Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
30


__ADS_3

Hamparan indah persawahan nampak mamanjakan mata, panas matahari bercampur angin sepoi sepoi membuat baju yang semula basah karen cipratan air, kini menjadi kering sempurna.


sejak awal, Marto sudah diminta membawa mobil dengan kecepatan sedang, nyatanya tak sia sia, kini Haris dan Elena disuguhi pemandangan yang jarang mereka jumpai.


Setelah beberapa menit melalui persawahan, kini mobil berbelok mamasuki perkampungan penduduk, beberapa warga yang berpapasan dengan mobil mereka, nampak tersenyum, anak anak kecil berlarian mengejar mobil yang melaju perlahan.


"Om bos ikut naik om ... " teriakan anak anak yang saling bersahutan, berharap bisa ikut menaiki mobil dakar dengan bak terbuka tersebut.


Priyo terlihat bahagia melihat anak anak kecil berlarian mengejar mobil yang sedang ditumpangi nya.


"Iya ... tunggu" kemudian Priyo memberi aba aba pada Marto untuk menghentikan mobilnya.


"Ayo sini ... " dengan sabar Priyo membantu anak anak itu naik ke mobil, setelah semua nya naik, mobil kembali berjalan, suara riuh bahagia anak anak mewarnai perjalanan mereka.


"Sudah pada pulang sekolah?" tanya priyo.


"Sudah om" jawab mereka serempak.


"Sekolah yang pinter yah, kalo ada yang juara 1, 2, atau 3 bawa raportnya ke om, nanti om kasih hadiah"


"Hadiah apa om ...?" anak anak yang mendengar kata Hadiah mendadak riuh bersorak kegirangan.


"Rahasia, biar kalian semangat"


"Yaaaa ... " anak anak itu mendesah kecewa.


"nih ... teman teman om juga banyak uang" Priyo menunjuk ke arah Haris dan Elena yang sejak tadi menjadi penonton, namun entah energi apa yang di tularkan anak anak polos tersebut, melihat mereka tertawa riang membuat 2 orang kota tersebut merasa bahagia.


"kalian mau hadiah apa? teman teman om ini yang akan beliin hadiah, tinggal tunjuk"


"horeeeee ... "


"horeeeee ... "


Riuh suara bahagia anak anak menemani perjalanan mereka menuju kediaman Priyo.


Kemudian, mobil pun berhenti di halaman luas sebuah rumah besar di desa tersebut, untuk ukuran pedesaan rumah Priyo sangatlah besar, halaman luas dengan beberapa pohon mangga di sisi kanan dan kiri, belum lagi pendopo yang tampak bersih, tak ada yang istimewa di pendopo tersebut, hanya sebuah televisi layar lebar nampak bertengger manis di dinding.


"Anak anak tadi bahagia sekali" ujar Haris, sambil mengamati setiap sudut di pendopo tersebut.


"Begitulah anak anak, dunia nya masih dunia bermain, asal diberi semangat dan sedikit apresiasi jika mereka berhasil, itu akan berefek luar biasa"


"TV mu besar sekali"


"Itu buat para pekerja yang suka nonton bola" Priyo menjelaskan tanpa di tanya, ketika Haris dan Elena mengamati setiap sudut pendopo tersebut, "itung itung mereka ngeronda di rumahku ... "


"Kenapa mereka tidak nonton d rumah masing masing?" Haris bertanya heran.


"Karena hanya di sini tempat dengan jaringan internet tercepat, tentunya bukan hanya untuk hiburan, tapi juga tempat edukasi" Priyo menjelaskan "Tentunya aku hanya berharap, mereka bangga menjadi petani, lumbung pangan negara kita tetap aman, tanpa berharap dari negara lain." Sampai di sini Haris merasa, Sahabatnya ini pasti bukan orang sembarangan.


Karena di perlukan keikhlasan dan ketulusan luar biasa untuk bisa berada di posisi Priyo saat ini, dulu selepas magang, Bagus dan Priyo sama sama di panggil kembali untuk bekerja di HS grup, jika Bagus adalah seseorang yang dipilih Krisna sebagai tangan kanannya, maka Priyo langsung dipilih Harun Sebastian untuk di siapkan menjadi orang kepercayaan beliau, namun semenjak Bapak nya Priyo meninggal, dia memilih kembali ke desa nya, demi amanah kedua orangtuanya.


Tak lama dari dalam rumah, keluar bocah lelaki berusia 3 tahun, bocah itu nampak berlari menghampiri Priyo, suara riang nya mendadak membawa suasana ceria.


"Appaaa ... " teriaknya.


"Waah Anak papa udah mandi?" Priyo mencium gemas pipi anak nya

__ADS_1


"Dah ... " jawab nya.


"Uuuh pinter, tadi main air juga sama sabrina" tanya priyo.


"Nda ... di cama ammaa ... "


"Oh main air nya sama mama"


Bocah itu mengangguk riang.


"Besok main airnya sama om Haris dan Tante Elena yah"


"Nda au ... "


"Ga mau? kenapa?"


"Bcok au kap itan"


"Oh iya besok waktunya tangkap ikan"


"Yam uga"


"Ayam juga?"


Rio mengangguk senang.


"Lho sudah lama datang nya? kok aku gak denger suara mobil?" Ayu yang sejak tadi tak terlihat, kini keluar dengan wajah segar usai mandi.


"Nggak barusan dateng nya"


"Ngga papa, nikahnya memang mendadak, dan hanya keluarga yang hadir" Ayu nampak tersenyum tulus, dalam hati Elena berkata sungguh beruntung Priyo mendapatkan wanita seperti Ayu sebagai istrinya.


...****************...


Malam itu pendopo rumah Priyo nampak ramai dengan gelak tawa penghuni rumah beserta tamu tamu nya, beberapa warga juga nampak riuh ramai menyaksikan Pertandingan sepak bola.


Sementara Priyo dan Haris memilih untuk tetap di pendopo bersama para warga yang masih menyaksikan sepak bola, Elena lebih memilih istirahat menemani Ayu menidurkan Rio.


Bocah 3 tahun itu nampak menggemaskan saat tertidur, setelah sebotol susu tandas tak bersisa, Rio pun memejamkan mata.


"Mudah sekali dia tertidur?" Elena menggumam, namun masih terdengar di telinga Ayu.


"Asal tau caranya saja, anak anak tidak bisa berbohong, saat dia mengantuk dia akan mengekspresikan nya dengan tidur, saat dia belum ingin tidur, kita yang harus mencarikan aktivitas yang membuat dia lelah kemudian tertidur" jelas Ayu.


"Sepertinya kamu sangat memahami Rio" ujar Elena.


"Ibu adalah seseorang yang paling memahami anak anak nya" Ayu tersenyum "Nanti kalau kamu sudah menjadi ibu, insting alami mu akan bekerja dengan sendirinya"


"Heeeeemmmm menjadi ibu yah, entahlah aku belum memikirkannya"


"Kenapa? kamu tidak ingin menikah dan memiliki keluarga?" Ayu bertanya.


"Ingin, tapi mungkin nanti suatu saat, aaahhh sudah lah ga seru kalau membicarakan aku" Elena mencoba menghindari topik yang sedang Ayu bicarakan "BTW maaf yah, kalau kedatangan kami mengganggu kalian"


"Apa maksudmu mengganggu?" Ayu mengernyitkan keningnya "kamu tau, dulu awal awal aku menikah dengan mas Priyo, setiap malam sebelum tidur dia selalu berkata, kalau dia merindukan teman temannya, kadang dia tersenyum sendiri ketika melihat sesuatu yang mengingatkan nya pada kalian".


"Benarkah?".

__ADS_1


"Tentu saja, Mas priyo sangat menyayangi kalian bertiga, malah terkadang aku iri pada kalian" Ayu mencebikkan bibirnya.


"Hahaha kamu ternyata lucu juga, Oh iya giman cerita nya kalian bisa menikah" tanya Elena Penasaran.


Ayu mengingat bagaimana ia akhirnya berjodoh dan menikah dengan suaminya "Itulah misteri jodoh, kadang kadang aku masih bertanya, kenapa malam itu orang yang dipilih tuhan untuk menolong Bapakku adalah mas Priyo" Lalu Ayu mulai berkisah, bagaimana akhirnya, dirinya dan priyo bisa menikah.


(Yang penasaran sama part nya Ayu dan Priyo nanti aku bikinin Extra part yah, bukan apa apa othor udah gak sabar pengen kondangan 😂😂)


Dan Elena benar benar di buat takjub dengan misteri jodoh, lalu dirinya menunggu siapa? cinta pertamanya kah?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


waduh duh duh cinta pertama yang mana lagi 🙄


.


kesian amat si abang udah nungguin lama, ternyata punya pesaing si cinta pertama 🤧


.


next part, othor sentil sedikit tentang misteri si cinta pertama 😘


.


like like like komen and vote please 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2