Menanti Cinta Elena

Menanti Cinta Elena
48


__ADS_3

Setelah menghabiskan mie rebus porsi besar, gadis manis itu memutuskan untuk bekerja, walaupun saat itu jam istirahat sudah berlalu sekitar 1 jam, namun bodo amat, pikirnya, anak pemilik hotel mah bebas mau datang kapan ajah, kekeh nya dalam hati.


Sesampainya di lobi hotel, hanya beberapa karyawan yang mengenalinya, dan mereka pun langsung berdiri menyambut kehadirannya, namun karyawan yang tidak mengenal dan menyadari kehadirannya, nampak sibuk dengan pekerjaan masing masing.


Kala itu Elena berpakain super santai, dress rumahan lengkap dengan jaket denim, kaki nya hanya beralas sendal jepit favoritnya, tak lupa topi dan kaca mata hitam untuk menyembunyikan jati diri nya.


Kini ia berjalan menuju Lift yang di khususkan untuk dirinya dan staf penting di Diamond hotel, ketika pintu lift terbuka, dari dalam lift keluarlah Anita sang ratu pemasaran.


"Kamu??." Ujar Elena.


Anita nampak menajamkan pandangannya, sesaat kemudian pekikan tertahan dari mulutnya.


"Selamat siang nona." Sapanya.


"Selamat siang Anita," Balas Elena. "Ada perlu apa kemari? Apa ada masalah di proyek?,"


"Oh tidak nona, saya hanya bertemu Asisten Seno mau reservasi kamar untuk Tamu yang akan meninjau proyek." Jawab Anita gugup.


"Kenapa harus ke Asisten Seno, tidak langsung ke resepsionis?." Tanya nya heran, padahal Anita bisa saja langsung memesan kamar melalui telepon, tak perlu mendatangi hotel.


"Entah pesan pak Bagus begitu, dan ternyata Asisten Seno memang ingin bertemu saya," Anita menghentikan kalimat nya kemudian berbisik di telinga Elena, "menanyakan beberapa hal mengenai calon suami anda."


Blush ... Elena merona malu, pipinya pasti sudah semerah buah stroberi.


"Dari mana kamu tahu, berita ini bahkan belum rilis ke publik?." Elena balas berbisik.


Anita terkekeh mendengan ucapan polos Elena, "Kan saya baru bertemu Asisten Seno, gimana sih nona."


"Oh iya, maaf lupa, lagi blank banget."


"Iyalah, tau yang lagi heboh di bicarakan netizen." Anita Menggoda nya. "Selamat yah, untuk pernikahan kalian, aku pasti datang."


Lagi lagi wajah Elena bersemu merah, dia tersenyum malu seraya menutup mulut nya.


"Maaf yah, aku pernah marah karena kedekatan kalian, tapi kemudian aku sadar, sekuat apapun aku berusaha, cinta memang tidak bisa di paksakan," Anita tersenyum pahit, kini kandas sudah cinta yang sekian lama ia pendam "maaf juga, karena aku baru tahu kalau anda anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja."


"Apaan sih, menjadi anak pemilik perusahaan bukan sesuatu yang istimewa, karena itulah aku merahasiakan identitas ku, kau boleh bertanya pada Bagus dan Haris, pada awalnya mereka juga tidak tahu menahu tentang latar belakang keluarga ku, Aku yang seharusnya minta maaf, sungguh sebelum hari ini, kami tak punya hubungan apa apa." Elena mencoba menjelaskan, dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Santai aja, gak perlu menjelaskan juga kali, kan aku juga tidak punya hubungan spesial dengan Haris." Anita tertawa tergelak. "Oh iya, lain kali ingatkan aku, aku punya kado spesial untuk pernikahan kalian."


"Kado?,"


"Iya, dan ini hanya aku yang punya," Anita mengedipkan mata kemudian berlalu.


Elena hanya melambaikan tangan ketika anita berlalu.

__ADS_1


Selepas kepergian Anita, elena memasuki lift yang sejak tadi menunggunya, tadi Asisten Seno mengabarkan bahwa sekertaris barunya sudah mulai bekerja hari ini.


Lantai 15


Elena melangkah kan kakinya keluar dari kotak besi yang membawanya ke lantai 15.


Dua orang petugas keamanan memberi hormat ketika melihat kehadirannya. ketika melihat meja sekertaris, dia heran kemana perginya sekretaris barunya?, ah mungkin ke toilet, pikirnya.


Elena pun berjalan memasuki ruangannya, di sana ada seseorang yang meletakkan beberapa berkas di meja kerja nya, gadis itu nampak tersenyum cerah menatap kedatangan nya.


"Kakak ... Aku kangen banget." Hana langsung berlari dan memeluk nya erat.


Elena pun membalas pelukan Hana. "Kakak juga kangen."


"Kapan kaka datang?,"


"Pagi tadi, bersamaan dengan kedatangan kakakmu,"


"Oh kak Haris sudah pulang?," Tanya Hana penasaran.


"Iya"


"Beberapa hari ini mama resah dengan pemberitaan tentang kalian, dan Kak Haris bahkan tidak bisa di telepon." Keluh Hana.


"Bagaimana kondisi tante? aku harap beliau tidak shock yah."


"What ... secepat itu?," Elena merasa sangat terkejut, mendengar kedatangan calon mertua nya.


"Iya, segera setelah hebohnya pemberitaan kalian, mama langsung menelepon paman Ferdy, dan aku sempat mencuri dengar pembicaraan mama dan paman ferdy, seperti membahas perjodohan atau apalah, mungkin para orang tua itu ingin menjodohkan kalian" Hana berkisah blak blakan, tanpa ada yang ia tutupi, karena memang itulah sifat.


"Sayang nya kalian terlambat," Elena menaikkan tangan kirinya yang kini berhiaskan cincin pemberian Haris.


"Waaaaaaaaa ...." Hana menjerit Histeris " jadi kalian? ... waaaaahhh," Hana tiba tiba meloncat kegirangan seperti anak kecil yang sedang bermain trampolin.


Elena mengangguk "Duduklah, jangan norak deh," ujar Elena tersipu.


"Bukan ih, bukan norak kali, aku bahagia untuk kalian, kalau saja teman temanku tahu, Haris Aditya itu kakakku, ponselku pasti tidak baik baik saja saat ini, syukurlah aku tak pernah mengumbar kakak sepupuku tersebut, tenang saja laki laki rese' itu tetap milikmu seorang kak," Hana berucap bangga, karena merasa berhasil melindungi kakak sepupu nya dari serangan fans girl.


"Apa memang seheboh itu pesona kakak mu?," Akhirnya Elena bertanya karena sungguh sangat penasaran, namun juga mulai was was.


"Beuuuuhhh kakak, gak lihat berita? berita di TV saat ini benar adanya, bahkan beberapa kali aku melihat gelagat mencurigakan di sekitar rumah, sepertinya mereka para wartawan, atau para fans girl nya kakak, tapi kami pura pura tak tahu saja, supaya tidak mencurigakan."


Sementara itu Haris yang tengah meninjau proyek bersama Mark, tiba tiba bersin dan telinga nya terasa amat gatal, pasti ada yang lagi ngomongin aku, Pikirnya.


(ini ulah othor bang, jangan kaget yah 🤪)

__ADS_1


...****************...


Sementara itu,


Di kolam pemancingan. Harun tengah duduk santai di tepi kolam, rasanya begitu tenang, begitu damai memandang kolam dihadapannya, kolam pancing pribadi nya ini memang khusus dia datangi jika ingin menenangkan diri, tak hanya ada kolam berdiri di sana, namun juga rumah dan halaman luas yang di tanami banyak pohon hingga mampu menyejukkan suasana.


Ketika masih kuliah, Elena dan ketiga temannya, sering kemping di pemancingan tersebut, alasannya sederhana, area pemancingan tersebut, aman, nyaman, dan makanan tetap terjamin, begitu kata mereka.


Rasanya beban berat di pundaknya agak ringan, karena kini putri bungsunya telah menemukan pria yang sangat ingin menikahi nya, dia pria baik yang bertanggung jawab, walaupun di awali dengan cara yang salah, tapi dia berharap pria ini mampu menjaga putri bungsunya dengan baik.


Hanya dirinya dan Seno yang tahu, bahwa sebelum kehebohan pagi tadi, Ayah Haris sendiri yang telah berinisiatif meneleponnya, dan kedua nya telah bersepakat untuk menikahkan anak anak mereka.


Jika ponsel berdering ketika ia memancing, maka bisa di pastikan akan di abaikan, Harun hanya menerima panggilan dari Asisten Seno, atau istri nya, selain kedua orang tersebut, biasanya harun mengabaikan nya.


Seno memberitahu kan perihal kedatangan orang tua Haris dari negara paman AA, serta rencana kedatangan keluarga Haris untuk melamar Elena secara resmi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


nah kan, sekarang neng tau kan cemburu itu berat 🤧


.

__ADS_1


like like like komen and vote please 🥰🙏


__ADS_2