Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
35


__ADS_3

kini mereka tengah duduk di salah satu warung tenda tak jauh dari area pemakaman.


"Hari naas itu terjadi ketika nyonya dalam perjalanan pulang mengantar nona Eliza ke sekolah baru nya, hari itu hari pertama nona Eliza sekolah, tabrakan beruntun terjadi karena ada mobil yang mengalami pecah ban, sementara mobil tersebut sedang melaju di jalur kecepatan tinggi, hingga tabrakan beruntun tak terelakkan". Bibi Mey mengawali kisah nya.


"Banyak korban meninggal kala itu, termasuk sopir yang mengantarkan nyonya"


"Nyonya berhasil selamat, namun mengalami cidera parah di bagian kepala"


"Setelah 6 jam di ruang operasi, kondisi beliau tak kunjung pulih, dokter mengatakan beliau mengalami koma"


"Bisa nona bayangkan bagaimana kondisi papa anda saat itu? Nyonya Besar koma, sementara Kakak anda masih berusia 5 tahun"


"Nona Eliza yang semula ceria, jadi pemurung dan emosional, di sekolah pun dia sering bermasalah dengan teman temannya, hingga akhirnya nona tidak mau lagi ke sekolah".


"Lalu Bibi mengusulkan pada Tuan, agar mau mencari kan Guru sekaligus pengasuh untuk nona, tidak mudah ternyata, karena nona agak susah menerima kehadiran orang baru di sekitarnya".


"Hari itu, kebetulan bibi pulang kampung karena orang tua bibi sedang sakit, tak disangka bibi bertemu dengan ibu anda, yang baru menyelesaikan Pendidikannya, bibi pikir tidak ada salahnya bibi coba menawarkan nya untuk jadi pengasuh nona Eliza, ternyata ibu anda bersedia"


"Pada awalnya nona menolak kehadiran pengasuh barunya, namun sifat ceria yang dimiliki ibu anda, rupanya menularkan energi positif pada nona Eliza"


"Apa nona tau, wajah anda sangat mirip dengan beliau, begitu pun sifat ceria dan sederhana yang nona miliki"


Bi mey tersenyum, telapak tangannya membelai rambut dan pipi nona kecil nya tersebut.


"Hari hari berlalu, Nona Eliza yang pemurung kembali ceria, bahkan tak pernah menangis ketika berkunjung kerumah sakit menemui nyonya Marisa yang masih koma".


"Hingga tak terasa 3 tahun nona berada di bawah asuhan ibu anda, hari itu bibi mendapatkan telepon dari kampung, orang tua bibi mengatakan bahwa di kampung tersiar kabar ibu anda bukan bekerja di kota, melainkan jadi wanita simpanan Tuan Besar".


"Akibat berita tak mengenakkan itu, keluarga ibu anda dikucilkan oleh para warga, bahkan nenek anda masuk rumah sakit karena tekanan batin yang berakibat pada kesehatan beliau"


"Karena tuan tak ingin fitnah tersebut terus berlanjut, terlebih lagi kondisi nona Eliza yang baru saja menemukan kembali keceriaan dan kebahagiaan, akhirnya tuan menikahi ibu anda"


"Setahun kemudian anda Hadir, nona Eliza sangat senang karena akan segera memiliki teman bermain, namun dihari anda lahir kondisi ibu anda kurang baik, dokter menyebutnya pre-eklampsia, nyawa ibu anda tidak bisa tertolong"

__ADS_1


"Hari itu Bibi menangis meraung raung, bagaimana bisa nasib buruk kembali menghampiri tuan, dengan Kondisi nona Eliza saja, tuan sudah cukup tertekan, kini bertambah lagi dengan kehadiran anda tanpa seorang ibu" Bi mey tak kuasa lagi menahan laju air mata nya.


"Malangnya nona kecilku ini" isak Bibi Mey.


Elena pun tak jauh beda dengan Bi Mey, tanpa bisa ditahan dia pun menangis sesenggukan, Sebuah fakta yang selama ini tak pernah ia ketahui, ternyata Bunda Lilis adalah malaikat penolong yang kirim tuhan untuk Eliza, sementara Mama Marisa dikirim tuhan untuk menjadi malaikat penolong untuk diri nya.


"Hari itu dengan perasaan yang hancur berkeping keping, bibi meminta izin pada perawat yang kala itu bertugas di ruang intensif bayi, untuk membawa anda ke ruangan nyonya besar, kebetulan anda lahir di rumah sakit tempat nyonya di rawat, kemudian bibi meletakkan anda di sisi nyonya, berharap hanya berharap anda menjadi energi positif untuk Nyonya"


"Tak di sangka nyonya merespon dengan baik kehadiran anda, pelan pelan jari nyonya mulai bergerak, hari itu bibi merasa mukjizat itu benar benar ada"


"Tak lama, nyonya pun bangun dari tidur panjang nya, bagi nyonya, anda adalah obat, penyemangat, dan perhiasan yang berharga, karenanya nyonya menyelipkan Berlian di dalam nama anda"


"Hingga hari hari berikut nya, nyonya tak ingin anda jauh dari nya, bahkan nyonya meminta pada tuan, agar anda tetap di rumah sakit selama nyonya menjalani terapi lanjutan pasca koma, setiap hari tak pernah beliau lewati tanpa menggendong dan berbincang dengan anda"


Bi Mey pun mengakhiri kisah nya.


"Sebenarnya di hari hari terakhir, sebelum kepergian anda ke negri gingseng, saya hendak menceritakan kisah ini, namun anda selalu berdiam dan mengunci diri di kamar, hingga bibi tidak punya kesempatan, maaf kan bibi yah"


Elena menggeleng "Bibi gak salah, Elena yang salah, karena tidak mau membuka hati dan fikiran, hingga semuanya menjadi berlarut larut seperti saat ini"


"Bibi harap, Nona tak lagi bersedih, apalagi menyesalkan keadaan, percayalah, tuan dan nyonya sangat menyayangi anda"


Tangis Haru pun menyelimuti pertemuan keduanya, hingga Bi Mey pamit undur karena Hari menjelang sore ketika pertemuan itu berakhir.


...****************...


"Hari baru, semangat baru" ujar Elena ketika melangkahkan kakinya memasuki ruangan tempat ia bekerja selama proyek berjalan.


Pagi sekali ketika Elena tiba, kantor pun masih sepi ketika dia menginjakkan kaki di sana, entah kenapa pagi ini dia sengaja berangkat lebih pagi, bahkan para perkerja proyek belum beranjak dari istirahat nya.


Semangat nya seolah meningkat berlipat lipat setelah beberap hari berlibur menikmati udara pedesaan, mungkinkah dia harus sering mengunjungi rumah Priyo?, Tiba tiba senyumnya terkembang ketika mengingat tingkah mas bos dan para bocah serta, serta akrab nya Mbakyu dan para ibu.


"Aaaaaah kenapa aku sudah merindukan mereka" Elena mengerang pelan seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Haruskah aku telepon mereka? ah yah ... mungkin sebaiknya begitu"

__ADS_1


Elena mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya, setelah menunggu beberapa saat panggilan nya pun terhubung. wajah lucu bocah berusia 3 tahun memenuhi layar ponselnya "atte ... " sapanya riang.


"Halo sayang ... atte nya Rio kangen ih"


"Cama dong"


Dan obrolan dua orang berbeda generasi itu pun berlanjut hingga 30 menit lamanya, setidaknya rasa rindunya ter obati.


Setelah membereskan meja kerja nya, Elena mengeluarkan kotak bekal sarapannya, yah pagi tadi entah mendapat energi dari mana, dia melangkahkan kaki ke dapur, kemudian membuat nasi gulung yang selalu menjadi favorit nya semasa tinggal di negri gingseng.


Laptop di hadapannya sudah menyala, lengkap dengan tumpukan kertas dan dokumen pekerjaan yang menunggu giliran untuk di sentuh, tangannya terulur mengambil salah satu map di tumpukan teratas, tak lupa dia menyuapkan sepotong nasi kedalam mulut nya.


Tok tok tok


"Permisi ... " sebuah suara terdengar setelah ketukan.


Hal itu tak membuat pandangan Elena teralihkan. "Maaf jam kerja kami dimulai 30 menit lagi" ujarnya tanpa menoleh.


"Iya, saya tau, saya kemari hanya ingin meminta brosur, nanti siang saya kembali lagi" Ujar suara tersebut.


Mau tak mau Elena pun mendongakkan wajahnya, Bola matanya membelalak seketika melihat siapa yang kini tengah berdiri di depan pintu kantor nya "Alex ... " Desis nya pelan.


"Elena ... " Pria itu pun tak kalah terkejut melihat gadis yang kini berdiri tak jauh dari hadapannya.


Tiba tiba kilasan memori tak menyenangkan membayang lagi di kelopak mata nya, yah walaupun lebih banyak terisi dengan kenangan bahagia masa kecil hingga remaja, namun perpisahan itu meninggalkan sesak tak berujung, hingga membuatnya takut memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.


"Kamu mau apa ke sini ... " Tanya Elena Ketus.


"Weeeesss ... santai dong, masa begini cara menyambut sahabat lamamu"


"Sahabat?? Sahabat apa maksudmu, apa kalian pernah menganggap ku sahabat, kalian pergi dan hilang begitu saja, tanpa pamit, tanpa kata perpisahan, dan sekarang dengan Pede nya kamu bilang sahabat?? kamu benar benar menggelikan" hanya melihat nya saja membuat emosi dalam dirinya seketika tersulut. "pergilah, lagipula tim pemasaran kami belum datang"


Alex terdiam, dia tak bisa menjawab lagi perkataan gadis ceria yang pernah mengisi hari harinya dahulu.

__ADS_1


"Baiklah aku kembali nanti siang" akhirnya Alex pun pasrah dan memilih pergi, namun sebentar kemudian dia berbalik. "Elena ... aku tau, yang kami lakukan di masa lalu itu salah, tapi asal kamu tau, aku senang bertemu lagi denganmu" Ucap nya tulus, kemudian Alex pun berlalu pergi.


__ADS_2