Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
Extra Part 2


__ADS_3

Haris menghujani wajah istrinya dengan ciuman, Elena sampai geli dibuatnya.


"Stop!" ujarnya di sela sela ciuman Haris yang masih belum berhenti.


Haris terdiam, "Kenapa?"


Elena melihat sekeliling, "Aku malu di lihat banyak orang," bisik Elena malu, wajahnya mulai memerah akibat ciuman bertubi tubi dari suaminya.


Haris tertawa gemas, "apa kamu lupa kita ada di mana?" tanya Haris.


"Iya sih, tak akan ada yang peduli, tapi aku tetap malu," Elena menunduk, jari jari nya mulai memainkan dasi yang masih menggantung di leher suaminya.


"Aaaah... aku faham, apa kamu ingin segera melakukannya?" Haris menyeringai, senang sekali akhirnya ia bisa kembali menggoda istrinya.


Wajah Elena masih merah, pikiran nya mulai kacau, perkataan Haris membuat otak ya traveling ke arah 'sana', karena bagaimanapun mereka sudah menikah, jadi sangat wajar jika Haris menginginkan hal 'itu', namun tetap saja Elena malu, ini akan jadi pengalaman pertama mereka.


Elena, mencubit pinggang suaminya.


"Aaaauuww ... sakit sayang," Haris mengeluh.


"Kalimatmu terlalu vulgar,"


"vulgar yah," Haris menunduk kemudian berbisik di telinga istrinya, "Aku bisa lebih dari sekedar vulgar sayang,"


Bluuussshhh ... Elena semakin salah tingkah.


'Oh ya Tuhan, tolong jaga jantungku agar tetap di tempatnya' Elena memohon dalam hatinya.


Tengkuknya mulai meremang, 'please otak jangan traveling ke mana mana'


"Kok diam?" pertanyaan Haris membuyarkan lamunannya.


Haris semakin menyeringai, menatap rona merah di wajah istrinya.


Elena hanya menggeleng, kemudian kembali menyembunyikan wajahnya di pelukan suaminya.


"Ayo kita pulang ke apartemen ku, kamu pasti ingin segera istirahat," menyadari Elena tengah menahan malu, Haris pun berinisiatif mengajak Elena pulang ke apartemen nya.

__ADS_1


Namun Haris kebingungan melihat barang bawaan Elena, "Mana barang bawaanmu sayang?" tanya Haris ketika menyadari didekat mereka hanya ada sebuah koper kecil.


Elena hanya menunjuk koper berwarna biru yang ada di dekat nya.


"Hanya ini?"


"Iya"


"Kamu yakin tidak ada barang yang tertinggal?"


"Tidak, memang hanya ini barang yang aku bawa," Jawab Elena santai.


"Kamu gak sedang nge prank aku kan? kamu beneran 6 minggu disini kan? bukan kembali besok kan?" pertanyaan Haris terdengar gusar.


Elena terkekeh sendiri, melihat Haris panik karena mengira dirinya sedang di prank.


"Jangan tertawa, aku serius,"


"Dan aku duarius bang." Elena kembali mengembangkan tawanya.


"Jadi abang ingin tahu, kenapa barang barang yang aku bawa hanya ini?" tanya Elena.


Elena memainkan jari jarinya di dada suaminya, wajah nya masih malu malu, namun ia memberanikan diri menatap kedua mata milik Haris, "Aku ingat ada seseorang yang pernah bilang, bahwa seluruh hatinya hanya milikku, benar begitu,"


Seperti boneka, Haris segera mengangguk cepat.


"Dan bahkan seluruh isi dompet nya juga milikku, apa itu masih berlaku?"


"Tentu, dan tidak ada tangga Expired nya."


Jawaban Haris sungguh tak main main.


Elena tersenyum lebar, "Kalau begitu inilah saat nya, aku akan menghamburkan uang suamiku, karena selama enam minggu ke depan kartu kartu di dompetku tidak berlaku, aku akan bertingkah seperti lintah yang menyedot habis seluruh isi dompet suamiku," Elena membuat nada bicaranya seolah olah dia istri yang materialistis.


"Hahahaha ... " Haris tertawa keras, melihat tingkah istrinya, tentu saja ia tak keberatan jika Elena ingin bersenang senang kartu milik nya. "Baiklah ... kalau begitu kamu ingin memulai dari kartu yang mana? asal kamu tahu, di dompetku ada tiga warna kartu, silver, gold and black, yang mana dulu yang kamu inginkan, pakai sesuka hatimu, habiskan jika bisa,"


Pandangan Elena berbinar, tak menyangka bahwa candaan nya dianggap serius oleh sang suami, tentu saja ia sangat bahagia.

__ADS_1


"Ayo kita pulang, aku tidak sabar ingin memelukmu semalaman," Haris membawa Elena ke pelukannya, sementara tangan kanannya menarik koper kecil milik istrinya.


Masih dengan lengan saling memeluk, Mereka berjalan menuju tempat parkir.


Sementara itu, di setiap sudut Airport, beberapa pria berpakaian layaknya turis sedang saling memberikan aba aba, tak lain mereka adalah para pengawal pribadi yang sedang bertugas mengawal putri kesayangan tuan Harun Sebastian.


...****************...


Bangunan apartemen itu tinggi menjulang di pusat kota.


Mobil yang di kendarai Haris memasuki kotak besi raksasa, kemudian kotak besi itu membawa mereka menuju lantai sepuluh, sebuah tempat parkir private menyambut mereka.


Segera setelah mobil berhenti di tempatnya, Haris segera membawa Elena menuju unit apartemen miliknya, yang masih berada di lantai tersebut.


Apartemen itu sungguh jauh dari apa yang Elena bayangkan, ia membayangkan Apartemen Haris adalah apartemen kecil yang hanya berisi dua kamar tidur, ruang tengah dan dapur.


Namun ternyata suaminya benar benar sukses membuat sebuah kejutan untuknya.


Apartemen Haris ternyata sangat luas, nuansa putih dan abu abu nampak mendominasi, khas warna pria, lengkap dengan furnitur modern yang sungguh memanjakan mata, ruang keluarga hanya berisi sofa dan televisi layar lebar, tak ada vas bunga atau hiasan hiasan keramik, semua yang ada di ruangan itu bernuansa modern minimalis, sesuai keinginan Elena, sepertinya Haris sudah sangat faham apa yang disukai atau tidak disukai oleh istrinya tersebut.


"Apa ruangan ini di buat usai kita menikah?" tanya Elena penasaran.


"Iya," Jawab Haris singkat. "Kemarilah aku akan menunjukkan sesuatu."


Haris membawa Elena menghadap ke dinding di salah satu sudut ruang tengah tersebut, buat apa Haris membawanya menatap dinding kosong, pikir Elena, namun kemudian Elena nampak sangat takjub, manakala dinding kosong dihadapannya tiba tiba bergeser dan berganti dengan hamparan pemandangan malam di pusat keramaian kota, dengan lampu lampu yang berkelap kelip.


Elena membekap mulutnya, "Oh my god ... sayang ... ini indah sekali," kedua mata Elena nampak berbinar, ia sungguh menyukai nya, ini pasti apartemen dengan pemandangan terbaik.


"Kamu suka ... aku sengaja membuat desain jendela seperti itu, agar tetap bisa menikmati pemandangan di luar, walaupun kita sedang berada di dalam apartemen." Haris memeluk erat Elena dari belakang.


"Iya ... suka sekali," Jawab Elena, kepalanya kini sudah bersandar di dada suaminya, dan menikmati pelukan hangat dari nya. "Aku ingin berendam apa ada bathtub?"


Tanpa bicara Haris membawa Elena menuju kamar utama, ruangan yang akan menjadi kamar mereka, ruangan itu pun memiliki desain yang mewah namun tetap minimalis, dengan warna putih dan cream, "Ini kamar kita, periksalah sendiri kamar mandinya, semoga kamu suka."


Elena berjalan menuju walk in closet yang terhubung dengan kamar mandi, matanya berbinar manakala menatap bathtub berwarna hitam, dengan deretan aroma terapi di rak perlengkapan mandi.


"Mandilah, aku akan memesan makan malam untuk kita." Haris berbisik ditelinga Elena, tak lupa mendaratkan sebuah ciuman di pipi istrinya.

__ADS_1


Tak lama setelah kepergian Haris, elena tampak menarik nafas lega, dia sibuk menghirup dan membuang udara, tanpa Haris ketahui, sejak memasuki pintu utama apartemen, Elena sudah mulai berdebar debar, dan semakin berdesir hebat manakala memasuki kamar mereka, 'Apa dia tidak deg degan seperti ku, oh ya tuhan, aku grogi sekali, seperti sesak nafas ketika berdekatan dengannya'.


__ADS_2