
Hari hampir gelap ketika akhirnya Haris memutuskan untuk menyerah menunggu, Hari ini aku bahkan tidak melihatnya, sungguh menyebalkan, kerja pun jadi tak bersemangat, Haris bersungut sungut meninggalkan ruangan tempatnya berkantor.
Hari ini dirinya hanya duduk melamun di kursi nya, tak fokus mengerjakan desain atau bahkan kelapangan untuk sekedar memastikan detail bangunan yang sedang di kerjakan, beberapa kali Bagus mengajaknya berdiskusi tentang pekerjaan, namun tak ada satupun jawaban yang keluar dari lisannya terdengar menyenangkan, hingga Bagus pun lebih memilih ke kantor pusat menemui atasan kesayangan nya.
ceklek
Dia adalah penghuni terakhir ruangan tersebut hari itu, jadi dirinya pula yang bertanggung jawab mengunci ruangan tersebut.
Sebuah mobil melintas di belakangnya, dan wajah Elena menyembul dari dalam mobil, seketika senyumnya terkembang.
Elena berjalan ke arahnya, wajahnya nampak lelah, entah apa yang dia kerjakan hari ini.
"Kok baru pulang?" Tanya gadis itu.
Oh Tuhan aku merindukan nya seharian ini, jerit nya dalam hati.
"Sibuk?" tanya nya lagi.
Dan Haris hanya mengangguk, Elena mengambil alih kunci ruangan tersebut kemudian membuka pintu nya. "Kok diam sih, menyebalkan, aku seperti bicara dengan patung"
Haris tersenyum
"Kok cuma senyum? kamu menungguku?" tanya Elena lagi.
"Kenapa? kamu berharap aku menunggu mu?" Haris mulai bersuara menggoda gadis manis tersebut.
"Hah dasar kampret, bikin rusak suasana saja, udah sana mending pulang aja" Elena mendorong tubuh pria yang sejak tadi berdiri mengamatinya, namun pria itu tak bergeser sama sekali.
Elena pun mendengus sebal, kemudian berjalan menuju meja, dan membereskan laptop, bahkan kotak sarapannya pun masih teronggok disana.
"Temani aku makan, seharian aku hanya minum, tak berselera makan" Pinta Haris
"Kenapa gak makan?" tanya Elena bingung, tangannya masih sibuk membersihkan meja, lalu kemudian mengangkat tumpukan pekerjaan yang akan dia kerjakan di rumah.
"Bahkan keluar dari ruangan ini pun aku tak berselera, ayolah cepat aku lapar" Ujarnya tak sabar.
"Baiklah ayo, aku juga lapar" ujarnya berlalu menuju pintu, tanpa meminta bantuan untuk membawakan tumpukan pekerjaan nya.
Dengan sigap, Haris mengambil barang bawaan gadis itu, kemudian berjalan keluar lebih dahulu.
Elena tersenyum, entah kenapa dirinya selalu merasa aman jika Haris didekatnya.
"Mau makan di mana?" Tanya Elena, ketika mereka berdua sudah berada di parkiran.
"Dimana aja tak masalah, asal bersama mu" jawab Haris, usai ia menutup pintu mobil Elena.
"Cafe Pohon aja gimana?"
"Oke" Haris langsung mengangguk setuju. "Tapi aku naik motor yah?"
Elena mendengus kecewa "Kenapa, mau naik motor juga?"
"Tak apalah, aku naik mobil saja, lagi pula setelah ini langsung pulang"
Haris pun memacu motor nya lebih dahulu, dan disusul kemudian Elena yang mengendarai mobilnya seorang diri.
butuh waktu 30 menit untuk Elena sampai ke cafe tersebut, karena lalu lintas yang padat, usai jam pulang kerja, Haris sudah menunggu nya duduk di pojok cafe, dengan Laptop di hadapannya.
Melihat kehadirannya, Haris buru buru menutup laptopnya, entah kenapa Haris selalu menutup laptonya ketika Elena mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Pria itu tersenyum ke arahnya "aku udh pesen makanan, kamu mau apa? aku pesenin lagi?"
"Aku mau juice buah aja deh, oh iya sama choco lava cake" jawab Elena datar.
Haris menautkan alisnya "choco lava cake? kamu kenapa? ada yang kamu pikirkan"
"Nggak sih, hanya ada yang merusak mood ku Hari ini, jadi aku butuh coklat manis" jawab Elena
Haris pun memanggil waiters, dan menyebutkan tambahan pesanannya.
"Seharian ini kemana?" tanya nya penuh selidik.
"Berlari" Elena tersenyum.
"Lari dari apa dan kenapa?"
"Aku ingin membuang rasa marah ku, jadi aku berlari, seperti katamu"
"Mau bercerita?"
Elena menggeleng, "Malas ... Biarkan saja, aku hanya ingin melupakan".
Tak lama pesanan mereka datang, keduanya pun makan dengan tenang, dan hanya di selingi beberapa obrolan ringan.
...****************...
beberapa hari kemudian.
Siang itu di proyek, jam makan siang sedang berlangsung, para pekerja nampak mendatangi warung kecil yang sengaja berdiri di dekat proyek, Elena sengaja tak mengeluarkan larangan, toh setelah proyek selesai, dengan sukarela warung tersebut akan menghilang.
Karena warung kecil itu juga merupakan mata pencaharian seseorang, begitu pun para pekerja yang merasa bersyukur atas hadirnya warung tersebut, jajan, makan siang, atau sekedar minum kopi sambil bernyanyi riang disana, sungguh menjadi hiburan tak ternilai.
Haris menghampiri warung kecil tersebut, beberapa pekerja yang mengenalinya nampak menyapa dan mengangguk hormat. “siang pak Haris" mandor proyek menyapa nya.
Gino pun berjalan meninggalkan warung.
Haris meninggalkan selembar uang berwarna hijau, Setelah mengambil 2 botol air mineral, kemudian berlalu pergi.
“Lho mas Haris, masih ada kembalian” teriak ibu penjaga warung.
“Gak papa bu” Haris melambaikan tangan nya.
Sesampainya di ruangan tempat nya berkantor, dia melihat Elena seorang diri, sedang sibuk dengan laptop nya.
“Kok sepi pada kemana?” tanya nya begitu memasuki ruangan.
“Pada keluar makan siang” Jawab Elena singkat.
Haris menuju wastafel kemudian mencuci wajah dan tangannya dengan sabun “Diluar panas sekali” keluhnya.
“Makanya aku malas keluar, aku pesan antar saja” Jawab Elena, sambil bersandar dan meregangkan otot tubuhnya.
Haris membuka lemari pendingin di ruangan itu, berharap, menemukan sesuatu yang segar untuk menghilangkan dahaga nya, namun dia kecewa manakala tidak ada apapun di dalam sana “ini pendingin jadi ruangan dedemit lagi?”
“Iya ... Aku baru pesan beberapa botol kopi, nanti di masukkan ke sana, besok biar Syafira yang belanja, setidak nya harus ada air mineral” Elena nampak bermain main dengan kursi nya, dia memutar kursinya pelan, putar kanan, putar kiri, kemudian dia tertawa bahagia.
“Coba kulihat gambar mu” Elena memberikan ruang pada Haris untuk bisa mengakses laptop nya.
Haris tampak serius mengamati desain rumah type spesial yang nantinya akan menghuni beberapa space di dalam perumahan, Dia membungkuk, tangan kirinya memegang sandaran kursi Elena sementara tangan kanan nya memegang mouse.
__ADS_1
Posisi mereka sangat dekat, hingga pipi mereka nyaris bersentuhan.
Elena menelan ludah nya, belum pernah ia dalam posisi sedekat ini dengan Haris, aroma parfum maskulin samar samar menerobos indra penciumannya, matanya tak lepas menatap sosok tampan yang kini berada tepat di sampingnya, jantung nya berdenyut tak beraturan, apa ada yang tak beres dengan jantungnya? hingga Elena merasa dia harus bergeser sejenak, “Duduk lah, aku mau cuci muka sebentar” Elena beralasan.
Namun ketika hendak berdiri, Haris pun tiba tiba bergerak, niat hati ingin bergeser agar Elena bisa lewat namun ternyata ...
Cup
Tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan, pandangan mereka bertemu, sesaat mereka terdiam dalam posisi tersebut.
Deg deg deg
Kini Jantung Elena berpacu cepat, dia hendak berpaling, namun haris dengan cepat menahan tengkuknya, entah apa yang melintas di kepalanya, dia kembali memperdalam ciumannya.
Ciuman pertama mereka.
Manis
Itulah yang dia rasakan
Elena yang yang masih shock nampak diam membeku, sesaat dia terbuai, namun detik kemudian dia tersadar, mencoba melepaskan diri dan ...
Plak ...
“Lancang” teriak nya penuh emosi.
Haris terkejut memegang pipinya yang terasa perih, biarpun Elena bertubuh lebih kecil dari dirinya, namun tamparannya terasa sangat menyakitkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bang ... aw aw aw kok jadi nakal si bang, kan othor jadi ikut cenat cenut nih 🙈
__ADS_1
.
like like like komen and vote please 🥰🙏