
Haris membukakan pintu mobil untuk Elena, setelah memastikan Elena duduk, tak memasangkan seat belt untuk nya, barulah kemudian Haris duduk di kursi kemudi, terlihat sekali Elena masih tegang karena beberapa saat lalu Haris mengusulkan akan mengantar dia ke hotel, Haris kembali menggenggam tangan Elena, terasa dingin dan berkeringat.
"Maaf ... "
"Bukan salahmu, aku hanya belum bisa mengatasi rasa takutku."
"Kalau kamu masih setakut ini, bagaimana rasanya setiap hari kamu harus bekerja mengelola Hotel?" Ada kekhawatiran dalam pertanyaan Haris.
"Kan aku bekerja, bukan menginap, makanya ruang istirahat ku juga tak pernah ku gunakan, aku lebih memilih tidur di kursi atau sofa ketika mengantuk dan butuh istirahat."
"Bukankah beberapa hari lalu kamu juga keluar kota? Bagaimana kamu menginap jika tak bisa tidur sendiri di hotel?"
"Aku meminta Fero membawa sekertaris nya, kebetulan sekertaris nya perempuan, karena itulah, aku juga memilih sekertaris perempuan, agar bisa memintanya menemani, ketika harus keluar kota untuk urusan pekerjaan."
"Lakukan apapun yang membuat mu nyaman."
Elena mengangguk.
...****************...
"Masuklah, ini sudah malam," Haris mengantar Elena sampai ke depan pintu kamar Hana.
Elena mengangguk, tangannya mulai mengetuk pintu kamar tersebut, berharap pemilik kamar belum memejamkan mata.
Benar saja, tak lama setelah pintu di ketuk, si pemilik kamar segera membuka pintu tersebut, "Lho kakak, kok disini?"
"Maaf yah aku ganggu, tapi malam ini aku menginap di kamarmu, boleh?"
"Tentu saja, masuk lah," segera setelah Elena melewati pintu, Hana kembali menutup pintu kamarnya, tanpa peduli lagi pada Haris yang masih mematung di depan pintu dan tak pula memberi kesempatan pada keduanya untuk mengucap selamat malam.
Tok tok tok ...
Hana kembali membuka pintu, "Duuuhhh apa lagi sih kak?" Hana mendengus sebal, karena lagi lagi Haris mengetuk pintu kamar nya.
"Main tutup aja, kan kakak mau bilang selamat malam."
"Gak usah, besok pagi juga ketemu lagi, gak sabaran amat."
Brak ... ceklek.
Dengan kasar Hana menutup pintu kamarnya kembali, tak lupa pula menguncinya, takut takut barang kali malam nanti ada yang bergentayangan, mencari kekasihnya.
Bergentayangan, membayangkannya saja sudah membuat Hana tersenyum sendiri.
"Ada yang lucu, kok ketawa sendiri?" Tanya Elena Heran.
"Nggak papa kak, hanya membayangkan sesuatu yang lucu aja," Hana berjalan ke lemari pakaiannya, kemudian mengambil piyama dan handuk bersih untuk Elena, tak lupa dalaman yang beberapa hari lalu ia beli. "Ini kak, jangan khawatir, ********** masih baru."
Elena mengangguk, "Terimakasih," ujarnya.
"Nggak perlu, nanti kalo sudah jadi kakak iparku, sering sering traktir yah," Jawab Hana cuek, kemudian ia merebahkan tubuhnya di kasur, dalam hitungan menit gadis itu sudah terlelap.
Elena tersenyum samar, 'Kakak ipar' gumam nya, terus terang ia belum terbiasa dengan panggilan tersebut.
Elena melepas Blazer yang membalut tubuhnya, karena sudah semakin larut Elena pun segera membersihkan diri, tak ada air hangat seperti di rumahnya, namun tak masalah baginya, yang penting badannya terasa kembali segar sebelum memejamkan mata.
Sepuluh menit kemudian, Elena menyudahi aktivitas mandinya, badannya yang sudah terbalut pakaian bersih, kini mulai rileks, dia pun membaringkan tubuhnya di sisi Hana, dahulu pun beberapa kali Elena menginap di kamar ini, jadi jika sekarang menginap lagi, Elena sudah tak merasa canggung, tak banyak perubahan di dalam kamar ini, masih penuh dengan nuansa biru kehijauan warna favorit Hana.
Elena membuka ponselnya, memastikan barangkali ada pesan penting yang terlewatkan olehnya.
Benar saja, ternyata pesan asisten seno sudah menunggu untuk di baca.
__ADS_1
Nona, besok jadwal fitting baju di butik langganan nyonya.
Oh iya, tuan Fero menunggu konfirmasi, untuk melanjutkan kunjungan ke kota SY.
-Om Seno-
Baiklah, terimakasih informasinya Om,
Sepertinya lusa, saya ada waktu luang.
-Elena-
Malam ini saya menginap di rumah Haris. -Elena-
Iya, tadi pengawal nona sudah melaporkan, selamat istirahat nona muda.
-Om Seno-
...****************...
"Selamat pagi tante" sapa Elena yang beberapa saat lalu keluar dari kamar dan langsung menuju dapur, mengingat kebiasaan Hesti yang selalu menyiapkan sarapan sendiri di pagi hari.
Hesti yang tengah menggoreng kerupuk pun langsung menoleh. "Lho, menginap di sini?"
"Iya tante, semalam sudah terlalu malam, saya tak enak jika harus membangunkan tante,"
Hesti mematikan kompornya, kemudian mendekati Elena, Elena pun mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.
"Tante senang kali kamu menginap di sini, makin ramai rumah ini, kebetulan ada orang tua Haris juga, nanti kita sarapan sama sama yah,"
Elena mengangguk, berusaha menutupi kegugupannya, namun ternyata kegugupan nya di ketahui oleh Hasti.
Elena tersenyum malu, "Saya bantu yah tante,"
"Boleh, bisa tolong bersihkan sayuran di atas meja itu, lalu di potong potong, untuk capcay,"
Elena mengangguk faham, kemudian mulai membersihkan 5 macam sayuran berwarna tersebut.
"Kamu masak apa untuk Sa ... " Andini yang baru saja muncul di dapur menghentikan pertanyaan nya, manakala melihat ada orang asing yang tengah membantu kesibukan Hesti di dapur.
"Nggak usah kaget gitu, ini calon menantu kita," Hesti memperkenalkan Elena pada Andini.
Seketika senyum cerah terbit dari bibir Andini, "Wah ternyata memang cantik, pantas saja Haris tak mau melirik yang lain,"
"Tante bisa saja," Elena tertunduk malu, setelah Andini berada di dekatnya, Elena pun mencium punggung tangan Andini.
"Eits ... panggil Ibu saja," Andini mencoba mencairkan keguguran Elena.
Terus terang, jika tuhan menciptakan kulit manusia dalam bentuk transparan, tentulah saat ini akan terlihat bahwa jantung Elena tengah berdetak cepat.
Syukurlah Sayuran yang tengah ia potong sedikit membantu nya menghilangkan kegugupannya .
"Tante, ini sudah semua, mana lagi yang harus saya kerjakan?" Tanya Elena.
Dengan tanggap Andini menyodorkan bawang, baso dan sosis untuk menjadi yang selanjutnya di potong.
"Biar ibu yang suwir daging ayamnya, sambil ngobrol boleh?" Tanya Andini kemudian.
"Boleh bu."
"Maaf yah, kalau ibu sudah terlihat seperti orang tua banget." Andini terkekeh "Ini pertama dan terakhir kali nya Ibu akan memiliki menantu, Karena Haris tidak memiliki saudara, percayalah Ibu juga sedang deg degan sekarang."
__ADS_1
"Eh ... benarkah, kok sama sih bu." Lagi lagi Elena ketahuan sedang gugup.
"Sudah berapa lama Kenal Haris?"
"Kami teman kuliah bu, teman main, teman belajar, teman berbagi suka duka, teman nongkrong, dan teman makan."
Hesti dan Andini tertawa mendengar jawaban Elena, "polos sekali kamu nak, Ibu hanya bertanya satu kalimat, dan jawabanmu sungguh lengkap."
Melihat Andini tertawa lepas, Elena pun menyunggingkan senyumnya.
Namun Obrolan mereka terhenti karena Hesti dan Andini menghampiri pedang Sayur yang biasa lewat di depan rumah.
kini tinggallah Elena sendiri, masih dengan bawang yang siap di potong.
Tiba tiba
Cup
Elena merasa ada yang mencium puncak kepalanya, tentu saja pelakunya hanya dia, tak ada lagi yang lain.
Elena menoleh kebelakang, benar saja, pria dengan tinggi 185 masih berwajah bantal dan rambut tak beraturan, namun entah mengapa tetap terlihat tampan, kini tengah tersenyum ke arahnya.
"Kalo ada yang lihat gimana?" gerutu Elena, tangannya mendorong tubuh pria itu agar sedikit menjauh dari dirinya.
"Gak mungkin, tadi aku lihat ibu dan tante sedang keluar." Haris tersenyum jahil.
"Aku lihat kak ... " Hana yang baru saja tiba di dapur pun menimpali.
"Rese' nih, awas mata mu bintitan."
"Dih ... orang kalian jelas jelas di ruangan umum, aku gak ngintip kok," sembur Hana. "Awas kalau berani menodai mata suciku."
Hana menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral, kemudian berlalu pergi sebelum dirinya berubah menjadi asap obat nyamuk diantara dua orang yang sedang kasmaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1