Pria bernama Alex itu mengangguk "Kalau di katakan kenal, kami cukup dekat"


"Seberapa dekat?" Kejar Bagus penasaran.


sementara Haris, cuek menikmati segelas Americano dingin.


"Sangat dekat, bahkan aku pernah mengatakan kalau aku mencintai dia"


uhuk uhuk uhuk


Haris yang tengah menikmati kopinya, tiba tiba tersedak.


"What ... ?"


"What ... ?"


pekik Bagus dan Haris bersamaan.


"Hei hei ... kenapa pada aneh gitu, selow aja kali, itu masa lalu, lagi pula Elena tak pernah memberikan jawaban yang ku inginkan". tiba tiba Alex menatap Haris yang tengah sibuk membersihkan tumpahan kopi.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatap nya?" tanya Bagus.


"Karena dia yang menggagalkan rencanaku"


Haris membeo, kemudian menunjuk dirinya sendiri "Aku?"


Alex mengangguk "Iya kamu, dan tembakan terakhirmu di pertandingan final bola basket hari itu, blaarr ... hancur sudah apa yang ku inginkan" kenang Alex pahit.


Haris dan Bagus diam mematung. "Baiklah, mungkin lain kali aku harus buat janji temu dengannya, dan lagi sepertinya dia masih marah padaku"


Kemudian Alex pun pamit.


Meninggalkan Haris masih dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk.


Dirinya mencoba mengingat, kalau tidak salah Elena pernah bercerita tentang sahabat nya semasa SD sampai SMU, apakah Alex adalah pria yang dia maksud, apa karena masih menyimpan kisah sedih pertemanannya bersama laki laki itu?.


Mungkinkah Elena takut ada kesalah pahaman lagi, makanya, hingga hari ini Elena belum ingin membuka hati nya untuk laki laki lain yang berstatus teman untuk menjadi kekasih, apa karena dia takut di tinggalkan, hah sungguh pemikiran yang bodoh.


Tapi Alex bilang, Elena tak pernah memberikan jawaban yang diinginkannya, lalu siapa sebenarnya yang menghuni hati Elena, kenapa semua ini jadi begitu rumit, padahal Haris sudah menyimpan wajah dan nama Elena didalam hatinya sejak lama.


Sejak pertama kali dirinya menolong gadis itu melompati pagar sekolah hari itu, rasanya masih ingin tertawa membayang kan gadis itu melompati pagar, dan ternyata sesudahnya dia masih harus menjalani hukuman karena terlambat masuk sekolah.


Haris tersenyum samar, Elena kamu bahkan tidak mengingat ku kan? entah kenapa wajahmu tak bisa hilang dari ingatanku, aku bahkan berpura pura berkenalan denganmu ketika kita bertemu kembali si hari orientasi mahasiswa.


Hingga saat ini, dirinya tidak berniat sedikitpun untuk bergeser dari hidup gadis itu, bahkan ketika cinta nya belum berbalas, rasanya masih enggan baginya untuk merelakan dan membuka hati untuk yang akan datang kemudian, tidak setelah janji yang ia buat sudah sampai sejauh ini, janji itu laksana kontrak mati bagi dirinya, karena apa? demi apa? jawabannya hanya satu yaitu cinta.


Elena ... kamu telah membuatku berjalan sampai sejauh ini, aku tidak akan menyerah, sebentar lagi saat itu akan tiba, yah Haris bertahanlah sedikit lagi , ujarnya pada diri sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Duh bang, othor jadi merasa bersalah sudah membuatmu menunggu 🤧.


.


Maaf kan othor ya bang, othor janji nanti kasih cubitan buat eneng biar gak main main lagi sama perasaan abang 🤭😁.


.

__ADS_1


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2