
Elena menggeliat sesaat, merasakan tubuhnya lemas seperti tak bertulang, seketika ia teringat apa yang terjadi semalam, tiba tiba wajahnya memerah, mengingat betapa liar permainan mereka semalam, karena sama sama baru pertama kalinya.
Bahkan Elena tak ingat berapa kali mereka melakukannya semalam, Haris benar benar sukses membuat tubuh nya remuk, bahkan ketika ia menyingkap selimut begitu banyak tanda merah di tubuhnya, sampai sampai Elena merasa seperti pasien KDRT.
Elena bergerak perlahan, sangat pelan agar tak membuat Haris terbangun, namun ketika hendak mencapai tepian tempat tidur, sebuah tangan kembali melingkar di pinggangnya, pelukan itu bahkan semakin erat, membuat Elena kembali tak bisa bergerak, padahal perutnya sudah ingin di isi makanan.
Sekali lagi ia mencoba melepas lengan yang memeluk pinggangnya, "mau kemana sayang? Ini masih pagi."
"Mau mandi," jawab Elena pelan, bahkan nyaris berbisik.
"Jangan berbisik, kamu bisa mbangunkanku lagi." Balas Haris pria itu mulai menciumi tengkuk Elena.
Elena merasa sangat geli, "Dasar mesum."
Haris terkekeh, "hanya denganmu sayang…" Haris kembali mengeratkan pelukannya.
"Aku lapar … cinta saja tidak membuat kenyang bang,"
Kini Haris tertawa lebar, "baiklah maaf kan aku," akhirnya Haris pun melepaskan pelukannya.
Haris bangkit kemudian membopong Istrinya ke kamar mandi, "bang mau apa?" Tanya Elena yang masih terkejut dengan apa yang kini dilakukan suaminya.
"Mandi, begitu kan??" Jawab Haris tanpa rasa berdosa.
"Turunkan aku," pinta Elena, ia terlalu malu karena kini tubuhnya terekspos dengan sempurna, dan Haris tampak menikmati pemandangan di hadapannya, pemandangan tubuh istrinya yang polos dengan banyak tanda kepemilikan, ia sungguh puas dengan maha karyanya.
"Andai aku bisa memamerkan ini semua pada si kampret itu, pasti sudah kulakukan saat ini," Bisik Haris di telinga Elena.
"Bang … aku rasa tingkat kemesumanmu sudah diluar batas, seperti ini saja aku sudah sangat malu, kamu pake bilang mau memamerkan nya pada Bagus." Elena mencebik kesal.
Haris menurunkan Elena di bawah kucuran air hangat, ia sungguh menikmati wajah istrinya yang sedang cemberut, "kenapa marah, tadi kan aku bilang 'andai bisa' dan untungnya ini tak bisa dipamerkan, biarlah ini menjadi urusan pribadi diantara kita," seringainya. "Dan lagi aku sudah melihat semuanya, kamu tak perlu lagi malu di hadapan suamimu.
Pengantin baru itu pun menikmati pagi hari pertama mereka sebagai suami dan istri, hingga aktivitas mandi yang seharusnya tak butuh waktu lama, kini menjadi satu jam lebih lama, karena mereka sibuk dengan rutinitas baru sebagai pasangan.
__ADS_1
💮💮💮
"Sepertinya kamu butuh lebih banyak benda ajaib ini, karena selama di sini bersamaku, kamu akan sangat memerlukan nya." Ujar Haris yang kini tengah sibuk meratakan foundation di leher Elena. "Padahal aku suka melihat ini, kenapa kamu harus repot menutupinya." Gerutunya.
Elena hanya menatap malas pada sang suami, "kalau kita berdua saja di apartemen ini, aku tak akan memakai benda ajaib ini, tapi kan kita mau keluar, aku malu sayang,"
"Iya sih, aku tahu, tapi tetap saja aku tak suka kamu menutupinya."
Elena sungguh menikmati wajah cemberut suaminya.
"Baiklah, sudah tertutup sempurna," ujar Haris yang telah selesai melakukan tugasnya.
"Sebelum menghabiskan uangmu, ayo kita makan dulu, aku lapar sekali."
"Percaya diri sekali, kamu bisa menghabiskan uangku,"
"Aku akan melakukannya perlahan, seperti vampir menghisap darah." Elena tersenyum jahil.
Tapi Haris tak menghiraukan nya, ia justru menantikan saat saat seperti ini, ketika hasil kerja kerasnya selama ini dinikmati oleh wanitanya.
"Terima kasih tuan muda." Balas Elena.
Keduanya saling melempar senyuman.
"Makanan Apa Yang kamu inginkan?" Tanya Haris setelah ia duduk di kursi kemudi.
"Bagaimana kalau ke restoran nya ibu Andini dan Ayah?." Usul Elena.
"Tak masalah, aku suka makanan indonesia,"
Andini memiliki restoran yang menyediakan makanan indonesia, bukan restoran besar, lebih tepatnya Kedai, namun tak bisa juga dikatakan kecil. Selain itu, Andini juga menerima pesanan Catering, jika ada warga Indonesia yang sedang mengadakan Acara di rumah mereka, bahkan tak jarang kedutaan Indonesia juga menggunakan jasa catering Andini.
Andini tersenyum lebar manakala menatap tamu istimewa yang tengah berdiri di hadapannya, "Selamat datang nak, senang sekali akhirnya kamu memiliki waktu untuk mengunjungi kami di sini,"
__ADS_1
"Saya juga senang bu," jawab Elena disela pelukannya dengan Andini.
"Masuklah, kalian pasti belum makan." Andini mempersilahkan anak dan menantunya untuk masuk ke kedai nya.
Kedai belum terlalu ramai, karena jam makan siang belum dimulai, beberapa karyawan nampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing, "perhatian semuanya," Andini berseru pada seluruh pekerja yang ada di dapur kedai nya.
"Ini Elena, menantu ku," Ucap Andini dengan penuh kebanggan.
Para karyawan nampak tersenyum ramah pada Elena, satu persatu mereka bersalaman dengannya, Elena pun tak segan menyambut uluran tangan mereka, para karyawan Andini rata rata berasal dari indonesia, bahkan ada yang sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di negara paman AA.
Usai perkenalan Andini membawa Elena berkeliling kedai, menjelaskan apa saja yang ada di sana, dan Elena pun tak tampak bosan mendengar penjelasan ibu mertuanya, justru ia seperti menemukan sesuatu yang baru untuk ia pelajari.
Sementara Haris, sambil menunggu Elena berkeliling, ia kembali sibuk dengan pekerjaannya, Hingga tak menyadari jika Elena sudah kembali duduk di dekatnya.
Karena sang suami tak menyadari keberadaanya, Elena pun mengalungkan lengannya ke leher Haris, "ayo makan," ujar Elena manja.
"Iya ayo, aku sedang mengisi waktu sejenak." Jawab Haris, "sudah memutuskan mau makan apa?" Tanya Haris pada sang istri.
Elena mengangguk, "sudah …" jawab Elena riang. "Aku mau nasi padang."
"Good choice, itu menu best seller di kedai ini." Haris mencubit kedua pipi Elena.
"Aku ambil dulu makanannya yah?"
Haris mengangguk, kemudian kembali fokus mengarahkan pandangannya ke layar di hadapannya.
Tak lama, Elena kembali dengan dua porsi nasi padang yang tampak sangat menggiurkan.
Heran, perasaan jika sedang di ibu kota, Elena seperti kurang tertarik pada nasi padang, kenapa justru ketika sedang jauh dari negaranya, Nasi padang tampak sangat menggoda untuk dijadikan menu makan nikmat.
Kedua nya makan dengan cepat, mengingat semalam mereka sudah menguras habis energi yang mereka punya, kini seperti nya seporsi nasi padang nampak belum mampu membuat mereka kenyang.
Elena kembali membawa seporsi besar lontong sayur, agar tak terlalu kenyang nantinya, jadi ia membawa satu porsi saja untuk ia habiskan berdua dengan sang Suami, sambil sesekali keduanya mendiskusikan masalah pekerjaan Haris.
__ADS_1
Dari balik tirai dapur Andini menatap anak dan menantunya dengan bahagia, "semoga mereka segera memberiku kabar baik," gumamnya.