Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
47


__ADS_3

"Iya aku akui, aku yang mencuri foto foto kalian, tapi percikan itu tertiup angin kuat hingga menjadi kobaran api, dan angin kuat nya adalah kalian sendiri," Bagus membalas ucapan Haris, "Dasar kampret, tapi kamu bahagia kan?."


Haris tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya, tak bisa di pungkiri, hari ini dia bahagia sekali, "Yah kamu benar, aku bahagia sekali." dia mengulum senyum di bibirnya.


Bagus mendengus sebal, melihat kelakuan temannya tersebut, namun tanpa ia sadari ia ikut mengulum senyum di bibir nya.


Kemudian Bagus mulai menjalankan mobil nya pergi meninggalkan kediaman pemilik HS Grup, kerumunan wartawan yang masih berada di luar gerbang, mendadak menyerbu mobil nya, dirinya agak kesulitan karena para wartawan tersebut menghalangi laju mobil nya.


Bagus semakin jengah manakala beberapa wartawan mengetuk kaca mobilnya, mau tak mau ia menurunkan kaca mobilnya agar bisa menenangkan para pemburu berita tersebut.


Segera setelah Kaca mobil d turunkan, Kilatan cahaya kamera menyambar bola matanya, Bagus memejamkan mata sesaat.


"Tuan Haris, boleh wawancara sebentar?."


"Sepatah dua patah kata tuan."


"Bagaimana perasaan anda sekarang tuan?."


"Apa kata tuan Harun, melihat kedekatan anda dan putrinya?"


Pertanyaan yang sama tersebut terulang berkali kali, Haris hanya memperlihatkan sebaris senyum tanpa memberikan jawaban, akhirnya Bagus pun berinisiatif menjawab.


"Mohon maaf sebelumnya, tapi kami tidak punya kapasitas untuk menjawab, nanti akan ada konferensi pers dari perwakilan kedua belah pihak, tolong bersabar yah, terima kasih."


Selesai berucap, bagus menaikkan kembali kaca mobilnya, kemudian pelan pelan mobil bergerak meninggalkan kerumunan wartawan.


"Wah mimpi apa aku semalam, mendadak jadi selebriti." gerutunya. "Apa kamu lihat heboh nya pemberitaan tentang mu dan Elena di jagad hiburan?."


Haris menggeleng "Entah ... beberap hari kemarin aku sibuk, tiba tiba saja ada pemberitaan seperti ini, aku jadi malas menyalakan ponsel." ujar Haris malas, dia mulai menurunkan sandaran kursinya, agar bisa memejamkan mata sesaat.


"Makanya, lain kali pikir dulu sebelum berbuat"


"Mana ku tahu kalau akan jadi seperti ini, mana ku tahu kalau Elena tiba tiba di perkenalkan sebagai pewaris baru HS Grup, mana ku tahu kalau dia juga sedang ramai jadi bahan perbincangan di media sosial," Haris berkilah.


"Bukan cuma itu, foto foto mu juga banyak menghiasi layar kaca televisi, bahkan Bram teman sekelas kita dulu, masih ingat kan? dia produser salah satu acara talk show Itv, tiba tiba menghubungiku, ingin mewawancaraimu, dan setelah ini aku yakin tanpa di beritahu pun, priyo akan segera datang ke ibu kota."


Haris hanya tersenyum, Bagus melirik Haris sebentar, "Oh iya, apa sebelum kepergian mu ke negara paman AA kemarin, kalian bertengkar?, setelah kamu pergi, hampir setiap pulang kerja Elena mendatangi proyek, tapi dia hanya murung dan tidak banyak bicara."


Mendengar pertanyaan Bagus, Haris yang matanya mulai terpejam, tiba tiba kembali teringat kejadian sebelum pertengkaran nya dengan Elena, senyuman tersungging di bibir nya, mengingat manisnya kejadian itu, ah ... dia jadi menyesal kenapa tadi hanya mencium kening gadis itu, Harusnya dia melakukan yang lebih ....


plak ...


Pukulan keras di lengan membuatnya tersadar dari lamunan, "ditanya malah melamun, apa kalian bertengkar?." Bagus mengulang pertanyaan nya.


Haris kembali menaikkan sandaran kursi nya.


"Iya kami bertengkar" Jawab Haris pelan.


"Aneh, kalian kan pasangan absurd, apa yang kalian pertengkarkan?."


Haris mengulum senyum, dia menjawab pertanyaan Bagus dengan senyum.


"Dih malah senyum senyum ... "

__ADS_1


"Apaan sih." Jawab Haris malu malu, sedekat apapun mereka, jika harus terus terang dia pasti malu sendiri ... sekarang dirinya berstatus calon suami, jika mengumbar hal mesra antara dirinya dan calon istrinya, pasti Elena juga akan merasa malu. "Yaaahh pokok nya itu lah ... kamu gak perlu tau."


Bagus mencebik sebal. "ini mau kemana?? aku lapar." Keluh Bagus.


"Ya sudah ayo Makan dulu ... " Ajak Haris.


Bagus pun menghentikan mobilnya di salah satu Restoran yang sedang mereka lewati.


...****************...


Sudah hampir satu jam Elena menatap benda berkilau yang kini menghiasi tangan kirinya, air yang dia gunakan untuk berendam pun sudah mulai dingin, rasanya sungguh belum bisa dipercaya, ingin tertawa sendiri tapi takut orang mengira dirinya gila, entah bahagia macam apa yang tengah dia rasakan.


Malu lebih tepatnya, malu membayangkan setelah menikah mereka harus berbagi segalanya, berbagi rahasia, berbagi suka dan duka, berbagi tempat tinggal termasuk berbagi kamar, hanya membayangkannya saja membuat tubuhnya meremang.


Elena bangkit menuju shower kemudian membilas tubuhnya, setelah selesai dengan aktivitas mandi nya, kini dia tengah berdiri di depan cermin, berbalut bartrobe mandi, rambutnya yang basah pun masih terbungkus handuk.


Setelah mengoles wajah dengan pelembab diikuti lotion di tubuhnya, Elena pun mengganti handuknya dengan dres rumahan, dress biru cerah motif bunga tampak melekat manis di tubuh nya.


Sebenarnya dia belum ingin makan, namun entah kenapa langkah kakinya menggiring dirinya menuju dapur, Elena mengerucutkan bibirnya manakala melihat makanan yang ada di meja.


"Makan dulu nona, sejak datang pagi tadi nona belum makan." sapa bi Sum, salah satu ART senior di rumah.


Elena menggeleng malas, "Atau barangkali nona ingin masak sesuatu biar bibi bantu." bi Sum menawarkan, karena tahu jika nona mudanya ini suka memasak makanannya sendiri.


"Aku mau mie rebus bi."


"Bibi buatkan yah," Bi Sum menawarkan diri.


"Jangan lupa ekstra cabe, sosis, baso, telur dan sayuran." Senyuman manis ia berikan pada bi Sum setelah ia menyebutkan rentetan keinginan nya.


"Hehehehe... kan bibi tau kalo Elena tukang makan, bikin yang banyak bi, biar bibi dan yang lain bisa ikut makan."


"Gak papa nona, kami sudah makan, sebentar yah bibi siapkan pesanan nona." Elena mengangguk, Bi sum pun berlalu menuju Dapur menyiapkan bahan bahan yang ia butuhkan.


ketika menunggu di ruang tengah, Elena menyalakan TV, tanpa sengaja ia melihat salah satu TV swasta nasional tengah menayangkan pemberitaan tentang dirinya dan Haris, ingin tertawa rasanya, bagaimana bisa dirinya kini jadi mengalahkan popularitas para selebriti, hanya gara gara foto, namun kemudian dia mulai menikmati, bukan karena apa, tapi TV nasional benar benar mengupas tuntas sepak terjang Haris selama berada di negara paman AA, yang bahkan Elena sendiri belum pernah mendengar cerita ini dari yang bersangkutan.


Bagaimana sosok Haris yang memulai perjalanan nya menjadi pegawai magang selagi melanjutkan kuliah nya, kemudian pelan pelan memulai perusahaan nya sendiri bersama ke empat rekannya.


Bahkan di salah satu program gosip membahas, ketampanan dan sikapnya yang dingin mulai menjadi daya tarik tersendiri bagi para wanita, beberapa gadis ABG yang kebetulan menjadi target wawancara mengatakan bahwa, pria seperti Haris memang type idealnya, lebih menantang untuk didekati dan di jadikan kekasih.


Ckckckck dasar anak anak ingusan, belajar dulu yang bener, sok sok an cari pria ideal.


Elena menggerutu sendiri, tiba tiba dia ingin menjambak rambut para gadis itu, berani beraninya dia berkomentar begitu.


Karena kesal Elena pun mengganti saluran TV nya, ternyata di TV sebelah pun beritanya hampir serupa, masih seputar pujian pada sosok CEO muda nan dingin dan menawan hati para gadis, berganti channel lagi dan berita nya pun masih sama.


"Ini hari apa sih, kenapa beritanya menyebalkan semua?." entah kenapa dia ingin marah dan cemburu.


Tunggu tunggu cemburu?? benarkah aku tengah cemburu?? hei hati apa apaan kamu, jadi suami juga belom udah main cemburu aja, kamu jangan macam macam yah, aku ini pemilikmu, lagian kenapa juga dia harus dipuji puji banyak gadis, kan aku ga suka.


Elena terus berbicara sendiri dalam Hati, mood nya tiba tiba memburuk seperti, cuaca yang tiba tiba berkabut.


(belum belum othor udah pengen ketawa 🤪 makanya neng, kalo cinta bilang aja.)

__ADS_1


"Nona kenapa, kok cemberut?." bi Sum yang datang membawa pesanan nona mudanya tampak kebingungan, pasalnya tadi Elena nampak baik baik saja, kini tiba tiba cemberut.


"Itu bi ... beritanya nyebelin."


Bi Sum yang mendengar keluhan nona mudanya itupun mengalihkan pandangannya ke layar TV, setelah melihat isi berita nya bi Sum pun tersenyum bijak.


"Makan yang banyak nona, biar kuat menghadapi kenyataan." Gurau bi Sum, seolah tau nona mudanya sedang cemburu berat.


"Nyebelin banget kan beritanya bi, apa aku beli aja stasiun TV nya, biar mereka tau laki laki yang mereka bicarakan itu milik siapa."


Sesaat setelah berucap, Elena membekap mulutnya sendiri, seolah malu dengan apa yang baru saja ia ucapkan.


Bi Sum semakin tertawa lebar "Nona tidak perlu malu, cemburu itu wajar,"


"Emang ini namanya cemburu bi?," Tanya Elena polos.


"Iya nona." jawab bi Sum membenarkan. "Selamat nona, nona akan segera menikah, tadi nyonya besar sudah memberitahu bibi, supaya bibi dan yang lain bersiap."


Elena semakin tersipu malu, seolah tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Cemburu cemburu deh ... labrak aja neng kalo cemburu 🤭


.


selamat datang di era ke uwu an mu 😂


.

__ADS_1


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2