
Elena mendesah sebal, bukannya mendapat jawaban yang diinginkannya, justru sejak tadi tawa Alex tak kunjung henti.
"Aku mau tanya sama kamu," Alex kembali bicara, itu pun masih dengan susah payah menghapus air matanya.
"Apa kamu tahu, hari itu sekolah kita bertanding dengan sekolah mana?" Tanya Alex, yang nada bicaranya mulai serius.
Elena menggeleng.
Tentu saja hal itu membuat Alex dan Silvia saling melempar pandangan.
"Ckckck, sifatmu belum berubah ternyata, jangan terlalu cuek dengan suasana di sekitar mu, lebih peka lah sedikit, bukan berarti kamu harus ikut campur urusan orang, minimal kamu tahu situasi," bukannya memberi jawaban, Alex justru menyelipakan nasehat. "dengar yah, pertandingan hari itu SMU kebangsaan 3 VS SMU kebangsaan 1,"
Elena terhenyak, kembali menegakkan posisi duduk nya ...
Elena nampak berfikir sesaat, tiba tiba dia ingat sesuatu, sesuatu yang mungkin ia lewatkan, benar kata Alex, sifatnya yang cuek dan tidak terlalu ingin mencampuri urusan orang, membuatnya sering bersikap masa bodo.
Jika di ingat ingat, Haris pernah bilang kalau dirinya pun mengenal ketua OSIS SMU kebangsaan 3, mungkinkah Haris mengenal si nomor punggung 00 tersebut? atau jangan jangan si nomor punggung 00 adalah ...
"Haris ?" Tanya Elena ragu.
Alex mengangguk, "Bingo ... dialah orang nya, lemparan bolanya menyelamatkan mu dari situasi sulit kita saat itu, Haris memang bukan pemain inti, hari itu dia tak sengaja menjadi pemain cadangan menggantikan kapten tim yang cidera lengan."
Sungguh Elena tak mampu lagi menahan debaran jantung nya, lelaki itu ternyata dekat sekali, lelaki yang sering menghantui mimpinya, lelaki yang selama ini dia hindari, lelaki yang dia abaikan perasaannya, yang mungkin saja selama ini dia sudah menghuni ruang khusus di dalam hati nya, bahkan tanpa sadar sudah terselip cinta untuknya.
Saat ini yang Elena rasakan hanya satu, ingin memeluk calon suaminya tersebut, dan menumpahkan segala perasaannya, Elena jadi menyesal, karena tadi tidak mengajak Haris menghadiri acara ini.
Tiba tiba terdengar kehebohan didalam ruangan tersebut, padahal acara inti sudah berakhir beberapa saat yang lalu, dan sebagian besar tamu undangan sudah meninggalkan ballroom, namun suara riuh itu masih saja terdengar di setiap penjuru ruangan.
Elena yang mendengar kehebohan tersebut pun memutar badannya ke belakang, dari jauh seorang pria memakai kemeja berwarna hitam dan jeans dengan warna senada, tengah berjalan ke arah Elena, mata hitam pria itu nampak tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia bertemu gadis pujaan nya.
Menyadari kehadiran calon suaminya tersebut, Elena pun berdiri, raut bahagia pun tak dapat ia sembunyikan, Elena berjalan mendekati Haris kemudian memeluk pria itu, tanpa peduli banyak mata menatap mereka.
Lagi ... riuh kehebohan dan jeritan histeris kembali terdengar, terutama dari para gadis yang mengidolakan Haris, namun Elena sungguh tak peduli, Elena hanya ingin menunjukkan pada para gadis itu, bahwa pria ini miliknya seorang.
Elena mendongak, dan pandangan mereka pun bertemu, "Antar aku pulang,"
"As you wish my girl."
Elena melepas pelukannya, kemudian berbalik dan menyambar tasnya. "Kalian harus hadir di pernikahan ku, awas kalau berani tidak hadir, aku pecat kalian sebagai sahabat."
Wajah Elena sungguh berbinar binar manakala menyampaikan perihal pernikahannya, namun tidak bagi Alex dan Silvia yang masih belum mempercayai apa yang baru saja mereka saksikan.
__ADS_1
...****************...
"Kenapa? sejak tadi kamu aneh, tiba tiba peluk, dan sekarang senyum senyum sendiri?" Haris yang melihat Tingkah Elena malam ini, jadi bertanya tanya ada apa gerangan.
Elena kembali mengulum senyum, setelah mengetahui siapa pemilik nomor punggung 00, kini dia merasa seperti remaja yang sedang kasmaran, berkali kali curi pandang, kemudian tersenyum sendiri.
Bahkan tadi saat meninggalkan ballroom, mereka sengaja berpelukan, Elena sengaja melingkarkan lengannya dipinggang Haris, seperti gayung bersambut, Haris pun membalas dengan melingkarkan lengannya ke pundak Elena, tanpa peduli di sekitar mereka banyak mata mengawasi.
"Lagi kangen aja, dari pagi gak ketemu," untunglah suasana di dalam mobil sedang gelap, jika tidak tentu Elena akan kesulitan menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Tanpa Elena sadari, pria di sebelahnya pun tengah setengah mati menahan gejolak perasaan bahagianya, bagaimana tidak, gadis yang telah lama dia nantikan cinta nya, kini mulai menyambut perasaan nya, bahkan tak lagi malu mengungkapkan rasa rindunya.
Rasanya tak rugi ketika tadi dia mengiyakan permintaan Bagus untuk menjemput Elena, Bagus berkata, ia terpaksa meninggalkan Elena di ballroom, karena harus mengantar syafira dan Hana, sementara Elena masih ingin berbincang dengan Alex dan Istrinya.
'Cih ... mujur sekali si kampret itu, bisa menghadiri pesta bersama tiga orang gadis sekaligus', sementara dirinya? Elena bahkan mengabarkan akan menghadiri pesta di detik detik terakhir sebelum acara di mulai.
Namun rasa kesalnya hilang seketika, manakala Elena menghadiahkan sebuah pelukan sesaat setelah dirinya tiba.
Bahagia? tentu saja, bahkan Haris melupakan rasa lapar yang sudah ia rasakan sejak keluar rumah, pasalnya Haris melupakan makan malamnya karena terburu buru ingin berjumpa dengan calon istrinya.
Ketika mobil berhenti di lampu lalu lintas, Hari mendekatkatkan pipinya kewajah Elena.
"Mau apa?" Elena memundurkan wajahnya beberapa centi.
Elena menoyor kening calon suaminya tersebut, "dasar mesum."
Haris pun kembali ke posisi semula, dia pura pura memanyunkan bibirnya, namun beberapa saat kemudian, entah dapat keberanian dari mana tiba tiba Elena mendekatkan wajah nya dan ...
cup
Elena menghadiahkan sebuah ciuman di pipi Haris, "jangan minta lebih dari ini." bisik Elena sebelum kembali ke posisi semula.
Haris membelalakkan matanya, namun tak berani menatap ke samping, takut khilaf, hanya tangan kirinya mengelus bekas ciuman tersebut, 'mimpi apa aku semalam?' ujarnya dalam hati. Malam ini mendapatkan dua kejutan sekaligus, yang pertama di peluk dan barusan di cium.
"Sepertinya besok pagi aku gak akan mencuci wajahku," gumam nya, namun tentu saja masih terdengar di telinga Elena.
"Ih jorok,"
"Kalo di cuci, ntar bekas bibirmu hilang dong," Ucapnya polos, wajahnya cemberut, seperti anak anak yang batal di belikan mainan.
Elena terkikik sendiri, ternyata Haris punya sisi manja juga, Haris yang ia kenal selama ini selalu bersikap dewasa dan bertanggung jawab, dan sekarang seolah berubah menjadi kucing kecil yang butuh belaian.
__ADS_1
"Nggak akan," jawab Elena "Bekas nya boleh hilang, tapi kenangannya tak akan pernah hilang," Elena mengulurkan telapak tangannya, kemudian mengusap lembut bekas ciumannya tadi.
Sesaat Haris membeku ditempat nya, tak mampu menetralisir detak jantung nya, ada apa dengan Elena hari ini, apa otaknya sedang keseleo?, kenapa mendadak dia bersikap manis pada diri nya, biasanya Elena agak jual mahal dan sedikit menjaga jarak, tapi hari ini sepertinya jarak itu sudah terkikis dengan sendirinya.
ketika lampu lalu lintas berubah warna, mobil kembali bergerak, Elena hendak menarik tangannya, alih alih membiarkannya, Haris justru menggenggam tangan tersebut kemudian menautkan jari jemari mereka. Elena tak menolak justru dia menikmati tangannya yang kini tengah di genggam erat.
"Kulit tanganmu halus, aku suka,"
Sebuah pujian kecil yang mampu membuat wajah Elena kembali memerah.
Tiba tiba Haris menepikan mobilnya di bahu jalan, "Loh kok berhenti," Elena yang tersadar dari lamunannya pun bertanya.
"Aku lapar, temani aku makan, tadi buru buru mendatangimu, jadi aku melupakan makan malamku."
Elena pun mengangguk "Ternyata cinta saja tidak bisa membuat perut menjadi kenyang." celetuk Elena, namun kemudian keduanya tertawa bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
like like like komen and vote please 🥰🙏