Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
40


__ADS_3

Menjelang sore ketika Elena menghentikan mobilnya, siang tadi dirinya sudah membuat janji temu dengan Bagus.


Perasaan bimbang menggelayut di hatinya, antara ingin turun atau tetap bertahan di mobil, kalau turun kemungkinan akan bertemu Haris, namun mengingat pertengkaran nya beberapa hari yang lalu, akan kah Haris benar benar menghilang dari hadapanku? pikirnya.


tak ada salahnya dia mencoba turun untuk memastikan, Elena pun turun dari mobil membawa tumpukan pekerjaan yang akan dia serah terima kan pada Bagus.


Hanya mendatangi tempat ini saja membuatnya ingat pada pria itu, tapi entah kenapa saat ini dia sedih, bukankah yang tak menginginkan hubungan lebih dari teman adalah dirinya sendiri?


Tiba tiba seorang pria mendekatinya, pria berwajah bule itu mendekat dan menyapanya.


"Selamat sore nona" sapanya.


"Selamat sore" Elena menolah dan menjawab sapaan pria tersebut.


Elena menatap Heran pada pria tersebut, siapa dia, kenapa ada disini, berbagai tanya menyeruak.


"Siapa anda?" tanya Elena


"oh maaf, perkenalkan saya Mark, tangan kanan Tuan Haris"


kenapa Haris menempatkan anak buah nya di sini, lalu dia di mana?


"Elena ... " Jawab Elena datar.


rona wajah pria di hadapannya tampak terkejut mengetahui siapa gadis cantik yang kini berhadapan dengannya. sejenak Mark mengulum senyumnya.


wow tuan Haris anda tidak salah memilih wanita, ternyata yang asli lebih cantik dari pada yang pernah ku lihat di foto.


"Ada apa Tuan Mark? kenapa tatapan anda seperti itu?" Elena keheranan melihat mark menatap nya dengan pandangan berbeda.


"Hahaha sebelumnya maaf jika saya membuat anda takut, ternyata anda lebih cantik dari pada yang saya bayangkan"


"Maksudnya?"


Mark tersenyum simpul "sebelum saya kemari, tuan sudah mengirim kan foto anda, karena anda adalah salah satu orang yang akan saya temui di proyek ini"


"Maaf saya salah faham"


"Tak masalah nona" mark kembali tersenyum ramah. "maaf ada yang bisa saya bantu?"


"Oh saya ada janji dengan pak Bagus" jawab Elena.


"Oh saya kira anda mencari Tuan Haris, karena Tuan sudah tidak berada di negara ini" Jawab Mark pelan.


Elena terkejut, apa ia tidak salah dengar?


"Maksud anda?"


"Tuan sudah kembali ke negara paman AA, mengerjakan proyek terbaru kami, apa anda tidak d beri tahu oleh tuan?"


Blush ... rasanya Elena seperti ingin terkulai di tanah, ternyata Haris benar benar membuktikan ucapannya, wajah Elena pucat pasi, apakah kamu benar benar marah? aku pikir kamu hanya sekedar mengancam.


Elena memalingkan wajahnya, berusaha agar Mark tidak melihat nya meneteskan air mata.


Kemudian Elena berbalik kembali "Proyek apa yang sedang dia kerjakan sampai sampai dia meninggalkan pekerjaan nya di sini?"

__ADS_1


"Maaf nona, bukan kapasitas saya untuk menjawab, silahkan anda tanyakan langsung pada beliau"


Elena mendesah kecewa mendengar jawaban Mark.


"Berapa lama, dia di sana?"


"Itu juga bukan kapasitas saya untuk menjawab, karena yang mengetahui detail pekerjaan tersebut hanya tuan Harus sendiri"


tiba tiba kepalanya berdenyut.


"Baiklah Mark, terimakasih informasinya nya"


"Tak perlu nona, saya tidak merasa memberi informasi apa apa"


Mark menatap nanar gadis yang di cintai atasannya tersebut, sungguh malang nasib cinta anda tuan, baru saja engkau bahagia karena bertemu lagi dengan gadis yang sejak lama kau cintai, sekarang harus berpisah lagi.


Sementara Elena baru saja tiba di meja tempat ia biasa bekerja, Kemudian terduduk lemas di kursinya, pandangannya kosong menatap meja yang biasa diduduki Haris, entah apa yang kini dia rasakan, sakit, marah, sedih, kehilangan, hampa, semua berbaur menjadi satu.


wajah cantiknya kini murung, tak lagi terlihat manis apalagi ceria ...


"Sudah lama nunggu nya?" Bagus tiba tiba datang menyapa, membuyarkan lamunan nya.


Elena beranjak dari kursi nya, "Antarkan aku pulang" ujarnya dingin


"kok langsung pulang kan kita .... " kalimat Bagus terhenti karena Elena memotong perkataannya.


"Antarkan aku pulang" pinta nya sekali lagi.


"Bukannya tadi kamu bawa mobil"


Sampai disini Bagus mulai faham, ada yang tak beres dengan Elena, kenapa ekspresi nya jadi tak bersahabat gitu, dia menghembuskan nafas kasar kemudian berjalan menuju mobil.


Elena sudah duduk di kursi depan, menurunkan sandaran kursinya agar ia bisa setengah berbaring, kemudian menutup kedua matanya dengan Lengan kirinya, berusaha untuk memejamkan mata, sayup sayup terdengar suara isakan.


pukul 18 ketika mobil memasuki kediaman keluarga Sebastian, ternyata Elena benar benar tertidur, beberapa kali Bagus memanggil, namun gadis itu diam tak bergerak.


Dengan lembut dia mengoyangkan bahu Elena, dan gadis itu pun mengerjapkan matanya.


"Sudah sampai yah" suaranya terdengar parau.


"iya" Bagus menjawab pelan "Kamu kenapa, tak seperti biasanya kamu seperti ini?"


Elena tersenyum pahit "Apa aku terlihat menyedihkan?"


Bagus menggeleng,


"Dia pergi lagi" ujarnya sedih.


Bagus tersenyum simpul, tanpa bertanya lebih lanjut pun dia sudah tahu ada yang sedang merana "Haris?".


Sebenarnya sudah lama aku ingin bertanya, "Bagaimana perasaan mu padanya"


"Berjanjilah kamu akan pegang rahasia ini" pinta Elena, Bagus mengangguk kemudian mengangkat tangannya


"Janji" ujarnya yakin.

__ADS_1


"Aku sendiri tak tau, tapi yang aku rasakan, jika bersama nya, aku bisa tertawa, aku bisa jadi diri ku sendiri, bahkan dia mengerti diriku tanpa aku harus memberitahukan kepadanya, menggenggam tangannya aku merasa nyaman, didekatnya aku merasa aman, dan ketika dia pergi aku merasa kosong" Wajahnya nampak berbinar manakala membicarakan apa yang dia rasakan.


Bagus menghembuskan nafas perlahan.


"Ya itu namanya kamu cinta ... b*go !!! " ujar Bagus berapi api.


"Benarkah" Elena tersenyum samar "apa rasa itu bisa di sebut cinta? apa selama ini aku terlalu egois?"


"Udah jelas begitu masih juga mengelak" Kemudian Bagus memposisikan dirinya menghadap kearah Elena. "dengarkan aku baik baik, entah kamu merasakannya atau tidak, tapi kami bertiga adalah orang orang yang paling menyayangi mu setelah keluargamu, kalau aku dan Priyo menyayangimu seperti adik, Haris berbeda, dia menyayangimu sebagai wanita, dan itu tulus, aku berani menjamin, apa yang kamu takutkan?"


"Entahlah, mungkin aku takut di tinggalkan lagi, dulu sahabatku menyatakan perasaan nya padaku, tapi dia menjauh dariku setelah tau aku tak memiliki perasaan yang sama dengannya" Elena menunduk memainkan jemarinya. "aku berfikir, jika menjadi kekasih ada masanya akan bertengkar bahkan putus lalu saling menjauh, tapi kalau berteman tak perlu canggung, tak perlu sungkan, tak ada yang di takutkan, dan bagian terbaiknya adalah tak ada kata putus dalam pertemanan"


"Mau aku panggil pulang orangnya? supaya kalian bisa bicara?" Bagus menawarkan.


Elena menggeleng "Biarkan saja, dia berhak bahagia, aku ingin dia menemukan gadis baik yang bisa membuatnya bahagia, dia sudah terlalu lama menunggu yang tidak jelas"


Elena pun melambai dan turun dari mobil.


Bagus terdiam menatap kepergian Elena, Haris bukannya pergi tanpa pamit, sesaat sebelum penerbangannya, Haris sempat menelepon dirinya, mengabarkan bahwa dia harus kembali untuk mengerjakan proyek terbaru nya, katanya ini proyek penting, klien nya ingin dia sendiri yang menangani, karena itulah secepatnya dia harus kembali ke negara paman AA, dia hanya sempat menitipkan salam pada Elena, tapi malang, salam itu tak pernah tersampaikan.


Bagus menyeringai "Aku ingin kalian tersiksa dulu sedikit lebih lama"


Dia membuka Amplop coklat yang sejak beberapa Hari lalu ada di mobilnya.


beberapa saat kemudian, dia pun melaju meninggalkan kediaman Sebastian.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bagus, sini othor jewer telingamu 🤪


.


like like like komen and vote please 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2