Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
20


__ADS_3

"Dan yang di ujung sana itu Arsitek nya, namanya Haris"


Haris yang sejak tadi fokus dengan gambar gambar di layar laptop nya, tampak acuh dengan suasana di sekitar nya, hingga dia tidak menyadari kalau ada orang baru di ruangan tersebut.


"Haris ... " Bagus memanggil.


"Iya ... " barulah pria itu menoleh, namun dengan cepat rona wajahnya berubah, ketika menyadari siapa orang baru yang ada di hadapannya.


"Kamu?" ujar Anita, matanya membelalak lebar, wajah nya nampak terkejut sekaligus tak percaya melihat pria yang batu saja berbalik ke arah nya.


"Anita?" senyum samar tersungging di bibir nya.


"Haris" sapa Anita ceria.


"Waaahhh lama gak ketemu, kamu banyak berubah yah"


"Ya begitulah, mungkin karena Sekarang aku mulai tua" Haris merendah.


"Heeeeii ayolah, kamu belum tua kali, dewasa lebih tepatnya" Ujar Anita dengan tatapan menggoda.


"Kalian saling kenal?" Bagus yang sejak tadi memperhatikan interaksi kedua rekannya itu, tiba tiba menengahi.


"Hem, kami satu sekolah ketika SMU" jawab Haris singkat.


"Yakin hanya teman?" tanya Bagus lagi, namun pandangan matanya menatap Elena.


"Iya hanya teman, walaupun dia pernah menolakku" jawab Anita jujur.


Bagus membekap mulutnya, tak percaya dengan pengakuan Anita yang begitu blak blakan. "Oh my God" ucap nya.


Lagi lagi Bagus menatap Elena, berharap ada perubahan ekspresi wajahnya, namun wajah Elena tetap datar seolah tak terpengaruh, dia hanya heran, kenapa Bgus seolah-olah sedang mengejek dirinya "Apa lu lihat lihat" ucapnya tanpa suara.


Kemudian Bagus pun berbisik di telinga Elena, "Rival kamu tuh" bisiknya pelan.


Elena balas menatap Bagus dengan pandangan aneh "ngaco kamu" Elena mendorong kening Bagus menjauh dari telinganya, dia pun kembali ke kursinya dan mulai fokus dengan tumpukan pekerjaan di hadapannya.


Sementara Haris dan Anita masih melanjutkan perbincangan, hingga perbincangan mereka terpaksa terhenti, Karena Haris mendapat panggilan dari mandor proyek, yang ingin bertanya perihal desain bangunan.


Sampai jam makan siang, Haris belum juga kembali. Syafira yang sejak tadi berkutat dengan Laptop, kini tampak mengedarkan pandangan, semua nya nampak sedang fokus pada pekerjaan, dia pun berinisiatif bertanya.

__ADS_1


"Maaf, ada yang mau pesan makan siang, kebetulan saya sedang malas keluar" Tanya Syafira.


"Fira, buatku pesankan saja seperti biasa, jangan lupa extra sambal nya" Bagus menjawab, tanpa mengalihkan pandangannya.


"Baik pak" Syafira mengangguk kemudian mencatat pesanan sang atasan.


"Nona Elena, mau makan siang apa?"


"Aku belum ingin makan, Pesan kan dim sum saja barang kali nanti aku ingin camilan"


Syafira pun mencatat pesanan Elena "mau yang isi ayam atau seafood nona?" Tanya Syafira memastikan.


" mix aja, pesankan 30 pcs yah, nanti kalau gak habis aku bawa pulang"


Syafira mengangguk faham.


"Baso urat 79" Anita yang sedang sibuk menata brosur pun berucap sebelum Syafira bertanya.


"Baiklah, ada tambahan?" tanya nya lagi.


" ice cappucino, yang 1 liter yah, buat persediaan di lemari pendingin"


"Kurang, pesen sekalian 5 liter, capuccino, americano, cold brew, lemon tea, dan thai tea" Bagus menambahkan "Kalo lemari pendingin nya kosong, ntar ada yang mengira ini ruangan dedemit" Bagus menatap Elena tajam.


...****************...


Menjelang jam 3 sore, Haris pun menampakkan dirinya, setelah meletakkan gulungan gambar di mejanya, dia menarik kursi dan memposisikan dirinya di samping Elena, kemudian menatap intens gadis yang nampak acuh dengan kehadiran nya, karena tidak mendapat perhatian Haris pun mulai bosan, matanya menangkap bungkusan makanan di meja Elena yang nampak belum tersentuh.


"Kamu belum makan?" tanya nya.


Elena hanya menjawab dengan anggukan. "makan aja kalo kamu lapar"


"Oke, aku cuci tangan dulu" Haris beranjak menuju toilet, bukan hanya mencuci tangan, tapi haris juga membasahi sebagian rambut, kemudian mencuci wajahnya, udara di luar ruangan benar benar membuat siapapun ingin segera menenggelamkan diri ke kolam renang.


"Nita ... Kemana Bagus dan Syafira" Haris bertanya ketika mengambil beberapa lembar tisu di dekat meja Anita.


"Mereka ke kantor pusat, untuk koordinasi dengan beberap tim dari proyek yang akan segera rampung bulan ini".


Haris mengangguk paham "Si kampret itu benar benar jadi orang penting" gerutunya pelan.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? kampret? berani beraninya kamu memanggil atasanmu dengan sebutan itu" sela Anita.


"Hahaha aku bahkan tau nama sapi kesayangan nya di kampung" Haris berujar sembari menahan tawa.


"Si Bejo" Elena menimpali, dia tak kuasa lagi menahan tawanya.


"Kamu tau, dia menangis tiga hari tiga malam, gara gara ibunya menjual sapi itu ke tetangganya yang sedang mengadakan hajatan" Haris bercerita riang seolah tanpa beban. "dan hari berikutnya dia demam setelah tau, bahwa uang hasil menjual si bejo, di pakai untuk membayar uang kuliahnya selama 2 semester".


Anita diam membeo "kalian kenal dekat?" Anita semakin penasaran.


Haris kembali duduk di sisi Elena, kemudian mulai membuka bungkusan dim sum di hadapannya.


"Iya, kami bertiga teman satu jurusan, sebenarnya sih berempat" Haris mulai dengan suapan pertama nya.


"Ooowww pantas, kalian seperti tidak canggung satu sama lain"


"Iya, dan kebetulan selepas kelulusan, ini kali pertama kami bertemu lagi di proyek" Kenang Haris, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang sejak tadi masih sibuk dengan pekerjaan nya "Kamu belum juga selesai?" tanya Haris penasaran.


"Iya sedikit lagi, setelah itu di kirim ke Bagus, untuk d serahkan ke kantor pusat"


"Kamu belum makan siang, sini buka mulutmu!!" perintahnya.


Tanpa menunggu di perintah kedua kalinya, Elena pun patuh membuka Mulutnya, dan suapan pertama pun singgah ke dalam mulutnya, Elena yang memang sejak siang belum makan, otomatis kembali membuka mulutnya berharap Haris segera menyuapkan dim sum, namun lama dia membuka mulut, tak jua ada dim sum yang singgah ke dalam rongga mulutnya, tentu saja hal itu membuat Elena menoleh, ternyata haris tengah sekuat tenaga menahan tawanya.


plak


Sebuah pukulan mendarat di lengan nya, tentu saja membuat Haris semakin keras tertawa.


"Oke oke maaf, sekarang beneran disuapin deh, asli ga bohong"


Haris pun kembali menyuapi Elena, tanpa mereka sadari interaksi itu, membuat seseorang yang juga berada d ruangan tersebut merasa diabaikan.


Sejak lama Anita menyimpan rasa pada Haris, namun ketika SMU Haris selalu dingin dan acuh pada lawan jenis, bahkan dengan terang terangan Haris menolak ketika Anita menyatakan perasaannya, namun demikian bukan Anita namanya, kalau dia menyerah begitu saja.


Cuek dan acuh pada lawan jenis, tak berarti membuat nya cuek dan acuh ketika bergaul dengan teman teman pria, karena itulah Haris aktif di hampir semua ekstra kurikuler berbasis olahraga dan OSIS, tak pantang menyerah Anita pun ikut bergabung di OSIS demi bisa berdekatan dengan pria yang dia incar sejak lama.


Setelah kelulusan, Anita tak bisa lagi mengikuti Haris karena perbedaan minat dan bakat ketika kuliah, sejak saat itu mereka tak pernah bertemu, entah kebetulan ataupun disengaja.


Anita pikir, setelah lama tak berjumpa, perasaannya pada Haris akan menghilang dengan sendirinya, namun nyatanya, pagi tadi ketika matanya menatap pria yang sama, jantung nya masih menggaungkan detakan yang sama ketika dulu pertama kali mereka bertemu.

__ADS_1


"Bahkan ketika kita sering berinteraksi dulu, kamu gak pernah semanis ini padaku, sakit sekali rasanya, apa istimewanya gadis itu, hingga membuat mu berubah dari sesorang yang dingin tak tersentuh, menjadi sosok yang hangat dan penuh perhatian"


Tak terasa butiran bening meluncur begitu saja dari kelopak matanya, jemari tangannya mengepal kuat pertanda dirinya sedang menahan amarah.


__ADS_2