
Pelan pelan Haris mengurai pelukannya, karena tak ingin Elena terjatuh, "Maaf aku melakukannya lagi, kamu boleh menamparku lagi," namun Elena masih terdiam, "Baiklah, aku tunggu di luar saja, karena ada di dekatmu sungguh membuat pikiranku tidak sehat."
Haris hendak berbalik menuju pintu, namun Elena menahan lengannya, kali ini Elena dengan berani melingkarkan lengannya ke leher Haris, dan ...
cup
Elena yang memulai nya, bertahan disana beberapa detik, sungguh Elena sudah berhasil membuat pikiran Haris tak bisa bekerja dengan normal, namun Haris, dia sungguh sungguh berbalik dan berjalan menuju pintu, membuat Elena menatapnya kecewa.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, ternyata Haris hanya menutup pintu kemudian menguncinya, 'dia kembali' Elena bersorak dalam hati, Elena tahu apa yang mereka lakukan salah, namun kali ini dia menginginkannya, ups ralat mereka berdua yang menginginkan nya.
Kini mereka kembali berhadapan, Haris meraih tengkuk Elena, "Aku mencintai mu," ujarnya, dan kembali menyatukan bibir mereka, begitu pelan, dan lembut, seolah ingin meluapkan apa yang selama ini mereka rasakan.
Namun kelembutan itu, hanya berlangsung sesaat, karena selanjutnya mereka benar benar terbawa suasana, hingga tanpa sadar mereka kini sudah berakhir di tempat tidur, saling menuntut dan membelai, bahkan Haris sudah mulai menjelajah leher dan dada Elena, sekuat tenaga ia berusaha agar tak meninggalkan bercak kemerahan di leher Elena, namun tentu itu tak bisa karena di beberapa titik mulai muncul bekas samar kemerahan.
Tepat ketika tangannya hendak membuka resleting gaun yang di kenakan Elena, tiba tiba terdengar suara ketukan di pintu.
Seolah menyadari adanya bahaya, kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu kembali tersadar, sama sama terkejut dengan keadaan mereka saat ini, kemudian cepat cepat berdiri, kapanikan jelas terlihat di wajah keduanya, "Bagaimana ini kita tertangkap basah?" Ujar Elena panik.
"Tenanglah, ada aku, dan kali ini aku tidak akan lari,"
"Siapa yang mengetuk pintu, apakan Om Seno?" Elena masih dalam mode kepanikan.
Haris hanya bisa memeluknya, di elusnya rambut panjang kekasihnya tersebut, namun Elena berontak, "Kamu harus tenang dulu sebelum membuka pintu," Haris kembali berujar lembut, kali ini di belainya pipi Elena.
Elena mengangguk faham, "carilah tempat sembunyi, dan redupkan lampu, aku akan membuka pintu."
Elena berjalan menuju pintu, sedikit merapikan gaunnya yang berantakan, kemudian membuka pintu kamarnya, Elena mendesah lega manakala melihat siapa yang kini tengah mengetuk pintu kamar nya. Wajah ramah bi Sum menyambut nya.
"Ada apa bi?"
"Tuan Besar mencari nona,"
"Baiklah, terimakasih bi."
Bi Sum pun berbalik kembali, Elena kembali menutup pintu kamarnya, kali ini dia boleh bernafas lega, tapi mungkin tidak lain kali.
Tubuh Elena yang masih lemas bersandar di pintu, kedua tangannya menutup wajahnya yang masih memerah mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
"Ayo kita keluar," Elena membereskan laptop dan tak lupa membawa USB untuk memindahkan file file foto.
Haris yang sejak tadi berdiri di dekat pintu kamar mandi, merasa heran dengan perubahan sikap Elena.
Elena yang sudah bersiap membuka pintu, namun terhenti manakala Haris menahan lengannya.
"Tunggu dulu,"
"Hah, kenapa?"
"setidaknya rapikan dulu penampilanmu," kemudian Haris membawanya ke depan cermin, Alangkah terkejutnya Elena melihat tampilan dirinya, bibirnya memerah, sementara leher dan dadanya berhiaskan jejak kemerahan.
__ADS_1
"Haiiissss ... ini ulahmu." Elena mencebikkan bibir nya, nampak cemberut karena tampilannya kini sungguh berantakan.
Haris terkikik geli, "Iya maaf," Haris hanya bisa mengucapkan maaf, "aku tak bisa menahannya." kemudian dia mendudukkan Elena di depan meja riasnya, dengan perlahan disisirnya rambut indah Elena, untunglah malam itu Elena sengaja membiarkan rambutnya terurai, jadi tak memerlukan treatment khusus untuk menatanya.
"Dan ini juga harus di bereskan," Haris mengusap lipstik Elena yang masih berantakan dengan menggunakan tissue.
"Lalu ini?" pandangan Haris tertuju pada leher dan dada Elena, jari telunjuknya merambat menelusuri jejak kepemilikan yang ia buat.
"Pakai ini saja," Elena menyambar alas bedak yang biasa dia pakai untuk make up sehari hari.
"Biar aku saja." Haris merampasnya, kemudian berlutut agar tinggi mereka sejajar, dengan gerakan lembut Haris mulai mengoles benda yang menurutnya ajaib tersebut, karena bisa menyembunyikan bekas kejahatan seseorang.
Setelah semua jejak kemerahan tersebut tersamarkan, Haris kembali terdiam, 'Leher ini sungguh menggoda', ujarnya dalam hati, tanpa mengalihkan pandangan.
Seolah menyadari suasana yang makin tidak kondusif, Elena segera berdiri dan berjalan menuju pintu, Haris hanya tersenyum samar, dia tau Elena sedang menutupi perasaan malu setelah apa yang mereka lakukan beberapa saat lalu.
"Kamu ... marah?" Tanya Haris ragu ragu ketika akhirnya ia berhasil mensejajarkan langkah kakinya.
Elena menggeleng, "tidak,"
"Lalu kenapa wajahmu seperti itu."
Elena berjalan menunduk, "Aku malu,"
Haris terkekeh
Haris menahan langkahnya, "hanya kamu, yang pertama dan satu satunya,"
Elena menunduk, diam diam dia menyembunyikan senyumnya.
"Hei ... kamu tidak percaya?" tanya Haris.
Elena hanya mengangkat bahunya, diam tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Ayolah aku sungguh sungguh, kenapa kamu tak percaya padaku," Haris mulai merengek.
Elena tersenyum geli, kemudian berjalan begitu saja menuju halaman belakang.
...****************...
Elena menatap kosong keluar jendela, hamparan perkebunan teh memanjakan penglihatannya, jarak tempuh yang cukup jauh membuat nya sedikit bosan.
Hari ini, Elena sedang berada di kota SY untuk melanjutkan rencana kerja samanya membangun sebuah tempat peristirahatan baru di sebuah wahana wisata yang sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya.
Yah ... kali ini Elena benar benar bertekad belajar mengelola hotel, termasuk mendirikan sebuah hotel baru, sebenarnya ini ide yang di cetuskan Fero, tapi prospek nya cukup menarik, jadi Elena tertarik untuk mencoba.
Pagi pagi sekali, Elena meminta Hana untuk menemaninya ke kota SY, sementara Fero sudah berada di kota tersebut sejak 2 hari yang lalu.
Elena menoleh ke sisi kanannya, nampak Hana tengah lelap tertidur, Elena sungguh merasa bersalah karena sudah membuat Hana bangun lebih pagi dari biasanya, tentu ada sebab Elena melakukannya, dia ingin menghindar sesaat dari Haris sebelum pernikahan, menghilang sejenak setelah kejadian kemarin malam, sungguh dirinya masih teramat sangat malu manakala mengingat hal itu.
__ADS_1
Ketika akhirnya Hana membuka mata, dia sungguh tercengang melihat pemandangan di sekitar nya, hamparan kebun teh berwarna kehijauan, sungguh menyejukkan mata.
"Waaaaahhh kakak ... ini beneran kebun teh?" Hana sontak memekik kagum, menyaksikan hamparan hijau sejauh mata memandang.
"Iya ... kamu belum pernah melihat nya?"
"Belum kak, ini pertama kalinya aku ke kota SY."
"Kalau begitu nikmatilah, kita akan berada di sini 2 hari, jika nanti proyek ini benar benar berjalan, mungkin kita akan sering berkunjung kemari."
"Kita? lalu kakakku bagaimana? apa di juga akan ikut? sungguh menjengkelkan kalau dia juga harus ikut, aku akan jadi pengganggu diantara dua orang bucin." Hana mencebikkan bibirnya, dia benar benar tidak terima kalau suatu saat harus jadi penonton.
Elena ingin tertawa rasanya, dicubitnya hidung gadis kecil itu, "nggak begitu juga kaliii, semalam sudah di sepakati, kami akan fokus pada pekerjaan masing masing, sesekali aku akan berkunjung ke negara paman AA atau Haris yang akan pulang ke tanah air,"
Hana sungguh terkejut, mendengar nya, pernikahan macam apa yang akan dijalani kedua sejoli ini, bagaimana bisa suami istri tinggal terpisah, tiba tiba Hana merasa bersalah.
"Maaf kak,"
"kenapa minta maaf? kamu tidak bersalah, dan lagi ini hanya keputusan sementara, sewaktu waktu bisa berubah."
"Kalau kakak hamil bagaimana? apa masih akan sering berkunjung ke negara paman AA?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1