
Elena membuka pintu kamarnya, tanpa mempersilahkan Haris untuk masuk, karena sudah jelas pria itu pasti mengikutinya, Elena sengaja membuka pintu lebar lebar.
Suasana modern minimalis kental terasa, Tak banyak perabot dan berbagai macam printilan khas anak perempuan, seperti boneka atau benda kesayangan, karena Elena tak menyukai hal tersebut.
Tempat tidur dengan sprei dan selimut berwarna putih, sementara sofa dan meja berada di dekat jendela yang terhubung ke balkon dengan view halaman belakang, smart TV menjadi salah satu pelengkap ruangan tersebut, dibawah TV terdapat Lemari kecil untuk menyimpan beberapa barang.
Beberapa foto juga ada di sana, salah satu foto yang menarik perhatian Haris adalah Foto Elena ketika mengenakan pakaian tradisional khas negeri gingseng, pakaian berwarna merah muda tersebut nampak cantik membalut tubuh nya, bahkan Elena sengaja mengepang rambutnya, lengkap dengan ornamen bunga bunga yang ikut serta sebagai hiasan rambut nya, berdiri di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran. Haris hampir hampir tak bisa mengedipkan matanya, hatinya justru berdebar makin kuat.
Sementara Haris masih sibuk berkeliling mengamati tiap sudut ruangan tersebut, Elena sudah mulai membuka Laptop nya, tak lupa mengisi daya pada laptop nya tersebut, karena padat kesibukannya sudah beberapa bulan sejak tiba di tanah air dia lupa belum mengisi daya pada laptop lama ya tersebut.
Haris benar benar memanfaatkan waktunya berkeliling di dalam kamar calon istrinya tersebut, hingga tatapannya berhenti di atas tempat tidur, lama dia tertegun menatap benda yang tak asing tersebut, Haris mengulum lidah di langit langit mulut nya, sebuah ide jahil tiba tiba melintas di kepalanya.
"Hei aku mengenal benda ini," Pekik Haris ketika berdiri di sisi tempat tidur Elena, matanya tengah tertuju pada Hoodie berwarna Hitam yang terlipat rapih di atas bantal.
Elena menyadari alarm tanda bahaya sedang berbunyi, segera dia menoleh mengikuti arah pandangan Haris, Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Haris tengah menatap tempat tidurnya dengan pandangan yang sulit untuk di artikan, yah Elena baru menyadari bahwa Haris tengah menatap Hoodie yang kini terlipat rapih diatas bantal nya.
'Mam**s deh ... aku ketahuan' Elena memaki sendiri dalam hati.
Dengan langkah lebar Elena mendekati Haris, kepanikan jelas terlihat di wajahnya, panik? jelas sekali ia panik, karena kini kebiasaan tidurnya telah di ketahui.
Elena yang kini berhadapan dengan Haris, nampak tersenyum gugup, 'bagus, semakin kamu gugup, aku semakin senang menggoda mu' Haris berkata sendiri dalam hati.
"Bisa jelaskan kenapa kamu memiliki benda itu?" Haris menunjuk hoodie berwarna hitam tersebut.
"Ya ... T .. te ... tentu saja bisa karena aku membelinya, benda itu bisa jadi milikku," Elena berusaha menjawab setenang mungkin.
"Aaaahhh milikmu rupanya kenapa terlihat mirip sekali dengan milikku yah?" Haris kembali memancing Elena.
"Entah, benda seperti itu kan banyak di jual di mall," Jawab Elena asal, dia terus berusaha mendorong Haris menjauh dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Haris mendekati benda berwarna hitam yang kini jadi perdebatan lucu diantara mereka, jujur Haris sungguh gemas dan ingin sekali tertawa, melihat Elena yang bersusah payah menghalanginya menyentuh Hoodie tersebut, namun dengan sekali gerakan berputar, haris berhasil menyambar Hoodie hitam tersebut.
Haris menunjukkan sebuah brand berwarna biru keunguan, "lihat brand ini berasal dari boutique milik Sandra, kekasih Steve, Sandra memberiku benda ini, sebagai hadiah ulang tahun, Sandra yang sama, gadis yang kamu jumpai di pesta malam itu."
"Aaahhh Sandra yang itu," secara tidak langsung Elena tengah menjawab pertanyaan Haris, "Tidak mungkin benda ini milikmu, Aku membeli ini di Mall," Elena kembali mengeluarkan bantahan.
"Oh yah, di mall mana? seingat ku, Sandra tidak membuka outlet di negara ini." Haris terus bergerak maju, hingga betis Elena menabrak tempat tidur, Elena semakin gugup karena kini ia tak bisa lagi bergerak menghindar.
"Aku lupa mall mana, karena waktu itu selesai belanja, aku langsung menyimpan semua belanjaan di lemari, jadi tercampur dengan benda benda dari berbagai macam toko."
Menyadari Elena yang semakin terpojok, Haris melingkarkan lengan kirinya di pinggang Elena, Hingga membuat tubuh bagian depan mereka menempel, "Aku tahu benda ini milikku, malam kita bertemu di cafe pohon, aku meminjamkan benda ini, bahkan aku yang memakaikannya ke tubuhmu, apa sekarang kamu ingat?" tanya Haris.
"I ... i ... iya ... iya, hoodie ini milikmu, maaf aku lupa mengembalikan nya, aku akan mencucinya malam ini, dan besok aku antar ke rumahmu," Elena menundukkan wajahnya, membuat Haris bisa melihat puncak kepala gadis itu, Haris sungguh gemas melihat Elena yang kini tengah menunduk menahan malu.
"Bukan itu sayang, tak masalah bagiku kalau kau menginginkan benda ini, kamu bisa memilikinya, bahkan seluruh isi dompet dan isi lemariku pun bisa jadi milik mu," dengan jari telunjuknya, Haris mengangkat dagu Elena.
"Lalu apa maksudmu bertanya, membuatku takut saja," kini Elena cemberut.
Elena terdiam, namun ia kini mendongakkan wajahnya, membuat pandangan mereka bertemu. "emmmppp ... setelah kemarahan dan kepergian mu hari itu, aku mengalami insomnia, aku bahkan berusaha membuat tubuhku lelah di siang hari, namun malam hari nya aku masih kesulitan untuk memejamkan mata, padahal biasanya berendam dengan air hangat sebentar, aku sudah bisa tidur, tapi hari itu, semua sudah ku lakukan, namun aku tak juga bisa tidur, dan aku ... " kalimat Elena terhenti, manakala Haris meletakkan jari telunjuknya di bibir Elena.
"Cukup, aku sudah tahu kelanjutannya, maafkan aku, aku sungguh sungguh minta maaf, hari itu aku yang bersalah, tapi kemudian aku juga yang membentak mu, sungguh aku juga tersiksa sekali setelah hari itu, aku menyesali perbuatan ku, dan aku juga merindukan mu" Haris menempelkan keningnya di kening Elena yang kini tengah mendongak menatap nya, kini wajah wajah mereka tak berjarak, Haris mencium bibir Elena sekilas, membuat Elena terkejut, namun lagi lagi responnya hanya membatu, seperti kejadian pertama dulu.
Haris sepenuhnya menyadari dia baru saja melakukan perbuatan gila yang mungkin saja membuat Elena marah, namun sungguh ia sudah tak tahan lagi ingin merasakan kembali bibir manis itu, sepersekian detik Elena masih diam membisu, wajahnya terlihat kaku, dan tatapannya kosong,
Haris tahu Elena masih shock dengan apa yang sudah dilakukannya, Haris bahkan sudah bersiap sedia jika Elena kembali menampar kedua pipi nya.
Pelan pelan Haris mengurai pelukannya, karena tak ingin Elena terjatuh, "Maaf aku melakukannya lagi, kamu boleh menamparku lagi," namun Elena masih terdiam, "Baiklah, aku tunggu di luar saja, karena ada di dekatmu sungguh membuat pikiranku tidak sehat."
Haris hendak berbalik menuju pintu, namun Elena menahan lengannya, kali ini Elena dengan berani melingkarkan lengannya ke leher Haris, dan ...
__ADS_1
cup
Elena yang memulai nya, bertahan disana beberapa detik, sungguh Elena sudah berhasil membuat pikiran Haris tak bisa bekerja dengan normal, namun Haris, dia sungguh sungguh berbalik dan berjalan menuju pintu, membuat Elena menatapnya kecewa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
like like like komen and vote please 🥰🙏