
"Sebelum acara sakral ini di mulai, izinkan saya menyampaikan sesuatu kepada salah satu putri kesayangan saya, yang hari ini menemukan pendamping hidupnya."
Harun berhenti sesaat, ruangan yang semula riuh dengan suara bisikan, kini tiba tiba sunyi, masing masing orang penasaran ingin mengetahui apa gerangan yang akan disampaikan tuan Harun Sebastian.
Bahkan jam dinding di ruangan tersebut seolah ikut berhenti berputar.
Pria paruh baya itu menarik nafas perlahan, mengingat begitu banyak kenangan pahit dan manis selama ia menjadi orang tua, dan hari ini, ia ingin menyampaikan apa yang selama ini tersimpan dan tersembunyi di dalam hatinya.
"Putriku ... dihari bahagia ini, izinkan papa meminta maaf terlebih dahulu," baru beberapa kata yang terucap dari bibir papa nya, kelopak mata Elena sudah mulai berkaca kaca.
"Putriku, dihari engkau dilahirkan, saat pertama kali papa memeluk tubuh mungilmu, papa berjanji pada diri papa sendiri, papa akan memberikan semua yang terbaik, tak akan papa biarkan hal buruk menimpamu, sesuai namamu, kamu adalah harta papa yang paling berharga, papa berikan pengamanan terbaik, dan papa akan hadirkan lelaki terbaik kehadapanmu,"
"Dan 8 tahun yang lalu, ada seorang lelaki dengan lancang dan berani menghadapi papamu, dia mengatakan bahwa dia mencintaimu, dan akan seperti itu sepanjang sisa hidupnya, dia berjanji pada papa akan menjadi lelaki baik dan bertanggung jawab, agar bisa menjagamu seumur hidupnya," Harun berhenti sesaat.
"Benar begitu Haris?" tiba tiba Harun bertanya pada lelaki yang sebentar lagi akan ia nikahkan secara resmi dengan putri kesayangannya.
Haris mengambil microfon di hadapannya, "Benar sekali pah," jawab Haris penuh keyakinan.
Pernyataan kedua orang itu begitu mengejutkan, terutama bagi orang orang terdekat mereka, karena tidak ada yang tahu tentang perjanjian tersebut kecuali asisten Seno yang kala itu menjadi saksi.
Elena hampir menumpahkan seluruh air matanya, sementara perias sibuk menyeka air matanya agar make up nya tetap paripurna.
"Sesuai janji papa, maka pada hari ini, papa bawa lelaki itu kehadapanmu, lelaki ini telah membuktikan pada papa, bahwa ia benar benar lelaki baik dan bertanggung jawab, papa hanya berharap semoga pernikahan kalian bahagia, dan Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi rumah tangga kalian kelak."
Harun kembali duduk, pria itu nampak menganggukkan kepala kepada penghulu, pertanda dia sudah selesai menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.
"Baiklah kita mulai sekarang," pak penghulu kembali berbicara, "silahkan saling berjabat tangan,"
Harun mengulurkan tangannya kemudian dengan penuh keyakinan Haris menyambutnya, tak ada yang tahu apa yang ada di benak kedua pria itu, keduanya saling mengeratkan genggaman tangannya dengan penuh keyakinan.
"Saudara Haris Aditya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Elena Berliana Sebastian, dengan mas kawin uang tunai 100 juta rupiah dibayar tunai,"
"Saya terima nikah dan kawinnya Elena Berliana Sebastian, dengan mas kawin tersebut tunai," Haris mengucapkannya dengan lantang dan penuh keyakinan, tak ada gemetar atau terbata bata, sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.
__ADS_1
SAH
SAH
SAH
SAH
Teriak saksi dan para tamu undangan.
Suara tepuk tangan menggema dengan keras.
"Silahkan, mempelai perempuan dibawa keluar," Ucap pak penghulu.
Dari arah samping, tiba tiba pintu terbuka lebar, menampakkan Elena yang tengah berjalan diapit Andini dan Marisa.
Elena berjalan pelan, menatap lurus kedepan, tak mengalihkan pandangannya dari lelaki yang kini resmi menjadi suaminya, sungguh waktu telah berlalu dengan sangat cepat, menggulirkan banyak kisah dan kenangan yang tak mungkin terlupa.
Pahit dan manis persahabatan mereka, dijadikan pembelajaran agar kehidupan mereka kelak selalu dilimpahi kedamaian dan kebahagiaan.
Marisa dan Andini tak kuasa menahan air matanya, kedua ibu sambung tersebut merasakan kebahagiaan luar biasa, melebihi bahagia seorang ibu kandung bagi anak anak mereka.
Setelah rangkaian prosesi akad, kini dilanjutkan dengan acara foto bersama keluarga, kerabat, dan teman dekat mempelai.
...****************...
Elena kini kembali ke kamar nya, perias kini mulai sibuk membuka beberapa hiasan di rambut, mengurai kembali rambutnya.
Suara ketukan di pintu membuat ketiga wanita tersebut menoleh, Ternyata mempelai pria yang datang.
"Acara selanjutnya Masih 2 jam lagi kan?" tanya Haris, yang segera diangguki oleh kedua perias tersebut, "Kalau begitu, tolong tinggalkan kami sebentar," pinta Haris.
Kedua perias itu mengangguk patuh, setelah keduanya keluar, Haris mengunci pintu kamar tersebut, agar tak ada yang mengganggu mereka.
__ADS_1
Haris segera berbalik dan menghampiri Elena.
Dengan segera ia menyatukan bibir mereka, begitu lembut, dan menghanyutkan.
Rasa bahagianya sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata kata.
Kedua tangannya memeluk erat pinggang Elena.
Elena pun dengan sukarela memasrahkan dirinya, kedua lengannya kini tengah memeluk leher suaminya.
Semakin lama mereka semakin terhanyut, tak ingin melepaskan atau bahkan mengakhiri, setelah beberapa menit berlalu akhirnya ciuman panjang itu berakhir.
Keduanya sama sama tersengal kehabisan nafas.
Elena tersipu malu, wajah nya merona, masih dengan nafas yang memburu, Elena menempelkan dahinya ke dada bidang suaminya.
Haris mengecup puncak kepala Elena, "Sayangku, Aku mencintai mu, mulai hari ini aku akan lebih sering mengatakannya, aku harap kamu tidak bosan mendengarnya,"
Elena kembali menengadahkan wajahnya, matanya masih berkaca kaca, "Aku juga mencintaimu, suamiku," kemudian air mata itu pun menetes begitu saja, "Aku sangat bahagia, karena memilikimu disisiku, terimakasih,"
Elena berjinjit, dengan tangan masih melingkar di leher Haris, dia kembali mengeratkan pelukannya, Haris pun melakukan hal sama, ia bahkan membawa Elena berputar putar, suara tawa mereka memenuhi seisi ruangan.
Haris membawa Elena duduk di pangkuannya, dia menghujani wajah Elena dengan kecupan, Elena terkekeh merasakan geli yang menjalar di wajahnya, hingga ciuman bertubi tubi itu berakhir di leher, Haris diam di sana, menikmati aroma di titik titik sensitif leher Elena, "hmmm kamu wangi sayang, aku suka aroma tubuhmu,"
Sepasang pengantin baru itu benar benar menikmati perayaan hari jadi mereka, sibuk bermesraan hingga tak mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Hingga tiba tiba pintu penghubung kamar mereka terbuka lebar.
Brak ...
Suara pintu dibuka tersebut, membuat sepasang pengantin baru tersebut menghentikan aktivitas nya.
"Haruskah kalian sejelas ini? apa kalian sudah tidak sabar menunggu datang nya malam?"
__ADS_1
Bagus tiba tiba membuka kasar, pintu penghubung kamar.
"Tolong lah, kasihanilah aku yang masih jomblo ini,"