
Siang ini suasana ruang VVIP tempat Haris dirawat terasa berbeda, segera setelah mengetahui bahwa haris sudah sadar, keluarganya segera berbondong bondong ke William Hospital Center.
Diawal pagi bermula dengan kedatangan Syafira, yang ternyata justru membawa kisah heboh yang tak terduga, tentu saja sesudahnya Bagus menjadi sasaran keisengan dari teman temannya, kemudian tepat jam 8 dokter Alan datang sesuai jadwal, dengan telaten dokter Alan menjelaskan kondisi Haris, termasuk kondisi luka jahitan di punggung dan perut nya.
Berikutnya jam 9, kedatangan Ayu dan Rio memberi warna tersediri, ruangan yang semula ramai dengan suara orang dewasa, kini berganti dengan teriakan dan tawa heboh khas anak anak.
Namun yang sungguh sungguh membuat Elena terkejut adalah kedatangan tuan Harun Sebastian. Yang otomatis mendapat rentetan pertanyaan dari Elena.
"Papa? kok kesini lagi? ada perlu apa? kayanya ini bukan kebiasaan papa deh, papa kan biasanya sibuk, kalo lagi nganggur biasanya mancing, seminggu baru pulang." Elena nyerocos tanpa bisa di hentikan.
"_"
Namun ketika dia hendak buka suara kembali, Priyo buru buru membungkam mulutnya, "dah diam dulu, aku pusing mendengarmu bicara."
Elena memanyunkan bibirnya, karena Priyo sudah membungkam mulutnya dengan semena mena.
"Papa mau besuk menantu, apa tidak boleh?" Harun berbisik ditelinga Elena.
Blush ... wajah Elena memerah, dia tampak tersenyum malu ketika Harun menatapnya, "aaaahhhh papa ..." Elena menyembunyikan wajahnya di balik punggung Harun, Harun sendiri jadi heran, apa iya hanya karena kata kata menantu, mampu membuat Elena bersikap konyol begini.
*****
Akhirnya atas desakan Ayu, Elena pun mengikuti Ayu untuk membawa Rio bermain di luar, William Medical Center memberikan fasilitas bemain bagi pasien anak anak yang kebetulan dirawat di sana, tak tanggung tanggung tempat bermain itu dilengkapi dengan fasilitas sangat modern, yang membuat anak anak sejenak melupakan rasa sakit yang dideritanya.
"Amma Iyo au main," Ujar Rio ketika matanya menatap tempat bermain seluas lapangan sepak bola terrsebut.
Ayu pun mengangguk, mendengar permintaan putranya.
Dengan Riang gembira, Rio berlari dan berteriak mengelilingi playground tersebut. Bahkan ketika Elena dan Ayu mulai kehabisan tenaga, bocah lucu itu tetap semangat berlarian kesana kemari.
Setelah puas berlarian, Elena membawa bocah itu ke cafe, memborong semua camilan yang mungkin disukai Rio, pastinya dengan satu tujuan, bocah itu bisa duduk diam dan segera tertidur.
"Lho ... kok kamar ini makin ramai?"pikir Elena ketika kembali kekamar dan mendapati ada banyak orang berada di sana.
jika semula hanya ada Harun, Ayu, dan Rio, kini semakin ramai manakala kedua orang tua haris, bahkan om dan tante nya pun berada di sana, yang lebih mengherankan lagi adalah Krisna dan Eliza ikut bergabung, sungguh hal yang mustahil mengingat kedua orang itu sangat menggilai pekerjaan, makanan dan minuman pun banyaknya tak terkira, sudah seperti mengadakan pesta saja.
Bahkan Mark pun tak mau ketinggalan, pria itu kini mulai belajar bahasa Indonesia, karena kemungkinan dia akan lama berada di ibu kota.
Secara tak sengaja, pandangannya dan Haris bertemu, tatapan Haris nampak berbeda, Elena pun mendekati pria itu.
"Kok lama sih perginya, kan aku kangen,"
"Dasar, baru ditinggal sebentar, udah alay begini,"
__ADS_1
"Namanya juga terlanjur cinta, udah paten no KW KW," jawab Haris bangga. "emang kamu dari mana?" tanya Haris, ketika mereka duduk berdampingan.
"Main sama Rio," jawab Elena riang.
"Apa kamu sesenang itu jika bermain?"
"Tentu, aku seperti melepas semua beban,"
Haris hanya tersenyum mendengar jawaban Elena.
"Papa sudah minta asisten Seno memundurkan jadwal pernikahan kalian,"
"Iya pah," jawab Elena.
"Apa seminggu cukup?" tanya Harun. "papa ingin Haris benar benar sehat, karena pasti nanti lelah sekali bersalaman dengan semua kolega papa,"
"Cukup pah, " jawab Haris yakin.
"Memang ada berapa ratus orang yang papa undang?" tanya Elena penasaran.
"Sedikit sih hanya 1000 undangan yang mampu di sebar asisten Seno,"
Elena memekik terkejut, ternyata sedikit versi Harun adalah angka dengan 3 digit nol di belakang, "kalau segitu papa bilang sedikit, bagaimana jika banyak?" pekik Elena.
"Mungkin sekitar 3000 undangan,"
****
Sore ini, dokter Alan sudah mengizinkan Haris untuk pulang, tentu saja berita itu disambut gembira oleh Elena yang sudah mulai jenuh di RS, begitu pun Haris.
Tapi ekspresi wajahnya yang murung sungguh tak dapat di sembunyikan, "kenapa lagi? bukannya seneng udah boleh pulang."
"Iya, aku sedih gak bisa sama sama kalian lagi." Haris yang sudah berganti dengan kaus santai dan celana jeans, nampak murung.
"Nggak usah sok sedih, aku tau kamu lagi bahagia," Bagus mencibir.
"Ingat, jangan buru buru masih belum boleh aktivitas berat." Priyo ikut menambahkan.
"Iya aku tahu,"
Mereka saling tatap, kemudian saling melemparkan senyum satu sama lain, pandangan Haris nampak berbinar bahagia, sejak tadi dia tak henti tersenyum, sementara Bagus dan Priyo seolah paham apa yang dirasakan Haris, hanya bisa melemparkan candaan.
Selesai membereskan barang barang, mereka kini menunggu Elena yang tengah menyelesaikan administrasi RS.
__ADS_1
"Nih pakai topi dan kacamata dulu," ujar Elena sekembalinya dari bagian administrasi.
Setelah menyelesaikan tagihan RS, Elena menyempatkan diri menghampiri salah satu Fashion Outlet yang ada di RS, dan membeli topi serta kacamata hitam, tentu saja untuk menutupi wajah sang kekasih dari para fans girl yang entah tahu dari mana perihal berita kepulangan Haris dari RS.
Dan ternyata tak sesuai dugaan, Haris mendapat jalur khusus yang disediakan pihak RS demi kenyamanan pasien, RS memiliki jalur khusus untuk para pejabat, dan selebriti yang ingin menjaga privasi mereka, agar terhindar dari para Fans atau wartawan yang sedang memburu berita.
"Ayo masuk dulu, kamu pasti lelah beberapa hari menemaniku di RS," Haris menahan lengan Elena ketika gadis itu hendak kembali ke kursi kemudi setelah membantu Haris menurunkan barang barang.
"Tapi ini sudah malam, aku harus pulang." elak Elena.
"Ada yang ingin ku katakan, masuklah sebentar,"
"Kalau begitu, katakan disini saja,"
"Nggak mau, disini banyak nyamuk," dan tanpa minta persetujuan, Haris menarik lengan Elena, langsung menuju kamarnya, bahkan Haris hanya melambaikan tangannya ketika melewati para orang tua yang tengah berbincang di ruang tengah.
Setibanya di kamar, Haris langsung mengunci pintu.
klik.
.
.
.
.
.
bang ... mau ngapain ?????
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
like like like komen and vote please