
Sementara itu, di kamar pengantin wanita, Elena tengah sibuk mengatur nafasnya, berkali kali ia menarik nafas, kemudian menghembuskannya perlahan, tangannya meremas tissue hingga berubah menjadi serpihan kecil, sementara perias tengah menyelesaikan tahap akhir penataan rambutnya.
Sang perias nampak tersenyum puas melihat maha karya nya, nona muda Sebastian ini benar benar cantik, wajahnya yang kini sudah berhiaskan make up nampak cerah bersinar, senyumnya manis, tubuhnya tidak terlalu tinggi namun tetap terlihat proporsional, dibalut dengan kebaya broken white makin memancarkan aura kecantikan yang selama ini tersembunyi, Elena hanya meminta rambutnya di sanggul sederhana, tak ingin ada sanggul besar menempel di kepalanya, karena bisa di pastikan itu akan terasa berat, dan pasti gatal sekali.
"Sudah selesai nona, silahkan berdiri," Perias itu menggenggam telapak tangan Elena, agar Elena bisa berdiri dengan mudah, kemudian dengan lembut perias itu membersihkan serpihan tissue yang menempel di kebaya dan kain jarit yang dikenakan Elena.
"Ini heels anda nona, mari saya bantu," Asisten perias itu membantu Elena memakai heels dengan tinggi 5 cm tersebut, kemudian dia meletakkan cermin besar dihadapan Elena, dan nampak disana bayangan diri nya setelah selesai di make up, sungguh jauh berbeda dengan tampilan sehari hari nya yang sederhana dan apa adanya.
"Perfect, hari ini anda benar benar mempesona nona, sungguh suatu kehormatan bisa mempersembahkan karya terbaik saya hari ini," perias itu berujar kagum manakala menyaksikan hasil karya nya terpampang dengan nyata.
Elena masih terdiam menatap bayangan dirinya, sungguh, bahkan dirinya sendiri tak lagi mengenali wajahnya, "benarkah ini saya?" tanya nya lirih.
"Benar sekali nona, anda nona muda Sebastian." jawab perias tersebut.
Terdengar suara ketukan di pintu, muncullah Eliza, dengan formasi lengkap, bersama suami dan putri mereka.
Eliza terbelalak menyaksikan pemandangan indah di hadapannya, "Sumpah demi apapun, kamu cantik sekali dek, ya ampun kakak sampe pengen nangis lagi," Eliza menghapus air mata yang hampir menetes.
"Stop ... jangan lagi ada air mata," Cegah Elena, ketika kakak nya hendak kembali membuat nya meneteskan air mata kesedihan, padahal Baru kemarin siang mereka berdua menangis berpelukan, membicarakan kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu, "Malu dilihat Sisi, dan kak Krisna,"
"Aaahh biarkan saja," ujar Eliza cuek, "kakak seperti sedang bermimpi, jika seperti ini, wajahmu mirip sekali dengan bunda Lilis, oh ya Tuhan kenapa juga aku harus menangis disaat bahagia seperti ini, kakak benar benar merindukan bunda," akhirnya tangisan Eliza pun pecah seketika, desakan rindu yang seakan tak ada habisnya begitu menyesakkan dadanya, Eliza bahkan tak peduli dengan make up nya yang agak berantakan.
"Papi ... kenapa mami menangis," Tanya Sisi dengan kepolosannya, gadis kecil yang memakai gaun berwarna peach itu nampak lucu dan menggemaskan.
"Karena mami sedang bahagia sayang," jawab Krisna seraya mencium pipi Gadis kecil dalam gendongannya tersebut.
Tak ingin Sisi ikut larut dalam kesedihan, Krisna pun membawa gadis kecil itu keluar, "Om Baguuus ... " Teriak Sisi bahagia ketika bertemu dengan pria itu, di koridor kamar, gadis kecil itu melompat dari gendongan Krisna, dan berlari kepelukan Bagus.
Bagus pun tertawa lebar, lengannya membentang lebar menyambut pelukan Sisi, Bagus menggendong gadis kecil favorit nya itu, dan menghujaninya dengan ciuman gemas.
"Om ... Sisi kangen," rengeknya manja.
"Om Bagus juga, maaf yah Om Bagus sibuk,"
__ADS_1
"Habis ini main sama Sisi yah,"
"Siap, mau beli ice cream juga?" Bagus menawarkan.
Gadis kecil itu pun mengangguk, interaksi itu tak lepas dari dari tatapan Krisna, pria itu sungguh tegas jika urusan pekerjaan , namun sangat penyayang dan hangat jika bersama keluarga nya.
Masih dalam posisi menggendong Sisi, Bagus berjalan mendekati Krisna, " mmm ... pak, setelah ini ada yang ingin saya bicarakan, bapak ada waktu?"
"Tentu saja," Krisna menyetujui permintaan Bagus, "urusan pekerjaan, atau pribadi?"
"Pribadi pak," Jawab bagus.
"Atur saja waktu dan tempatnya,"
"Kalau bisa bersama kak Eliza,"
"Aku jadi penasaran, atau kita bicara sekarang saja, kebetulan istriku sedang di kamar mempelai,"
Tepat setelah Bagus selesai berbicara, dari arak kamar keluarlah Haris dan Priyo.
Haris masih dengan wajah tegangnya, menyapa Krisna dan Sisi.
Mereka pun berjalan menuju Ballroom tempat diadakannya acara.
"Kamu tak ingin melihat mempelaimu?" Bagus masih sempat menggoda Haris.
Namun Haris hanya membalasnya dengan lirikan tajam.
"Oh baiklah, kalau kamu tak mau, aku saja yang akan menyapanya," Bagus pun mengetuk pintu kamar Elena.
Tak perlu banyak bicara, Haris menarik lengan Bagus, agar pria itu urung masuk kekamar Elena, 'Enak saja dia mau menikmati kecantikan istriku' gerutu Haris dalam Hati.
"Hei pelan pelan, aku sedang menggendong Sisi, bisa bisa dia ketakutan,"
__ADS_1
"Berterimakasih lah pada gadis kecil ini, berkat keberadaannya, aku urung menghajarmu," bisik Haris.
Bagus ingin tertawa keras melihat tingkah Haris, terus terang saja, sejak tadi dia memang berusaha menghilangkan ketegangan yang tengah Haris rasakan.
Krisna dan Priyo hanya tersenyum melihat interaksi kedua nya.
Suasana ballroom sudah mulai ramai, tamu undangan sudah duduk di tempat yang telah tersedia, Haris kembali membuang nafas perlahan manakala berjalan memasuki ballroom, ia merasa seperti tengah berjalan di tengah bara api, ingin cepat berlari agar segera keluar dari panasnya Api.
Haris duduk di kursi mempelai, berdampingan dengan Ferdy, sementara Harun Sebastian, dan penghulu duduk di seberangnya, di sisi kanan dan kiri tempat kursi saksi, duduklah Bagus dan Priyo.
Wajah Haris kelihatan semakin tegang, bulir bulir keringat menetes melalui celah rambut dan menjalar ke pelipis dan pipinya, "Kamu belum lupa kalimat ijab nya kan?" Bagus kembali menggoda.
Haris sedang tak ingin menanggapi ocehan Bagus, dia hanya mengangguk, dengan tangan terkepal di bawah meja, mencoba menetralisir kegugupannya.
"Baiklah, sudah siap nak?" penghulu bertanya.
'Eh dia pake tanya lagi, dia gak tahu apa, kalo aku udah kaya mau lompat ke jurang' gerutu Haris dalam hati, namun tetap saja dia mengangguk, "Siap pak," jawab Haris yakin.
Harun tersenyum menatap wajah tegang menantunya.
Dimana mempelai perempuan?
Elena tengah menunggu di sebuah bilik, dengan layar monitor dihadapannya, diapit Marisa dan Andini, di sisi kanan dan kirinya.
Kedua ibu sambung tersebut, nampak tersenyum tulus penuh kasih dan dengan erat menggenggam tangannya, Ibu sambung suaminya, dan ibu sambungnya sendiri tentunya, dua wanita hebat dan penyayang.
Dilayar monitor, nampak Harun Tengah berdiri dengan mikrofon di tangannya, Elena tak mengerti entah apa yang akan disampaikan oleh papa nya tersebut.
"Sebelum acara sakral ini di mulai, izinkan saya menyampaikan sesuatu kepada salah satu putri kesayangan saya, yang hari ini menemukan pendamping hidupnya."
Harun berhenti sesaat, ruangan yang semula riuh dengan suara bisikan, kini tiba tiba sunyi, masing masing orang penasaran ingin mengetahui apa gerangan yang akan disampaikan tuan Harun Sebastian.
Bahkan jam dinding di ruangan tersebut seolah ikut berhenti berputar.
__ADS_1