Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
53


__ADS_3

Suara Ketukan pintu membuyarkan senyuman nya, beberap saat setelah mengakhiri panggilan videonya dengan "calon suami" membuat dirinya tak bisa menghentikan senyuman.


"Masuklah."


Pintu ruang kerjanya pun terbuka, dua orang gadis yang sangat ia kenal masuk ke ruangannya, dialah Syafira dan Hana.


"Selamat sore nona." sapa Syafira.


"Oh hai ... kejutan luar biasa, ada perlu apa?" Elena balas menyapa.


Elena pun berdiri menyambut kehadiran Syafira, tak lupa bercipika cipiki.


"Apa saya mengganggu nona?" Tanya Syafira canggung.


"Sama sekali tidak, bukan kah ini sudah lewat dari jam kerja, jadi tak masalah kamu mengganggu ku." Balas Elena.


"Pak Bagus meminta saya menemani beliau ke acara ulang tahun Western restoran, tapi beliau bilang acaranya di mulai 2 jam lagi, karena itulah beliau meminta saya menunggu di ruangan anda, apa tak masalah nona?"


"Tentu tidak, kamu boleh istirahat di sini, atau mau ke kamarku? pintu penghubung itu, adalah jalan menuju kamar pribadi ku, silahkan, kamu boleh tidur di sana jika ingin,"


Elena menunjuk sebuah pintu yang nyaris tersamarkan oleh rak buku, benar saja ketika rak buku bergeser, nampaklah sebuah kamar pribadi, tidak terlalu luas, namun nyaman dan tenang.


Bukan hanya Syafira yang terkejut, namun Hana yang sudah beberapa hari bekerja di sana pun nampak tak bisa menyembunyikan keterkejutan nya,


"Kakak, sejak kapan ada ruangan ini, kenapa aku baru tahu?" tanya Hana.


"Sejak dulu," jawab Elena santai.


Sementara Syafira dan Hana sibuk menikmati kamar pribadi Elena, si pemilik ruangan tersebut kembali dan mendudukkan dirinya di sofa, pintu ruangan yang sengaja di biarkan terbuka membuat Bagus yang baru saja tiba, langsung masuk dan mendudukkan dirinya di sisi Elena.


"Tumben Haris gak datang?"


"Dia sibuk, apa kalian tidak bertemu di proyek?"


"Nggak tuh, mungkin dia mengerjakan pekerjaannya di rumah, karena di proyek ada Mark,"


Elena mengangguk, "kamu di undang juga?"


"Iya,"


"Sejak kapan kamu kenal Alex?"


"Sudah lama sih, yang aku ingat dia adalah pelanggan setia, dimanapun proyek HS grup berada, dia selalu datang dan menjadi pembeli pertama, ruko atau stand di mall, Bahkan restoran barunya di negara Singa ZZ, baru saja direnovasi dan diperbesar menggunakan jasa HS grup"


"Boleh juga keahlian bisnisnya," Elena menggumam.


"Apa sekarang kamu menyesal pernah menolak cintanya?" Bagus tersenyum jahil, "aaaaawwww ... " Bagus menjerit keras, rasa sakit tiba tiba mendera pinggangnya, akibat cubitan Elena.


"Makanya kalo ngomong di pikir dulu, jangan seenaknya,"


"Ya yaa ... baiklah maaf kan aku, tapi sumpah ini sakit banget," bagus masih meringis menahan sakit di pinggangnya.

__ADS_1


...****************...


Acara ulang tahun Western restoran.


Malam itu, Elena sengaja hadir sedikit terlambat dan berjalan menunduk di antara Hana dan Syafira, agar tak menarik perhatian, walaupun sudah di sediakan meja eksklusif di dekat pemilik restoran, Elena memilih untuk duduk di meja yang sama dengan Bagus, Hana dan Syafira.


Suasana nampak begitu akrab, masing masing karyawan seperti saling kenal dekat dengan bos mereka, mungkin memang begitulah cara Alex membangun kedekatan dengan para karyawannya, tanpa sengaja pandangan Elena menatap seseorang yang sangat ia kenali, dialah Silvia.


Wanita itu nampak tak canggung berdiri di sisi Alex, ada hubungan apa mereka, begitulah pertanyaan pertama yang terlintas di benaknya.


"Apa kamu mengenal wanita yang berdiri di sisi Alex?" Elena berbisik di telinga Bagus.


"Itu istrinya ... "


Elena membelalak terkejut "uwaooow" Elena membeo sendiri, "Gadis tengil itu, ternyata ..." Elena jadi tertawa sendiri mentertawakan masa lalu mereka, dulu puluhan kali Elena menjelaskan bahwa dirinya tak punya perasaan apa apa pada Alex, namun menghadapi sikap Silvia yang salah paham sungguh membuatnya pusing.


...****************...


Flashback on


Silvia menatap kosong, kolam ikan kecil milik sekolah, rasa cemburu sungguh menguasai hatinya, hingga ia tak bisa tersenyum walau sedikit.


Tiba tiba Elena datang dan melingkarkan lengan kanannya ke pundak Silvia, Elena bukan tak tahu kalau Silvia sudah lama menyimpan perasaan tulus pada Alex, hanya saja Elena bersikap pura pura tak tahu apa apa.


Silvia menatap Elena yang kini tersenyum manis di sisi nya "Apa aku benar benar tak punya kesempatan berada di sisi nya?" tanya Silvia putus asa.


"Tentu punya, sangat punya malah,"


"Itu karen dia buta, tak melihat gadis cantik seperti mu begitu tergila gila padanya." Tak di pungkiri, paras silvia memang cantik menawan, rambut ikal bergelombang, tergerai sepanjang punggungnya, kulitnya putih bersih, serta bulu mata lentik alami, membuat nya terlihat imut sekaligus cantik seperti barbie, namun karena bergaul dengan Elena membuat Silvia juga tak begitu memperhatikan sisi cantik dirinya,


Elena yang sejak kecil suka sekali bermain dan tampil ala kadarnya, membuat wajahnya terlihat manis dan selalu ceria.


"Benarkah, jadi perlukah kita antar dia ke dokter mata?"


"Iya, bila perlu kita seret dia,"


Tawa renyah pun menghiasi bibir kedua gadis remaja itu.


Entah sudah berapa kali Elena menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada Alex, namun Silvia tak juga mengerti, jadi Elena harus ekstra sabar menghibur dan menghadapi sikap cemburu sahabat nya tersebut.


...🌻🌻🌻...


Di hari dan tempat yang berbeda.


Alex yang kala itu baru saja tiba di tempat parkir, menghampiri Elena yang juga baru saja memarkirkan matik berwarna biru kesayangan nya.


"Ada apa Lex, aku sudah bilang berkali-kali, aku tak memiliki perasaan apapun padamu, selain perasaan seorang teman, kenapa kamu tak mengerti juga," Elena berujar, Lelah rasanya menjelaskan perasaan nya pada Alex dan Silvia, namun dua orang itu tak juga paham, apalagi memahami posisi Elena kini.


"Tapi ... aku juga tak bisa melupakan perasaanku padamu Elena,"


"Kalian berdua sahabatku, kenapa tak ada yang mau berusaha mengerti kan ku?" saat itu Elena merasa ingin menangis, tak adakah diantara mereka yang menghargai sikapnya yang hanya ingin berteman.

__ADS_1


"Perasaanku ini sudah lama ingin aku hilangkan, tapi tak bisa, jadi tolonglah kamu juga pahami perasaan ku, kenapa kamu hanya mengertikan perasaan silvia saja, padahal aku juga ingin di mengerti," Alex mulai frustasi.


Alex meraih kedua sisi bahu Elena, namun dengan cepat Elena menepisnya, Elena menatap Alex sebal, "Jadi sampai kapanpun kamu tak akan menerima perasaan ku?" tanya Alex, tatapannya nanar penuh harap.


"Kamu sudah tahu pasti apa jawabannya, jangan memintaku mengucapkannya," jawab Elena ketus.


"Tolonglah dengarkan aku kali ini saja," pinta Alex memelas. "aku janji, setelah ini aku tak akan pernah meminta mu menerima perasaanku,"


Elena mulai mempertimbangkan permintaan Alex, sungguh bukan karena dirinya menyukai Alex, namun ingin seger mengakhiri konflik yang menyiksanya belakangan ini.


"Aku janji akan membawa sekolah kita sampai ke final, dan aku ingin kamu datang menyaksikan pertandingan basket antar sekolah di Final nanti, jika nanti sekolah kita memenangkan pertandingan ini, berjanjilah kamu akan menerima perasaan ku, aku tak peduli, walau kita harus berkencan diam diam di belakang silvia, tapi jika aku gagal, aku janji akan melupakan perasaanku padamu,"


Sungguh sebuah permintaan yang sulit, jika di terima dia akan menyakiti silvia jika di tolak dia akan menyakiti Alex, oh tuhan kenapa Engkau membuatku di posisi yang sulit seperti ini, sungguh ini pilihan yang sulit, Elena berbicara sendiri dalam hati.


Pikiran tersebut menghantui nya, iya kalau kalah, dia bisa tetap menjaga perasaan silvia, namun jika menang, perasaannya sendiri akan terluka karena sudah membohongi sahabat baiknya, tapi konflik tak jelas ini sungguh sungguh harus di akhiri, jika tidak, mungkin Elena bisa mati muda memikirkannya.


"Baiklah, aku akan datang,"


Akhirnya dengan terpaksa Elena meng iyakan permintaan Alex, sungguh Elena benar benar berharap dan berdoa sekolah mereka kalah di final nanti, berharap ia akan terbebas dari konflik yang tak jelas ujungnya ini, tanpa peduli jika sesudahnya dirinya di benci oleh teman teman seantero sekolah.


Namun tanpa mereka sadari, perbincangan itu didengarkan oleh seseorang yang tidak seharusnya mendengar, gadis itu tak kuasa menahan air matanya, buru buru dia berlari keluar gerbang sekolah, ia urung memasuki kelas, ia hanya ingin kabur sesaat menikmati patah hati yang kini mendera perasaan nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2