Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
16


__ADS_3

Klik


Suara seat belt Membuyarkan lamunannya, karena sepanjang jalan dia melamun, Elena tak manyadari bahwa mereka sudah berhenti di area halaman rumah besar keluarga nya.


“Apa yang kamu pikirkan? Sejak tadi kamu melamun, beberapa kali aku panggil juga tidak menjawab” tanya Haris, dan dengan sengaja dia mendekatkan wajah mereka.


Elena gelagapan, dia gugup, ketika pandangan mereka bertemu.


hei hati ada apa denganmu?


“Ti ...tidak apa apa” Elena bergerak kikuk, karena jarak mereka terlalu dekat, Haris yang menyadari akan hal itu pun kembali bersandar di kursinya.


“Ris ... Terimakasih untuk hari ini” ucap Elena.


“Tak masalah, lagi pula aku sedang tidak ada pekerjaan di rumah” balas Haris.


“Tapi tentu saja ini tidak gratis” lanjutnya.


Baru saja, Elena berfikir temannya ini baik hati sekali, ternyata dia pamrih juga.


“Aku pikir kamu melakukannya dengan ikhlas, tak kusangka kamu menginginkan kompensasi, baiklah katakan” ujar Elena sebal.


Haris hanya tersenyum geli, seraya mengangguk kan kepala nya.


“Tidak sekarang, karena ini belum pasti, seharus nya minggu minggu ini aku dapat kabar, nanti setelah pasti aku beritahu”.


“Terserah kau saja” Elena pun turun, tak lupa membawa serta laptop dan tas nya.


Kemudian ia berjalan mengitari mobil dan kembali berdiri di samping kursi kemudi. “tidak masuk dulu?” Elena menawarkan.


Haris menggeleng “kamu tau kan, kalau aku masuk tante marisa akan memaksaku makan lagi” Haris tersenyum tapi juga sambil cemberut.


Elena menganggukkan kepalanya sesaat, kemudian tersenyum geli “iya iya ... aku faham, kalian bertiga memang tidak diizinkan keluar dari rumah ini dengan perut kosong”


“Baiklah aku pergi” Haris kembali menyalakan mesin mobil, tak lupa melambai, kemudian keluar dari halaman rumah besar Harun Sebastian.


...****************...


Hampir jam 11 siang ketika Elena tiba di lokasi proyek yang sedang di garap HS grup bekerja sama dengan Daehan grup.


Cuaca panas menyapu wajah cantiknya, tampilannya yang casual tampak semakin segar berkat efek warna kemeja yang dia kenakan, rambutnya sengaja di kuncir ekor kuda agar tidak menghalangi pergerakannya, tak lupa topi dan kaca mata hitam melengkapi penampilannya.


Elena terus melangkah, pandangannya kini mengarah ke deretan truk truk yang mengangkut tanah, karena tahap awal proyek di mulai dengan pemadatan lahan, sementara beberapa truk yang mengangkut bahan bangunan juga turut hilir mudik.


kini dia berhenti di depan bangunan 2 lantai, tidak terlalu besar, yah bangunan inilah yang akan jadi tempat ia bekerja selama proyek berjalan, bangunan yang balu selesai pengerjaannya itu nampak bersih, dan belum ada perlengkapan kerja di sana.


"Selamat siang" suara pria membuat Elena menoleh "Bu Elena?" tanya pria paruh baya itu.


"Selamat siang juga pak, maaf dengan pak siapa yah" balas Elena ramah.


"Perkenalkan saya Gino, mandor di proyek ini" pria paruh baya itu mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Salam kenal Pak Gino, saya Elena, saya diberi mandat oleh Pak Krisna untuk menjadi penanggung jawab utama di proyek ini" Elena memperkenalkan diri. "Mohon bantuannya pak, bagaimanapun ini pertama kali nya saya terlibat langsung di lapangan" pinta Elena tulus.


Gino mengangguk "sama sama bu"


"Oh iya, pak Gino sedang menunggu seseorang?"


"Benar bu, tadi saya dapat telepon, bahwa sebentar lagi, barang barang yang minggu lalu di pesan untuk ruangan ini, akan segera tiba"


Elena mengangguk kan kepala "Baiklah pak, kalau begitu saya akan menunggu di luar saja" pamit Elena.


"Silahkan bu"


Elena pun beranjak keluar dari ruangan tersebut, "kemana Bagus dan Haris, kenapa mereka belum terlihat?" Elena membatin.


kemudian Elena mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya.


"iya Elena?" dari seberang Bagus menjawab.


"kamu di mana? kemarin kamu bilang, sampai jumpa di proyek, kenapa kamu tidak segera ke proyek?"


"Maaf Elena, hari ini aku tidak bisa ke proyek"


"Kenapa?"


"Sepertinya kakak dan kakak ipar mu ingin membunuh ku perlahan-lahan, jika seperti ini terus, mungkin 10 tahun mendatang, aku akan menyusul Priyo menjadi petani"


Sontak Elena tertawa lepas


" Jangan tertawa, kamu pikir ada yang lucu"


Elena masih berusaha keras menahan tawanya.


"Memang apa yang dilakukan kedua kakakku??"


"Kau ini seperti tidak kenal mereka saja, gara gara tugas dari mereka, sekarang aku terkurung diantara tumpukan dokumen yang harus segera aku periksa dan selesaikan, karena kakak mu tidak suka keterlambatan"


"Kenapa kamu tidak minta kakak ku mencari orang baru yang bisa membantu mu?"


"Hah ... kamu pikir itu tidak pernah kulakukan, sudah bertahun-tahun aku meminta asisten baru, tapi semua kandidat mereka tolak mentah mentah"


"Bawalah semua nya ke proyek, kalau kamu perlu bantuan"


"Apa kamu mau membantu ku?"


"Kenapa tidak, toh aku juga masih perlu banyak belajar, ajarkan aku apa saja yang perlu aku pelajari, dan dengan senang hati aku akan membantumu"


"Oh terima kasih tuhan ... Engkau kirimkan bala bantuan kepadaku" teriak Bagus dari seberang.


"Jangan senang dulu, tentu saja ini tidak gratis"


"Haiiiisss ... dasar teman laknat, kamu sama saja dengan Haris, sudah aku mau kerja lagi"

__ADS_1


"Tunggu"


"Apa lagi Elena"


"Aku menyayangimu teman"


"simpan gombalanmu, aku membencimu"


kemudian bagus mematikan panggilan lebih dahulu. Elena tersenyum sendiri, hahahaha Bagus yang malang.


Elena terus berjalan dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lokasi proyek, nampak hiruk pikuk orang orang tengah sibuk dengan tugas masing masing.


tak lama pandangannya terkunci pada sosok yang sangat dia kenal, pria itu nampak sibuk memeriksa segala sesuatu, dia berbicara pada orang orang seakan akan sedang memberikan instruksi, gulungan kertas di tangannya pun nampak dia buka berkali kali, dengan telaten dia mengulang penjelasan pada orang orang d sekitar yang seakan akan belum memahami instruksi dari nya.


Tanpa sadar senyum tersungging dari bibir mungil nya, kenapa menatap pria itu terasa menyenangkan? dia terlihat berbeda dengan yang dulu, Sekarang dia terlihat lebih maskulin, meski hanya mengenakan jeans yang sobek dibagian lutut nya, kaus oblong dan kemeja yang sengaja tidak dikancingkan, rambut nya yang berponi nampak tak beraturan akibat ulah sang angin, tapi entah kenapa semua itu laksana pemandangan indah yang tak ingin Elena lewatkan.


sesaat kemudian Elena terkesiap.


plak


Sadar Elena, terlalu lama menatapnya bisa berakibat jatuh cinta, gumamnya.


Elena tersenyum sendiri mengingat kalimat yang sering Haris ucapkan ketika Elena memandang nya.


Tiba-tiba pandangan Haris mengarah kepadanya, Haris seolah sadar ada yang sedang memperhatikan, kemudian ia melambai kearahnya, Elena pun membalasnya dengan lambaian.


Setelah selesai dengan semuanya, Haris berjalan mendekati Elena, senyum samar nampak menghiasi bibirnya, gadis itu laksana hujan yang selalu menyejukkan hatinya.


"Kamu menunggu ku?"


Tanya nya ketika jarak nya semakin dekat dengan Elena.


"Cih ge er ... "


Jawab Elena cuek.


"Lalu apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku hanya melihat lihat, belum ada yang bisa ku kerjakan"


Haris mengangguk.


"Apa kamu melihat Bagus, sejak tadi aku tak melihat nya" Haris bertanya.


"Hem ... tadi aku menelpon nya, dan dia bilang tidak bisa keluar kantor karena dikurung pekerjaan"


"Kalau dipikir-pikir, kasihan juga sih dia, dia bekerja tanpa asisten, dan hanya di bantu sekertaris"


"Benarkah?? aku tak tau" gumam Elena.


Sesaat mereka berjalan beriringan, tanpa suara.

__ADS_1


"Setelah ini mau kemana?" Elena kembali membuka percakapan.


"Ciyeeee ... yang kepo" Haris mulai menggodanya, dia berjalan mundur sambil menatap wajah Elena.


__ADS_2