
Elena mulai menyalakan air panas untuk mengisi bathtub, sambil menunggu air memenuhi bathtub, Elena memainkan jari jarinya untuk memilih salah satu dari deretan aroma therapi dan bath bomb.
Beberapa menit kemudian ia mulai tenggelam dalam aktivitas favorit nya sebelum tidur, pikirannya mulai melayang kemana mana, setelah ini rasanya pasti sangat canggung, haruskah ia bersikap menggoda, atau cuek dan pura pura tidak tahu seperti biasa, tapi aktivitas 'itu' memang lazim dilakukan sepasang suami istri, kalaupun menghindar, mau sampai kapan? tak mungkin selamanya kan??.
Sementara itu, Haris yang sejak tadi menunggu Elena menyelesaikan mandinya, tampak mulai keheranan, pasalnya sudah hampir satu jam dia menunggu Elena, tapi sepertinya istrinya itu benar benar menikmati waktu berendamnya, hingga ia lupa, suaminya sudah terlalu lama menunggu diluar, Haris menempelkan telinganya di pintu kamar mandi, namun tak terdengar suara apapun kecuali kecipak air, Haris pun menggelengkan kepalanya, sebaris senyuman tersungging di bibirnya, 'biarlah aku menunggu lama, asal bisa membuat istriku bahagia'.
Ia pun keluar kamar dan memutuskan mandi di kamar tamu, karena tubuhnya sendiri pun terasa penat dan lengket, menunggu Elena pasti akan memakan waktu lebih lama lagi.
Hanya perlu 15 menit baginya untuk menyelesaikan aktivitas nya di kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit di pinggang, Haris berjalan kembali ke kamar yang biasa ia tempati, dan mulai kini kamar tersebut memiliki penghuni baru.
Haris membuka pintu kamarnya, pandangan mata mereka bertemu bebeapa saat.
"Lho aku kira kemana, udah mandi?"
"Hmm ... aku kira kamu masih mandi, jadi aku mandi di kamar tamu," Jawab Haris senormal mungkin, padahal di dalam hatinya tengah berdesir hebat, melihat Elena yang memakai piyama pendek, walaupun itu tak bisa di kategorikan sexy, namun hanya dengan sekali pandang, membuat ia sekuat tenaga menahan sesuatu yang mulai bergejolak dalam dirinya.
Elena masih sibuk memeriksa satu persatu laci yang ada di kamar, "Mencari sesuatu?" tanya Haris.
Elena menoleh, "iya, aku butuh hair dryer, tadi tanpa sengaja rambutku basah, jadi aku mencuci ya sekalian, apa ada benda itu di sini?"
Haris berjalan ke walk in closet, "Tunggu sebentar."
Setelah Tubuh Haris menghilang di balik pintu, Elena terduduk lemas di sisi tempat tidur, ia menarik dan membuang nafas nya berkali kali, tangannya mencengkeram erat piyama yang ia kenakan, berusaha menetralkan debaran jantungnya.
'Haruskah aku pura pura tertidur? ah tidak, Haris pasti mengira ia tengah menantikannya, tapi aku tak bisa begini terus, oh mama ternyata kini berhadapan dengan Haris terasa sungguh mendebarkan,' terlebih lagi suami tampannya itu dalam kondisi sehabis mandi dan memperlihatkan sebagian besar tubuhnya yang masih lembab, dan rambut yang masih meneteskan air, sungguh pemandangan yang sangat sangat ah ...
kemudian tanpa pikir panjang Elena menyambar ponselnya, dia membuka medsos dan memeriksa update drama favorit nya, dari pada aku berdebar tak karuan, pikirnya.
Beberapa saat kemudian, Haris sudah memakai kaus dan celana santai, ia membawa sebuah kotak hitam di tangannya, sepertinya belum pernah digunakan.
"Oh ... masih baru?" Elena mendekat, melihat Haris yang tengah sibuk membuka segel pengaman hair dryer, "apa aku yang pertama kali menggunakannya?"
"Iya," jawab Haris singkat, tanpa menatap wajahnya.
Melihat Haris yang sejak sejak tadi minim ekspresi, membuat Elena sedikit bersedih, kenapa dia tiba tiba berubah, tadi ketika di Airport dia terlihat bahagia, kenapa sekarang kadi muram? elena berucap dalam hati.
Sementara Haris sibuk mengoperasikan hair dryer, Elena memilih kembali fokus pada ponselnya, tak lama terdengar suara dengungan dari hair dryer yang mulai beroperasi.
"Berikan padaku," Elena melepas handuk yang masih membalut rambut dan kepalanya, tangannya terulur menanti Haris menyerahkan Hair dryer kepadanya.
Haris tersenyum menggigit bibir bawahnya, dia menarik lengan Elena, agar istrinya berdiri, kemudian mendudukkannya di depan cermin, "Ku akan melakukannya untukmu."
"Ini terlalu panas, bisa kah suhunya diturunkan?"
"Baiklah sayangku,"
Pipi Elena kembali bersemu merah, diam diam dia menatap ke cermin, menikmati wajah suami tampannya, rambutnya yang masih basah nampak menutupi dahi, wajahnya sudah bersih dan segar, jauh berbeda ketika tadi mereka bertemu di airport beberapa jam yang lalu.
Dengan telaten, haris menyisir dan mengeringkan rambut istrinya, sesekali pandangan mereka bertemu di depan cermin, kemudian saling melempar senyum malu malu.
Beberapa menit kemudian, Haris telah menyelesaikan tugasnya sebagai penata rambut pribadi istrinya, Haris kembali merapikan Hair dryer dan menyimpannya kembali di salah satu laci yang ada di hadapan mereka.
Haris kembali menatap wajah Elena, kemudian ia menunduk kedua tangannya bertumpu di lutut, hingga wajah mereka berhadapan dengan jarak sangat dekat, "Aku mau hadiahku." pintanya.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Apapun yang berasal darimu akan ku terima dengan senang hati,"
"Benarkah?"
"Hem ..." Haris menganggukkan kepalanya.
Elena menyelipkan jari jari nya diantara rambut yang menutupi dahi Haris, kemudian mendaratkan kecupan disana.
"Hanya itu?" tanya Haris cemberut.
"Oh ... mau lagi?"
"Tentu saja." ujar Haris penuh semangat.
"Baiklah, apapun untuk suami tampanku,"
Elena kembali menempatkan kedua telapak tangannya di pipi Haris, kemudian menghujani wajah Haris dengan ciuman.
"Hei ... kenapa yang ini di lewati?" Haris menunjuk bibirnya.
Elena tersipu malu, jari telunjuknya menusuk nusuk dada suaminya, "Aku malu," jawab nya.
"kenap malu, bahkan dulu sebelum kita menikah, kamu yang memancingku lebih dulu, aku bahkan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, jika tidak ada yang mengetuk pintu,"
"iiih ... Udah dong jangan di bahas, aku malu."
Elena memalingkan wajah nya, sementara bibirnya masih mencebik kesal.
Haris kembali menarik wajah Elena agan menghadap ke arahnya, "hanya mencium saja apa susahnya, biar aku melakukannya untukmu."
Haris menghentikan ciuman mereka sesaat, dia menatap wajah istrinya yang mulai memerah, "mau dilanjutkan?"
"Kenapa harus bertanya sih, bukankah sudah tahu jawabannya."
Haris tertawa lebar, "Karena aku suka menggodamu." Jawabnya jujur, tentu saja membuat Elena semakin malu.
Haris menggendong Elena, kemudian membaringkannya ke tempat tidur, telapak tangannya membelai wajah Elena, tatapan mereka bertemu, saling memandang penuh kerinduan.
Haris membaringkan dirinya disisi Elena, kedua lengannya memeluk erat tubuh Elena.
"Sayang ..."
"Iya"
"Aku tahu, kamu pasti sangat lelah setelah melewati perjalanan jauh, tapi aku sungguh menginginkan mu saat ini," Haris menjeda kalimatnya, ia menanti Elena mengucapkan sesuatu, tapi nyatanya, Elena pun hanya diam , sibuk menata debaran jantungnya yang makin menggila.
Haris mengurai pelukannya, di tatap nya wajah Elena yang sejak tadi tenggelam dalam pelukannya.
Elena menatap wajah suaminya, kedua matanya mulai berkabut karena menahan Hasrat nya, dia tersenyum samar, "Tapi kalau kamu tidak siap, aku bisa menahannya, kita lakukan lain kali,"
Telapak tangan Elena terulur memberikan sentuhan lembut di wajah suaminya, sebaris senyuman manis ia persembahkan untuk Suaminya, "Lakukanlah, kamu berhak mendapatkan apa yang ada padaku, dan aku berkewajiban memberikan apa yang kamu inginkan."
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Haris kembali memberikan ******* di bibir Elena, namun ia merasakan telapak tangan Elena mendorong dadanya, "Ada apa lagi?" Tanya Haris dengan suara parau.
"Lampunya, bisa kah di redupkan?" Bisik Elena pelan.
__ADS_1
Haris tersenyum, kemudian menepuk kedua telapak tangannya.
Plak ... lampu pun menjadi redup, hanya menyisakan cahaya remang remang di kedua sisi tempat tidur.
"Apa seperti ini sudah cukup?"
"Iya," Jawab Elena samar, karena ia mulai menenggelamkan wajahnya di pelukan Haris.
Haris kembali melanjutkan apa yang tadi sempat terhenti, kini sasaran selanjutnya adalah Leher jenjang istrinya, ia berlama lama disana, menikmati aroma sabun yang masih menempel di ceruk leher istrinya.
Tangan Haris mulai menjelajah sesuatu dibalik piyama Elena, kemudian ia mulai bergerak melepaskan satu persatu kancing piyama yang di kenakan Elena.
Namun lagi lagu Elena menahan gerakan tangan Haris, "tunggu sebentar."
"Duuuhhh apalagi sih sayang, bunuh saja aku sekalian." Haris mulai Frustasi karena Elena menghemtikan aktivitas tangannya.
"Iiiiihhh jangan sadis gitu dong, mana tega aku berbuat kejam padamu,"
"Lalu kamu ingin apa lagi?" tanya Haris tak sabar.
Elena membisikkan sesuatu ke telinga Haris.
Kemudian Haris berkata pada Othor, bahwa cukup sampai disini adegan yang boleh di simak para readers, karena Elena ingin, adegan selanjutnya menjadi privasi mereka ...
Othor kabor aaaahhhh
🏇🏇🏇🏇
😜😜😜
.
.
.
.
.
.
.
.
Promo novel terbaru Othor nih,
kisah cinta Alexander Geraldy dan Stella Marisa William.
please mampir dan tinggalkan jejak like komen and vote nya
cusss langsung ke lapak sepasang mantan yah, sudah sampai eps 10 loh ... semoga bisa mengajukan kontrak.
__ADS_1
Hatur nuhun 🙏🙏