Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
68


__ADS_3

Sejak turun dari pesawat yang membawa nya kembali ke ibu kota, Elena terus menyunggingkan senyumnya, menatap kosong keluar jendela mobil yang sedang membawanya menuju tempat tujuan.


Sungguh tak sabar rasanya, sebenarnya ada sedikit sesal tertinggal dihatinya, manakala kemarin dirinya sengaja pergi tanpa mengabarkan pada Haris, untuk urusan bisnis ke kota SY, bukan suatu kewajiban sih, karena mereka memang belum terikat pernikahan, lebih tepatnya hanya sekedar informasi.


Namun ketika di penghujung hari, akhirnya dia bisa memeriksa ponselnya sungguh terkejut melihat banyak nya notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab, ah sungguh Elena merasa bersalah pada pria itu.


"Pak Mun tolong menepi sebentar di depan," Elena meminta Pak Mun menepikan mobil di kedai dim sum yang pernah ia datangi bersama Haris. "Tunggu sebentar ya pak, saya beli dim sum dulu."


"Baik Nona."


Elena pun menghampiri kedai dim sum yang baru mulai buka tersebut, kemudian memesan 5 box besar supaya bisa berbagi dengan banyak orang di proyek nanti.


Setelah mendapatkan pesanannya Elena masuk ke mobil, dan pak Mun kembali melajukan mobil menuju ke proyek, dimana kini Haris berada.


Ketika mobil semakin dekat dengan tujuan Elena kembali mengamati penampilannya, celana jeans, Blouse soft pink dan tak lupa sport shoes, karena hari ini dia dan Haris akan kembali ke Mall untuk mengambil pesanan cincin pernikahan mereka, berkaca dari peristiwa yang lalu, maka kali ini Elena sudah bersiap memakai sepatu yang nyaman di gunakan saat berlari, agar memudahkan nya ketika terjadi peristiwa seperti 2 hari yang lalu.


Mobil yang d kendarai pak Mun berhenti d depan bangunan yang di gunakan sebagai kantor, Elena keluar dari mobil tak lupa dengan dim sum yang sudah ia beli tadi, Tak lupa Elena meminta pak Mun untuk pulang terlebih dahulu.


Mark berjalan mendekat kearahnya, senyumnya merekah manakala jarak mereka semakin dekat, "Selamat pagi nona?" sapa nya.


"Selamat pagi Mark."


"Pasti perjalanan anda melelahkan, kenapa anda langsung kemari?" Ada nada khawatir dalam suaranya.


"Apa boleh buat, resiko memiliki kekasih," jawab Elena malu malu, namun ada perasaan hangat yang kini menjalar di hati nya.


Mark tertawa lepas, " hahaha ... anda romantis juga ternyata."


Mereka beriringan memasuki ruangan yang pernah menjadi ruang kerjanya semasa menjadi penanggung jawab utama proyek ini.


"Benarkah ... " Elena melebarkan senyum nya.


"Nona, kalau boleh saya minta tolong jangan senyum terlalu manis pada saya," pinta Mark.


"Kenapa?"


"Bisakah anda bayangkan nasib saya jika Tuan Haris tahu, saya beritahu satu hal, dia sangat pencemburu, dan pemarah bila menyangkut apapun tentang anda."


"Benarkah?" tanya Elena.


"Mana mungkin saya berbohong, anda masih ingat nasib Denz DRT? Tuan Dennis yang mencoba membunuh anda, kini harus rela mendekam di penjara selama 30 tahun, atas tuduhan percobaan pembunuhan, dan berbagai kasus penipuan lainnya, tuan Haris bahkan menggelontorkan dana terbesar hanya demi menghukum orang yang berani menyakiti anda."


"Yah akan ku ingat Mark, Aku pun ingin mencintai nya sebesar Haris mencintai ku,"


"Terimakasih nona, baiklah saya permisi, jika anda ingin bertemu tuan Haris, beliau ada di sektor E lokasi pembangunan apartemen,"


"Entahlah Mark, sepertinya aku menunggu di sini saja, tolong katakan padanya, aku sudah datang."


"Baiklah nona, akan saya sampaikan."


...****************...


"Anita?" sapa Elena ketika ia tiba.


Anita yang sedang sibuk menelepon pihak Stasiun TV tampak tersenyum melihat kedatangannya, dia menandai beberapa point penting, yang nantinya akan jadi bahan utama promosi melalui media televisi.


Elena menghembuskan nafas, ketika mendudukkan dirinya di sofa, sambil menunggu dia tak mau berdiam diri, dia pun menyalakan laptop nya, memeriksa dan mempelajari beberapa laporan yang masuk ke Emailnya, sejauh ini Diamond hotel tidak ada masalah, begitu pula dengan beberapa cabangnya.


Tengah sibuk membaca setiap laporan, tiba tiba Anita datang dan menyerahkan benda pipih seukuran jari telunjuk, "ini hadiah pernikahan yang saya janjikan waktu itu," Anita tersenyum tulus.


Elena menoleh terkejut, masih dengan tatapan penuh kebingungan.


"Bukalah, dan bartanyalah, mengenai apapun yang ingin anda ketahui."


Dengan Sedikit ragu Elena membuka USB tersebut di laptop nya, "Saya sudah meminta bantuan seseorang yang ahli di bidang ini, untuk merubah format nya, agar bisa di buka di TV atau Laptop, semoga gambarnya tidak mengecewakan, karena ini video lama, sebenarnya dokumen milik sekolah, tapi saya sengaja menyimpannya seorang diri."

__ADS_1


"Kamu membuatku penasaran, apa ini sesuatu yang mengejutkan,"


"Tidak juga sih, lebih tepat nya ini sebuah kenangan."


Setelah menunggu beberapa saat, video lama tersebut mulai berjalan, Alangkah terkejutnya Elena, dia seperti melihat mimpinya, namun kali ini dengan versi yang real, semuanya terlihat dan terbuka, walaupun di beberapa bagian ada yang samar samar.


Elena membekap mulut nya sendiri, tubuhnya bergetar ketika menyaksikan video tersebut, nafasnya memburu, pun dengan air mata yang mulai berdesakan keluar.


Video pendek berdurasi 5 menit tersebut, membuat air mata bahagianya bercucuran.


Menyaksikan bagaimana Haris dengan lincah mengoper dan melempar bola.


Dengan senyum menawan, dan wajah bersimbah keringat, sungguh membuat jantung Elena berdebar debar.


Ternyata sejak remaja pria itu memanglah tampan, 'Halooooww Elena sejak dulu kemana saja, kenapa baru menyadari ada pria tampan menantikan cintamu'.


Dan pertandingan itu pun berakhir, dengan tembakan fenomenalnya Haris, yang membuat sekolah mereka memenangkan pertandingan bola basket antar sekolah tersebut.


Bahkan sesudahnya, Haris tampak terpaku menatapnya yang tengah bersorak seorang diri, tanpa mempedulikan tatapan aneh dari teman temannya.


Elena menatap Anita, "Boleh aku memelukmu?" pintanya penuh harap.


"Tentu."


"Terimakasih," Elena pun memeluk erat Anita, "apa kamu tau, bertahun tahun aku mengalami mimpi yang sama, namun tak pernah tahu siapa pria bernomor punggung 00." Elena melepaskan pelukannya.


"Jadi sekarang sudah tahu?" pancing Anita.


Elena mengangguk, "Sebenarnya beberapa hari yang lalu aku sudah tahu, Alex yang memberitahuku, dan hari ini kamu menghadiahkan ini, terimakasih." Elena menghapus sisa airmata bahagianya.


kemudian menutup kembali laptopnya.


"Aku akan menemuinya sekarang," ujarnya dengan wajah berseri seri.


"Apa dia juga cinta pertama mu?"


"Lebih baik terlambat daripada tidak tahu sama sekali." Anita tersenyum tulus "Pergilah ... Haris pasti senang kekasihnya datang."


Elena berjalan cepat, sungguh tak sabar ingin menjumpai Haris, kali ini betapa ingin dia mengatakan nya, kalimat yang sejak lama dinantikan pria itu, kalimat yang sungguh tak pernah terucap dari bibir Elena untuk pria manapun, hari ini dia ingin mengatakannya pada sang pemilik hatinya.


Kerangka bangunan 10 lantai itu sudah berdiri menjulang, Apartemen Eksklusif yang hanya memiliki 10 lantai tersebut, akan dibuat mewah dan Eksklusif, tiap lantai Hanya memiliki 2 pintu, yang artinya hanya ada 2 pemilik di setiap lantainya.


Elena berjalan melewati beberapa pekerja yang tengah sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan nya masing masing, debu debu bertebaran, bising suara mesin gergaji memekakan telinga, dan jangan lupakan crane yang tengah sibuk memindahkan berbagai macam peralatan ketempat yang lebih tinggi.


Elena mengedarkan pandangannya, mencari cari seseorang yang ingin dia temui nya saat ini.


Tanpa ia sadari, Elena melakukan kesalahan fatal, tidak memakai safety helmet, padahal ia tengah berada di tengah tengah bangunan yang bahkan baru tiga puluh persen berdiri, dengan berbagai macam bahaya kecelakaan di lokasi proyek yang mungkin terjadi,


Karena sibuk mencari-cari, Elena tak menyadari tengah berdiri di bawah Crane yang kini mengangkut sampah sisa bahan bahan baku yang sudah tidak lagi terpakai, suara teriakan mengalihkan perhatian nya, secara otomatis pandangannya mengarah ke atas, namun terlambat, ia hanya diam terpaku tak mampu berbuat apa apa selain menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Elena yang sudah pasrah dengan keadaan dirinya saat ini, tiba tiba dia merasa tubuhnya di dekap begitu erat, setelah itu pandangannya gelap, hanya suara suara bising yang terdengar, setelah reda dia pun mulai bisa membuka mata dan melihat cahaya, tubuhnya kesulitan bergerak Karena tertindih sesuatu, namun alangkah terkejutnya ia ketika menyadari Haris lah yang kini mendekapnya dengan erat, wajah pucat nya terlihat jelas walaupun tertutup debu.


"Are you okay?" tanya nya ketika melihat Elena mulai membuka mata.


Elena mengangguk lemah.


"Syukurlah," ujarnya, kemudian kepala pria itu tertunduk jatuh di ceruk lehernya.


"Haris ... kamu gak papa?" dengan lembut tepuknya pipi pria itu, namun Haris tak kunjung memberi nya jawaban.


Sekali lagi ditepuknya pipi pria itu, kali ini ditambah dengan tepukan di punggung, namun Haris masih juga diam tak bergerak, ketika Elena hendak menepuk lagi, tangannya terbentur benda keras yang kini menancap di punggung sebelah kiri pria itu, seketika itu juga Elena menjerit Histeris.


"Hariiiiisss," Elena menjerit sekuat tenaga, "Toloooooong, siapa saja toloong kami." Teriak Elena meminta bantuan.


Beberapa pekerja dengan cekatan menyingkirkan apapun yang berada di dekat Haris yang tengah menutupi tubuh kekasihnya, kini Elena bisa duduk dan memeluk kepa pria itu, Elena menangis meraung raung "Hariiiiis ... sadar, aku mohon sadarlah ... tolong jangan seperti ini, aku sudah menepati janjiku menemui mu, maaf maaf kemarin aku pergi tanpa mengabarimu." Elena yang masih terus menangis tak menyadari kini blouse dan celananya bersimbah darah pria itu.

__ADS_1


Petugas medis yang memang selalu bersiaga di proyek pun datang dengan ambulance, pertolongan pertama segera di berikan, namun mereka tidak berani mencabut besi yang kini menancap sempurna di punggung Haris, khawatir ada pendarahan berlebihan.


"Elena," Bagus yang baru tiba di proyek segera memeluk nya. "Jangan menangis, aku yakin Haris akan baik baik saja."


"Ini salahku, dia begini karena menyelamatkan ku, tubuh Elena bergetar Hebat,"


"Tidak, ini bukan salahmu, jika aku yang berada disini, aku pun akan melakukan hal yang sama padamu." Bagus mengusap punggung Elena.


"Nona, anda juga perlu diobati," Mark berujar dengan penuh kekhawatiran.


"Aku gak papa Mark, mana Haris?"


"Tuan sudah di bawa ke ambulance, saya yang akan mendampingi."


"Tidak, biar aku saja, tanpa di minta dua kali Elena bangkit, tak peduli dengan penampilannya, blouse nya yang sobek di kedua bagian siku nya, menampak kan luka yang tengah di deritanya, namun dia tak menghiraukan nya.


Bagus menggenggam lengannya, "Biar aku saja yang mendampingi, kamu naik mobil saja bersama Mark," Bagus masih berupaya membujuknya.


Namun Elena menggeleng, "aku yang akan mendampingi nya, bisa kan kamu mengerti perasaan ku, karena aku dia begini, jadi aku yang akan bertanggung jawab."


"Okay, kita berdua yang masuk Ambulance, Mark ikuti kami dengan mobil."


Mark pun mengangguk.


Bagi Elena, perjalanan menuju RS terasa sangat lama, dia terus berlinang airmata, sementara, darah belum juga berhenti mengalir dari punggung Haris, "Kita ke RS mana?" tanya Elena pada petugas medis yang kini tengah menempelkan sebuah benda untuk mengurangi pendarahan.


"William Medical Center nona, itu pusat medis terbesar dan terlengkap yang ada di dekat lokasi kita.


Elena mengangguk, tangannya yang tengah menggenggam tangan Haris kini tampak memutih, menandakan dia tengah meremas tangan pria tersebut.


Bagus hanya bisa mengamati kedua sahabatnya tersebut, diusapnya kepala Elena.


Elena menoleh "Dia akan baik baik saja kan." air matanya menetes, senyumnya terlihat getir dan penuh kekhawatiran.


Bagus mengangguk dengan yakin.


"Padahal, aku ingin mengatakan sesuatu padanya." kini Elena sungguh ketakutan, namun segera di tepisnya segala firasat buruknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2