
"Dan ingat usia kalian," Kali ini Hasti menambahkan, "jangan menunda untuk segera memiliki anak, kami ingin buru buru menimang cucu."
Duaaarrrr
ANAK?
CUCU?
tik tok tik tok tik tok krik krik krik krik
Pernyataan Hesti barusan, laksana bom atom yang tiba tiba meledak, tepat sesudah terucap, Haris dan Elena tampak tak bisa menyembunyikan wajah malu, berdebar bercampur dengan ketegangan yang datang tiba tiba, mendadak di suruh menikah, bagi Elena yang baru saja menemukan lelaki yang sekian lama mengendap dalam diam di sudut hatinya, dan ternyata si penyelamat itu adalah cinta pertamanya, lalu mendadak ditanya akan bagaimana dan tinggal di mana setelah menikah, dan sekarang sudah ditodong perihal anak, tentu saja mereka berdua jadi pasangan yang mendadak bisu, karena tak siap mendengar pernyataan yang baru saja terlontar dari mulut Hesti.
...****************...
Usai sarapan dan perbincangan yang sedikit horor mengenai anak dan tempat tinggal, Haris menerima panggilan dari Mark, yang mana mengharuskannya datang ke proyek.
Yah tepat setelah pernyataan hesti terlontar, ponsel Haris berdering, sekilas Elena melihat nama penelepon nya adalah Mark.
"Iya Mark?" Tanya Haris, dan langsung menjauhi meja makan.
Sesudahnya Hesti dan Andini mulai merapikan meja dan membawa piring piring kotor ke wastafel, Elena yang tak ingin jadi penonton pun mulai menyabun tumpukan piring kotor tanpa canggung, tentu saja Hana memekik histeris.
"STOP kak!!"
Elena meletakkan piring yang berada di tangannya.
"Ada apa?, kamu bikin kakak kaget aja."
"Calon pengantin tak boleh cuci piring, nanti tangannya kasar." Hana pun mengambil alih spons sabun dari tangan Elena, kemudian mulai menyabun tumpukan piring kotor tersebut, "Sekarang kakak mandi yang bersih, pake sabun wangi, biar kakak gak beraroma bawang dan asap dapur."
"Aku bau bawang yah?" Tanya Elena yang tanpa di komando mulai mengendus lengan dan piyama yang ia pakai.
"Iya banget, aku jadi heran, apa cinta juga bisa membuat seseorang kehilangan indra penciuman, betah amat Kak Haris nempel ke kak Elena." Ucapan Hana justru membuat Elena terkekeh, namun akhirnya ia pun menurut saja kembali kekamar.
Di depan pintu kamar mereka berpapasan, "Ada masalah?" tanya Elena khawatir.
"Bukan masalah serius," Haris mengusap lengan calon istrinya tersebut. "ngedate yuk, biar kaya orang orang yang lagi pacaran,"
"Oke, aku mandi dulu, tapi sebelumnya kita ke butik dulu fitting baju."
Haris mengangguk.
...****************...
Salah satu Butik ternama kini menjadi tujuan utama mereka.
Elena harus tepat waktu, karena asisten Seno sudah meminta butik di kosongkan, mengingat kondisi kedua nya yang tengah hangat menjadi perbincangan.
Elena menatap pantulan bayangan dirinya melalui cermin besar yang terpampang di hadapannya, tubuhnya kini terbungkus kebaya broken white, sederhana namun tidak meninggalkan kesan anggun dan mewah, begitulah style Elena, tak ingin terlihat berlebihan, rupanya asisten Seno sudah sangat faham dengan keinginan Elena.
"Saya buka tirai nya yah... " pegawai butik yang sejak tadi membantu Elena meminta izin untuk membuka tirai penutup ruang ganti.
Tante Desi pemilik butik sekaligus teman arisan Marisa, tengah berbincang dengan Haris, "Bagaimana, apa ada yang kurang nyaman?" Desi memastikan tuxedo yang di kenakan Haris tidak kurang satu apapun, Karena bukan sekali dua kalinya Desi di beri kepercayaan oleh marisa untuk menyiapkan pakaian di momen momen penting keluarga Harun Sebastian, tentunya kali ini pun, walau mendadak, Desi tak ingin Hasil karya nya mengecewakan.
"Sepertinya tidak tante, pas sekali." Jawab Haris, yang tak menyadari dirinya kini tengah menjadi pusat perhatian.
"Apakah mungkin karena si pemakai terlalu tampan, hingga Tuxedo ini terlihat sempurna." Desi seolah tak malu melontarkan pujian.
Elena termangu di tempat ia berdiri, tirai yang baru saja terbuka itu, menampakkan sebuah pemandangan indah, pria tampan itu telah berubah, semasa kuliah wajah tampannya tak terlalu bersinar seperti saat ini, namun kini badannya terlihat semakin tegap berisi, sorot matanya misterius namun mampu membius, dewasa dengan pengalaman dan dari sisi finansial makin menjanjikan, maka tak Heran sosoknya kini tengah hangat di perbincangkan kaum hawa yang terpikat pesonanya.
"Lagipula kita tak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, siapa tau satu atau dua bulan lagi aku menikah ... "
Sekilas Elena teringat memori tersebut, kalimat yang diucap Haris tepat satu bulan yang lalu, apakah ucapan hari itu benar benar menjadi doa yang sebentar lagi terlaksana?.
Dan seolah menyadari kehadiran Elena, Haris kini menatap calon istrinya tersebut, 'rasanya jantung ini masih sama berdebar kencang, sama seperti ketika pertama kali aku melihat gadis itu, dia masih gadis yang sama, gadis yang aku tolong sewaktu melompati pagar sekolahnya', ujar Haris dalam hati.
Siapa yang akan menyangka, bahwa gadis yang 13 tahun lalu dia tolong ketika melompati pagar sekolah, kini tengah berdiri di hadapannya, bahkan sebentar lagi gadis itu menyandang status sebagai istrinya, terima kasih tuhan, telah Engkau kabulkan keinginanku untuk menjadikan ia pendamping hidupku, sungguh Haris sangat mensyukuri hal ini.
Air matanya menetes tanpa bisa di cegah, Haris berjalan mendekati Elena, Desi yang mengerti situasi, meminta pegawai nya untuk kembali menutup tirai, dan memberi ruang pada pasangan untuk saling mengagumi satu sama lain.
Elena yang merasa tengah ditatap, tampak salah tingkah, bukannya tersenyum bahagia, justru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa di tutup?"
"Aku sungguh malu,"
Haris justru senang melihat Elena yang tengah grogi karena di perhatikan olehnya, pelan pelan dibuka nya kedua tangan Elena, rona merah tampak di kedua pipi Elena, "you look so beautiful in white," Haris membawa Elena kedalam dekapannya.
__ADS_1
Tiba tiba Elena teringat sesuatu, "Oh iya, cincin ini tidak ada pasangannya?" Elena mengangkat tangan kirinya.
"Tentu saja ada, mau memakaikannya di jariku?"
"Iya,"
Haris lagi lagi mengeluarkan kalung dari balik baju nya, sebuah cincin menggantung di sana, "Kenapa kamu suka sekali menyembunyikan cincin di sebuah kalung?"
"Tentu saja kepraktisan menjadi alasan utama, daripada aku harus membawa kotak kemana mana?"
"Whatever lah, berikan padaku, aku akan memasangnya di jari mu."
"Tunggu, lepas juga cincinmu, kita ulang dari awal."
Elena pun melepas cincin yang beberapa hari ini melingkar di jari manis nya, kemudian Haris kembali memakaikan cincin di jari manis Elena, begitu pun sebaliknya, tangan Elena gemetar bercampur keringat dingin ketika memakaikan cincin di jari manis Haris.
Dan dengan suara lirih Haris menyanyikan sebuah lagu.
🎶🎶🎶
Not sure if you know this
Tak yakin apakah kau tahu ini
But when we first met
Tapi saat pertama kita berjumpa
I got so nervous I couldn't speak
Aku sangat grogi hingga tak dapat berkata apa-apa
In that very moment
Pada saat itu
I found the one and
Kutemukan seseorang dan
Hidupku tlah temukan kepingannya yang hilang
So as long as I live I love you
Maka selama aku masih hidup, aku kan mencintaimu
Will have and hold you
Aku kan miliki dan mendekapmu
You look so beautiful in white
Kau tampak sangat cantik berpakaian putih
And from now to my very last breath
Dan mulai kini hingga hembusan nafas terakhirku
This day I'll cherish
Hari ini kan kukenang
You look so beautiful in white
Kau tampak sangat cantik berpakaian putih
Tonight
Malam ini
What we have is time
Yang kita punya adalah waktu
My love is endless
Cintaku tak lekang oleh waktu
__ADS_1
And with this ring I
Dan dengan cincin ini aku
Say to the world
Kukatakan pada dunia
You're my every reason
Engkaulah alasanku
You're all that I believe in
Engkaulah yang kupercayai
With all my heart I mean every word
Dengan sepenuh hatiku, tiap kataku ini yang sebenarnya
oooh oh
You look so beautiful in white
Kau tampak sangat cantik berpakaian putih
Na na na na
So beautiful in white
Sangat cantik berpakaian putih
Tonight
Malam ini
#you look so beautiful in white
#shane filan
Elena sungguh terharu, air mata mengalir deras ketika akhirnya haris menyelesaikan nyanyiannya, padahal belum semu syair dinyanyikan, "Ini pertama kali aku mendengar mu menyanyi, apa kamu sengaja menyiapkan lagu itu?"
"Tidak, tapi sejak pertama mendengarnya, lagu ini benar benar mewakili perasaanku padamu, diam diam aku membayangkanmu memakai gaun berwarna putih di hari pernikahan kita, siapa sangka sebentar lagi khayalanku jadi kenyataan,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Othor mellow bang, jadi pengen nangis 😳🥺
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1