
POV Haris
Kata orang, patah hati terhebat adalah ketika terpisah dari seseorang yang paling berharga dalam hidup, itulah aku, di usiaku yang masih sangat belia, aku kehilangan sosok paling berharga dalam hidupku, aku kehilangan seorang ibu, seorang yang paling tulus menyayangi ku, penyakit ganas menggerogoti raga ibuku, hingga akhirnya raga beliau tak mampu lagi melawan.
Duka yang teramat dalam membuatku enggan berdekatan dengan gadis manapun, aku merasa menyakiti ibuku bila aku menduakannya dengan wanita lain, Ibuku adalah wanita yang selamanya menjadi penghuni hatiku, karena itulah, aku menolak semua gadis yang menyatakan perasaannya padaku.
Begitulah aku sebelum bertemu dengannya.
Bertemu dengan gadis manis yang sedikit bandel pada masa sekolahnya, bertemu dengannya membuatku melupakan dukaku karena kehilangan ibuku.
Awal mula melihatnya, aku tak mampu berucap, aku terdiam, benar benar hanya diam dan menikmati wajah cantiknya, gadis itu sedang memanjat pagar, karena terlambat datang ke sekolah, dan meminta pertolongan ku untuk membantunya memanjat, aku seperti tersihir ketika menerima permintaan nya, namun aku tak menyesal karena sesudahnya, dia menghadiahkan padaku senyum manisnya.
Kedua kalinya, aku tak sengaja bertemu dengannya di parkiran motor, dan aku sedih karena dia tak lagi mengingat ku, tapi hatiku berdebar bahagia ketika kembali melihat nya, kala itu dia tampak linglung, entah apa yang tengah dia pikirkan.
Dan ketika aku menjadi penentu kemenangan tim basket sekolahku, ku lihat dia bersorak dan berteriak bahagia, itu senyum tercantik yang pernah kulihat, mungkin teman temannya akan berfikir gadis itu tak waras, karena dia bersorak bahagia padahal tim basket sekolahnya kalah dalam pertandingan, tapi bagiku, piala kemenangan tak berarti apa apa, namun teriakan bahagianya adalah hadiah terbaik untukku.
Kali ke tiga aku melihatnya adalah ketika masa orientasi mahasiswa baru, tanpa sengaja sudut mataku menangkap wajah cantiknya yang tengah kebingungan, dengan penuh harap aku mendekati nya, entah lah hanya berharap semoga tuhan mendekatkan dia padaku, dan ternyata tuhan benar benar mendekatkannya padaku, kami tergabung di kelompok yang sama, bahkan dia satu satunya gadis dalam kelompok kami.
Begitulah awal mula perkenalan kami, dia benar benar polos dan ceria, bahkan sama sekali tak mengingat kalau kami pernah bertemu, tapi tak masalah bagiku, aku ingin selalu di dekatnya, bahkan di hari ke dua orientasi kami sama sama terlambat, kami menjalani hukuman bersama kala itu, siapa sangka kami jadi semakin dekat, dan aku merasa tuhan sedang mendekatkan kami.
Dan begitulah kedekatan kami berjalan dengan alami, bersama 2 orang teman kami yang lain, kami menjalani masa masa mahasiswa penuh kenangan dan suka cita.
Duniaku seolah berhenti berputar, manakala dia menolakku, sungguh harga diriku sangat terluka, hancur se hancur hancurnya perasaanku.
Namun tak selamanya gagal itu menyedihkan, di tengah keputusasaan ku, setitik harapan muncul, harapan untuk menjadi sosok yang lebih baik.
Dengan tekad sekuat baja aku tinggalkan negaraku, demi menempa diriku menjadi sosok yang terbaik, entah aku tak faham 100 % apa maksud perkataan om Harun kala itu, tapi hati nurani ku berkata aku harus menjadi seseorang yang lebih baik, agar Elena melihat siapa diri ku.
Susah dan senang, gagal dan bangkit, sudah menjadi makanan sehari hari, selesai kuliah, ku habiskan waktuku untuk bekerja paruh waktu, dan usai bekerja aku kembali berteman sepi, entah kenapa bayangan Elena tak juga sirna, semakin aku ingin melupakannya, seolah olah dia semakin lekat dalam ingatan.
Hanya deretan foto foto lama yang menemani kerinduanku, kerinduan yang seakan tak memberiku jeda untuk bernafas.
Hingga 8 tahun berlalu, akhirnya aku berkesempatan kembali ke negaraku, sungguh tak berniat untuk berdekatan dengannya, namun takdir seolah tak memihakku, bahkan di menit menit awal kedatangan ku, tuhan kembali mempertemukan kami, dia berubah, Elena versi dewasa yang justru semakin mempesona, membuat jantungku kembali berdebar, dan berdetak hebat.
Ternyata cintaku belum sepenuhnya mati, dia hanya tertidur sesaat, kemudian kembali terbangun manakala tuhan kembali mempertemukan aku dengan nya, hingga sebuah tekad pun terucap, kali ini aku tak akan menyerah dan gagal.
Dan disinilah aku, kembali hanya demi mempertanyakan keseriusan perasaanku, bukan perkara mudah bagiku untuk kembali dekat dengannya, tapi nyatanya Elena tetep menduduki tempat spesial, karena hanya dengan sedikit obrolan membuat kami kembali dekat.
Entah ini di sebut kemalangan atau keberuntungan, tragedi malam itu membuat kedua orang tua kami menginginkan kami menikah, aku tak peduli apakah Elena mencintai ku atau tidak, asal dia bersedia berjalan bersamaku, aku akan melimpahkan seluruh cintaku untuknya, menjadi orang pertama yang akan mendengar keluh kesah dan cerita bahagianya.
...****************...
Haris kembali melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya, dia mulai resah gelisah, hatinya sungguh tak tenang karena hingga detik ini calon istrinya belum juga memberi kabar, sejak bangun tidur bibirnya terus mengulas senyum mengingat kejadian malam sebelumnya, namun dia dirundung kecewa, manakala no ponsel Elena tak bisa di hubungi, seketika senyumnya memudar.
Bahkan sepanjang hari tak henti ia mencoba menghubungi gadis itu, namun nihil tak ada hasil.
__ADS_1
Bahkan beberapa kali Mark jadi sasaran kemarahannya, asisten sekaligus rekan kerjanya tersebut hanya diam, beberapa tahun mengenal Haris, membuatnya memahami kalau Haris tengah resah, karena nya dia jadi uring uringan.
"Kalau boleh saya tahu tuan, apa yang membuat anda resah sepanjang hari ini?" tanya Mark setelah akhirnya mereka menyelesaikan pekerjaan hari ini.
"Dia belum ada kabar Mark, sejak pagi tadi aku menelpon nya, tapi belum juga ada jawaban." Haris menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, sementara matanya terus menerus menatap layar ponsel miliknya.
"Jika anda seresah ini, kenapa tak mencoba menelepon kantornya? siapa tahu nona ada di sana?"
"Sudah, mereka bilang hari ini Elena tak ke kantor,"
Mark pun terdiam tak berani lagi mengajukan usul, hanya banyak berdoa agar dirinya tak mati muda. "Bersabarlah dahulu tuan, mungkin nona sedang sangat sibuk, saya yakin sebentar lagi nona akan menghubungi anda."
"Bagaimana kamu tahu, kalau sebentar lagi dia menghubungi ku, kamu cenayang?"
'Sabar sabar, orang sabar di sayang tuhan' Mark membatin, "Hari sudah malam tuan, tak mungkin nona akan bekerja sehari semalam, hanya tuan Haris yang melakukan itu."
"Kamu bilang apa barusan?" Haris mendelik marah, membuat Mark kembali tergagap.
"Maksud saya adalah, berhentilah sebentar tuan, lupakan pekerjaan, sebentar lagi anda akan menikah, tidakkah anda ingin merencanakan honey moon dari pada merencanakan pekerjaan yang tak ada habisnya."
Mark akhirnya mengungkapkan isi hatinya, kasihan sekali Haris, dia sudah seperti kehilangan nyawa ketika sedang bekerja, tak peduli tentang makan, apalagi waktu istirahat.
Hanya Elena yang bisa membuatnya sesaat menghentikan pekerjaan, entah magnet apa yang dimiliki calon istrinya tersebut, hingga membuatnya segelisah ini hanya karena Elena.
"Baik tuan,"
Namun belum sempat Haris melangkah keluar, Bagus yang baru saja datang berjalan melewatinya begitu saja, "Ada apa dengan wajahmu? tak biasanya wajahmu sekusut itu, apa ada masalah?" Haris melihat raut wajah tak biasa dari sahabatnya tersebut.
"Iya, tapi nanti saja setelah pernikahanmu, aku akan bercerita."
"Janji yah?"
"Iyaaaa ... " Bagus menjawab malas. "Kamu sendiri kenapa? Belum melihat Elena?"
"Kok tahu?"
"Ekspresi mu terlalu jelas, dan mudah di baca,"
...****************...
Akhirnya Haris harus menyerah, jari tangannya nyaris kebas, karena sejak pagi mencoba menelepon Calon istrinya, namun hingga saat ini belum mendapat jawaban.
rasa lelah yang teramat sangat membuat kelopak matanya segera menutup.
Namun beberapa saat setelah matanya terpejam ponselnya berbunyi, setengah sadar haris mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Sudah tidur?" Suara lembut di seberang sana bertanya.
"Mmm ... kenapa baru menelepon?"
"Maaf, aku sibuk sekali hari ini, jadi tak sempat memegang ponsel."
"Aku merindukan mu," Haris masih mencercau.
"Me to," balas Elena.
Kali ini Haris tersenyum sendiri.
"Besok pagi aku kembali ke ibu kota,"
"Dan orang pertama yang ingin kamu jumpai adalah?"
"Kau ... " diseberang sana Elena tersipu malu "Baiklah istirahat lah, sampai jumpa esok." Elena pun mematikan panggilannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1